23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Puncak Tegeh Buhu  

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 8, 2024
in Esai
Di Puncak Tegeh Buhu  

Puncak Tegeh Buhu saat pagi cuaca mendung (Foto : I Nyoman Tingkat)

PADA 14 September 2008, saya menulis jejak perjalanan berjudul “Di Puncak Pengkolan Goa Gong” dimuat Bali Post asuhan Umbu Landu Paranggi di Denpasar. Sebuah jejak perjalanan yang saya lewati hampir saban hari masuk sekolah karena itulah jalur terdekat dari rumah menuju sekolah kala itu, dari Desa Adat Kutuh menuju SMA Negeri 2 Kuta di Desa Adat Kedonganan, Kuta. Saat tulisan itu  dimuat bersamaan dengan HUT III SMA Negeri 2 Kuta.

Pada 3 September 2024, saya menulis jejak perjalanan berjudul “Di Puncak Tegeh Kaman” dimuat Tatkala.co. asuhan Adnyana Ole di Singaraja.  Sebuah jejak perjalanan yang juga saya lewati saban hari bila ke sekolah, dari Desa Adat Kutuh menuju SMA Negeri 2 Kuta Selatan di Banjar Mumbul Desa Adat Bualu. Pada 3 September 2024 adalah HUT V SMA Negeri 2 Kuta Selatan. Namun karena Indonesia Africa Forum (IAF) digelar di ITDC Nusa Dua, HUT V SMA Negeri 2 Kuta Selatan diundur ke Jumat Umanis Waregadian, 6 September 2024. HUT V ini sesungguhnya HUT III secara luring. HUT I dan II digelar secara daring karena gering Pandemi Covid-19.

Entah kebetulan atau kebenaran, entahlah. Saya buka arsif ingatan, dua sekolah tempat saya menjalankan tugas sebagai guru membawa pengalaman serupa nyaris sama dalam bulan yang sama : September juga  dalam suasana HUT  kedua  Sekolah di dua Kecamatan yang berbeda. SMA Negeri 2 Kuta di Kecamatan Kuta, sedangkan SMA Negeri 2 Kuta Selatan di Kecamatan Kuta Selatan. Kini, ketika memasuki September 2024 adalah bulan ke-11 saya menjadi pelaksana tugas Kepala SMA Negeri 2 Kuta yang sebentar lagi akan merayakan HUT ke-19, pada 14 September 2024. Saya tidak tahu, apakah ini kebetulan atau kebenaran. Entahlah.

Pada 3 September 2024, ketika saya menulis “Di Puncak Tegeh Kaman”, tiba-tiba saja teringat dengan Puncak Tegeh Buhu, puncak menuju Jalan Uluwatu dari arah Denpasar di depan Garuda Wisnu Kencana (GWK)   yang pada mulanya superkontroversial. Ingatan itulah yang menggedor-gedor saya untuk menulis jejak perjalanan berjudul, “Di Puncak Tegeh Buhu”.

 Pada 1970-an, satu-satunya jalan Jalur Denpasar ke Gumi Delod Ceking adalah Jalan tembusan dari Jalan Imam Bonjol Denpasar ke Kuta masuk jalur Bandara Ngurah Rai melewati Banjar Kelan Tuban terus ke Desa Adat Kedonganan lalu Desa Adat Jimbaran  selanjutnya menuju  Puncak Tikungan Tegeh Sari di Kali Jimbaran terus ke Selatan hingga sampai di Puncak Tegeh Buhu. Dari Puncak Tegeh Buhu terus ke Selatan sampai di Persimpangan Nirmala kini lurus menuju Uluwatu. Bila belok kiri dari persimpangan Nirmala, pamedek akan diarahkan ke Desa Adat Ungasan, Kutuh, Kampial, Bualu, hingga Tanjung Benoa.

 Para pemedek dari seluruh dunia (termasuk Bali) yang tangkil ke Pura Uluwatu kala itu, itulah jalur satu-satunya yang dilalui. Sudah menjadi konvensi, setiap pemedek sampai di Puncak Tikungan Tegeh Sari rehat sejenak sambil menghaturkan Canang Asebit Sari. Tradisi ini dapat dimaknai sebagai permakluman sekaligus permohonan izin agar dilancarkan-Nya perjalanan  tangkil ngaturang sembah bakti ke Pura Uluwatu. Rehat sejenak ini juga kesempatan untuk melakukan Pranayama menarik napas kesadaran pangenteg bayu “menenangkan diri” setelah melalui perjalanan jauh bin melelahkan.

