13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wisata Massal: Godaan Mengundang Kesal

Chusmeru by Chusmeru
October 10, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MENIKMATI objek dan daya tarik wisata dengan rasa tenang, nyaman, dan penuh keriangan adalah dambaan setiap wisatawan. Namun realitanya, tidak semua wisatawan dapat merasakan hal itu saat berkunjung ke destinasi wisata.

Wisatawan kadang dihadapkan pada kejengkelan. Ada saja situasi dan kondisi yang membuat wisatawan kesal di destinasi. Padatnya pengunjung, kemacetan lalu lintas, polusi, sampah, kebisingan, dan banyak lagi yang menyebabkan kesal.

Salah satu sumber rasa kesal wisatawan adalah wisata massal yang berkembang di destinasi itu. Wisata massal atau mass tourism adalah keadaan atau fenomena di mana satu destinasi dikunjungi oleh sejumlah besar orang dalam waktu yang bersamaan.

Beberapa negara pariwisatanya berkembang secara massal. Amerika Serikat telah lama mengembangkan wisata massal. Di Eropa ada Prancis, Spanyol, dan Italia. Negara di Asia yang wisatanya berkembang secara massal adalah China, Thailand, Singapura; termasuk Indonesia juga.

Destinasi wisata massal di beberapa negara memiliki ciri jumlah pengunjung yang besar, ribuan hingga jutaan wisatawan dalam waktu singkat. Apalagi saat musim libur atau pun long week end, destinasi itu akan dijejali wisatawan.

Wisata massal juga dapat ditengarai dari aksesibilitas dan akomodasinya. Meski memiliki aksesibilitas yang baik, destinasi wisata massal akan diwarnai dengan kemacetan lalu lintas. Tingkat hunian kamar juga tinggi, bahkan kadang terjadi perang tarif kamar hotel sebagai dampak membludaknya wisatawan.

Alasan

Banyak alasan mengapa orang mengunjungi destinasi wisata massal. Aksesibilitas dan fasilitas biasanya menjadi salah satu alasan. Destinasi wisata massal pada umumnya memiliki aksesibilitas yang mudah. Akomodasi dan sarana transportasi juga mudah didapatkan.

Atraksi wisata yang terdapat di destinasi menjadi alasan wisatawan untuk berkunjung. Destinasi wisata massal bukan hanya memiliki daya tarik objeknya, tetapi juga menyuguhkan atraksi berupa wahana permainan maupun pertunjukan seni.

Faktor lain yang menjadi alasan wisatawan mengunjungi destinasi massal adalah rasa aman dan nyaman saat berkunjung. Keamanan wisatawan atas dasar pertimbangan jumlah wisatawan yang banyak, sehingga tidak takut pada situasi yang sepi. Sedangkan kenyamanan didasarkan pada fasilitas umum yang biasanya tersedia dengan lengkap, seperti toilet maupun tempat ibadah.

Alasan yang paling kuat dari wisatawan untuk mengunjungi destinasi massal adalah pengaruh media sosial dan promosi pariwisata. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) terhadap objek wisata yang sedang populer menjadi alasan. Apalagi muncul persepsi tentang destinasi yang wajib dikunjungi.

Dampak dan Kekesalan

Dampak paling serius dari wisata massal adalah kerusakan lingkungan. Selain polusi air dan udara, wisata massal juga berdampak pada degradasi habitat. Meski demikian, nilai ekonomis yang tinggi membuat banyak pihak masih tetap tergoda untuk membuat destinasi wisata massal.

Lonjakan jumlah wisatawan yang banyak akan berdampak terhadap kepadatan penduduk. Hal ini tentu saja akan membebani penyediaan infrastruktur pelayanan publik, seperti sanitasi, air bersih, maupun fasilitas kesehatan.

Dampak yang serius adalah ketimpangan dan ketergantungan ekonomi dari pengembangan wisata massal. Manfaat ekonomi memang dirasakan dari pengembangan wisata massal. Namun, ketimpangan pendapatan juga dapat terjadi antara penduduk lokal, pengusaha, maupun investor. Ketergantungan ekonomi pada wisata massal juga sangat rentan apabila terjadi bencana maupun krisis ekonomi.

Rasa kesal akan dirasakan wisatawan pada destinasi massal. Jumlah pengunjung yang banyak di satu objek wisata massal akan mengakibatkan kepadatan dan keramaian yang justru mengurangi kenyamanan. Antrean panjang akan terjadi pada objek wisata yang populer.

Bukan hanya wisatawan; penduduk setempat pun merasa kesal jika objek wisata dikembangkan secara massal. Lalu lintas yang macet dan kebisingan terjadi setiap hari. Kehadiran wisatawan dalam jumlah yang besar juga sangat menganggu privasi warga lokal.

Solusi Ekstrem

Mengatasi wisata massal diperlukan kebijakan yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. Solusi yang bersifat ekstrem diperlukan untuk mengantisipasi dampak buruk dari wisata massal. Tanpa solusi kebijakan yang ekstrem, wisata massal akan terus berlangsung dengan alasan manfaat ekonomisnya.

Kebijakan ekstrem yang dilakukan oleh beberapa negara yang memiliki destinasi wisata massal adalah dengan membatasi jumlah pengunjung. Sistem kuota diterapkan pada saat atau musim tertentu. Jika kuota maksimal sudah terpenuhi, maka wisatawan tidak diizinkan mengunjungi destinasi itu.

Sistem zonasi juga dapat diterapkan pada destinasi massal. Destinasi yang memiliki beberapa objek wisata populer diterapkan pembatasan akses pada zona tertentu. Tujuannya, untuk proses pemulihan lingkungan alamnya.

Solusi sistem zonasi ini bisa dibarengi dengan kebijakan yang lebih ekstrem berupa penutupan sementara objek wisata massal. Hal ini dilakukan oleh pemerintah Thailand dengan menutup destinasi populer Maya Bay selama dua bulan, mulai tanggal 1 Agustus hingga 30 September 2024. Penutupan itu bertujuan untuk memulihkan ekosistem darat dan laut.

Penerapan pajak wisata kadang dianggap sebagai solusi yang ekstrem. Harapannya, minat wisatawan mengunjungi destinasi massal tidak terlalu tinggi. Namun kebijakan ini terkadang tidak efektif, apabila destinasi itu memang sudah populer di mata wisatawan. Bali misalnya, meskipun wisatawan mancanegara dikenai pungutan 150 ribu, angka kunjungan wisatawan tetap saja tinggi.

Kebijakan yang paling ekstrem barangkali adalah menghentikan promosi pada destinasi wisata massal yang mulai menunjukkan gejala kekesalan pada warga lokal maupun wisatawan. Kebijakan ini bertuan agar wisata massal di suatu negara atau daerah tidak menggoda wisatawan untuk datang.

Destinasi wisata massal memang bagai pisau bermata dua. Manfaat ekonominya mengundang godaan. Dampak buruknya menimbulkan kesal. Solusinya ada pada seluruh pemangku kepentingan pariwisata.[T]

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

“Beach Club”: Wisata Elit bagi yang Berduit
Wisata Sejarah: Merekonstruksi Masa Lalu
Moratorium Hotel di Bali: Seberapa Penting?
Membedah Problematika Pariwisata Daerah
Tags: Pariwisatawisata massa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BUILD UP di ARTspace ARTOTEL Sanur: Empat Perupa dengan Beragam Gagasan

Next Post

Heha Sky View, Taman Langitnya Yogyakarta

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Heha Sky View, Taman Langitnya Yogyakarta

Heha Sky View, Taman Langitnya Yogyakarta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co