6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menantang Definisi Prasi | Catatan Pameran “Peta Tanpa Arah” Mahasiswa Seni Rupa Undiksha

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
December 29, 2024
in Ulas Rupa
Menantang Definisi Prasi | Catatan Pameran “Peta Tanpa Arah” Mahasiswa Seni Rupa Undiksha

Karya Reka Biambara dalam pameran mahasiswa seni rupa di Undiksha Singaraja | Foto: Purwita

AWALNYA saya kira pameran TA (Tugas Akhir), ternyata bukan. Pameran yang digelar oleh mahasiswa jurusan seni rupa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja di di  Galeri Paduraksa FBS, 27 Desember 2024 sampai 10 Januari 2025.itu adalah pameran studi khusus, semacam muara atas studi atau riset mahasiswa terhadap pilihan bidang ilmu seni rupa meliputi seni lukis, grafis, patung, tekstil, patung, keramik, penulisan/kuratorial, dan prasimologi.

Mereka yang berpameran adalah Fira Eldiana, Ketsia Rahel, Hendro Priyono, Ida Bagus Dwipayana, Ni Made Sahsikirani, I Made Bayu Saka Palwaguna, Septian Ari Sandi, I Kadek Agus Reka Biambara Putra, Komang Andi Wibawa Putra, Himan Cahyadin, Dewa Made Agung Kusuma Wardana, Restu Stefanny, I Gede Adi Maha Pratama, I Gede Putu Mahesa Pradnya Winata, Muhammad Ainur Rofiq, Ni Luh Putu Vanesha Axelia Damayanti, I Putu Egga Putra Adnyana, Made Cening Gandawangi, Gede Bayuna, I Nyoman Alex Kade, I Gede Agustawan Dwi Mahardika.

Suasana Pameran Peta Tanpa Arah di Gallery Paduraksa Prodi Seni Rupa Undiksha Singaraja | Foto: Purwita

Pameran studi khusus ini menghadirkan hasil studi mendalam mahasiswa terkait bidang-bidang seni rupa dan khusus bidang ilmu terakhir adalah yang paling mencuri perhatian, yaitu berkenaan dengan studi terhadap prasi atau ilustrasi yang pada umumnya ditemukan pada lontar maupun kertas.

Jurusan Seni Rupa, Undiksha, sangat berhasil mengembangkan seni prasi dalam istilahnya dinyatakan sebagai Prasimologi. Mata kuliah ini berkenaan dengan keilmuan terhadap seni ilustrasi khas yang dapat ditemukan pada masa lalu hanya pada media lontar dan kertas, figur dan atribut pembeda tokoh-tokoh yang digambarkan mengadaptasi wujud wayang klasik Kamasan. Kekuatannya pada garis-garis yang ditoreh pada media lontar dan garis-garis yang digurat pada media kertas. Kekuatan lainnya adalah tata cara pemilihan adegan atau tata cara menggambarkan figur tokoh berkenaan dengan konteks latar cerita. Sebab prasi sebagai sebuah ilustrasi tidak terlepas daripada sifat naratifnya yang kuat, dasarnya adalah cerita, baik sastra lisan maupun tertulis, seperti epos dalam kakawin, geguritan atau peparikan.

QR Code E-Catalogue Peta Tanpa Arah | Foto: Purwita

Definisi prasi dalam konteks studi kritis terhadap definisinya telah dilakukan oleh I Gede Gita Purnama A.P melalui tulisannya yang berjudul “Prasi? Sekilas Saja Tentang Penamaan”dan dapat dibaca pada buku Hard-Iman – Kumpulan Tulisan dan Karya Seni Budaya Rupa (2022) terbitan Komunitas Budaya Gurat Indonesia.

Pada tulisan itu dinyatakan bahwa perkembangan prasi kini nampak eksplorasi media yang sangat menarik, kombinasi lontar-tembaga, kombinasi lontar-kuningan, menjadi eksplorasi paling mutakhir kini pada seni jenis ini. Tentu eksplorasi-eksplorasi ini akan kian berkembang ke depan.

Gita Purnama atau yang saya akrabi dengan panggilan Bli Bayu menganalisis arti istilah prasi yang dilontarkan oleh I Ketut Suwidja dalam bukunya Mengenal Prasi (1979) terbitan Gedong Kirtya Singaraja, selain juga menelusuri definisi prasi dari kamus ke kamus dan leksikografi yang melekat pada prasi semisal lukisan pada lontar, lontar komik, gegambaran; sedangkan untuk medianya disebut terbatas pada lontar dan kertas.

Topik tulisannya berkenaan dengan asal-muasal definisi prasi dan melihat kenyataan perkembangan wujud prasi dari masa lalu hingga masa kini. Singkatnya Bli Bayu menyebutnya sebagai karya rupa-sastra untuk menyebut prasi.

Apa yang dinyatakan Bli Bayu pada tahun 2022 nampaknya meledak-ledak dari hasil capaian kreatifnya hari-hari ini di ruang pameran prodi seni rupa Undiksha. Sebab dua karya yang dipamerkan dalam konteks Prasimologi menunjukkan perkembangan melampaui definisi atas prasi itu sendiri.

Tercatat dua nama mahasiswa yang mengambil bidang Prasimologi, yakni I Gede Agustawan Dwi Mahardika dan I Kadek Agus Reka Biambara Putra.

