25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Ingatan, Merayakan Warisan: Catatan Gong Mebarung Desa Menyali dan Jagaraga

Jaswanto by Jaswanto
September 27, 2024
in Panggung
Merawat Ingatan, Merayakan Warisan: Catatan Gong Mebarung Desa Menyali dan Jagaraga

Penari Trunajaya dari Sekaa Gong Legendaris Saraswati | Foto: tatkala/Jaswanto

TABUH Bratayuda dimainkan. Penonton bersorak. Lapangan kecil itu bergemuruh. Suara gong dan ramai penonton membaur dalam suasana yang sulit dijelaskan. Mendung yang mendaulat langit Menyali sejak sore hari, bergeming dan seolah tak “berani” meneteskan airnya meski barang sebutir—atau mungkin merasa cukup setelah membuat kuyup Menyali pada siang hari sebelum perayaan dimulai.

Dan di luar dugaan, Made Kranca, yang usianya sudah tak lagi muda itu, bahkan ikut serta membawakan repertoar Bratayuda dengan permainan ugal-nya yang mengesankan. Ah, dasar maestro, ia menabuh gamelan berbilah itu semudah mengedipkan kedua matanya.  

Kranca dan Bratayuda menggila. Sementara penonton semakin girang saat panggul-panggul dan tangan-tangan penabuh mulai mempercepat gerakannya. Saking cepatnya, panggul-panggul itu tampak seperti memukul angin, tak sampai menyentuh gamelan. Saat menjelang akhir, gemuruh sorakan dan tepuk tangan datang dari berbagai arah, tak putus-putus. Malam itu, Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng, membuka gong mebarung dengan cukup baik.

Malam semakin pecah saat Sekaa Gong Legendaris Saraswati Desa Menyali, Sawan, Buleleng—yang notabene sebagai tuan rumah gong mebarung kali ini—memainkan Tabuh Lelonggoran Ombak Kaulu setelah Bratayuda diperdengarkan. Seakan tak mau kalah dengan kebyar tabuh ciptaan the one and only, sang maestro Gde Manik, tabuh tua karya Guru Cening Beritem dan Guru Gede Negara—dua maestro gong kebyar Menyali—ini mengentak dan mengejutkan.

Made Kranca di tengah-tengah Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Jagaraga | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dengan tabuhan yang kadang-kadang lembut, juga keras, yang harmonis, Ombak Kaulu seperti debur laut yang datang dan pergi di sasih kaulu, deburan maha besar, seakan-akan mendengarkan suara gemuruh. Gelombang suara itu memacak dan menyita mata dan telinga penonton untuk tak berkedip dan menuli. Satu kata yang dapat mewakili tabuh ini ialah: dahsyat. Guru Cening dan Guru Negara telah mewariskan sebuah repertoar yang indah sekaligus enak didengar, meski bagi orang awam barangkali kata “idah” dan “enak” itu terlalu rumit untuk dijelaskan.

Tetapi tabuh lelongoran dalam pengertian identitas musikal adalah sebuah produk budaya-seni karawitan khas Buleleng yang tidak dimiliki oleh daerah manapun di Bali. Komposisi ini secara fungsional digunakan dalam multikonteks kehidupan sosial kultural masyarakat Buleleng.

Dan sebagaimana tuan rumah pada perhelatan apa pun, penonton dari Menyali tentu saja lebih banyak daripada Jagaraga. Maka tak heran jika sorakan dan tepuk tangan untuk Ombak Kaulu terdengar lebih meriah daripada Bratayuda. Tapi sulit juga untuk tidak bersorak dan tepuk tangan saat Bratayuda dimainkan sebelumnya. Artinya, terlepas dari selera pendengaran setiap orang, kedua tabuh ini memang sama-sama menakjubkan.

Menyita perhatian agaknya menjadi frasa yang tepat untuk menyebut pertunjukan gong mebarung yang diselenggarakan Desa Adat Menyali dalam rangka “Otonan Gong dan HUT ke-90 Bendera Saraswati Raja Klungkung” di lapangan Desa Menyali, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Rabu (25/9/2024) malam itu.

Pertunjukan ini digelar sebagai semacam penguat ingatan atas riwayat kesenian dan kebudayaan sekaligus penghormatan kepada para leluhur Desa Menyali. Pula mempererat hubungan antara Menyali dan Jagaraga yang sudah terjalin sejak dulu.

