9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Diri Sendiri ala (Gus Mus) KH. A. Mustofa Bisri

Jaswanto by Jaswanto
March 9, 2025
in Ulas Buku
Melihat Diri Sendiri ala (Gus Mus) KH. A. Mustofa Bisri

Buku Melihat Diri Sendiri karya (Gus Mus) KH. A. Mustofa Bisri | Foto: Jaswanto

HARI-HARI ini, menurut saya, membaca kembali buku Melihat Diri Sendiri: Refleksi dan Inspirasi (2019) karya KH. A. Mustofa Bisri adalah suatu hal yang tepat. Bukan saja karena kondisi sosial-agama-politik bangsa yang sedang semerawut, tapi juga ini bulan Ramadan—bulan yang cocok untuk lebih banyak refleksi, merenung, melihat diri sendiri.

Saya nyaris lupa bahwa di rak buku saya di rumah terselip buku setebal 294 halaman terbitan Diva Press itu kalau saja saya tidak mencari buku Indonesia Kita-nya Nurcholis Madjid. Buku tersebut berdiri tepat di sebelah Indonesia Kita—dan akhirnya membuat saya mengurungkan niat untuk membaca kembali buku Cak Nur ini. Maka pada sore menjelang buka puasa, saya putuskan untuk kembali memetik hikmah-nasihat dari buku Melihat Diri Sendiri.

Buku ini memuat 50-an esai karya Gus Mus—panggilan akrab KH. A. Mustofa Bisri—yang pernah dimuat di berbagai koran dan majalah, sebagaimana pengakuan Gus Mus dalam sekapur sirihnya, “dalam rentang waktu sejak menjelang ambruknya Orde Baru hingga ramai-ramainya orang menari-nari mengikuti gendang yang ditabuh Bush bin Bush (Presiden Amerika yang kerasukan “jin teror”) dan sekutunya.” Esai-esai tersebut dibagi menjadi enam bagian dengan maksud memudahkan pembaca yang ingin langsung membaca bagian-bagian yang dipilihnya. Dan ini jelas membantu pembaca (tidak sabaran) seperti saya.

Ya, tentu saja saya tidak langsung membaca semua esai. Apalagi yang tertib dari esai pertama sampai terakhir secara berurutan. Saya membaca esai-esai yang menurut saya pendek dan saya anggap mudah memahaminya. Begitulah. Maka saya mulai membaca Niat (hal.58).

Sebagaimana judulnya, esai yang menjadi pembuka bagian kedua—keberagamaan—itu, membahas tentang niat kita dalam melakukan sesuatu. Amal atau perbuatan apa pun tergantung niatnya, kata Gus Mus. “Dua orang yang sama-sama tidur, bisa jadi yang satu mendapat pahala dan yang lain tidak. Sebab, yang satu tidur dengan niat beristirahat agar ketika bangun energinya kembali dan dapat melakukan kegiatan ibadah dengan optimal, sedangkan yang lain tidur asal tidur.” Tak hanya memberi contoh soal tidur, Gus juga menyinggung soal pernyataan orang yang berpolitik.

Niat yang menjadi standar sah dan kualitas amal itu, menurut Gus Mus, muncul dari hati, bukan dari mulut. Seorang politisi bisa saja menyatakan bahwa perbuatannya didasarkan atas niat yang baik, niat ibadah, dan mungkin orang-orang yang mendengarnya percaya, tetapi siapa sangka itu hanya sekadar ucapan manis di mulut tapi lain di hati. Maka tak mengherankan jika masih banyak pemimpin di negara ini yang korupsi, menipu, dan lebih mementingkan diri sendiri daripada kepentingan rakyat. Itu karena sejak awal niatnya bukan murni mengabdi, melainkan menguasai.

Urusan niat ini kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya tidak. Hanya diri sendiri dan Tuhan yang tahu niat seseorang. Kata Gus Mus, terkadang perbuatan yang tampak duniawi, lantaran niat yang benar, memiliki nilai ibadah. Sebaliknya, ada amalan yang tampaknya ibadah, lantaran niat yang salah, menjadi sekadar perbuatan duniawi yang tak ada pahalanya, bahkan bisa berbalik menjadi kedurhakaan. “Membaca al-Quran dengan niat mendapat piala, tentu tidak sama dengan niat mendapat pahala.”—dalam esai Taat, Ibadah, dan Taqarrub (hal. 72).

Dalam esai lain, Gus Mus menyinggung soal pemandangan orang-orang yang berebut mencium Hajar Aswad—batu hitam yang terpasang di pojok dekat pintu Ka’bah—dengan tak jarang malah menyakiti sesama jamaah. Gus Mus mengambarkan: “Sesekali, terlihat beberapa orang terpental kena sodok ‘saiang-saiang’ mereka sesama jamaah, kemudian kembali melaju merangsek lagi. Wajah mereka yang berhasil mencium batu hitam yang dikeramatkan itu, meskipun tampak lusuh dan kusut, jelas sekali memancarkan kelegaan dan kepuasan.”—esai Sikap Keberagamaan (hal.62).