Dwi Mahardika menghadirkan tiga panel karya dengan pendekatan penyajian ilusi optikal, pengerjaan masih dengan teknik tradisional yaitu daun lontar yang ditoreh kemudian dihitamkan dengan arang, akan tetapi tata cara bagaimana karya itu disajikan adalah hal menarik. Ilusi optikal didapatkan dengan menempelkan dua daun lontar seolah menekuk, penempatannya secara vertikal dan berjajar. Jika kita berdiri pada sudut tertentu, baik pada sisi kiri maupun kanan, yang ditetapkan maka kita akan melihat gambar adegan dengan jelas. Sedangkan jika melihat karya ini dari depan maka yang kita lihat adalah karya abstrak. Kualitas goresannya pun detail dan teliti begitu juga dari perwujudan figur dan komposisi.

Meskipun kita familiar dengan tata cara menyajian model ini dalam dunia modern, setidaknya model penyajian optikal seperti ini membuat prasi menjadi lebih segar dan mencuri perhatian dari pada karya lukisan lainnya yang berwarna.

Karya-karya Dwi Mahardika | Foto: Purwita

Tiga panel karya Dwi Mahardika bertema epos Bharatayudha dengan judul “Yudistira Crown and Hope”, “Arjuna Love and Dexterity” dan “Bima Greddy and Power.” Dimensi masing-masing karya adalah 50cm x 50cm. Fokus Dwi Mahardika lebih kepada penghadiran karakter dari tokoh Pandawa, hal itu nampak pada deskripsi karyanya yang lebih menekankan kehadiran karakter pun simbol dan tanda-tanda visual yang dimainkan pada karyanya.

Karya dari Reka Biambara Putra adalah gong dari seluruh karya yang dipamerkan pada ruangan pameran Paduraksa milik Prodi Seni Rupa Undiksha itu. Karya Reka Biambara Putra disajikan dengan instalatif, yaitu membawa fragmen gambelan jegog khas Jembrana ke dalam ruang pameran, akan tetapi bukan itu yang menarik dalam karya ini.

Jegog – Karya Reka Biambara | Foto: Purwita

Setelah mengamati instalasi fragmen jegog, ada detail yang mencuri perhatian yaitu bilah bambu jegog, ada narasi yang digambarkan pada batang instrument musik ini dan sangat kontekstual yaitu fragmen sejarah perkembangan alat musik jegog Jembrana dari masa Kyang Gliduh, Era Genjor, Era Ni Suprik, hingga Era Jayus dan Pekak Jegog.

Hal itu membuat saya harus mendekat lebih dekat sedekatnya pada batang bambu yang besar dan panjang, melihat ilustrasinya lebih dekat, fragmen per fragmen, komposisi visual yang dihadirkan pada batang bambunya. Ada eksplorasi medium yang dilakukan dan tidak terbayangkan sebelumnya bagi saya untuk menghadirkan fragmen ilustrasi narasi sejarah jegog melalui penerapan teknik pyrography pada batang-batang bambu jegog yang besar itu.

Jegog karya Reka Biambara dilihat secara detail | Foto: Purwita

Reka Biambara Putra dengan karya berjudul “Jegog” memiliki nilai yang kompleks.

Pertama, muatan nilai sejarah, bahwa ia melakukan studi kesejarahan dan mengkonstruksinya melalui fragmen-fragmen ilustrasi.

Kedua, pendekatan prasi yang ia lakukan pada karyanya dapat menjadi bahan analisis wacana lebih lanjut terkait definisi prasi itu sendiri.

Ketiga, inovasi yang memadu-padankan unsur utama prasi yaitu ilustrasi bersinggungan dengan keahlian tangan kriya tanpa merubah nada pada batang jegog, intinya sisi aplikatif dan fungsi bilah bambu pada jegog tidak terganggu.

Keempat, wacana kekontemporeran seni rupa Indonesia yang hadir dalam wujud instalatif dan proses dibalik perwujudan karya.

Saya menjadi optimis bahwa Prodi Seni Rupa dan Undiksha sebagai lembaga akademik telah berhasil membawa muatan lokal yaitu seni prasi kepada perkembangannya yang lebih baru dan kontroversial sekaligus dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Asalkan dengan catatan bahwa mahasiswa masih berpegang teguh pada daya imajinatif cipta mereka dan proses riset atau studi yang jelas dan serius.

Dan semoga semangat mereka (mahasiswa seni rupa) sejalan dengan pernyataan kuratorial mereka pada pameran Peta Tanpa Arah yang menyatakan “Kami tahu mau dibawa kemana seni rupa Undiksha 2021.” [T]

Pohmanis, 28 Desember 2024

“Peta Tanpa Arah”, Pameran Seni Rupa Mahasiswa Undiksha dengan Beragam Gagasan Kritis
Tags: pameran seniPameran Seni RupaSeni Rupaseni rupa undikshaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Alchemy of Shadows”: Pameran Seni Rupa Ketut Suwidiarta di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud

Next Post

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Tanamlah Musim dalam Jiwamu

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

by Made Chandra
February 9, 2026
0
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era...

Read moreDetails

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

by Rasman Maulana
February 6, 2026
0
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai...

Read moreDetails

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

by Hartanto
February 3, 2026
0
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata -  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya...

Read moreDetails

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

by Made Chandra
February 2, 2026
0
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh...

Read moreDetails

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

by Vincent Chandra
January 30, 2026
0
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan...

Read moreDetails

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

by Angelique Maria Cuaca
January 12, 2026
0
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Tanamlah Musim dalam Jiwamu

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Tanamlah Musim dalam Jiwamu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co