Penabuh Sekaa Gong Legendaris Saraswati Menyali | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Desa Menyali, sebagaimana keterangan Kelian Desa Adat Menyali, Jro Gede Carita, memiliki dua, katakanlah, “pusaka” berupa gong gantung (lanang) dan kemong. Gong gantung yang diberi nama Sekar Gadung ini merupakan anugerah—atau pemberian—dari Raja Buleleng pertama Ki Barak Panji Sakti atas rasa terima kasih sekaligus penghormatan kepada Pasek Menyali, pengelingsir Desa Menyali, yang telah ikut-serta Ki Barak saat membantu kapal dagang Cina yang kandas di Pantai Penimbangan pada tahun 1640—seperti yang tercatat dalam Babad Buleleng yang tersimpan di Gedong Kirtya. Sedangkan kemong yang diberi nama Sekar Taji itu, adalah warisan dari Jro Pasek Bulian, Jro Pasek Kubutambahan, dan Jro Pasek Menyali.

Tak hanya gong, Menyali juga memiliki panji/bendera bersejarah yang didapat dari Raja Klungkung Anak Agung Geg pada 10 November 1934, 90 tahun silam. Bendera Saraswati ini semacam piala atas kemenangan Sekaa Gong Desa Menyali saat Parade Gong Mebarung di Puri Klungkung zaman itu. Saat ini, panji Raja Klungkung itu kondisinya masih tampak baik meski terdapat beberapa lubang. Dan pada saat ulang tahunnya yang ke-90, bendera ini ditancapkan di antara gamelan kebyar bersama pusaka gong dan kemong pada mebarung malam kemarin.

Dalam khazanah kebyar, Menyali dan Jagaraga merupakan dua desa penting yang sama-sama dianggap sebagai “ibu kandung”—walaupun masih terjadi perdebatan—kesenian gong Bali yang lahir pada abad ke-20 ini. Jauh sebelum kebyar menjadi pelebur gong-gong tua dan menggerakkan revolusi kesenian Bali, menurut Jro Gede Carita, pada kisaran tahun 1640-an, Sekaa Gong Desa Menyali sudah lahir dengan nama Sekaa Gong Sekar Gadung.

“Nama itu kemudian berganti menjadi Sekaa Gong Saraswati Menyali saat mendapat penghargaan dari Raja Klungkung. Saraswati itu sesuai dengan nama bendera yang diberikan,” ujar lelaki paruh baya yang fasih berbahasa Bali halus itu.

Penari Trunajaya Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Jagaraga | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Jika di Jagaraga ada nama I Wayan Paraupan—atau yang lebih dikenal dengan nama Pan Wandres—dan Pan Cening Liyana yang dianggap sebagai pelopor gong kebyar pada tahun 1910-an, di Menyali tersebut nama Guru Cening Beritem dan Guru Gede Negara—sebagaimana orang Menyali memanggil dua sosok tersebut. Pan Wandres dan Pan Cening Liyana menelurkan Kebyar Legong, sedangkan Cening Beritem dan Gede Negara melahirkan Legong Pengeleb pada kisaran tahun 1930-an.

Pada 1937, berdasarkan keterangan Anak Agung Gde Gusti Djelantik (Regen Buleleng saat itu), dalam catatannya yang berjudul Music in From and Instrumental, Organization in Balinese Orchestral Music yang diterbitkan pada 1986, Colin McPhee menyebutkan bahwa gong kebyar, untuk pertama kalinya, diperdengarkan kepada khalayak umum pada Desember 1915, yakni pada saat beberapa sekaa gamelan terbaik di Bali Utara mengikuti perlombaan gamelan di Jagaraga.

Dan sangat memungkinkan Menyali juga ikut serta dalam perlombaan tersebut. Mengingat, dalam buku I Wayan Senen yang berjudul Wayan Beratha Pembaharu Gamelan Kebyar Bali (2002), selain eksis di Desa Jagaraga, sebenarnya gong kebyar juga sudah eksis di beberapa desa lain di Bali Utara, seperti Desa Bungkulan, Ringdikit, Sawan, Banyuatis, Nagasepa, Patemon, Menyali, Bebetin, Bubunan, Bantiran, dan Kedis. Sekali lagi, soal gong kebyar, bisa jadi Menyali dan Jagaraga memang sama tuanya.

