23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 26, 2025
in Esai
Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?

Poster-poster film horor populer | Foto: Google

BARU-BARU ini saya berencana mengajak keluarga untuk pergi nonton film di bioskop. Tapi naas bagi saya, dari 6 film yang ditawarkan hari itu lima film merupakan film horor, yang satu film drama romantis. Sebenarnya saya senang juga dengan film horor karena tidak asing bagi saya. Tapi tidak cocok untuk anak saya.

Hal ini membuat saya sedikit merenung, betapa film horor menjadi favorit di masyarakat kita. Memang, film horor telah lama menjadi raja takhta box office Indonesia. Deretan film seperti Pengabdi Setan, Sebelum Iblis Menjemput, hingga KKN di Desa Penari membuktikan bahwa genre ini bukan sekadar film untuk menghibur, tetapi sekaligus juga fenomena budaya, ekonomi, bahkan psikologi yang menarik untuk kita cermati.

Sebagai orang Indonesia pasti sering Anda mendengar kisah kuntilanak di sudut kampung, pocong di sekitar kantor, atau genderuwo yang suka menampakkan diri di pohon besar? Tradisi lisan bermuatan mistis seperti ini bukan hanya dongeng omong kosong, tetapi merupakan tak terpisahkan dari kesadaran kolektif masyarakat Indonesia. Jadi dalam hal ini, horor bukan sekadar genre namun lebih sebagai jendela untuk menyaksikan warisan budaya yang hidup di sekitar kita.

Nah, para produser film horor Indonesia dengan cerdik memanfaatkan elemen-elemen ini. Lokasi-lokasi yang angker, ritual mistis, dan makhluk gaib bukan sekadar gimmick, tetapi merupakan simbol yang meresap dalam kehidupan sehari-hari. Ketika penonton menyaksikan film seperti Pengabdi Setan, mereka tidak hanya menikmati ketegangan, tetapi juga merasa terhubung dengan sesuatu yang sangat akrab, sesuatu yang mungkin pernah mereka dengar dari nenek atau orang tua.

Biaya Produksi yang Bersahabat           

Sekarang, mari kita lihat dari kacamata bisnis secara rasional. Coba saja kita kira-kira secara kasar saja produksi film aksi Hollywood yang dipenuhi ledakan dahsyat, efek visual berbiaya tinggi, dan jajaran aktor papan atas dibandingkan dengan genre horor lokal. Film aksi memerlukan tim produksi yang besar, penggunaan teknologi canggih, serta lokasi syuting yang spektakuler. Sementara itu, film horor lokal sering kali cukup memanfaatkan lokasi sederhana, seperti rumah tua, hutan lebat, atau gang sepi, ditambah lagi tanpa harus mengandalkan aktor dengan bayaran miliaran rupiah.

Contoh paling mencolok adalah KKN di Desa Penari. Film ini secara teknis jauh dari istilah “mewah” karena tidak ada ledakan, CGI spektakuler, atau bintang besar yang gajinya bisa bikin anggaran bocor. Namun, apa yang terjadi ketika dilempar ke khalayak? Film ini sukses mencetak pendapatan ratusan miliar rupiah. Bagi para produser, genre horor tentu adalah tambang emas. Lihat saja dari modal produksi yang relatif kecil, risiko kerugian jauh lebih rendah dibanding genre lain, namun potensi keuntungannya bisa luar biasa.

Dalam perspektif bisnis, ini adalah kombinasi sempurna: investasi minimal dengan peluang Return On Investment yang luar biasa besar. Apakah genre lain mampu menawarkan skema serupa? Sudah pasti sulit. Film horor, dengan segala kesederhanaannya dan kengiritannya, telah membuktikan bahwa kreativitas dan keberanian mengambil risiko, bisa menumbangkan logika kapital besar. Dalam industri perfilman yang semakin kompetitif, genre horor adalah bukti bahwa terkadang yang sederhana justru yang paling efektif dan menguntungkan.

Katarsis dari Realitas yang Menekan

Mari kita akui bahwa hidup di masa sekarang makin tidak mudah. Tingginya tekanan akibat masalah ekonomi, pendidikan, dan hubungan sosial sering kali membuat banyak orang merasa terjebak dalam rutinitas yang berat. Hari makin terasa pendek dan orang merasa makin tidak punya waktu rileks.

 Film horor, dengan pengalaman intens dan mendebarkan yang ditawarkan, menjadi distraksi positif yang memberi jeda dari beban hidup. Sensasi yang ditawarkan film genre ini bisa membantu menciptakan suatu momen “melupakan dunia”, meskipun hanya selama dua jam di dalam bioskop. Setelahnya? Ada rasa lega yang tidak bisa dijelaskan, seolah ketakutan itu telah “dicabut” dari kenyataan.

