25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Ingatan, Merayakan Warisan: Catatan Gong Mebarung Desa Menyali dan Jagaraga

Jaswanto by Jaswanto
September 27, 2024
in Panggung
Merawat Ingatan, Merayakan Warisan: Catatan Gong Mebarung Desa Menyali dan Jagaraga

Penari Trunajaya dari Sekaa Gong Legendaris Saraswati | Foto: tatkala/Jaswanto

TABUH Bratayuda dimainkan. Penonton bersorak. Lapangan kecil itu bergemuruh. Suara gong dan ramai penonton membaur dalam suasana yang sulit dijelaskan. Mendung yang mendaulat langit Menyali sejak sore hari, bergeming dan seolah tak “berani” meneteskan airnya meski barang sebutir—atau mungkin merasa cukup setelah membuat kuyup Menyali pada siang hari sebelum perayaan dimulai.

Dan di luar dugaan, Made Kranca, yang usianya sudah tak lagi muda itu, bahkan ikut serta membawakan repertoar Bratayuda dengan permainan ugal-nya yang mengesankan. Ah, dasar maestro, ia menabuh gamelan berbilah itu semudah mengedipkan kedua matanya.  

Kranca dan Bratayuda menggila. Sementara penonton semakin girang saat panggul-panggul dan tangan-tangan penabuh mulai mempercepat gerakannya. Saking cepatnya, panggul-panggul itu tampak seperti memukul angin, tak sampai menyentuh gamelan. Saat menjelang akhir, gemuruh sorakan dan tepuk tangan datang dari berbagai arah, tak putus-putus. Malam itu, Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng, membuka gong mebarung dengan cukup baik.

Malam semakin pecah saat Sekaa Gong Legendaris Saraswati Desa Menyali, Sawan, Buleleng—yang notabene sebagai tuan rumah gong mebarung kali ini—memainkan Tabuh Lelonggoran Ombak Kaulu setelah Bratayuda diperdengarkan. Seakan tak mau kalah dengan kebyar tabuh ciptaan the one and only, sang maestro Gde Manik, tabuh tua karya Guru Cening Beritem dan Guru Gede Negara—dua maestro gong kebyar Menyali—ini mengentak dan mengejutkan.

Made Kranca di tengah-tengah Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Jagaraga | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dengan tabuhan yang kadang-kadang lembut, juga keras, yang harmonis, Ombak Kaulu seperti debur laut yang datang dan pergi di sasih kaulu, deburan maha besar, seakan-akan mendengarkan suara gemuruh. Gelombang suara itu memacak dan menyita mata dan telinga penonton untuk tak berkedip dan menuli. Satu kata yang dapat mewakili tabuh ini ialah: dahsyat. Guru Cening dan Guru Negara telah mewariskan sebuah repertoar yang indah sekaligus enak didengar, meski bagi orang awam barangkali kata “idah” dan “enak” itu terlalu rumit untuk dijelaskan.

Tetapi tabuh lelongoran dalam pengertian identitas musikal adalah sebuah produk budaya-seni karawitan khas Buleleng yang tidak dimiliki oleh daerah manapun di Bali. Komposisi ini secara fungsional digunakan dalam multikonteks kehidupan sosial kultural masyarakat Buleleng.

Dan sebagaimana tuan rumah pada perhelatan apa pun, penonton dari Menyali tentu saja lebih banyak daripada Jagaraga. Maka tak heran jika sorakan dan tepuk tangan untuk Ombak Kaulu terdengar lebih meriah daripada Bratayuda. Tapi sulit juga untuk tidak bersorak dan tepuk tangan saat Bratayuda dimainkan sebelumnya. Artinya, terlepas dari selera pendengaran setiap orang, kedua tabuh ini memang sama-sama menakjubkan.

Menyita perhatian agaknya menjadi frasa yang tepat untuk menyebut pertunjukan gong mebarung yang diselenggarakan Desa Adat Menyali dalam rangka “Otonan Gong dan HUT ke-90 Bendera Saraswati Raja Klungkung” di lapangan Desa Menyali, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Rabu (25/9/2024) malam itu.

Pertunjukan ini digelar sebagai semacam penguat ingatan atas riwayat kesenian dan kebudayaan sekaligus penghormatan kepada para leluhur Desa Menyali. Pula mempererat hubungan antara Menyali dan Jagaraga yang sudah terjalin sejak dulu.

