23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH

Sugi Lanus by Sugi Lanus
September 24, 2024
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

Catatan Harian Sugi Lanus, 23 September 2024.

TANGGAL 29 Juni 1938 adalah Rabu (Buda) Kliwon wuku Dungulan atau dikenal sebagai Hari Raya Galungan. Ketika itu semua pembesar kerajaan di Bali yang ditunjuk oleh Pemerintah Kolonial Belanda dilantik di Besakih.

Peristiwa itu “viral” di masanya. Hampir semua koran-koran Belanda memberitakannya. Foto pelantikan dan persembahyangan di Besakih itu terpajang hampir semua koran Belanda.

Berita ini adalah sebuah pencapaian besar Kerajaan Belanda yang telah mampu menundukkan Bali secara merata, dan untuk pertama kalinya semua pejabat otonom yang ditunjuk sebagai bestuurder disumpah bersama. Para pejabat yang diangkat ini diambil dari garis silsilah menjadi raja-raja Bali di 8 kabupaten di Bali yang bersedia/sepakat tunduk di bawah kekuasaan Belanda dengan perjanjian dan pengesahan antar masing-masing Kerajaan di Bali dan Kerajaan Belanda.

Kalau kita membaca pemberitaan terkait Besakih tahun sebelumnya, Belanda telah mempersiapkan dengan matang kegiatan ini pada beberapa tahun sebelum pelantikan ini. Pemerintah Belanda dan para raja Bali yang ditundukkan telah memperbesar jalan sampai Besakih sehingga mobil bisa masuk mencapai Besakih, sampai di halaman bawah Besakih.

Belanda membangun jalan tembusan dan jembatan secara sistematis dan selanjutnya memakai Pura Besakih sebagai tempat pengambilan sumpah para raja Bali dan peristiwa penting lainnya. Pemerintah Belanda memakai Besakih sebagai “posko kepentingan politik” memerintah Bali.

Sebuah koran Belanda, ‘Bredasche courant’, bertanggal 21-10-1932, memberitakan bagaimana berbondong-bondong masyarakat dan pejabat Belanda meresmikan jalan baru ke Besakih.

Beritanya sebagai berikut:

NIEUWE WEG OP BALI Feestelijk geopend

SINGARADJA, 20 Oct. (Aneta.) Gisteren is in tegenwoordigheid van Resident Beeuwkes, alle ambtenaren van het Binnenlandsch Bestuur, acht Regenten en Balische hoofden, de nieuwe weg tusschen Menanga en Besakih, in de onderafdeeling Karangasam, op feestelijke wijze geopend. Deze gebeurtenis is zeer belangrijk, daar te Besakih, op de helling van den Goenoeng Agoeng, zich een Baüneesch nationaal heiligdom bevindt, n.1, de groote Besakih-tempel.

JALAN BARU DI BALI Pembukaan yang meriah

SINGARADJA, 20 Oktober (Aneta.) Kemarin, di hadapan Residen Beeuwkes, seluruh pejabat Pemerintah Dalam Negeri, delapan Bupati dan Kepala Bali, jalan baru antara Menanga dan Besakih di Kecamatan Karangasam dibuka secara meriah. Peristiwa ini sangat penting, karena di Besakih, di lereng Goenoeng Agoeng, terdapat tempat suci bangsaan Bali, Pura Agung Besakih.

Berita ini bercerita jika dari Menanga ke Besakih sebelum tahun 1932 tidak terdapat jalan yang menghubungkan yang dapat dilalui kendaraan mobil.

Kalau kita hitung, tahun 1932 jalan ke Besakih dibuka, dan tahun 1938 diadakan pelantikan raja-raja Bali menjadi pejabat otonom di bawah penguasa Belanda, maka jelas ini tidak kebetulan.

Peristiwa selanjutnya, yang secara sadar Besakih dijadikan sebagai ruang politik Belanda, adalah pembacaan Surat Ratu Belanda di Besakih di hadapan para penguasan bawahan Belanda (raja-raja Bali), di tahun 1940.

OP EEN TEMPELFEEST TE BESAKIH op Bali luisteren de acht zelfbestuurders naar het voorlezen van een brief van H.M. de Koningin, waarin H.M. Haar dank uitsprak voor een brief van de zelfbestuurders van 12 Juli 1940, waarin zij de hoop uitspraken, dat de Koningin spoedig weer als vorstin het Nederlandsche grondgebied zou mogen betreden.

DALAM FESTIVAL CANDI DI BESAKIH Bali, delapan orang zelfbestuurders (pejabat otonom setingkat bupati – yang dimaksud adalah raja-raja Bali yang ditunjuk Belanda) mendengarkan pembacaan surat dari Yang Mulia Ratu Belanda, dimana Yang Mulia mengucapkan terima kasih atas surat dari para zelfbestuurders tertanggal 12 Juli 1940, yang di dalamnya mereka menyatakan berharap Ratu segera kembali karena Ratu akan diizinkan memasuki wilayah Belanda.

