23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Puncak Tegeh Buhu  

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 8, 2024
in Esai
Di Puncak Tegeh Buhu  

Puncak Tegeh Buhu saat pagi cuaca mendung (Foto : I Nyoman Tingkat)

PADA 14 September 2008, saya menulis jejak perjalanan berjudul “Di Puncak Pengkolan Goa Gong” dimuat Bali Post asuhan Umbu Landu Paranggi di Denpasar. Sebuah jejak perjalanan yang saya lewati hampir saban hari masuk sekolah karena itulah jalur terdekat dari rumah menuju sekolah kala itu, dari Desa Adat Kutuh menuju SMA Negeri 2 Kuta di Desa Adat Kedonganan, Kuta. Saat tulisan itu  dimuat bersamaan dengan HUT III SMA Negeri 2 Kuta.

Pada 3 September 2024, saya menulis jejak perjalanan berjudul “Di Puncak Tegeh Kaman” dimuat Tatkala.co. asuhan Adnyana Ole di Singaraja.  Sebuah jejak perjalanan yang juga saya lewati saban hari bila ke sekolah, dari Desa Adat Kutuh menuju SMA Negeri 2 Kuta Selatan di Banjar Mumbul Desa Adat Bualu. Pada 3 September 2024 adalah HUT V SMA Negeri 2 Kuta Selatan. Namun karena Indonesia Africa Forum (IAF) digelar di ITDC Nusa Dua, HUT V SMA Negeri 2 Kuta Selatan diundur ke Jumat Umanis Waregadian, 6 September 2024. HUT V ini sesungguhnya HUT III secara luring. HUT I dan II digelar secara daring karena gering Pandemi Covid-19.

Entah kebetulan atau kebenaran, entahlah. Saya buka arsif ingatan, dua sekolah tempat saya menjalankan tugas sebagai guru membawa pengalaman serupa nyaris sama dalam bulan yang sama : September juga  dalam suasana HUT  kedua  Sekolah di dua Kecamatan yang berbeda. SMA Negeri 2 Kuta di Kecamatan Kuta, sedangkan SMA Negeri 2 Kuta Selatan di Kecamatan Kuta Selatan. Kini, ketika memasuki September 2024 adalah bulan ke-11 saya menjadi pelaksana tugas Kepala SMA Negeri 2 Kuta yang sebentar lagi akan merayakan HUT ke-19, pada 14 September 2024. Saya tidak tahu, apakah ini kebetulan atau kebenaran. Entahlah.

Pada 3 September 2024, ketika saya menulis “Di Puncak Tegeh Kaman”, tiba-tiba saja teringat dengan Puncak Tegeh Buhu, puncak menuju Jalan Uluwatu dari arah Denpasar di depan Garuda Wisnu Kencana (GWK)   yang pada mulanya superkontroversial. Ingatan itulah yang menggedor-gedor saya untuk menulis jejak perjalanan berjudul, “Di Puncak Tegeh Buhu”.

 Pada 1970-an, satu-satunya jalan Jalur Denpasar ke Gumi Delod Ceking adalah Jalan tembusan dari Jalan Imam Bonjol Denpasar ke Kuta masuk jalur Bandara Ngurah Rai melewati Banjar Kelan Tuban terus ke Desa Adat Kedonganan lalu Desa Adat Jimbaran  selanjutnya menuju  Puncak Tikungan Tegeh Sari di Kali Jimbaran terus ke Selatan hingga sampai di Puncak Tegeh Buhu. Dari Puncak Tegeh Buhu terus ke Selatan sampai di Persimpangan Nirmala kini lurus menuju Uluwatu. Bila belok kiri dari persimpangan Nirmala, pamedek akan diarahkan ke Desa Adat Ungasan, Kutuh, Kampial, Bualu, hingga Tanjung Benoa.

 Para pemedek dari seluruh dunia (termasuk Bali) yang tangkil ke Pura Uluwatu kala itu, itulah jalur satu-satunya yang dilalui. Sudah menjadi konvensi, setiap pemedek sampai di Puncak Tikungan Tegeh Sari rehat sejenak sambil menghaturkan Canang Asebit Sari. Tradisi ini dapat dimaknai sebagai permakluman sekaligus permohonan izin agar dilancarkan-Nya perjalanan  tangkil ngaturang sembah bakti ke Pura Uluwatu. Rehat sejenak ini juga kesempatan untuk melakukan Pranayama menarik napas kesadaran pangenteg bayu “menenangkan diri” setelah melalui perjalanan jauh bin melelahkan.