Penabuh Sekaa Gong Legendaris Saraswati Menyali | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Desa Menyali, sebagaimana keterangan Kelian Desa Adat Menyali, Jro Gede Carita, memiliki dua, katakanlah, “pusaka” berupa gong gantung (lanang) dan kemong. Gong gantung yang diberi nama Sekar Gadung ini merupakan anugerah—atau pemberian—dari Raja Buleleng pertama Ki Barak Panji Sakti atas rasa terima kasih sekaligus penghormatan kepada Pasek Menyali, pengelingsir Desa Menyali, yang telah ikut-serta Ki Barak saat membantu kapal dagang Cina yang kandas di Pantai Penimbangan pada tahun 1640—seperti yang tercatat dalam Babad Buleleng yang tersimpan di Gedong Kirtya. Sedangkan kemong yang diberi nama Sekar Taji itu, adalah warisan dari Jro Pasek Bulian, Jro Pasek Kubutambahan, dan Jro Pasek Menyali.

Tak hanya gong, Menyali juga memiliki panji/bendera bersejarah yang didapat dari Raja Klungkung Anak Agung Geg pada 10 November 1934, 90 tahun silam. Bendera Saraswati ini semacam piala atas kemenangan Sekaa Gong Desa Menyali saat Parade Gong Mebarung di Puri Klungkung zaman itu. Saat ini, panji Raja Klungkung itu kondisinya masih tampak baik meski terdapat beberapa lubang. Dan pada saat ulang tahunnya yang ke-90, bendera ini ditancapkan di antara gamelan kebyar bersama pusaka gong dan kemong pada mebarung malam kemarin.

Dalam khazanah kebyar, Menyali dan Jagaraga merupakan dua desa penting yang sama-sama dianggap sebagai “ibu kandung”—walaupun masih terjadi perdebatan—kesenian gong Bali yang lahir pada abad ke-20 ini. Jauh sebelum kebyar menjadi pelebur gong-gong tua dan menggerakkan revolusi kesenian Bali, menurut Jro Gede Carita, pada kisaran tahun 1640-an, Sekaa Gong Desa Menyali sudah lahir dengan nama Sekaa Gong Sekar Gadung.

“Nama itu kemudian berganti menjadi Sekaa Gong Saraswati Menyali saat mendapat penghargaan dari Raja Klungkung. Saraswati itu sesuai dengan nama bendera yang diberikan,” ujar lelaki paruh baya yang fasih berbahasa Bali halus itu.

Penari Trunajaya Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Jagaraga | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Jika di Jagaraga ada nama I Wayan Paraupan—atau yang lebih dikenal dengan nama Pan Wandres—dan Pan Cening Liyana yang dianggap sebagai pelopor gong kebyar pada tahun 1910-an, di Menyali tersebut nama Guru Cening Beritem dan Guru Gede Negara—sebagaimana orang Menyali memanggil dua sosok tersebut. Pan Wandres dan Pan Cening Liyana menelurkan Kebyar Legong, sedangkan Cening Beritem dan Gede Negara melahirkan Legong Pengeleb pada kisaran tahun 1930-an.

Pada 1937, berdasarkan keterangan Anak Agung Gde Gusti Djelantik (Regen Buleleng saat itu), dalam catatannya yang berjudul Music in From and Instrumental, Organization in Balinese Orchestral Music yang diterbitkan pada 1986, Colin McPhee menyebutkan bahwa gong kebyar, untuk pertama kalinya, diperdengarkan kepada khalayak umum pada Desember 1915, yakni pada saat beberapa sekaa gamelan terbaik di Bali Utara mengikuti perlombaan gamelan di Jagaraga.

Dan sangat memungkinkan Menyali juga ikut serta dalam perlombaan tersebut. Mengingat, dalam buku I Wayan Senen yang berjudul Wayan Beratha Pembaharu Gamelan Kebyar Bali (2002), selain eksis di Desa Jagaraga, sebenarnya gong kebyar juga sudah eksis di beberapa desa lain di Bali Utara, seperti Desa Bungkulan, Ringdikit, Sawan, Banyuatis, Nagasepa, Patemon, Menyali, Bebetin, Bubunan, Bantiran, dan Kedis. Sekali lagi, soal gong kebyar, bisa jadi Menyali dan Jagaraga memang sama tuanya.

Merayakan Warisan

Semalam, masing-masing sekaa gong membawakan dua tabuhan (repertoar) dan tarian. Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma membawakan Tabuh Pepanggulan Bratayuda dan Manik Amutus, pula Tari Trunajaya dan Palawakya. Sedangkan Sekaa Gong Legendaris Saraswati dengan percaya diri memperdengarkan Tabuh Lelonggoran Ombak Kaulu dan Tabuh Kreasi Sri Wijaya serta Tari Trunajaya dan Tari Legong Pengeleb.

