25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah

Son Lomri by Son Lomri
February 8, 2025
in Cerpen
Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

RAMEN dimsum. Lampu-lampu dimatikan di restoran serba-serbi Jepang itu seperti sebuah panggung pertunjukan. Dan mereka—para pekerja bergegas pulang. Berjalan tertunduk lesu, rasa cape barangkali telah menggulung mereka seperti ombak malam. Dingin. Senyum memang telah dimainkan seharian. Juga di dapur seperti perang samurai. Hari ini cukup ramai pengunjung.

Menyusul seorang penjaga parkir akan menutup tirai malam, Cebol namanya. Tak ada yang tahu siapa nama asli Cebol yang sebenarnya. Sejak kecil, orang-orang memanggilnya demikian. Tapi ia merasa senang saja dan tak ambil pusing gimana-gimana. Diperparah, ia juga tak mengenal siapa nama aslinya.

Kedua orang tuanya sudah meninggal sebelum ia genap berumur empat tahun. Dia anak ketujuh paling muda, dan yang tersisa di rumahnya setelah semua pergi. Ditinggal mati dan melancong. Ia tinggal seorang diri. Tak ada yang tahu juga bagaimana ia bisa hidup.

Dan kedataran hidupnya—mendepak ia tak bisa dimasukkan sebagai pegawai dengan baju yang rapi atau di dapur sebagai tukang masak. Bukan karena ia tak pandai meracik bumbu, senyumnya memang cukup berantakan untuk dilihat tamu atau bos besar.

Ini perkara senyum. Jika perkaranya memang lelaki itu tidak bisa memasak bisa diberi pelatihan sepanjang hari, tapi kalau soal senyum yang tak indah, tentu sulit diperbaiki walaupun sudah diberi pelatihan yoga sekalipun. Aneh-aneh saja syarat kerjaan akhir-akhir ini. Apalagi rahang Cebol sedikit menyon ke kanan dan giginya ompong satu di bagian depan. Kata orang-orang tak ada manis-manisnya. Dia tak masuk ke dalam kategori lelaki keren—yang pandai memasak.

Jika mengingat masa lalunya yang kecut. Beberapa tahun lalu, di suatu hari ia pernah digebuk lantaran ketahuan mencopet ibu-ibu. Sebab tak pandai berlari dan bersembunyi, ia digampar brutal oleh salah satu anggota Satpol PP di langkah ke seratus di belakang pasar.

Tuduhan telah melakukan pelecehan karena diduga menepuk pantat ibu-ibu saat hendak menarik dompet, terlontar ketika itu. Dan dua pasal menimpanya sekaligus di hadapan hakim bijaksana; pencurian dan pelecehan. Cebol di jeruji besi cukup lama.

Hidupnya memang sial di bidang percopetan barangkali sehingga ia berserah diri. Sejak itulah menerima tawaran menjadi juru parkir di bawah terik matahari di depan resto yang tak pernah ia cicipi masakannya.

Malam. Lelaki itu sekuat tenaga menarik sendiri rantai panjang seperti ia menarik motor sebagai juru parkir di sana. Setelah beres, ia melipir istirahat ke tempat kopian temannya, Maman, yang tak jauh dari restoran itu.

“Seperti biasa!”

“Mmm…” Maman menganalisis. “Ngutang?”

“Iya!”

Mereka sudah lama berteman. Satu sama lain telah saling mengenal gelagat dan isi otaknya tanpa harus saling tanya. Sudah saling mengerti dan memberi. Tanpa pamrih. Mereka sudah seperti keluarga. Sangat erat.

“Aku harus setoran!”

“Pangkas saja! Tak usah suci-suci jadi manusia. Potong sedikit, tak akan membuat bosmu jadi miskin!”

Cebol terdiam. Ia menghela nafas,  “Cepat kopiku mana?”

“Tapi besok bayar, yah?”

“Ho’oh!”

Seorang perempuan bercelana sangat pendek berbaju hitam kemudian datang dan meminta dipesankan es kopi dengan tambahan toping coklat. Rambutnya halus tergurai warna hitam pekat dengan ujung rambut sedikit pirang. Tubuhnya wangi dengan dua gumpalan di dada condong ke depan. Kulitnya terawat. Bening. Menjadi pusat perhatian.  Cebol mengedipkan mata berselera, dan berbisik—tak tahan melototi belahan dada dikerumuni asap vape rasa strawberry.

“Berapa harga orang itu?” tanya Cebol.

“Pangkas dulu, baru aku kasih tahu!” sahut maman.

“Ini untuk bayaran kemarin, dan ini untuk bayaran hari ini. Dan ini bayaran untuk besok!” Cebol menyodorkan uang. “Berapa untuk perempuan itu?”

“Waw,” kejut Maman. “Tanya saja sendiri!”

Wajahnya seketika tawar. Birahi membuatnya semakin tolol. Aneh.

“300 ribu! Aku pernah mengawininya dua hari lalu. Enak.”

“Bagaimana caranya memesan?”

“Seperti kamu memesan kopi kepadaku!”

