MENIKMATI objek dan daya tarik wisata dengan rasa tenang, nyaman, dan penuh keriangan adalah dambaan setiap wisatawan. Namun realitanya, tidak semua wisatawan dapat merasakan hal itu saat berkunjung ke destinasi wisata.
Wisatawan kadang dihadapkan pada kejengkelan. Ada saja situasi dan kondisi yang membuat wisatawan kesal di destinasi. Padatnya pengunjung, kemacetan lalu lintas, polusi, sampah, kebisingan, dan banyak lagi yang menyebabkan kesal.
Salah satu sumber rasa kesal wisatawan adalah wisata massal yang berkembang di destinasi itu. Wisata massal atau mass tourism adalah keadaan atau fenomena di mana satu destinasi dikunjungi oleh sejumlah besar orang dalam waktu yang bersamaan.
Beberapa negara pariwisatanya berkembang secara massal. Amerika Serikat telah lama mengembangkan wisata massal. Di Eropa ada Prancis, Spanyol, dan Italia. Negara di Asia yang wisatanya berkembang secara massal adalah China, Thailand, Singapura; termasuk Indonesia juga.
Destinasi wisata massal di beberapa negara memiliki ciri jumlah pengunjung yang besar, ribuan hingga jutaan wisatawan dalam waktu singkat. Apalagi saat musim libur atau pun long week end, destinasi itu akan dijejali wisatawan.
Wisata massal juga dapat ditengarai dari aksesibilitas dan akomodasinya. Meski memiliki aksesibilitas yang baik, destinasi wisata massal akan diwarnai dengan kemacetan lalu lintas. Tingkat hunian kamar juga tinggi, bahkan kadang terjadi perang tarif kamar hotel sebagai dampak membludaknya wisatawan.
Alasan
Banyak alasan mengapa orang mengunjungi destinasi wisata massal. Aksesibilitas dan fasilitas biasanya menjadi salah satu alasan. Destinasi wisata massal pada umumnya memiliki aksesibilitas yang mudah. Akomodasi dan sarana transportasi juga mudah didapatkan.
Atraksi wisata yang terdapat di destinasi menjadi alasan wisatawan untuk berkunjung. Destinasi wisata massal bukan hanya memiliki daya tarik objeknya, tetapi juga menyuguhkan atraksi berupa wahana permainan maupun pertunjukan seni.
Faktor lain yang menjadi alasan wisatawan mengunjungi destinasi massal adalah rasa aman dan nyaman saat berkunjung. Keamanan wisatawan atas dasar pertimbangan jumlah wisatawan yang banyak, sehingga tidak takut pada situasi yang sepi. Sedangkan kenyamanan didasarkan pada fasilitas umum yang biasanya tersedia dengan lengkap, seperti toilet maupun tempat ibadah.
Alasan yang paling kuat dari wisatawan untuk mengunjungi destinasi massal adalah pengaruh media sosial dan promosi pariwisata. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) terhadap objek wisata yang sedang populer menjadi alasan. Apalagi muncul persepsi tentang destinasi yang wajib dikunjungi.
Dampak dan Kekesalan
Dampak paling serius dari wisata massal adalah kerusakan lingkungan. Selain polusi air dan udara, wisata massal juga berdampak pada degradasi habitat. Meski demikian, nilai ekonomis yang tinggi membuat banyak pihak masih tetap tergoda untuk membuat destinasi wisata massal.
Lonjakan jumlah wisatawan yang banyak akan berdampak terhadap kepadatan penduduk. Hal ini tentu saja akan membebani penyediaan infrastruktur pelayanan publik, seperti sanitasi, air bersih, maupun fasilitas kesehatan.
Dampak yang serius adalah ketimpangan dan ketergantungan ekonomi dari pengembangan wisata massal. Manfaat ekonomi memang dirasakan dari pengembangan wisata massal. Namun, ketimpangan pendapatan juga dapat terjadi antara penduduk lokal, pengusaha, maupun investor. Ketergantungan ekonomi pada wisata massal juga sangat rentan apabila terjadi bencana maupun krisis ekonomi.
Rasa kesal akan dirasakan wisatawan pada destinasi massal. Jumlah pengunjung yang banyak di satu objek wisata massal akan mengakibatkan kepadatan dan keramaian yang justru mengurangi kenyamanan. Antrean panjang akan terjadi pada objek wisata yang populer.
Bukan hanya wisatawan; penduduk setempat pun merasa kesal jika objek wisata dikembangkan secara massal. Lalu lintas yang macet dan kebisingan terjadi setiap hari. Kehadiran wisatawan dalam jumlah yang besar juga sangat menganggu privasi warga lokal.
Solusi Ekstrem
Mengatasi wisata massal diperlukan kebijakan yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. Solusi yang bersifat ekstrem diperlukan untuk mengantisipasi dampak buruk dari wisata massal. Tanpa solusi kebijakan yang ekstrem, wisata massal akan terus berlangsung dengan alasan manfaat ekonomisnya.
Kebijakan ekstrem yang dilakukan oleh beberapa negara yang memiliki destinasi wisata massal adalah dengan membatasi jumlah pengunjung. Sistem kuota diterapkan pada saat atau musim tertentu. Jika kuota maksimal sudah terpenuhi, maka wisatawan tidak diizinkan mengunjungi destinasi itu.
Sistem zonasi juga dapat diterapkan pada destinasi massal. Destinasi yang memiliki beberapa objek wisata populer diterapkan pembatasan akses pada zona tertentu. Tujuannya, untuk proses pemulihan lingkungan alamnya.
Solusi sistem zonasi ini bisa dibarengi dengan kebijakan yang lebih ekstrem berupa penutupan sementara objek wisata massal. Hal ini dilakukan oleh pemerintah Thailand dengan menutup destinasi populer Maya Bay selama dua bulan, mulai tanggal 1 Agustus hingga 30 September 2024. Penutupan itu bertujuan untuk memulihkan ekosistem darat dan laut.
Penerapan pajak wisata kadang dianggap sebagai solusi yang ekstrem. Harapannya, minat wisatawan mengunjungi destinasi massal tidak terlalu tinggi. Namun kebijakan ini terkadang tidak efektif, apabila destinasi itu memang sudah populer di mata wisatawan. Bali misalnya, meskipun wisatawan mancanegara dikenai pungutan 150 ribu, angka kunjungan wisatawan tetap saja tinggi.
Kebijakan yang paling ekstrem barangkali adalah menghentikan promosi pada destinasi wisata massal yang mulai menunjukkan gejala kekesalan pada warga lokal maupun wisatawan. Kebijakan ini bertuan agar wisata massal di suatu negara atau daerah tidak menggoda wisatawan untuk datang.
Destinasi wisata massal memang bagai pisau bermata dua. Manfaat ekonominya mengundang godaan. Dampak buruknya menimbulkan kesal. Solusinya ada pada seluruh pemangku kepentingan pariwisata.[T]
BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU





