Pemberitaan adanya kegiatan di Besakih yang diselenggarakan tahun 1940 untuk mengumpulkan para raja yang ditunjuk Belanda ini jelas mempertegas bagaimana Besakih pernah dipakai “ajang politik” Belanda dalam mengkonsolidasi politik pulau Bali.

Berikut terjemahan (cepat) berita GALUNGAN-BELANDA di Besakih dalam sebuah koran Belanda:

___________________

LAPORAN KHUSUS GALUNGAN DI BESAKIH TAHUN 1938.

PENGAMBILAN SUMPAH

Pukul sepuluh kurang sepuluh, seluruh Zelfbestuurders (Pejabat Otonom setingkat Bupati) yang berjumlah delapan orang yaitu Anak Agoeng Karangasem, Kloengkoeng, Bangli, Boeleleng, Badoeng, Tabanan Gianjar dan Djembrana, duduk di tanah di depan kursi Dewan pendeta. Di sebelah barat lautnya, di sisi yang tinggi, di sisi Goenoeng Agung, terdapat Pedanda Gede Manoeaba, anggota Dewan Kerta Gianjar, yang membacakan formulir sumpah, sementara sesaji asap dinyalakan di depan mereka. Pembacaan formulir, sebuah pemastoe, memakan waktu dua puluh menit dan bagi mereka yang memiliki cukup pengetahuan tentang bahasa tersebut, hal itu pasti memiliki arti yang sangat penting, karena di dalamnya semua kengerian, wabah penyakit, dan penyakit yang mungkin terjadi dimohonkan, jika pengambil sumpah tidak memenuhi menepati janji mereka. Dalam hal ini, semua kekuatan jahat di bumi dan di luarnya akan bebas mengendalikan orang-orang yang tidak beriman. Selepas pengambilan sumpah yang khidmat ini, Zelfbestuurders (raja-raja Bali) bangkit dari tanah dan selanjutnya Residen Bali dan Bupati Karangasem masing-masing memberikan pidato yang khidmat: yang pertama atas nama pemerintah, yang kedua menjawab atas nama para pemimpin masyarakt Bali yang berkumpul. .

MAKAN SIANG DI GIANJAR

Setelah upacara di Besakih, retret diterima dan di Gianjar orang-orang berkumpul di sekitar pertunjukan topeng, di mana para pelawak khususnya, dengan lelucon dan kejenakaan mereka, membentuk penyeimbang yang menyenangkan terhadap kekhidmatan yang baru saja disaksikan. Setelah itu, sejumlah tamu terbatas mengikuti jamuan makan siang yang dipersembahkan oleh Ikatan Direksi di Poeri Bupati Gianjar. Pidato-pidato disampaikan di meja, pertama oleh Residen, yang kembali berbicara kepada para Zelfbestuurders dengan cara yang kebapakan dan mengesankan. Dalam sambutannya, ia mengucapkan terima kasih kepada Bupati Karangasem dengan kata-kata yang tepat. Pembicara ketiga adalah Dr. Hoven, yang menyampaikan pidatonya secara khusus kepada para Self-Governors, setelah itu sekretaris menyampaikan ucapan selamat kepada Mr. Prins dari Gubernur Jenderal, seluruh anggota Dewan Hindia serta surat dari G. G. Jhr. de Jonge.

Residen tersebut kini akan menjadi tamu dari beberapa pejabat otonom, setelah itu ia akan memberikan ucapan selamat kepada mereka di tempat masing-masing pada hari Kamis, tanggal 30.

Para Zelfbestuurders  Bali Disumpah Dalam Upacara Akbar di Pura Besakih Pura Bertingkat Yang Mengesankan Di Pegunungan

SIMBOLISME YANG MENGEMPRESKAN

Sesampainya pekerjaan besar yang harus dilakukan dipimpin oleh para pendeta, yang memberikan berkah sepanjang perjalanan, diiringi dengan bunyi lonceng doa, kemudian berjalan menuju Puri bersama para Zelfbestuurders (Pejabat Otonom setingkat Bupati), didahului dengan prosesi panjang para pejabat dan yang lain. Hari ini, Kamis dan lusa, festival rakyat akan berlangsung di seluruh ibu kota pedesaan dan di tempat lain, sedangkan fakta bahwa hari-hari tersebut bertepatan dengan festival Galungan dan Manis Galungan berkontribusi pada fakta bahwa, dalam arti tertentu, seluruh masyarakat Bali ikut serta dalam perayaan tersebut, suasana meriah. Sementara itu, semua orang berharap pemerintahan mandiri ini benar-benar bermanfaat hari, mereka bekerja sekuat tenaga untuk membenahi jalan baru yang belum beraspal dari Rendang ke Besakih , yang dilalui banyak jalan yang berkelok-kelok dan licin. Ratusan mobil berusaha menuju ke tempat, 3.000 kaki di atas permukaan laut, lokasi pura Besakih, Pura Nasional Bali, tempat suci bertingkat yang megah, tempat para peziarah pasti melakukan “tirtayatra” mereka jauh sebelum kedatangan agama Hindu di pulau tersebut.