Cebol menarik napas sangat dalam. Menyalakan rokoknya dan sedikit minum kopi, dan menarik nafas dalam-dalam. Asap rokok dihembuskan dari moncong mulutnya yang hitam, sesekali membentuk lingkaran bolong tengah—asap ke udara. Ia berdoa pada Tuhan melalui batin paling berharap, katanya, Yaowloh sekali ini saja aku mencintai perempuan itu setelah sekian tahun ia memendam rasa pada perempuan yang, entah siapa. Tak ada yang tahu kapan terakhir ia suka pada perempuan, apalagi bercinta.

“Mbak, seperti biasa!”

“Maksudnya, Mas?”

“Jablai?”

Plak!!! Perempuan itu menampar tanpa aba-aba. Nyali seketika menciut di dalam dirinya. Cebol tersungkur ke bawah meja. Bruk! Kepalanya terhuyung dan bintang berseliweran di jidatnya setelah terpental. Menyusul es kopi tumpah di wajahnya. Naas! Nasib sial melanda lelaki itu. Malang.

“Jangan kurang ajar, ya, Mas!” Segera perempuan itu pergi dengan marah dan membanting gelas. “Edan!!” serapah perempuan itu terakhir. Gelas pecah.

Maman tertawa kecil, tapi ia segera melerai mereka. “Maafkan teman saya, Mbak. Dia sedang mabok.” Dan Maman segera berbisik, pura-pura mabok. Ayo.

Cebol segera menjulurkan lidahnya dan kemudian pura-pura pingsan di bawah meja. Birahinya turun. Dan mereka tertawa setelah perempuan itu menghilang pergi dan tak pernah balik lagi. Selang sepuluh menit, seorang polisi—diduga pacarnya datang menyodorkan pistol tanpa arah. Marah-marah. “Dimana lelaki itu?”

“Siapa?”

“Yang kurang ajar!”

“Oh sudah pergi…”

“Ke mana?”

“Baru saja ke arah timur menggunakan motor Ninja warna merah!”

Polisi itu sangat garang dan tambah kalap. Ia melengos dan menggeber motornya pergi mencari. Cebol masih dengan wajah tolol. “Dia mencariku?”

“Haha..iya. Santai saja. Semua orang bisa ditipu, kecuali Tuhan!” Maman menguatkan. “Besok aku pesankan kamu cinta melalui Go Sex!”

“Apa itu?” tanya Cebol.

“Sebuah aplikasi ajaib berwarna hijau tua. Seperti makanan bisa dipesan melalui Gofood, di aplikasi itu lebih canggih lagi bisa memesan perempuan. Asoy. “

Cebol memegang wajahnya nyeri. Es kopi di wajahnya sudah kering dilapnya dengan handuk warna kuning dekil. Ia berpikir, barangkali aplikasi itu bisa membuatnya puas soal birahi tanpa rayuan atau meminta untuk segera dimanja. Tapi, pengalaman pahit ini tak mungkin dilupanya hanya semalam. Keesokan hari, wajahnya memar dan ia sedikit meriang. Sakit rahangnya kambuh. Aduh, hyung. Kapok.

Maman pergi mengunjungi rumah dimana Cebol tinggal sebab satu minggu ia tak tampak. Di sebuah gang dengan bau tai ayam yang menguar di segala ceruk rumah tersusun batu-bata dengan tambalan triplek di tembok—dan tumpukan kardus, ia menyelinap masuk seperti ke sebuah lorong hitam kemiskinan yang membandel.

Burung dara masih kacau di atap-atap rumah dan sesekali turun mencari katel jagung di sore hari. Ada banyak botol-botol bekas di sana yang bertumpuk-tumpuk di karung-karung, dan ada banyak perempuan muda duduk-duduk di beranda rumah yang kumuh dengan tatapan genit setiap kali orang asing datang. Mereka putus sekolah.

“Mengapa kau tak ewean saja dengan orang itu?” Maman bicara.

“Mana mereka mau, dan akupun malu memintanya. Kami, kan, tentangga!” sahut Cebol.

“Haha…ya sudah, sembuhlah dulu. Nanti aku pesankan dan aku yang bayar,”

“Terserahmu saja. Tapi, tenaga perempuan waktu itu cukup kuat, ya. Aku curiga dia waria!”

“Haha…tidak. Dia hanya perempuan yang rajin pergi ke gym. Wajar kuat. Tapi aku yakin, lelakinya tak pandai di ranjang dan lemah. Emosian,” kata Maman. “Dan aku pikir, kaulah yang lebih jago dari pada polisi itu soal ranjang. Kau pasti lebih lincah. Bedilmu kan besar.”

Cebol senyum-senyum malu. Tapi tingkat rasa ingin anu-nya meningkat.

***

Setelah ia menelan banyak jamu dan obat penurun panas, dan dengan istirahat yang cukup. Kali ini ia tak lagi kurang ajar dan hati-hati menuduh perempuan bertete besar adalah seorang jablai. Dan tak aneh-aneh. Ia kembali duduk di kursi tempat yang dikhususkan Maman untuk Cebol setiap kali datang malam hari.

