24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis

Muhamad Irfan by Muhamad Irfan
January 18, 2025
in Ulas Musik
Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis

“Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis

SENI memiliki kekuatan transformatif yang tak terbatas, bergerak dalam lingkaran waktu yang tak pernah berhenti. Salah satu aspek penting dari seni adalah kemampuannya untuk berakar pada tradisi, namun juga terus berkembang, menemukan jalannya dalam dunia yang semakin kompleks dan dinamis. Proses pengawinsilangan antara tradisi dan modernitas menghasilkan karya yang tak hanya menghubungkan dua warna, tetapi juga menciptakan warna baru yang penuh dengan potensi dan makna yang tak terduga.

Salah satu karya yang memanfaatkan proses ini secara efektif adalah Gala Resonant, sebuah karya yang diciptakan oleh Muhammad Giffary dan dibantu oleh Rama Anggara dalam merancang instalasi elektronik. Karya ini ditampilkan pada Kamis (9/1/2025) di Studio Kayu Seni Kriya Institut Seni Indonesia Padang Panjang. Tidak hanya memadukan musik tradisional Minangkabau dengan teknologi elektroakustik modern, tetapi juga menciptakan narasi sosial dan filosofis yang kaya akan interpretasi.


Pertunjukan Gala Resonant sedang berlangsung/Call Me Odonk

Gala Resonant: Perpaduan Seni Tradisional dengan Teknologi Modern

Karya Gala Resonant adalah sebuah refleksi dari bagaimana seni dapat mengawinsilangkan akar tradisi dengan teknik modern. Giffary memulai karya ini dengan menggali bunyi-bunyi yang berasal dari alat musik tradisional Minangkabau, pupuik gadang, yang terbuat dari batang padi dan lilitan daun kelapa. pupuik gadang bukan hanya sekedar alat musik tiup, tetapi juga sarana untuk membangun komunikasi dan harmoni sosial dalam komunitasnya. Namun, Giffary tidak sekadar memperkenalkan kembali bunyi ini dalam bentuknya yang murni. Sebaliknya, ia mengolahnya melalui pendekatan elektroakustik eksperimental, sebuah teknik yang memungkinkan bunyi tersebut mengalami transformasi yang dramatis.

Menggunakan teknik spektral, Giffary dan Rama menggali potensi bunyi pupuik gadang dalam spektrum frekuensi yang lebih luas, menciptakan pengalaman suara yang penuh dengan lapisan makna. Suara tradisional tersebut tidak lagi hanya berfungsi sebagai pengingat akan masa lalu, tetapi juga sebagai dasar untuk menciptakan bunyi-bunyi yang menghubungkan alam, kehidupan sosial, dan pergerakan zaman. Di sini, Giffary dan Rama menunjukkan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang kaku, melainkan sebuah elemen yang hidup dan dapat berkembang, asalkan diberi ruang untuk beradaptasi dan berinovasi.

Transformasi bunyi pupuik gadang ke elektroakustik eksperimental/Call Me Odonk

Hal menarik dari Gala Resonant adalah kemampuannya untuk membangun narasi yang tidak hanya menghubungkan masa lalu dan masa kini, tetapi juga menggambarkan perjalanan waktu yang penuh dengan perubahan dan transformasi sosial. Dari awal pertunjukan, penonton dibawa ke dalam suasana masa lalu melalui bunyi pupuik gadang, dipadukan dengan gumaman laki-laki dan perempuan yang menciptakan kesan keakraban dan kedamaian kehidupan tradisional. Namun, seiring berjalannya waktu, bunyi-bunyi tersebut mulai tergantikan oleh suara-suara modern, seperti klakson kereta dan kendaraan, yang menandakan perubahan sosial dan industrialisasi.

Pada akhir pertunjukan, penonton dibawa ke dalam sebuah kesimpulan yang lebih reflektif, yaitu bunyi yang tidak menentu, menggambarkan perasaan kebingungan dan kehilangan arah di tengah pergolakan zaman. Di sini, Giffary dan Rama dengan cermat menghubungkan fenomena sosial dengan perjalanan bunyi, menjadikan karya ini lebih dari sekadar pertunjukan musik, tetapi juga sebuah komentar sosial tentang bagaimana zaman modern terkadang membuat kita kehilangan jati diri dan keterhubungan dengan akar tradisi.

Penyematan Simbol pada Instalasi Visual

Selain dari bunyi, Gala Resonant juga memperkenalkan instalasi visual yang menjadi komplementer bagi pertunjukan musik tersebut. Instalasi ini, yang diberi nama “Kulilik”, menyimbolkan payuang panji, yaitu simbol kepemimpinan dalam budaya Minangkabau. Berbentuk seperti susunan sapu lidi yang saling terhubung, dililitkan dengan selang dan kabel yang dihubungkan dengan lampu warna-warni, menciptakan sebuah struktur yang tidak hanya estetis, tetapi juga penuh dengan makna filosofis.


Instalasi Kulilik/Call Me Odonk

Dalam tradisi Minangkabau, payuang panji menggambarkan peran pemimpin yang melindungi dan mengayomi masyarakat. Begitu juga dengan instalasi Kulilik, yang berfungsi sebagai simbol dari kekuatan kepemimpinan yang menghubungkan berbagai elemen dalam masyarakat. Kabel-kabel yang melilit di instalasi tersebut menyimbolkan lilitan daun kelapa yang berfungsi sebagai corong atau resonator pada alat musik pupuik gadang. Melalui komposisi bentuk ini, Giffary dan Rama menciptakan hubungan yang erat antara bunyi dan visual, sehingga menciptakan sebuah pengalaman yang menyeluruh bagi penonton.

