23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sampah adalah Musuh Keindahan Bali

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 2, 2024
in Esai
Sampah adalah Musuh Keindahan Bali

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy | Diolah dari Canva

MASYARAKAT Hindu di Bali percaya dengan falsafah Tri Hita Karana, mengajarkan tentang hubungan harmonis yang patut diupayakan untuk menciptakan kehidupan yang bahagia dan rukun. Tidak sedikit yang menggembar-gemborkan falsafah tersebut, bahkan terkadang dicantumkan pula dalam promosi-promosi pariwisata.

Salah satu bagian dari Tri Hita Karana adalah palemahan, yang berarti hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan. Palemahan dapat diimplementasikan dengan menjaga lingkungan sekitar, tidak membuang sampah sembarangan, hemat menggunakan energi, merawat dan menanam pohon, menggunakan sumber daya alam secukupnya, dan masih banyak lagi.

Masyarakat hindu Bali juga merayakan tumpek wariga atau disebut juga dengan tumpek uduh, yaitu hari raya suci untuk menghaturkan rasa syukur kepada Tuhan dalam wujud tumbuh-tumbuhan. Sederhananya, perayaan terhadap lingkungan.

Tumpek Uduh dirayakan setiap enam bulan sekali, tepatnya pada hari Sabtu Kliwon, wuku Wariga, atau 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Biasanya pada perayaan ini, masyarakat akan menghaturkan banten atau sesajen berupa bubur sumsum dan canang. Kemudian, dilanjutkan dengan mengucapkan rasa syukur seraya berdoa agar tanaman bisa tumbuh subur. Kata ‘uduh’ sendiri dalam bahasa Bali berarti ‘perintah’, yaitu perintah kepada tanaman agar lebat berbuah.

Sampai saat ini, tradisi dan penghormatan kepada lingkungan masih tetap dilakukan oleh masyarakat Bali. Akan tetapi, di luar hal-hal yang menyangkut kepercayaan, benarkah masyarakat peduli dengan lingkungannya? Atau hanya sekadar formalitas keagamaan semata?

Kesakralan Terlibas Sampah

Nyatanya, masih banyak orang yang apatis dengan lingkungannya. Mereka tahu filsafat Tri Hita Karana, mereka paham konsep palemahan. Tetapi, mengimplementasikannya mereka masih abai.

Paling mudah bisa ditemukan saat ada pujawali atau upacara di pura-pura besar di Bali. Setelah selesai melakukan persembahyangan, masih banyak oknum masyarakat yang membuang sampah sembarangan, tidak hanya di luar tetapi juga ada di dalam areal pura. Lalu untuk apa datang jauh-jauh menghaturkan rasa syukur kepada Tuhan, tetapi tidak peduli dengan lingkungan yang juga pemberian Tuhan? Tidak hanya sisa persembahyangan, tetapi sisa makanan, dan plastik juga dibuang sembarangan begitu saja. Secara tidak langsung, rumah Tuhan telah dikotori.

Sarana upacara yang seharusnya menjadi sesuatu yang sakral, justru malah menjadi sampah yang mengotori lingkungan. Tentu bukan salah sampahnya, tetapi salah orang yang membawanya, yang tidak peduli dengan lingkungan.

Pemerintah jelas tidak menutup mata, berbagai peraturan telah diberlakukan untuk mengelola sampah yang kian hari semakin menimbun Bali. Namun, ternyata itu masih kurang efektif, perlu diadakan sosialisasi yang lebih intens kepada masyarakat, agar tahu dan paham bagaimana mengelola sampah pribadinya.

Dilansir dari postingan Instagram Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bali (@pplh_bali) yang diunggah pada 15 September 2022, dikatakan bahwa penyumbang sampah organik di Bali dominan berasal dari sisa sarana upacara. Dari data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia pada tahun 2021, komposisi sampah organik yang ada di Bali sebesar 55,47%.

Overtourism dan Sampah

Selain itu, masifnya industri turisme di Bali juga menjadi salah satu faktor terjadinya krisis ekologi di Bali. Baru-baru ini, Bali harus menerima kenyataan pahit dengan masuk ke dalam daftar 15 destinasi yang tidak layak dikunjungi sepanjang 2025 versi Fodor’s Travel–salah satu panduan perjalanan paling berpengaruh di dunia, asal Amerika Serikat.

Mengutip dari CNN Indonesia, dalam artikel “Bali Masuk Tempat Wisata yang Tak Layak Dikunjungi di 2025”, masuknya Bali bukanlah tanpa alasan. Selain karena overtourism, hal ini juga disebabkan karena masalah sampah plastik.

Fodor memasukkan Bali akibat permasalahan sampah dan overtourism yang dinilai merambah habitat alami Bali, mengikis warisan lingkungan dan budaya, serta menciptakan ‘apocalypse plastic’ atau ‘kiamat sampah plastik’.

“Pantai-pantai yang dulunya bersih, seperti Kuta dan Seminyak, kini terkubur di bawah tumpukan sampah, dengan sistem pengelolaan sampah setempat yang berjuang keras untuk mengatasinya,” tulis Fodor.

Permasalahan sampah tentu bukan sesuatu yang sepele, hal ini menjadi isu yang sangat serius. Banyak kasus-kasus yang telah terjadi akibat sampah, mulai dari satwa laut yang hidupnya terancam karena sampah, seperti penyu-penyu yang ditemukan mati akibat terjerat dan memakan sampah. Tercatat hampir seribu penyu mati setiap tahunnya karena sampah. Kemudian, ada pula berita pada 2018 silam tentang Rich Horner, penyelam asal Inggris yang membuat video saat ia menyelam di Bali, lautnya dihiasi sampah plastik dan pembungkus makanan.

