24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Khawatir Soal Perempuan, Tuan Karl Marx!

Indra Andrianto by Indra Andrianto
February 2, 2018
in Opini

Pementasan teater Perempuan Tanpa Nama

 

“Kemajuan sosial dapat diukur oleh posisi sosial perempuan” – Karl Marx

“Tenang saja, tidak ada lagi penindasan akan paras cantik berhati lembut, Fisrt Women kira-kira begitu di Eropa perhari ini, Marx. dan Kesetaraan Gender kira-kira seperti itu di Indonesia hari ini Tuan” – Indra Andrianto

DALAM sebuah disiplin ilmu sosiologi tentu kita sudah mengenal nama-nama tokoh sosiologi klasik seperti Emile Durkheim dan Max Webber yang menjadi rujukan dasar sebuah paradigma masyarakat sosial. Dari keduanya lahirlah tokoh peralihan bernama Karl Marx seorang Prussia (Jerman Timur) yang saat ini menjadi negara Polandia sebagai bapak sosiologi modern yang mampu menyatukan konsep Durkheim dan Webber dalam kajian ilmu sosiologi modern yang bahkan sampai hari ini pengaruh pemikiran Marx pada dunia masih terasa. Bukan hanya dalam sekup internal negara namun secara global dua ideologi sayap kanan dan kiri masih bersiteru secara dingin. Dalam pengaruh pemikiran Karl Marx tentu kita ketahui dalam setiap politik praktisnya tidak lepas dari kajian tentang bagaimana memperjuagkan kelas-kelas sosial.

Kali ini tentunya kita tidak sedang membahas tentang Marxisme Ortodoks, Marxisme Analitis ataupun Marxisme Postmodernisme. Namun yang menarik ialah kajian terkait Marxis Feminisme. Dalam sebuah buku biografi Karl Marx yang ditulis oleh Muhammad Ali Fakih (kebetulan beliau satu saku sama saya) mengatakan bahwa Marxis Feminisme merupakan bagian dari cabang Feminisme yang memiliki fokus pada penyelidikan tentang cara-cara bagaimana perempuan ditindas oleh sistem kapitalisme. Pendapat tersebut tentu merujuk dengan apa yang sudah ansich disampaikan dalam buku Manifesto of the communis party yang terbit pada tahun 1848. Tentu Marx dalam hal ini meletakkan hal-hal dasar tentang penindasan dan Perempuan.

Saat perjalan Karl Marx ke Perancis tentu Marx melihat perempuan bekerja selama 12 sampai 16 jam dalam sehari di sebuah pabrik industri dan kebun anggur, oh betapa prihatinnya si Karl Marx melihat kondisi yang sedemikian sengsaranya perempuan masa itu di Prancis. Sepintas perjalanan Karl Marx dari Prusia yang melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Prancis lalu bertemulah di sana dengan para sosialisme purba seperti Ludwig Beurbach dan Freiderich Englesh yang sebenarnya adalah young Hegelian (penerus perjuangan GWF Hegel). Semakin deras aliran darah Karl Marx untuk peduli terhadap nasib kaum buruh khususnya perempuan pada saat itu yang sebenarnya sejalan dengan basik Karl Marx yang sangat membidangi sastra Humanisme.

Freiderich Engels menganalisis fenomena sosial yang terkait dengan moralitas, penindasan gender terkait erat dengan penindasan kelas. Relasi antara lelaki dan perempuan dalam masyarakat, mirip dengan hubungan kelas proletar dan kelas borjouis. Melalui fenomena ini subordinasi perempuan merupakan fungsi dari penindasan kelas, yang harus dipertahankan (seperti rasisme) untuk melayani kelas pemodal dan kelas penguasa. Hak kerja antara laki-laki dan perempuan itu dibedakan. Kapitalisme menolak membayar pekerja rumah tangga perempuan. Ia hanya bisa makan dan hidup jadi babu tanpa gaji (layaknya binatang peliharaan). Berbeda dengan pekerja rumah tangga laki-laki. Analisis Engles ini ditulis oleh Brown Heather A dalam bukunya “Marx on Gender and The Family”