Seolah sudah menjadi pengetahuan umum, Tabuh Pepanggulan Bratayuda lahir dari tangan dingin Gde Manik di mana tabuh ini terinspirasi dari perang besar dari epos Mahabarata, Perang Bharatayudha—atau Perang Kurukshetra karena terjadi di Padang Kurukshetra. Karya ini tercipta pada era 1950-an. Melalui repertoar ini, sebagai sebuah komposisi karawitan baru pada zamannya, Gde Manik mengemas nada-nada dalam struktur dan garap yang bebas, tapi tetap tidak meninggalkan unsur-unsur garap tradisi, seperti gilak, kebyar, pengadeng, dan gegenderan.

“Tempo, dinamika, suasana dan struktur, digarap sesuai dengan dramaturgikal Perang Bharatayudha,” ujar Nyoman Arya Suriawan, Kelian Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma, suatu ketika.

Pada 1970-an, seorang murid Gde Manik yang masih hidup hingga kini, Made Kranca, mencoba membuat sebuah komposisi baru untuk Sekaa Gong Jagaraga. Bersama sang guru akhirnya Kranca melahirkan sebuah tabuh yang mengambil ide dan roh dari beberapa komposisi gamelan sebelumnya, seperti gender wayang, lelonggoran, dan gambang. Komposisi itu kemudian dikenal dengan nama Tabuh Manik Amutus.

Namun, jauh sebelum Bratayuda dan Manik Amutus diciptakan, Tabuh Lelonggoran Ombak Kaulu dan Tabuh Kreasi Sri Wijaya yang dibawakan Sekaa Gong Legendaris Saraswati malam itu, lahir pada tahun 1913. Seperti yang sudah disinggung di atas, Ombak Kaulu lahir dari dua orang seniman Menyali bernama Guru Cening Beritem dan Guru Gede Negara.

Penari Palawakya Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Jagaraga | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sedangkan Kreasi Sri Wijaya ditelurkan oleh Putu Kota dan Gede Negara. Jika Ombak Kaulu terinspirasi dari gerakan gelombang, Sri Wijaya lahir dari petani panen padi. Sri Wijaya dipersembahkan kepada petani dan segala kesuburan tanah Menyali—Ida Betara Sri.

Sri Wijaya diaransemen oleh Ketut Rediasa dan Kadek Adi Atmajaya. Tabuh ini diawali dengan gegenderan klasik, selanjutnya diiringi oleh instrumen-instrumen gamelan lainnya secara berbarengan. Tabuh ini didominasi oleh instrumen reong dan silih berganti dengan instrumen-instrumen lainnya.

Selain tabuh, setidaknya ada tiga tarian yang dipentaskan malam itu, yaitu Trunajaya, Palawakya, dan Legong Pengeleb. Trunajaya dan Palawakya menjadi salah dua tarian kebyar yang populer dari Desa Jagaraga. Tari Trunajaya berserta kisah di baliknya, nyaris selalu disebut saat berbicara gong kebyar. Sedangkan Palawakya jelas sebuah masterpiece dari Wayan Paraupan—atau Pan Wandres, guru Gde Manik, juga kakek kandung Made Kranca.

Palawakya merupakan tarian kebyar yang menuntut penarinya untuk memiliki kemampuan yang virtuistik. Pasalnya, saat menarikan Palawakya penari harus menguasi tiga keahlian sekaligus, yaitu menari, menabuh, dan menembang (malawakya/mekekawin). Ini seolah menunjukkan bahwa Pan Wandres bisa dan mampu menguasai ketiga kemampuan terebut.

Dan Tari Legong Pengeleb yang diciptakan pada tahun 1934 oleh Guru Cening Baritem dan Guru Gede Negara itu menjadi penutup gong mebarung yang diadakan Desa Adat Menyali malam itu. Lengong Pengeleb menggambarkan suasana hati kaum perempuan yang penuh kegembiraan dengan ekspresi bahagia, suka cita, dan keagresifan karena telah terbebas. Kata “pengeleb” berarti bebas. Tarian ini lahir di zaman pergerakan nasional dan emansipasi wanita.

Menyaksikan gong mebarung antara Menyali dan Jagaraga malam kemarin, penonton seperti bernostalgia saat kedua desa tersebut pentas di panggung Pesta Kesenian Bali—walaupun pada saat itu mereka tidak bertemu dalam satu waktu dan panggung. Sekaa Gong Desa Menyali tampil di panggung Ardha Candra, Denpasar, 28 Juni 2023 yang lalu. Mereka juga menampilkan tabuh dan tari seperti yang dipentaskan di panggung yang berdiri di lapangan Desa Menyali malam kemarin.

Penari Legong Pengeleb Sekaa Gong Legendaris Saraswati Menyali | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sedangkan Sekaa Gong Jagaraga pentas di panggung Ardha Candra Pesta Kesenian Bali pada 10 Juli 2024. Dan apa yang ditampilkan Sekaa Gong Jagaraga malam kemarin juga dipentaskan di PKB beberapa bulan yang lalu.