Bahkan di Palung Mariana, titik terdalam di perairan bumi juga ditemukan sampah. BBC News Indonesia menceritakan, seorang penjelajah asal Amerika Serikat, Victor Vescovo menemukan kantong plastik di dasar laut saat ia memecahkan rekor penyelaman terdalam. Pertanyaannya adalah, bagaimana sampah plastik bisa sampai ke sana?

Resolusi Tanpa Aksi Sama Saja Basa-Basi

Permasalahan sampah akan selalu menjadi isu yang tidak ada habisnya untuk diperbincangkan. Upaya penyelesaiannya pun terbilang masih sangat sukar untuk dijalankan secara kolektif.

Namun, ini semua bukan hanya perihal sampah. Tetapi kembali lagi ke awal pembahasan, yaitu hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan. Lalu, dari berbagai macam permasalahan yang telah terjadi, apakah hubungan manusia dengan lingkungan bisa dikatakan harmonis? Segala macam problematika sampah menjadi tamparan keras untuk kita. Tentu, perlu keseriusan dan harus memiliki rasa tanggung jawab untuk urusan ini.

Seluruh lapisan masyarakat harus mempunyai kesadaran dan inisiatif untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Bali harus tetap menjadi pulau yang dijuluki pulau seribu pura dan pulau dewata, bukannya menjadi ‘pulau sampah’ ataupun ‘pulau plastik’. Sampah telah merusak citra Bali di mata dunia, kini sampah sudah menjadi musuh besar bagi keindahan Bali dan harus diperangi bersama.

Berbagai hal bisa dilakukan untuk menanggulangi sampah. Dimulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak membuang sampah sembarangan, dan mulai memilah-milah sampah dari organik, anorgarnik, serta sampah B3.

Sampah organik bisa dimanfaatkan untuk menjadi pupuk kompos, eco-enzim, pakan ternak, biogas, hingga kerajinan tangan. Hal tersebut sudah banyak dilakukan oleh komunitas-komunitas peduli lingkungan, para aktivis lingkungan hidup, dan kalangan masyarakat yang berkecimpung di bidangnya.

Kemudian sampah anorganik seperti kertas, kaca, dan plastik bisa didaur ulang kembali menjadi produk baru. Selain itu, bisa juga dijual ke bank sampah, dijadikan kerajinan, menggunakan kembali sampah yang masih bisa berfungsi, melakukan insinerasi untuk menjadi energi, dan masih banyak lagi. Itulah pentingnya memilah sampah dengan bijak, agar bisa dimaksimalkan menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Berbagai ilmu-ilmu tentang praktik pengolahan sampah semacam itu perlu disebarluaskan kepada masyarakat, agar masyarakat dapat mengetahui bagaimana cara mengolah sampah menjadi sesuatu yang berguna, yang sekaligus dapat menjaga ekosistem dan membuat lingkungan menjadi semakin baik.

Belakangan juga banyak bermunculan komunitas, LSM, hingga badan usaha peduli lingkungan yang diinisiasi oleh anak-anak muda. Tentu, hal semacam ini menjadi suatu langkah awal yang baik untuk menjaga lingkungan. Apalagi kesadaran terhadap kebersihan perlu dipupuk sedari dini, agar generasi mendatang selalu awas dengan lingkungannya.

Kini komunitas-komunitas tersebut telah menjadi daya tarik bagi anak-anak muda, banyak di antara mereka merasa keren jika bisa ikut dalam kegiatan-kegiatan sosial maupun bersih-bersih. Oleh karena itu, sosialisasi tentang menjaga lingkungan perlu digencarkan lagi kepada masyarakat. Tentu, pendekatannya harus dengan cara yang humanis, dengan kekinian, tidak kaku, serta sasarannya tidak hanya anak muda, tetapi juga masyarakat secara umum.

Semua harus dimulai dari kesadaran diri sendiri, karena penyelesaian masalah perlu dibarengi dengan tindakan yang nyata. Kalau dalam istilah Bali, ada yang namanya ‘Sekala-Niskala’, yaitu keseimbangan antara dunia kasat mata dan dunia maya. Jadi segala hal harus seimbang, harus beriringan bersama, tidak ada tumpang tindih.

Masyarakat Bali pasti percaya dengan adanya hukum karma. Apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Jika kita menanam cinta dan kebaikan kepada lingkungan, maka lingkungan akan memberikan cintanya pula kepada kita. Namun, jika kita mengotori dan mencemari lingkungan, maka semua keburukan seperti penyakit, polusi, dan lain sebagainya akan berbalik juga kepada kita, yang mungkin saja bisa memusnahkan manusia secara perlahan-lahan. [T]

BACA artikel lain dari penulis DEDE PUTRA WIGUNA

Menguatnya Kontrol Global dan Melemahnya Kontrol Lokal atas Lahan-lahan di Bali
Ada Sampah Plastik yang Estetik di Taman Bung Karno, Buleleng — Ini Karya Siswa SMPN 3 Sukasada
Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng
Tags: Pariwisatapengelolaan sampahpulau baliSampahsampah plastik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasraman Subak “Batur Hulu Kasuwakan” di Desa Batur Selatan: Pertegas Relasi Batur dengan Subak

Next Post

Gym Sehat untuk Cegah Penyakit Jantung dan Otak

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Gym Sehat untuk Cegah Penyakit Jantung dan Otak

Gym Sehat untuk Cegah Penyakit Jantung dan Otak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co