Menonton film horor sesungguhnya bisa menjadi semacam terapi emosional.  Sejalan dengan yang Mathias Clasen ungkapkan tentang recreational fear dalam “Playing with Fear: A Field Study in Recreational Horror”, yang diterbitkan pada tahun 2020 dalam jurnal Psychological Science. Dalam kondisi tekanan sosial dan ekonomi yang sering melanda masyarakat Indonesia, menonton film horor menawarkan suatu pelarian yang aman.

Ketakutan yang dirasakan di bioskop sebenarnya adalah terapi emosional, yang memungkinkan kita melepaskan stres atau emosi terpendam tanpa menghadapi ancaman nyata. Melalui ketegangan yang dirasakan, penonton secara tidak sadar memproses emosi mereka, atau mungkin bahkan trauma yang tak terselesaikan.

Film Horor dan Media Sosial: Penghubung Emosi di Era Modern

Film horor bukan sekadar pengalaman individual, tapi bisa jadi bahan obrolan yang panas di berbagai platform media sosial. Reaksi seperti, “Gila, serem banget filmnya, Cok, sampai kebawa mimpi buruk!” atau “Sumpah, adegan itu bikin jantung gue hampir copot!” sering kali memenuhi kolom komentar, thread, dan story di Instagram, X, hingga TikTok. Media sosial kini tidak hanya menjadi tempat berbagi pengalaman, tetapi juga ruang untuk membentuk komunitas emosional.

Ketika seseorang memposting reaksi mereka setelah menonton suatu film horor, hal itu sering memicu diskusi yang lebih luas. Orang lain yang membaca dengan cepat ikut-ikutan berkomentar, berbagi ketakutan yang sama, atau bahkan sekadar mengirim meme lucu terkait adegan menyeramkan. Proses ini menciptakan keterhubungan di antara netizen yang tidak saling mengenal.

 Mereka merasa divalidasi ketika mengetahui bahwa ketakutan, adrenalin, dan bahkan mimpi buruk mereka dirasakan juga oleh banyak orang lain. Dalam masyarakat modern Indonesia, di mana interaksi online sering kita keluhkan mulai menggantikan percakapan tatap muka, ini menjadi salah satu cara paling efektif untuk membangun rasa kebersamaan.

Yang menarik, film horor juga bisa menjadi pemantik obrolan yang lebih dalam. Di tengah masyarakat yang masih cenderung tabu membicarakan kesehatan mental atau emosi negatif, genre ini membuka ruang diskusi dengan cara yang santai namun signifikan dan mendalam. Ketakutan yang ditampilkan dalam film sering kali menjadi cerminan dari kecemasan, trauma, atau bahkan ketakutan kolektif masyarakat.

Ketika orang-orang mendiskusikan rasa takut mereka dalam film, mereka secara tidak langsung berbicara tentang emosi mereka sendiri, meskipun dalam format yang ringan. Sepertinya ada sisi positif film horor, di tengah masyarakat digital seperti Indonesia, film horor menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia berubah menjadi pengalaman bersama, percakapan lintas platform, dan bahkan bentuk terapi emosional yang tidak disadari.  

Lebih dari Sekadar Hiburan

Film horor di Indonesia jelas lebih dari sekadar hiburan. Ia adalah cerminan budaya, pelarian emosional, dan bahkan alat untuk memproses trauma kolektif. Dalam konteks kesehatan mental, genre ini memberikan ruang untuk katarsis, distraksi, dan refleksi.

Tapi, di sisi lain, ada pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama. Jika film horor begitu efektif membantu masyarakat mengolah emosi, apakah ini berarti ada masalah kesehatan mental yang lebih besar yang belum terjawab? Mengingat pula bahwa film horor begitu melimpah pilihannya di luar sana.

 Mungkin, saat kita menikmati ketakutan di layar, kita juga harus mulai mengintip kondisi kesehatan mental kita sendiri secara lebih serius. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton
Pemutaran Film “Death Knot”, Film Horor Tanpa Setan di BaliMakarya Film Festival 2022
Menonton Film Horor, Membayar Mahal untuk Menikmati Rasa Takut
Film Horor: Hantu Perempuan, Hukum, Agama, dan Hal-hal yang Berubah
Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!

Tags: filmfilm hororgaya hidup
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Satuan Pendidikan dan Pengelolaan Sampah

Next Post

Legu Juga Bisa Digugu

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Legu Juga Bisa Digugu

Legu Juga Bisa Digugu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co