22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Janji Berjalan Dibayar di Jalan | Cerita Loyalitas Diding dan Artawan kepada PDI Perjuangan

Son Lomri by Son Lomri
December 2, 2024
in Khas
Janji Berjalan Dibayar di Jalan | Cerita Loyalitas Diding dan Artawan kepada PDI Perjuangan

Diding berfoto di plang nama Desa Pemuteran saat jalan kaki ke Singaraja

LELAKI itu berjalan sepanjang 89 kilometer, dari titik batas Kabupaten Jembrana-Buleleng di Desa Sumberklampok, Gerokgak, hingga Kantor DPC PDI Perjuangan di kota Singaraja. Kakinya lecet, sempat merasa ada serangan gaib, tapi ia tetap berjalan.  

Lelaki itu bernama Diding Kadir (45), biasa dipanggil Kang Diding. Ia tinggal di Jalan Melati, Kampung Mumbul, Kelurahan Banjar Jawa Singaraja. Pada 30 November 2024, sebelum siang, ia mulai start dari Desa Sumberklampok—desa di ujung barat Buleleng.

Berjalan kaki sepanjang 89 kilometer itu adalah janji dia. Dia berjanji, jika Sutjidra-Supriatna (calon bupati dan wakil bupati Buleleng)  dan Koster-Giri (calon gubernur dan wakil gubernur Bali) memang dalam Pilkada, ia janji berjalan kaki, sekuat tenaga, sekuat tekadnya.    

Bagi Kang Diding, janji adalah hutang. Maka, ia harus bayar hutang itu. Maka, berjalan kakilah dia.

Ia mulai berjalan jam 10 pagi pada 30 November dan tiba di Singaraja 2 Desember jam 03 pagi. Artinya, lebih dari 40 jam kakinya dilangkahkan, kadang di atas aspal, kadang di atas trotoar, kadang di atas tanah berdebu.  .

Diding saat berjalan dari Sumberklampok ke Singaraja | Foto: Dok pribadi

Saat ditemui di Singaraja, Senin, 2 Desember, Diding menunjukkan telapak kakinya yang lecet. Ia menghabiskan dua sendal, dan dalam satu hari—sekitar satu dus aqua ukuran botol tanggung ia teguk satu persatu.

 “Saya tak membawa air minum sepanjang jalan. hanya satu botol aqua saja itupun habis. Minum dan makan pemberian dari orang-orang di jalan. Mereka memberi semangat pada saya,” kata Diding.

Aksi berjalan kaki itu ia lakukan sebagai bentuk kegembiraan, dan rasa—dukungan kuatnya bahwa PDI tak bisa ditumbangkan. Tentu, katanya, dengar-dengar PDIP akan ditumbangkan oleh segala macam.cara. Hati Diding marah, sehingga janji itu pun terlontar kemudian,

“Kalau Pak Supit (panggilan Supriatna) menang, saya akan berjalan sejauh itu,” katanya dan ini adalah bentuk dukungannya secara moral yang kuat.

Terlebih, aksinya itu adalah bentuk penguatan pada jagoannya yaitu pasangan Sutjidra- Supriatna yang menang atas Sugawa Korry-Suardana beradasarkan hitung cepat usai pencoblosan 27 Nobemver lalu.

Apa yang membuat Kang Diding berani lecet berjalan kaki? Kenapa gak ngegrab aja biar lebih santai dan tepat waktu?

“Haha..” Ia tertawa. “Gak boleh ngegrab (naik grab), bohong namanya itu. saya tak mau membohongi masyarakat juga dukungan saya—bahwa saya main-main dalam melunasi nazar (hutang janji)saya,” katanya.

Kaki Diding yang lecet usai berjalan sepalama sekitar 40 jam | Foto: tatkala.co/Son

Awalnya, ia memperkirakan akan sampai dalam satu hari, tepatnya di jam 00.00 atau tengah malam pada 30 November. Ternyata waktu meluber dan ia harus lebih lama di jalan.

Meski lebih lama dari perkiraan, ia tetap gembira. Rasa solidaritasnya pada PDIP dan kepada orang yang ia harapkan sebagai pemimpin, sudah  terbuktikan dengan rasa puas.