Merayakan Warisan

Semalam, masing-masing sekaa gong membawakan dua tabuhan (repertoar) dan tarian. Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma membawakan Tabuh Pepanggulan Bratayuda dan Manik Amutus, pula Tari Trunajaya dan Palawakya. Sedangkan Sekaa Gong Legendaris Saraswati dengan percaya diri memperdengarkan Tabuh Lelonggoran Ombak Kaulu dan Tabuh Kreasi Sri Wijaya serta Tari Trunajaya dan Tari Legong Pengeleb.

Seolah sudah menjadi pengetahuan umum, Tabuh Pepanggulan Bratayuda lahir dari tangan dingin Gde Manik di mana tabuh ini terinspirasi dari perang besar dari epos Mahabarata, Perang Bharatayudha—atau Perang Kurukshetra karena terjadi di Padang Kurukshetra. Karya ini tercipta pada era 1950-an. Melalui repertoar ini, sebagai sebuah komposisi karawitan baru pada zamannya, Gde Manik mengemas nada-nada dalam struktur dan garap yang bebas, tapi tetap tidak meninggalkan unsur-unsur garap tradisi, seperti gilak, kebyar, pengadeng, dan gegenderan.

“Tempo, dinamika, suasana dan struktur, digarap sesuai dengan dramaturgikal Perang Bharatayudha,” ujar Nyoman Arya Suriawan, Kelian Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma, suatu ketika.

Pada 1970-an, seorang murid Gde Manik yang masih hidup hingga kini, Made Kranca, mencoba membuat sebuah komposisi baru untuk Sekaa Gong Jagaraga. Bersama sang guru akhirnya Kranca melahirkan sebuah tabuh yang mengambil ide dan roh dari beberapa komposisi gamelan sebelumnya, seperti gender wayang, lelonggoran, dan gambang. Komposisi itu kemudian dikenal dengan nama Tabuh Manik Amutus.

Namun, jauh sebelum Bratayuda dan Manik Amutus diciptakan, Tabuh Lelonggoran Ombak Kaulu dan Tabuh Kreasi Sri Wijaya yang dibawakan Sekaa Gong Legendaris Saraswati malam itu, lahir pada tahun 1913. Seperti yang sudah disinggung di atas, Ombak Kaulu lahir dari dua orang seniman Menyali bernama Guru Cening Beritem dan Guru Gede Negara.

Penari Palawakya Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Jagaraga | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sedangkan Kreasi Sri Wijaya ditelurkan oleh Putu Kota dan Gede Negara. Jika Ombak Kaulu terinspirasi dari gerakan gelombang, Sri Wijaya lahir dari petani panen padi. Sri Wijaya dipersembahkan kepada petani dan segala kesuburan tanah Menyali—Ida Betara Sri.

Sri Wijaya diaransemen oleh Ketut Rediasa dan Kadek Adi Atmajaya. Tabuh ini diawali dengan gegenderan klasik, selanjutnya diiringi oleh instrumen-instrumen gamelan lainnya secara berbarengan. Tabuh ini didominasi oleh instrumen reong dan silih berganti dengan instrumen-instrumen lainnya.

Selain tabuh, setidaknya ada tiga tarian yang dipentaskan malam itu, yaitu Trunajaya, Palawakya, dan Legong Pengeleb. Trunajaya dan Palawakya menjadi salah dua tarian kebyar yang populer dari Desa Jagaraga. Tari Trunajaya berserta kisah di baliknya, nyaris selalu disebut saat berbicara gong kebyar. Sedangkan Palawakya jelas sebuah masterpiece dari Wayan Paraupan—atau Pan Wandres, guru Gde Manik, juga kakek kandung Made Kranca.

Palawakya merupakan tarian kebyar yang menuntut penarinya untuk memiliki kemampuan yang virtuistik. Pasalnya, saat menarikan Palawakya penari harus menguasi tiga keahlian sekaligus, yaitu menari, menabuh, dan menembang (malawakya/mekekawin). Ini seolah menunjukkan bahwa Pan Wandres bisa dan mampu menguasai ketiga kemampuan terebut.

Dan Tari Legong Pengeleb yang diciptakan pada tahun 1934 oleh Guru Cening Baritem dan Guru Gede Negara itu menjadi penutup gong mebarung yang diadakan Desa Adat Menyali malam itu. Lengong Pengeleb menggambarkan suasana hati kaum perempuan yang penuh kegembiraan dengan ekspresi bahagia, suka cita, dan keagresifan karena telah terbebas. Kata “pengeleb” berarti bebas. Tarian ini lahir di zaman pergerakan nasional dan emansipasi wanita.