Mereka bercakap-cakap dengan nada rendah, bahwa mencari perempuan seperti mencari buah mangga atau buah jeruk, atau duren siap dibelah. Gampang. Sebab di antara mereka tak ingin bekerja mati-matian untuk hidup, untuk bisa mendapatkan uang dengan mudah dan banyak, keberanian melorotkan celana dalam adalah jalan ninja.

Bermodalkan merawat kulit agar putih dan sedikit meningkatkan skill merayu saja, lelaki mana yang tak tersihir untuk bermanja di dadanya sambil mengeluarkan uang berlembar-lembar?

Mungkin saja perempuan sekarang tidak berminat membanting tulang, karena mudahnya mencari kerja di negeri ini tapi gajinya sekecil titit orang abege. Tak masuk di akal. Atau memang lelaki tak banyak yang mapan untuk selera mereka sebagai suami sempurna. Untuk seorang ayah yang sempurna.

“Sebab itulah mereka membanting diri di kasur. Mengakali hidup,” kata Maman. “Barangkali, toh orang bercinta gak lama-lama amat. Paling banter lima menit. Dan yang masuk akal memang membesarkan tetek, peminatnya selalu banyak. Sudah pasti laris manis. Bencong saja laku!” lanjut Maman.

“Iya, iya! Tapi jadi kan kau pesankan aku jablai?”

“Jadi. Mau sekarang?”

“Kalau tidak keberatan.”

“Tapi. Seperti biasa..”

“Apa itu?”

“Pangkas!”

Malam mencair kental melumuri pikiran Cebol. Iblis cabul masuk ke liang anusnya di sela kentut. Deru napas mulai terdengar di mulutnya tak sabar melumat bibir. “Pilih,” kata Maman. “Mau yang mana?”

“Yang ini saja. Tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Pas!”

“Tapi harganya 500 rebu. Mau?”

“Tidak sanggup. Ya sudah yang ini saja kalo begitu!” Cebol menunjuk ke poto perempuan yang agak tua. Harga 200 boleh nego, bonus keluar di dalam berkali-kali. Ngeri.

“Wajahnya mirip seperti ibumu!”

“Ibuku sudah meninggal. Aku tak ingat wajahnya!”

“Becanda. Ya sudah, yang tadi saja, biar aku yang tambahi kurangnya berapa.”

Dil! Perempuan sudah dipesan, lokasi sudah dikirim. Tinggal ditunggu. Begitu canggih zaman ini. Semua hal dipermudah. Apalagi yang haram-haram. Sehingga betapa buntunya orang yang melakukan pemerkosaan, atau menjadi seorang pembegal tetek di gang sempit hingar bingar kota. Mengapa mereka tidak nge-GoSex saja? Lebih mudah. Lebih aman. Tidak perlu repot pergi ke tempat gelap.

Cebol terperanjat dari duduknya, dan mengganti gaya duduknya. Dada Cebol berdegup kencang seperti menunggu seorang kekasih lama tak bertemu. Rindu. Batinnya gugup luar biasa. Perempuan itu kemudian datang dengan motor metik.

Wajahnya ditutupi masker, tapi dada dan perutnya dibuka—erotis, dan pusar terlihat menggairahkan dengan bintik hitam bergambar love setengah menyala. Tubuhnya wangi sama seperti perempuan beberapa malam kemarin. Bedanya, yang ini ada lima tato ular di tangannya, dan kupu-kupu kecil di atas teteknya ada satu sedang terbang kesepian. Sepertinya mudah ditangkap.

“Ajaip!” lirih Cebol dengan akhiran huruf “P” bukan “B”. “Dia semakin dekat, Man. Ajip!!”

Perempuan itu menatap dan membuka maskernya dengan anggun. Ditambah nada bicaranya sehalus sutra. “Mau di mana, Mas?” tanya perempuan itu sopan. “Eh. Ini ber-satu. Atau bersatu. Hehe.”

Hening. Belum sempat dijawab, Cebol ngompol dan memeluk Maman.  “Aku malu, Man!”

Perempuan itu menutup hidung dan tertawa. [T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk BACA cerpen lain

Masak Apa Hari Ini?   |   Cerpen Lanang Taji
Gendewa   |   Cerpen Dian Havivia
Malam Ini | Cerpen Lanang Taji
Tonyan Kayu | Cerpen Ni Wayan Wijayanti
Kami Hidup di Sepanjang Sungai Kalimalang | Cerpen Pry S.
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Putu Gede Pradipta  |   Kaidah Lidah, Biru Seperti Laut

Next Post

Candi Lingga Belah, Karya Pematung Ketut Putrayasa di Pintu Masuk Bendungan Sidan

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Candi Lingga Belah, Karya Pematung Ketut Putrayasa di Pintu Masuk Bendungan Sidan

Candi Lingga Belah, Karya Pematung Ketut Putrayasa di Pintu Masuk Bendungan Sidan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co