Menarik dicermati, para pamedek rehat di Puncak Pengkolan  Tegeh Sari yang dalam bahasa lokal di sebut di Kali.  Pertama, di Kali ada Pura Tegeh Sari menjadi penanda memasuki Gumi Delod Ceking sekaligus permohonan izin agar perjalanan Tirtayatra dilancarkan-Nya. Lagi pula, di Tegeh Sari cukup tersedia parkir dalam kapasitas terbatas, dengan pemandangan biru Pasih Jimbaran dan Bandara Ngurah Rai serta Suung Prapat yang menghijau. Ngulangunin pisan, apalagi sambil menikmati prasadam tipat be sudang saur sambel. Hmmm. Makan untuk menikmati rasa dan rasanya nikmat penuh syukur.

Kedua, Puncak Tegeh Buhu dilewati para pamedek yang tangkil ke Pura Uluwatu. Pun, orang-orang dari Gumi Delod Ceking akan melewatinya ketika ke Peken Jimbaran, ke Peken Kuta, atau ke Peken Payuk di Pasar Badung. Sungguh Puncak Tegeh Buhu menjadi saksi bisu penuh wibawa, karismatis. Mataksu sesuai dengan namanya. Tegeh Buhu adalah puncak kesunyian, puncak kesepian, puncak keheningan. Di Puncak keheningan, pemedek diuji kesabaran dan kesadarannya untuk mendengarkan suara hati yang secara geografis merupakan hamparan tanah berbatu sebagai karang bengang. Karang bengang adalah karang embang sebagai petunjuk jalan menuju Pura Uluwatu agar tetap di ulu hati dalam kesadaran Padma hrdaya.

Ketiga, Puncak Tegeh Buhu menawarkan panorama yang superindah kala pagi bila cuaca bagus. Langit biru tanpa awan sangat menawan. Gugusan gunung dari Gunung Batukaru hingga Gunung Agung menjadi lukisan Ilahi yang menakjubkan. Pasih Jimbaran yang membiru dan Prapat Suwung yang menghijau adalah paduan warna yang menyejukan bin mendamaikan. Pesawat terbang yang mendarat dan lepas landas di Bandara Ngurah Rai ibarat anak-anak Bali yang bermain layang-layang memuliakan Rare Angon berkearifan agraris. Sungguh anak-anak yang riang gembira dalam Merdeka Belajar. Bila malam Purnama, terang bulan dirayu para bintang bak artis menggoda pertapa. Sungguh godaan yang indah. Pertapa sejati pastilah dapat melewati godaan artis hedonis metropolitan.

Keempat, pada dekade 1980-an ketika Gubernur Bali dijabat Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Tegeh Buhu adalah jalur hijau dilarang membangun.  Sejak 1990-an, papan tulis jalur hijau itu sudah tiada. Kini Tegeh Buhu  bukanlah puncak kesepian, melainkan puncak kemacetan dengan kebisingan lebih-lebih siang hari terik matahari. Umpatan pun sering terdengar di tengah indisipliner pengguna jalan di Puncak Ketinggian Tegeh Buhu. Anehnya, wong sunantara ‘bule-bule’ makin binal dan liar melanggar karena mencontoh local boy sebagai parekan dalem. Ini adalah bagian produk gagal berguru menyambut kemajuan. Dari mana mulai perbaikan ?  Bahwa manusia sebagai buana alit adalah reprentasi dari buana agung, maka perbaikan dimulai dari kepala. “Perang dan damai bermulai dari pikiran. Pikiran itu di kepala”, demikianlah wejangan kaum bijaksana.

Begitulah, di Puncak  Tegeh  Buhu, setelah dulu lama kesepian tak dilirik orang, kini memperlihatkan wajah yang paradok. Kenangan sepi kini  tersisa hanya saat Hari Suci Nyepi dalam sehari. Itu pun kalau ada kesadaran kontemplatif. Jejak pencari keheningan dan penutur kejernihan kian terkontaminasi dengan wajah garang. Beton-beton kaku telah memerkosa Ibu Pertiwi di karang bengang, mengusir para pengangon bercapil klangsah. Menjauhkan anak-anak Delod Ceking dari permainan layang-layang yang membuat angan mereka melayang menuju langit biru kedamaian. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  

Tags: Gumi Delod Cekingkuta selatanNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Malajah Sambil Malali Ka Nusa Panida” : Menakar Kelayakan Buku “Ngetelang Getih Kaang Putih” sebagai Media Ajar Bahasa Bali

Next Post

Suara Saking Bali dan Usaha Membumikan Sastra Bali Modern

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Suara Saking Bali dan Usaha Membumikan Sastra Bali Modern

Suara Saking Bali dan Usaha Membumikan Sastra Bali Modern

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co