Dengan kritis Gus Mus menegaskan, mencium Hajar Aswad adalah sunah, sedangkan mengganggu dan menyakiti sesama mukmin—yang notabene juga sedang melaksanakan ibadah—adalah haram. Bagaimana mungkin seorang muslim ingin melaksanakan kesunahan dengan melakukan keharaman? Lebih muskil lagi bila pelanggaran larangan agama itu dilakukan untuk memuaskan diri sendiri—mencari pengalaman rohani atau apa pun namanya—bersamaan dengan dan atas nama pelaksanaan ibadah agama. Ringkasnya, aneh rasanya jika ibadah dilakukan bersamaan dengan menyakiti sesama, atau membuat ibadah orang lain menjadi terganggu.

Hikmah dalam buku ini tidak hanya Gus Mus sampaikan lewat contoh kasus dalam ibadah Islam saja, tapi juga lewat sepak bola. Pada bagian ketiga—norma pergaulan hidup—Gus Mus menulis esai dengan judul Permainan Sepak Bola (hal.106). Dalam esai ini sang kiai menyampaikan beberapa hal betapa sepak bola telah menjadi olah raga yang paling—atau setidaknya termasuk yang paling—digemari di dunia sebelum menyampaikan pesan moral di akhir tulisan.

Kata Gus Mus, hidup tak lebih dari permainan, seperti permainan sepak bola itu. Orang berlari, berebut sesuatu yang sepele untuk kemudian dilepas dan dikejar-kejar lagi. Mereka yang mengejar dan berebut harta, misalnya, setelah berhasil mendapatkannya ada yang melepasnya secara sukarela, ada yang terpaksa melepaskannya. Demikian pula mereka yang mengejar dan berebut kursi dan kekuasaan. Untuk merebut, kalau perlu menyikut, menendang, dan menginjak saudara sendiri. Dan tak jarang orang yang berperangai religius pun melakukannya.

Soal pemimpin  yang berbuat memau-gue, Gus Mus menyampaikannya lewat esai Norma Pegaulan Hidup (hal 123). Dalam esai ini, dengan gamblang Gus Mus menggambarkan betapa banyak pemimpin di negara ini masih berbuat semaunya sendiri tanpa rasa malu dan sungkan. Coba pikir, tulis Gus Mus, alangkah banyaknya orang yang memiliki kedudukan sangat terhormat, dengan gagah memamerkan ketidaktahumaluannya, pada saat orang-orang yang kedudukannya jauh lebih rendah daripadanya saja—karena sudah menganggapnya pemimpin mereka—merasa sangat dipermalukan dengan sikapnya. Ada—kalau tidak banyak—tokoh pemimpin yang seharusnya bertanggungjawab, tanpa malu-malu selalu hanya tanggung asal jawab.

Dalam esai yang kemudian menjadi judul buku ini, Melihat Diri Sendiri (hal. 268), Gus Mus mengingatkan bahwa pandangan yang berlebihan terhadap materi dan segala yang duniawi-lah kiranya yang benar-benar menyeret orang menjadi pribadi yang egois. Kegilaab terhadap materi dan segala yang duniawi—yang sebetulnya sepele menurut Gus Mus—itu kemudian memunculkan kebakhilan, keserakahan, arogansi, dan sifat-sifat lain yang cenderung mengabaikan, bahkan melecehkan pihak lain. Dan setiap orang berpotensi memiliki sifat demikian.

Sampai di sini, benang merah dari “kesalahan berpikir”, anggap saja begitu, yang disampaikan Gus Mus dalam setiap esainya dalam buku Melihat Diri Sendiri ini adalah boleh jadi menggambarkan semangat beragama yang tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan pemahaman dan penalaran agama itu sendiri. Beragama, tapi tidak berilmu—beriman tanpa ilmu.

Melalui buku ini, Gus Mus berhasil menyampaikan pesan-pesan moral dan spiritual dengan cara yang indah dan menyentuh (jangan lupa, beliau juga seorang penyair), yang mampu meresap ke dalam hati banyak orang, melampaui sekat-sekat agama, budaya, dan ideologi. Dan seperti yang telah tertulis di sampul belakang buku, dalam Melihat Diri Sendiri, Gus Mus mengajak pembaca untuk mengembala ego, memenapkan (mengendapkan) ke-aku-an kita supaya bisa menjadi manusia sejati. Banyak renungan kehidupan yang diwedar sang kiai dalam buku ini; mulai masalah kebangsaan, keagamaan, politik, hingga diri pribadi. Semuanya itu hanya berpangkal satu tujuan, yakni agar kita tidak menjadi manusia yang linglung. [T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Pembahasan Buku “Representasi Ideologi Dalam Sastra Lekra” Karya I Wayan Artika
Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap
Aku yang Sudah Lama Hilang: Menelisik Perubahan dalam Diri
Tags: BukuGus Musresensi bukuUlas buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Next Post

Transformasi Ubud: Gambaran Daerah Lain di Bali yang Juga Bergerak ke Arah Serupa

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails
Next Post
Transformasi Ubud: Gambaran Daerah Lain di Bali yang Juga Bergerak ke Arah Serupa

Transformasi Ubud: Gambaran Daerah Lain di Bali yang Juga Bergerak ke Arah Serupa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co