Kaum feminise Marxis berpendapat dari analisis Engels di atas berpendapat bahwa mengabaikan perempuan dalam kerja-kerja produktif berarti bahwa ranah-ranah produksi, baik dalam publik maupun swasta berada dibawah kontrol kaum laki-laki. Hal ini disepakati sebagai sebuah bentuk penindasan terhadap kaum perempuan. Beberapa Feminisme Marxis mengajukan mereka untuk diperjuangkan dalam ranah pekerjaan rumah tangga dalam sistem perekonomian kapitalis. Sederhananya perempuan yang biasanya mencuci, memasak dan sebagainya itu mendapatkan kompensasi berupa upah.

Tentu jika kita sederhanakan kemauan kaum marxis ialah pekerjaan perempuan diakui dan dihargai di ruang publik. Tetapi jika saya lihat ini hanya sebatas wacana keinginan kaum Marxis Feminisme maka tahun 1972 Feminisme Internasional terlibat meluncurkan Kampanye Upah Internasional untuk pekerjaan rumah tangga tepatnya di Italia, pelopornya adalah sekelompok perempuan Italia. Bahkan penulis pada zaman itu juga ikut menyuarakan seperti Selma James dan Dalla Costa dan lain-lain. Meskipun gerakan seperti ini tak bertahan lama dan bisa dikatakan mengalami kegagalan namun hal ini dianggap sebagai sebuah wacana penting sebagai bentuk passion sebuah perubahan kaum pekerja perempuan.

Di Eropa perhari ini Justru mengutamakan hak-hak perempuan sehingga perlindungan hukum bagi kaum perempuan di segala bidang sangat di-intens-kan, intens dalam artian yakni keadilan terhadap sesama manusia. Istilah populer hari ini di Eropa ialah First Women yang mengandung arti utamakan perempuan atau perempuan yang utama, betapa mulianya kaum perempuan diperlakukan. Sedangkan di Indonesia sendiri lebih luar biasa sekali dengan munculnya pelopor perempuan cerdas bernama R.A Kartini yang memunculkan gagasan emansipasi perempuan. Yang awalnya perempuan Indonesia hanya sebatas dapur, ranjang dan papan, kini mampu mengubah peradaban perempuan Indonesia mengalami paradigma drastis menjadi sosok yang produktif dan terampil, sehingga yang awalnya hanya sebatas pekerjaan mengurus rumah tangga dan melayani lelaki (suami) kini mereka dapat aktif berkarir layaknya kaum laki-laki karena memiliki hak yang sama.

Maka jangan heran jika Ibu Megawati pernah menjadi seorang presiden yang memimpin di dalamnya ada kaum laki-laki. Betapa berjasanya R.A Kartini memperdayakan kaum perempuan menjadi lebih baik dengan buku terbitannya “Habis Gelap, terbitlah Terang”. Pada Tahun 2013 Federecci mendesak gerakan feminimisme dengan cara mereformasi kelembagaan, mereformasi peraturan menjadi sebuah payung hukum yang adil sehingga terjadi keharmonisan dalam tatanan hidup masyarakat baik, ntah hal itu dipimpin oleh kapitalis sekalipun. Jadi dapat dipastikan kegelisahan Marx di masa lalu tidak perlu dikhawatirkan hari ini karena kita sudah mendapatkan solusi dari niatan baik layaknya Marx. (T)

Tags: filsafatKarl MarxPerempuan
Share82TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Labuhan Haji, Pelabuhan Raja-Raja Bali Kuno

Next Post

Niat dan Keyakinan, Dua Hal Penting dalam Menulis

Indra Andrianto

Indra Andrianto

Lahir pada tanggal 14 Maret 1995 kelahiran Bondowoso-Jatim. Saat ini menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Undiksha-Bali. Kabid Perguruan Tinggi dan Kepemudaan HMI Cabang Singaraja.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Niat dan Keyakinan, Dua Hal Penting dalam Menulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co