23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Semua Berdagang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 7, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

GURU pelajaran ekonomi pada sekolah menengah pertama, pernah sakit hati pada saya, dulu sekali.  

Pasalnya, dalam sebuah obrolan dengan teman-teman sekelas; saya berujar tentang  korelasi ilmu ekonomi yang dipelajari di sekolah, dengan kehidupan sehari-hari yang manusia jalani.

“Saat berbelanja ke pasar, apakah rumus-rumus ekonomi akan kita gunakan? Tidak, bukan?” kata saya waktu itu.

Bisa jadi, ada siswa yang menyampaikan soal perkataan saya itu kepada guru perempuan tersebut yang di sekolah dikenal dekat dengan murid-murid.

Sejak itu, guru ekonomi tersebut selalu menyuruh saya untuk menjawab pertanyaan seusai ia menjelaskan pelajaran. Ada yang bisa saya jawab, ada pula yang tidak. Hanya saja, saya tahu ia ‘sakit hati’ pada saya. Mungkin ia merasa tidak dihargai, merasa disepelekan, mungkin juga merasa diremehkan.

Padahal, sebenarnya saya hanya mengkritisi pelajaran ekonomi pada kurikulum saat itu yang saya lihat amat berjarak dengan kehidupan nyata. Jika belajar tentang para pemikir ekonomi di dunia berserta teori dan pemikirannya tentunya masih relevan. Tapi kalau belajar yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, tentu hanya membuang-buang waktu dan energi saja.

Sekarang, ilmu kewirausahaan juga diajarkan di sekolah. Ini tentu sebuah kemajuan. Apalagi, jika sekolah mengadakan kegiatan expo, dimana para siswa terjun langsung untuk berjualan, merasakan bagaimana menjadi pedagang kuliner, misalnya; mulai dari memasak makanan yang hendak dijual, menata barang dagangan, hingga kemampuan komunikasi agar pengunjung mau mampir, mencicipi dan membeli makanan yang ditawarkan.

Dengan praktik langsung, keilmuan tidak lagi menjadi ‘kaku’, hanya teori yang terpampang pada buku-buku. Pengalaman di lapangan juga memberi kesan penting bagi para siswa; bagaimana sebuah ilmu diterapkan dalam kehidupan nyata.  

Pengalaman pribadi saya di masa lalu, ketika mempertanyakan relevansi ilmu ekonomi di sekolah, ternyata membawa saya pada sebuah pemahaman yang lebih mendalam tentang interaksi manusia. Awalnya, saya hanya melihat ekonomi sebagai sekumpulan angka dan rumus yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa ekonomi sejatinya adalah tentang bagaimana kita berinteraksi, bernegosiasi, dan membuat pilihan dalam hidup.

Setiap hari, kita terlibat dalam berbagai bentuk pertukaran. Ketika kita membeli makanan di warung, kita sedang bertukar uang dengan barang. Saat kita membantu teman mengerjakan tugas, kita sedang bertukar bantuan dengan persahabatan.

Bahkan ketika kita tersenyum kepada orang asing, kita sedang “menawarkan” keramahan dengan harapan mendapatkan respons yang positif. Semua interaksi ini, sekecil apapun, mengandung unsur pertukaran atau perdagangan.

Konsep “kita semua berdagang” ini tidak hanya berlaku dalam konteks ekonomi yang sempit, tetapi juga dalam hubungan sosial, politik, dan bahkan dalam kehidupan pribadi kita.

Dalam hubungan persahabatan, misalnya, kita seringkali “berinvestasi” waktu, energi, dan emosi dengan harapan mendapatkan dukungan, pengertian, dan kebahagiaan. Dalam dunia politik, para politisi “menawarkan” janji-janji kampanye dengan harapan mendapatkan suara pemilih.

Namun, perdagangan tidak selalu berjalan mulus dan adil. Seringkali, kita menghadapi situasi di mana kekuatan tawar menawar tidak seimbang. Misalnya, dalam hubungan antara pekerja dan pengusaha, pekerja mungkin merasa dipaksa untuk menerima gaji yang rendah karena takut kehilangan pekerjaan.

Dalam perdagangan internasional, negara-negara berkembang seringkali menghadapi tekanan dari negara maju dalam negosiasi perdagangan.

Selain itu, konsep “kita semua berdagang” juga memunculkan pertanyaan etis. Apakah semua bentuk perdagangan dapat dibenarkan? Bagaimana kita bisa memastikan bahwa perdagangan dilakukan secara adil dan tidak merugikan pihak lain? Dalam era globalisasi, di mana perdagangan lintas batas semakin marak, isu-isu seperti eksploitasi tenaga kerja, kerusakan lingkungan, dan ketidaksetaraan semakin menjadi sorotan.