Estetika dalam karya ini tidak hanya terbatas pada bentuk dan suara, tetapi juga pada komposisi warna yang digunakan dalam instalasi. Warna-warna seperti oren, biru, hijau, putih, dan hitam tidak hanya memiliki fungsi dekoratif, tetapi juga simbolis. Oren mewakili pengayoman, biru dan hijau menggambarkan ketenangan, putih sebagai simbol keuletan, dan hitam sebagai lambang ketangguhan dan kegagahan, sehingga menciptakan harmoni dalam keberagaman. Melalui penggunaan warna yang penuh makna ini, sehingga tidak hanya memperindah karya, tetapi juga memberikan dimensi tambahan yang memperkaya pemahaman penonton terhadap karya tersebut.


Muhammad Giffary dan sebagian penonton sebelum pertunjukan Gala Resonant/Call Me Odonk

Keterbatasan pada Penonton

Namun, seperti halnya karya seni eksperimental lainnya, Gala Resonant tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh semua kalangan. Teknik elektroakustik yang digunakan, serta kompleksitas simbolisme dalam instalasi, dapat menjadi hambatan bagi penonton yang kurang terbiasa dengan bentuk seni semacam ini. Karya ini membutuhkan audiens yang terbuka untuk mengeksplorasi dan mendalami berbagai lapisan makna yang ada, baik dalam aspek bunyi, visual, maupun filosofis.

Sementara itu, inilah salah satu kekuatan dari karya ini. Giffary dan Rama menantang audiens untuk melihat melampaui permukaan, untuk menggali dan memahami makna yang lebih dalam. Dalam hal ini, Gala Resonant menjadi lebih dari sekadar karya seni; ia menjadi sebuah pembelajaran tentang bagaimana seni dapat membuka ruang bagi refleksi sosial dan filosofis, serta mengajarkan kita untuk lebih menghargai tradisi, sambil tetap terbuka terhadap inovasi.

Karya Gala Resonant adalah contoh yang jelas bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai medium ekspresi, tetapi juga sebagai ruang untuk pemikiran kritis dan refleksi sosial. Dengan mengawinsilangkan tradisi Minangkabau dengan teknologi modern, Giffary dan Rama menunjukkan bagaimana seni dapat berkembang tanpa melupakan akar budayanya. Karya ini, meskipun eksperimental dan kompleks, menemukan warna baru dalam penggarapan seni, memperkaya diskursus seni kontemporer dan memberikan ruang bagi interpretasi yang lebih dalam.


Tim “Gala Resonant “mengucapkan terima kasih kepada penonton/Call Me Odonk

Gala Resonant bukan hanya sekadar pertunjukan musik atau instalasi seni visual, tetapi juga sebuah perjalanan intelektual dan emosional yang membawa penonton pada pemaknaan baru tentang tradisi, modernitas, dan identitas. Seni terus berkembang, dan karya ini menjadi bukti bahwa seni adalah ruang yang tak terbatas, yang terus menemukan jalan bebasnya, memadukan yang lama dengan yang baru, serta mengundang penonton untuk berpartisipasi dalam penciptaan makna bersama.

Karya ini merupakan Tugas Akhir untuk meraih gelar sarjana, namun karya ini hadir dengan kekayaan makna yang melampaui ruang akademik. Ia bukan sekadar tugas formalitas, melainkan sebuah ekspresi artistik yang pantas menemukan tempatnya di panggung-panggung seni, berbicara kepada publik yang lebih luas dan menghidupkan dialog eksperimental yang mendalam. [T]

Jakarta, 2025

Passompe’ dari Kala Teater: Sebuah Jejak Perjuangan Tanpa Akhir – Tanpa Kalah
Madura dan Koreografi Pinggirannya yang Menggugat
Tembang Puitik Ananda Sukarlan: Penerjemahan Intersemiotik
Tags: ISI Padang PanjangmusikSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencari Idealitas Baleganjur | Ulasan Lomba Baleganjur Taksu Agung Festival 2025

Next Post

Bali Perlu Desain dan Terapi Kejut Pariwisata

Muhamad Irfan

Muhamad Irfan

Lahir di Pariaman, 26 September 1995. Alumnus Sastra Indonesia Unand. Tulisan pernah dimuat di Majalah Mata Puisi, Suara Merdeka, Tanjungpinang Pos, Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, marewai.com, dll. Saat ini mencari kehidupan di Jakarta.

Related Posts

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 21, 2026
0
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam...

Read moreDetails

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
0
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

Read moreDetails

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
0
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

Read moreDetails

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails

The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 1, 2026
0
The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

“Rhythm of the Rain” yang dinyanyikan oleh The Cascades tetaplah lagu yang sama seperti ketika pertama kali kita memutarnya puluhan...

Read moreDetails

‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

by Radha Dwi Pradnyani
February 23, 2026
0
‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

“Kenapa baru memberikan bunga ketika orang itu sudah membiru…?” Kalimat ini dilontarkan oleh pacar saya setelah dirinya melewati hari yang...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Bali Perlu Desain dan Terapi Kejut Pariwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co