Di jalan ia merasakan panas menyenyat, juga hujan serta angin kencang. Musim memang tak bisa ditebak. Kakinya lecet—kembung berair. Sendal habis dua. Dehidrasi, di suatu jalan—gelap, ia nyaris tumbang.

“Ada serangan gaib!” katanya mengira-ngira. Itu karena ia merasa tubuhnya tiba-tiba dingin.

“Di Seririt saya pergi ke orang pintar. Diberi air doa. Alhamdulillah, sembuh. Saya lanjut lagi berjalan. Sampai kantor DPC PDI pagi buta,” ujarnya.

Diding Kadir, kelahiran Kuningan 30 November 1979 itu—sepanjang jalan menggunakan warna baju merah. Menyala. Dengan bendera di tangan kanannya, berkibar menemani ia berjalan. Terkadang layu. Ia berteduh. Seseorang memberinya air minum.

“Kalau tidur atau istirahat itu dan kadang juga makan, saya mampir di kantor ranting PDI. Di sana ada yang menyambut, dan menjamu.”

Jalan Kaki dari Dencarik

Selain Kang Diding, 30 November itu ada juga simpatisan PDIP yang menunaikan nazar yang serupa. Ia adalah Putu Artawan.

Matahari siang juga memanggang tubuh Putu Artawan (54) ketika ia melunasi janjinya untuk berjalan kaki dari tempat tinggalnya di Desa Dencarik, Kecamatan Banjar, Buleleng. Sama seperti Diding, ia juga berjanji untuk kemenangan Sutjidra-Supriatna.

Artawan berjalan dari Desa Dencarik dan finish di kediaman Supriatna di Kelurahan Banyuasi, Singaraja. Jarak yang ditempuh Artawan tentu saja lebih pendek dari Diding. Artawan melewati beberapa desa seperti Kaliasem, Kalibukbuk, hingga Dusun Celukbuluh dan Desa Anturan, Tukadmungga, Pemaron, hingga tiba di Singaraja.

Putu Artawan berjalan kaki dari Dencarik ke Singaraja | Foto: Dok. pribadi

Modalnya hanya air minum di jalan, dan doa untuk sampai tuntas. Tekad. Ya, tentu, demi si jagoan. Adalah bentuk dirinya sebagai pendukung, selain setia, juga penuh yakin—Buleleng akan maju dipimpin sang jagoan. Keyakinan adalah bentuk lain dari kemungkinan. Semoga baik. Semoga.

 “Yang namanya janji harus dibayar. Bagaimanapun caranya,” kata Artawan tegas.

Pukul 07.00 WITA, Putu Artawan memulai langkah pertamanya. Tidak ada persiapan khusus, katanya. hanya doa, katanya, dan bumbu tekad kuat. Di sepanjang jalur Pantura Buleleng, dengan mengenakan udeng putih, baju kaos putih serta kamen putih, ia menyusuri jalan utama, melewati desa demi desa.

Dari Desa Temukus, Kaliasem, Kalibukbuk, hingga Dusun Celukbuluh, langkahnya tak pernah surut. Langkah dilanjutkan ke Desa Anturan, Pemaron, Tukadmungga, hingga akhirnya tiba di Banyuasri, Singaraja.

“Saya tidak pernah olahraga, terakhir lari saja mungkin dua tahun lalu,” ujar Artawan sambil tertawa kecil.

Meski begitu, rasa lelah tak menghentikannya. Bahkan saat telapak kakinya mulai terasa lecet, ia tetap melangkah.

“Ini semua karena dukungan Tuhan. Kalau bukan karena-Nya, mungkin saya tidak sampai di sini,” ujarnya dengan nada penuh syukur.

Sepanjang perjalanan, Artawan ditemani anaknya, Arya Prananda. Arya terus mendampingi ayahnya, memastikan sang ayah tak memaksakan diri.

“Saya bilang ke Bapak, pelan-pelan saja. Kalau sampai malam juga tidak apa-apa, yang penting selamat,” katanya.

Namun Artawan tetap pada pendiriannya. Tanpa istirahat, ia terus melangkah. Tidak ada makan besar, hanya minum air untuk menjaga stamina. Setiap langkah adalah bukti dari tekadnya untuk memenuhi janji yang diucapkan sebelum Pilkada.