Pemahaman tentang konsep “kita semua berdagang” dapat membantu kita menjadi konsumen yang lebih cerdas, pekerja yang lebih baik, dan warga negara yang lebih bertanggung jawab.

Dengan menyadari bahwa setiap tindakan kita memiliki konsekuensi, kita dapat membuat pilihan yang lebih bijaksana dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan sesama.

Konsep “kita semua berdagang” juga memiliki implikasi yang luas bagi cara kita memahami diri kita sendiri dan masyarakat. Jika kita melihat semua interaksi sebagai bentuk pertukaran, maka kita mungkin cenderung lebih fokus pada keuntungan pribadi daripada pada kepentingan bersama. Hal ini dapat mengarah pada individualisme yang berlebihan dan mengikis nilai-nilai sosial seperti solidaritas dan empati.

Di sisi lain, pemahaman yang mendalam tentang dinamika perdagangan dapat membantu kita membangun hubungan yang lebih sehat dan produktif. Dengan menyadari bahwa setiap interaksi melibatkan pertukaran, kita dapat lebih menghargai kontribusi orang lain dan berusaha untuk mencapai keseimbangan yang adil dalam semua hubungan kita.

Pada masa sekarang, kemampuan “menjual diri”, dalam artian mempromosikan tentang apa yang seseorang punya dan mampu lakukan—terutama dalam dunia kerja, menjadi sangat penting.

Tanpa disadari, mulai dari menjual kemampuan berbicara, menulis, mengajar, tenaga untuk pekerjaan fisik; misalnya pekerja proyek atau bangunan, hingga yang dianggap ‘salah’ di masyarakat sekalipun, yakni seks atau pelacuran—kita semua kalau mau jujur, ‘berdagang’, berjualan.

Bahkan, apa apa yang disebut menjilat sekalipun, itu butuh kemampuan tertentu. Jangan munafik. Jangan pula menghakimi. Apa yang menjadi contoh di atas adalah strategi untuk bertahan hidup yang makin keras, penuh persaingan, dan tidak jarang berlangsung secara tidak adil.

Menjadi catatan, jika kita membaca novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Dewi Lestari (Dee), dimana Diva, salah satu tokoh dalam novel tersebut berujar: Ternyata, pelacuran terjadi dimana-mana. Hampir semua orang melacurkan waktu, jati diri, pikiran bahkan jiwanya. Dan, bagaimana kalau ternyata itulah pelacuran yang paling hina? (Hal 69)

Kalimat Diva dalam novel Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh menyajikan sebuah pandangan yang provokatif dan kompleks tentang makna pelacuran. Melampaui definisi tradisional, Diva mengajak kita untuk merenungkan bahwa pelacuran tidak hanya terbatas pada pertukaran seks demi imbalan materi, tetapi juga mencakup berbagai bentuk eksploitasi diri.

Diva mendefinisikan pelacuran sebagai sebuah tindakan menjual sesuatu yang berharga, baik itu waktu, jati diri, pikiran, maupun jiwa. Dalam konteks modern, kita seringkali tanpa sadar terlibat dalam bentuk-bentuk pelacuran ini.

Misalnya, seorang pekerja kantoran yang menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor demi mengejar karir, pada dasarnya telah “melacurkan” waktunya demi mencapai tujuan materi. Seorang influencer yang menjual citra dirinya demi mendapatkan pengikut dan endorsement, juga bisa dianggap sebagai bentuk pelacuran. Diva menyiratkan bahwa ada hierarki dalam bentuk-bentuk pelacuran. Pelacuran fisik mungkin dianggap lebih kasat mata dan seringkali distigma, namun pelacuran yang melibatkan waktu, jati diri, atau jiwa dianggapnya lebih hina. [T]


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera
Pekerja Anak Dalam Kenangan
“Galbay” di Negeri “Wakanda”: Sebuah Renungan
Setelah Suami Berpulang
Enam Bulan Kerinduan
Perlukah Mal di Bali: Sebuah Kajian Antropologis
Tags: ekonomiPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fajar Harapan Menuju Indonesia Emas     

Next Post

Susah Senang Mahasiswa NTT Kuliah Sambil Kerja di Denpasar

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Susah Senang Mahasiswa NTT Kuliah Sambil Kerja di Denpasar

Susah Senang Mahasiswa NTT Kuliah Sambil Kerja di Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co