Sampai di sini, apa yang dipentaskan oleh kedua sekaa malam kemarin seluruhnya adalah karya “warisan”  para seniman terdahulu yang lahir dan hidup di kedua desa tersebut. Tak ada garapan baru entah dari Jagaraga maupu Menyali—kecuali Legong Pengeleb yang merupakan hasil rekonstruksi I Made Redita (Pan Carik), I Made Kranca, dan I Made Panca Wirsutha. Itupun bukan karya baru, hanya sekadar rekonstruksi dari karya yang sudah ada sebelumnya.

Namun, meski demikian, warisan juga tetap harus dirayakan. Merayakan warisan ini dapat kita baca sebagai bentuk penghormatan, juga dalam rangka pelestarian dan merawat ingatan akan mahakarya yang pernah lahir dari Jagaraga dan Menyali beserta sosok yang telah menciptakannya. Dengan adanya acara semacam ini, nama-nama lama seperti Guru Cening Baritem, Guru Gede Negara, Pan Wandres, dan Gde Manik kembali diperdengarkan—walaupun barangkali lamat-lamat dan sepintas lalu.

Menyali dan Jagaraga tentu saja memiliki seni-budaya yang kaya, baik yang bersifat tangible maupun intangible. Warisan seni-budaya ini menyimpan banyak kearifan masa lalu dari nenek moyang mereka. Namun, perlu digarisbawahi, tak berhenti di masa lalu, mereka juga harus menjadikan kearifan masa lalu tersebut sebagai inspirasi untuk menghadapi tantangan masa depan dan membangun kehidupan seni-budaya yang berkelanjutan, salah satunya barangkali mulai berusaha untuk melahirkan garapan tabuh atau tari kekebyaran baru.

Untuk itu, selain mementaskan, atau katakanlah merayakan warisan, sepertinya Jagaraga dan Menyali perlu juga menghadirkan kesenian serta kebudayaan yang dapat dilihat relevansinya antara kearifan masa lalu dan kehidupan masa kini. Seniman muda dari kedua desa tersebut perlu hadir untuk menerjemahkan kekayaan pengetahuan tradisional ke dalam bentuk seni kontemporer yang lebih mudah dinikmati masyarakat. Dengan begitu, masyarakat dapat merasakan kedekatan dengan kekayaan budaya Bali yang sesungguhnya.[T]

Sekaa Gong Legendaris Jagaraga, Momentum Menghidupkan Kembali Jiwa dan Spirit Gde Manik
Gong Kebyar Desa Kedis, Setelah 32 Tahun Mati Suri
Gong Mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero: Karya Rekonstruksi dan Reinterpretasi
Gong Mebarung Wahana Santhi dan Santhi Budaya di Singaraja: Wiranjaya yang Masih Tetap Memberi Pertanyaan
Tags: Desa JagaragaDesa Menyaligong kebyargong mebarungSekaa Gong Legendaris Jaya KusumaSekaa Gong Legendaris Saraswati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merekonstruksi Gending Lelambatan Klasik Gilak Embat dan Tabuh Pisan Sekaa Gong Desa Kwanji Sempidi

Next Post

Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

Read moreDetails

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

by Pranita Dewi
April 20, 2026
0
Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam, menampilkan kolaborasi musik dengan...

Read moreDetails

‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

by I Nyoman Darma Putra
April 19, 2026
0
‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud....

Read moreDetails

Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 14, 2026
0
Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam...

Read moreDetails

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

by Son Lomri
April 12, 2026
0
Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

MALAM itu, Kamis, 9 April 2026, ada pertunjukan wayang kulit serangkaian Festival Wayang Bali Utara (FWB) di Wantilan Pelabuhan Tua...

Read moreDetails

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

by I Nengah Juliawan
April 11, 2026
0
Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

MUSEUM Soenda Ketjil di Singaraja tidak hanya menjadi ruang sunyi yang menyimpan masa lalu, melainkan juga ruang publik yang terus...

Read moreDetails

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 11, 2026
0
Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

WAYANG sebagai produk masa lalu yang kini diratapi, ditangisi oleh orang-orang karena hampir hilang di tengah hiburan dunia digital. Pertunjukan...

Read moreDetails

Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

by tatkala
April 5, 2026
0
Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

Yayasan Mudra Swari Saraswati dengan bangga kembali menghadirkan Ubud Artisan Market (UAM), curated market yang merayakan kreativitas, komunitas, dan kerajinan...

Read moreDetails

Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

DI Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, kreativitas anak muda kembali menemukan bentuknya dalam karya ogoh-ogoh untuk menyambut Nyepi Caka...

Read moreDetails

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

by Nyoman Nadiana
March 23, 2026
0
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

PANGGUNG itu kecil saja. Tapi cukup untuk menampung ekspresi masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di atas panggung kecil...

Read moreDetails
Next Post
Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co