Putu Artawan (kanan) dan anaknya | Foto: Dian

Setelah menempuh perjalanan panjang selama hampir 3,5 jam, Artawan akhirnya tiba di rumah Gede Supriatna. Rasa lelah seketika tergantikan dengan rasa lega dan bahagia.

“Saya dari awal yakin Pak Supriatna akan menang. Beliau dekat dengan masyarakat, jadi saya tidak ragu waktu bikin kaul ini,” ungkapnya.

Dengan telapak kaki yang sedikit lecet, senyum tergurat di wajah Putu. “Rasa bahagia ini mengalahkan segalanya. Semua sudah tuntas,” tambahnya.

Bagi Putu Artawan, perjalanannya bukan sekedar sebagai omong kosong, tetapi juga bukti dari ketulusan hati. Ini namanya nyali. “Yang namanya sesangi (kaul), harus dibayar. Itu prinsip saya,” tutupnya dengan mata berbinar.

Tabuhan Tuak

Di hari yang sama dengan Pak Putu, Made Suyasa dari Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng juga memenuhi janjinya sama. Usai melakukan persembahyangan di Pura Giri Emas, ia lantas melanjutkan perjalanan menuju Kota Singaraja. Bedanya, Made Suyasa tidak berjalan kaki.

Ketika tiba di pusat kota, Suyasa turun dari kendaraan menuju Tugu Singa Ambara Raja, titik nol Kota Singaraja. Di tangannya tertenteng sebuah jerigen ukuran tanggung lengkap dengan foto pasangan Sutjidra-Supriatna.

Dalam jerigen itu penuh berisi tuak asli Desa Tajun sebanyak 5 liter. Sekedar informasi, tuak dari Desa Tajun terkenal lezat dan manis.

Tuak yang dibawa Suyasa itu kemudian dipersembahkan terlebih dahulu di Tugu Singa Ambara Raja. Setelah melakukan beberapa ritual, tuak itu lalu ditabuh atau dituangkan di sekitar tugu. Usai ditabuh, tuak itu diminum dengan cara diceret sebanyak tiga kali.

Suyasa (kiri) | Foto: Ist

“Saya menabuh (menuangkan) tuak itu berharap dapat meneduhkan ketegangan-ketegangan dalam pilkada. Tuak itu bisa memabukkan tapi juga bisa digunakan dalam ritual. Filosofinya, jadi pemimpin jangan sampai mabuk kekuasaan. Sebisa mungkin meneduhkan bagi masyarakat,” kata dia.

Bagi seorang pedukung, kemenangan atas jagoan, tak bisa dibantahkan, merupakan kemenangannya juga. Sementara berani bersumpah setelah kemenangan itu, adalah bentuk loyalitas paling besar.

Tetapi, bagaimana dengan sang jagoan yang didukung? Apakah loyal juga kepada para pendukungnya? Semoga. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Bintang Jatuh di Kayu Buntil — In Memoriam M. Arif, Petugas Hansip yang Gugur di Sekitar Hari Pilkada
Cerita Pilkada dari Sebuah TPS di Kampung Bugis: Ibu yang Terburu dan Dua Hansip Tanpa Bintang  
Bahasa Isyarat yang Humanis dan Bahasa Ekspresif yang Di-off-kan dalam Debat Final Paslon Pilkada Buleleng
Dirah dan Pilkada dalam Mozaik Asik,  Sebuah Pameran Kebebasan Seniman Muda Undiksha
Seni-Budaya Sebatas Penarik Massa, Tak Pernah Jadi Program Serius dalam Kampanye Pilkada
Tags: PDI PerjuanganPDIPPilkadaPilkada BaliPilkada Buleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gym Sehat untuk Cegah Penyakit Jantung dan Otak

Next Post

Batur Utara Aktivasi Lokakarya dan Pameran Arsip “Citralana Bebaturan”

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Batur Utara Aktivasi Lokakarya dan Pameran Arsip “Citralana Bebaturan”

Batur Utara Aktivasi Lokakarya dan Pameran Arsip “Citralana Bebaturan”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co