Menarik dicermati, para pamedek rehat di Puncak Pengkolan  Tegeh Sari yang dalam bahasa lokal di sebut di Kali.  Pertama, di Kali ada Pura Tegeh Sari menjadi penanda memasuki Gumi Delod Ceking sekaligus permohonan izin agar perjalanan Tirtayatra dilancarkan-Nya. Lagi pula, di Tegeh Sari cukup tersedia parkir dalam kapasitas terbatas, dengan pemandangan biru Pasih Jimbaran dan Bandara Ngurah Rai serta Suung Prapat yang menghijau. Ngulangunin pisan, apalagi sambil menikmati prasadam tipat be sudang saur sambel. Hmmm. Makan untuk menikmati rasa dan rasanya nikmat penuh syukur.

Kedua, Puncak Tegeh Buhu dilewati para pamedek yang tangkil ke Pura Uluwatu. Pun, orang-orang dari Gumi Delod Ceking akan melewatinya ketika ke Peken Jimbaran, ke Peken Kuta, atau ke Peken Payuk di Pasar Badung. Sungguh Puncak Tegeh Buhu menjadi saksi bisu penuh wibawa, karismatis. Mataksu sesuai dengan namanya. Tegeh Buhu adalah puncak kesunyian, puncak kesepian, puncak keheningan. Di Puncak keheningan, pemedek diuji kesabaran dan kesadarannya untuk mendengarkan suara hati yang secara geografis merupakan hamparan tanah berbatu sebagai karang bengang. Karang bengang adalah karang embang sebagai petunjuk jalan menuju Pura Uluwatu agar tetap di ulu hati dalam kesadaran Padma hrdaya.

Ketiga, Puncak Tegeh Buhu menawarkan panorama yang superindah kala pagi bila cuaca bagus. Langit biru tanpa awan sangat menawan. Gugusan gunung dari Gunung Batukaru hingga Gunung Agung menjadi lukisan Ilahi yang menakjubkan. Pasih Jimbaran yang membiru dan Prapat Suwung yang menghijau adalah paduan warna yang menyejukan bin mendamaikan. Pesawat terbang yang mendarat dan lepas landas di Bandara Ngurah Rai ibarat anak-anak Bali yang bermain layang-layang memuliakan Rare Angon berkearifan agraris. Sungguh anak-anak yang riang gembira dalam Merdeka Belajar. Bila malam Purnama, terang bulan dirayu para bintang bak artis menggoda pertapa. Sungguh godaan yang indah. Pertapa sejati pastilah dapat melewati godaan artis hedonis metropolitan.

Keempat, pada dekade 1980-an ketika Gubernur Bali dijabat Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Tegeh Buhu adalah jalur hijau dilarang membangun.  Sejak 1990-an, papan tulis jalur hijau itu sudah tiada. Kini Tegeh Buhu  bukanlah puncak kesepian, melainkan puncak kemacetan dengan kebisingan lebih-lebih siang hari terik matahari. Umpatan pun sering terdengar di tengah indisipliner pengguna jalan di Puncak Ketinggian Tegeh Buhu. Anehnya, wong sunantara ‘bule-bule’ makin binal dan liar melanggar karena mencontoh local boy sebagai parekan dalem. Ini adalah bagian produk gagal berguru menyambut kemajuan. Dari mana mulai perbaikan ?  Bahwa manusia sebagai buana alit adalah reprentasi dari buana agung, maka perbaikan dimulai dari kepala. “Perang dan damai bermulai dari pikiran. Pikiran itu di kepala”, demikianlah wejangan kaum bijaksana.

Begitulah, di Puncak  Tegeh  Buhu, setelah dulu lama kesepian tak dilirik orang, kini memperlihatkan wajah yang paradok. Kenangan sepi kini  tersisa hanya saat Hari Suci Nyepi dalam sehari. Itu pun kalau ada kesadaran kontemplatif. Jejak pencari keheningan dan penutur kejernihan kian terkontaminasi dengan wajah garang. Beton-beton kaku telah memerkosa Ibu Pertiwi di karang bengang, mengusir para pengangon bercapil klangsah. Menjauhkan anak-anak Delod Ceking dari permainan layang-layang yang membuat angan mereka melayang menuju langit biru kedamaian. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  

Tags: Gumi Delod Cekingkuta selatanNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Malajah Sambil Malali Ka Nusa Panida” : Menakar Kelayakan Buku “Ngetelang Getih Kaang Putih” sebagai Media Ajar Bahasa Bali

Next Post

Suara Saking Bali dan Usaha Membumikan Sastra Bali Modern

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Suara Saking Bali dan Usaha Membumikan Sastra Bali Modern

Suara Saking Bali dan Usaha Membumikan Sastra Bali Modern

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co