Menyaksikan gong mebarung antara Menyali dan Jagaraga malam kemarin, penonton seperti bernostalgia saat kedua desa tersebut pentas di panggung Pesta Kesenian Bali—walaupun pada saat itu mereka tidak bertemu dalam satu waktu dan panggung. Sekaa Gong Desa Menyali tampil di panggung Ardha Candra, Denpasar, 28 Juni 2023 yang lalu. Mereka juga menampilkan tabuh dan tari seperti yang dipentaskan di panggung yang berdiri di lapangan Desa Menyali malam kemarin.

Penari Legong Pengeleb Sekaa Gong Legendaris Saraswati Menyali | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sedangkan Sekaa Gong Jagaraga pentas di panggung Ardha Candra Pesta Kesenian Bali pada 10 Juli 2024. Dan apa yang ditampilkan Sekaa Gong Jagaraga malam kemarin juga dipentaskan di PKB beberapa bulan yang lalu.

Sampai di sini, apa yang dipentaskan oleh kedua sekaa malam kemarin seluruhnya adalah karya “warisan”  para seniman terdahulu yang lahir dan hidup di kedua desa tersebut. Tak ada garapan baru entah dari Jagaraga maupu Menyali—kecuali Legong Pengeleb yang merupakan hasil rekonstruksi I Made Redita (Pan Carik), I Made Kranca, dan I Made Panca Wirsutha. Itupun bukan karya baru, hanya sekadar rekonstruksi dari karya yang sudah ada sebelumnya.

Namun, meski demikian, warisan juga tetap harus dirayakan. Merayakan warisan ini dapat kita baca sebagai bentuk penghormatan, juga dalam rangka pelestarian dan merawat ingatan akan mahakarya yang pernah lahir dari Jagaraga dan Menyali beserta sosok yang telah menciptakannya. Dengan adanya acara semacam ini, nama-nama lama seperti Guru Cening Baritem, Guru Gede Negara, Pan Wandres, dan Gde Manik kembali diperdengarkan—walaupun barangkali lamat-lamat dan sepintas lalu.

Menyali dan Jagaraga tentu saja memiliki seni-budaya yang kaya, baik yang bersifat tangible maupun intangible. Warisan seni-budaya ini menyimpan banyak kearifan masa lalu dari nenek moyang mereka. Namun, perlu digarisbawahi, tak berhenti di masa lalu, mereka juga harus menjadikan kearifan masa lalu tersebut sebagai inspirasi untuk menghadapi tantangan masa depan dan membangun kehidupan seni-budaya yang berkelanjutan, salah satunya barangkali mulai berusaha untuk melahirkan garapan tabuh atau tari kekebyaran baru.

Untuk itu, selain mementaskan, atau katakanlah merayakan warisan, sepertinya Jagaraga dan Menyali perlu juga menghadirkan kesenian serta kebudayaan yang dapat dilihat relevansinya antara kearifan masa lalu dan kehidupan masa kini. Seniman muda dari kedua desa tersebut perlu hadir untuk menerjemahkan kekayaan pengetahuan tradisional ke dalam bentuk seni kontemporer yang lebih mudah dinikmati masyarakat. Dengan begitu, masyarakat dapat merasakan kedekatan dengan kekayaan budaya Bali yang sesungguhnya.[T]

Sekaa Gong Legendaris Jagaraga, Momentum Menghidupkan Kembali Jiwa dan Spirit Gde Manik
Gong Kebyar Desa Kedis, Setelah 32 Tahun Mati Suri
Gong Mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero: Karya Rekonstruksi dan Reinterpretasi
Gong Mebarung Wahana Santhi dan Santhi Budaya di Singaraja: Wiranjaya yang Masih Tetap Memberi Pertanyaan
Tags: Desa JagaragaDesa Menyaligong kebyargong mebarungSekaa Gong Legendaris Jaya KusumaSekaa Gong Legendaris Saraswati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merekonstruksi Gending Lelambatan Klasik Gilak Embat dan Tabuh Pisan Sekaa Gong Desa Kwanji Sempidi

Next Post

Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
0
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

Read moreDetails

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
0
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

Read moreDetails

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

Read moreDetails

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

Read moreDetails

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

Read moreDetails

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu...

Read moreDetails

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

by Nyoman Budarsana
June 19, 2026
0
Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan...

Read moreDetails

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

by Nyoman Budarsana
June 18, 2026
0
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang...

Read moreDetails

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

Read moreDetails

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

by Ingga Adelia
June 15, 2026
0
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

Read moreDetails
Next Post
Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co