Fakta bahwa kuil ini dipilih untuk pelantikan para gubernur hanya dapat dilihat sebagai isyarat simbolis yang mempunyai arti dan nilai nasional. Sangat disayangkan bahwa menurut adat istiadat Bali, beberapa penguasa sendiri tidak diperbolehkan memasuki pura karena ada anggota keluarga mereka yang meninggal (sebel), sehingga upacara harus dilakukan di lokasi yang tidak terencana. Dalam pemikiran dan perasaan masyarakat Bali, fakta ini menghilangkan banyak makna penting dari upacara ini.

Ada sejumlah ruangan berpelindung sementara yang diperuntukkan bagi para tamu Zelfbestuurders dan tamu undangan lainnya, di Selatan dan Barat Daya. Pukul sembilan di ruang pertama disebutkan juga seluruh pejabat Bali beserta dayang-dayangnya, seluruh kepala dinas, sedangkan kursi baris paling depan diperuntukkan bagi Residen dan Zelfbestuurders. Di barat laut ada area tertutup di mana tiga orang pendeta duduk, untuk kemudian mengucapkan pemberkatan mereka di atas kepala para Zelfbestuurders (Pejabat Otonom setingkat Bupati).

PARTISIPASI MASYARAKAT

Laporan ini tidak akan lengkap jika tidak ada penjelasan mengenai masyarakat yang berpartisipasi dalam perayaan ini dengan cara yang khas Bali dan sering kali sangat mengesankan. Di sepanjang jalan menuju Besakih, para pembawa tombak ditempatkan di sepanjang jalan dengan mengenakan pakaian baris Bali kuno, dengan banyak kain kotak-kotak berwarna merah cerah dan hitam putih. Baling-baling dipasang pada semua tombak, yang berkibar tertiup angin, meningkatkan penampilan meriah. Penjaga kehormatan yang mengesankan. Dalam perjalanan pulang, sebuah tontonan menanti para pengunjung yang melampaui segalanya: sepanjang puluhan kilometer jalan, terutama di Karangasem dan Kloengkoeng, di kedua sisinya dipagari dengan sesajen paling berwarna berupa buah-buahan, bunga, kue beras warna-warni, sementara dengan setiap persembahan, seorang wanita memperhatikan. Mengingat sesaji ini tidak lebih dari tiga atau empat kali meter, seseorang dapat membentuk gambaran tentang keindahan bergerak dari keseluruhan ini. Di semua desa, jalan-jalan juga dihiasi dengan penjor, bambu panjang, tipis, dan melengkung di bagian atasnya, yang merupakan bagian dari festival Galoengan, sebuah festival yang bertepatan dengan pengambilan sumpah. Di ujung-ujung bambu yang halus, menari-nari di atas angin, terdapat hiasan-hiasan seperti lentera, daun-daun yang diukir dengan indah, dibuat sedemikian halus seperti renda, membuatnya seolah-olah seseorang sedang berkendara di bawah lorong tak berujung yang dipenuhi hiasan-hiasan dongeng. Sesampainya di alam masing-masing, para Zelfbestuurders dipimpin oleh para pendeta, yang memberikan berkah sepanjang perjalanan, diiringi dengan bunyi lonceng doa, kemudian berjalan menuju Puri bersama para Zelfbestuurders (Pejabat Otonom setingkat Bupati), didahului dengan prosesi panjang para pejabat dan yang lain. Hari ini, Kamis dan besok, festival rakyat akan berlangsung di seluruh ibu kota pedesaan dan di tempat lain, sedangkan fakta bahwa hari-hari tersebut bertepatan dengan festival Galoengan dan Manis Galoengan berkontribusi pada fakta bahwa, dalam arti tertentu, seluruh masyarakat Bali ikut serta dalam perayaan tersebut, suasana meriah. Sementara itu, semua orang berharap pemerintahan mandiri ini benar-benar bermanfaat bagi Bali. Ada banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan.

______________

Catatan kecil ini hanya bersifat pengingat bahwa pernah di masa kolonial keagungan Pura Besakih menjadi ruang politik legitimasi kekuasaan. Oleh pemerintah kolonial melantik pemerintahan bonekanya untuk menjadi pejabat lokal.

Galungan di Besakih tanggal 29 Juni 1938 adalah “Galungan Belanda”: Sebuah kemenangan Belanda atas raja-raja Bali yang ditunjuk dan disumpah tunduk menjadi penguasa boneka Zelfbestuurders (Pejabat Otonom setingkat Bupati). Mereka diseleksi dari keturunan raja yang mau tunduk dan tidak berontak pada Belanda. [T]

BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dodol Satuh : Memaknai Lebih Dalam Hari Suci Galungan

Next Post

Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu

Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co