24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Berita duka, kecaman, dan seruan solidaritas sudah membanjiri linimasa. Wajar. Tapi di tengah semua kebisingan itu, ada pertanyaan yang menurut saya perlu dijawab dengan kepala jernih: di mana seharusnya Indonesia berdiri, dan bagaimana caranya?

Memahami Konflik Ini Secara Jujur

Kita perlu mulai dari fakta, bukan dari perasaan.

Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan “Operation Epic Fury”, sebuah operasi militer besar-besaran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta puluhan pejabat senior lainnya. Lebih dari 200 warga sipil Iran tewas dan 747 lainnya terluka, tersebar di 24 provinsi. Di antara korban itu, setidaknya 51 orang tewas akibat serangan Israel terhadap sebuah sekolah dasar putri di kota Minab.

Tapi untuk memahami konflik ini secara utuh, kita juga perlu tahu apa yang terjadi sebelumnya. Serangan dimulai hanya beberapa hari setelah putaran perundingan nuklir AS-Iran di Swiss berakhir, di mana Iran dilaporkan menyetujui nol penimbunan uranium yang diperkaya, dan mediator Oman menyebut ada “kemajuan signifikan.” Bom dijatuhkan ketika meja diplomasi masih terbuka.

Iran bahkan sempat mengajukan proposal konkret berupa penangguhan pengayaan uranium selama beberapa tahun sebelum diizinkan kembali pada level rendah. Mungkin lebih banyak yang bisa diekstrak dari Iran jika diplomasi diberi lebih dari sekadar dua minggu dan dua sesi perundingan.

Di sisi lain, tepat sehari sebelum serangan, IAEA menemukan Iran menyembunyikan uranium yang sangat diperkaya dalam fasilitas bawah tanah yang tidak tersentuh serangan sebelumnya, dan menyatakan tidak dapat memastikan bahwa program nuklir Iran bersifat damai sepenuhnya.

Inilah yang membuat konflik ini tidak bisa disederhanakan menjadi narasi “Islam melawan Barat.” Ada ambisi nuklir yang nyata, ada diplomasi yang sengaja dipotong di tengah jalan, ada kepentingan geopolitik yang berlapis. Siapapun yang mengabaikan salah satu sisi ini sedang memilih untuk tidak memahami, dan itu berbahaya sebagai dasar pengambilan sikap.

Posisi Indonesia: Sudah ke Mana Kita Melangkah?

Respons resmi pemerintah Indonesia sebenarnya sudah cukup cepat.

Kementerian Luar Negeri RI menyatakan bahwa Indonesia sangat menyesalkan kegagalan negosiasi AS-Iran yang berujung pada eskalasi militer, dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri serta mengutamakan dialog dan diplomasi. Prabowo bahkan melangkah lebih jauh: ia menyatakan kesiapan untuk terbang ke Teheran guna menjalankan mediasi, jika disetujui kedua belah pihak.

Niat ini baik. Tapi niat baik perlu diperiksa dengan konteks yang jujur.

Beberapa pekan sebelum konflik ini meletus, Prabowo hadir dalam pertemuan perdana Board of Peace (BoP) yang digagas Trump di Washington. MUI kemudian menilai keberadaan BoP tidak berguna karena terbukti gagal menciptakan perdamaian, dan menyebut Trump sebagai penghancur perdamaian. Lebih dari itu, dalam pidatonya di PBB, Prabowo pernah menyatakan bahwa dunia harus mengakui dan menjamin keamanan Israel, dan mengakhiri pidatonya dengan kata “Shalom,” sebuah gestur yang menuai kontroversi di dalam negeri.

Apakah dalam kondisi seperti ini Iran akan melihat Indonesia sebagai mediator yang benar-benar netral? Menurut Dino Patti Djalal, Mantan Wakil Menteri Indonesia, rencana mediasi Prabowo ke Teheran sebagai tidak realistis. Ini bukan kritik yang tidak adil. Ini pertanyaan tentang kredibilitas yang perlu dijawab sebelum langkah lebih jauh diambil.

Langkah Strategis yang Lebih Tepat

Bukan berarti Indonesia harus diam. Justru sebaliknya.

Pertama, bersuaralah atas nama prinsip, bukan atas nama pihak. Indonesia selama ini membangun reputasi sebagai pembela kedaulatan dan hukum internasional, terutama dalam konteks Palestina. Konsistensi itu harus dijaga. Menteri Luar Negeri Norwegia sudah menyatakan terang-terangan bahwa serangan Israel terhadap Iran tidak sejalan dengan hukum internasional, karena serangan preventif memerlukan ancaman yang segera dan nyata. Indonesia bisa mengambil posisi yang sama: mengecam kekerasan terhadap sipil dan pelanggaran hukum internasional, tanpa harus memihak agenda politik Teheran.

Kedua, bergeraklah melalui ASEAN dan OKI, bukan sendirian. Suara kolektif jauh lebih kuat dan lebih aman secara diplomatik daripada pernyataan unilateral yang mudah disalahartikan. Sekjen PBB António Guterres sudah memperingatkan bahwa aksi militer membawa risiko memicu rangkaian peristiwa yang tidak bisa dikendalikan siapapun di kawasan yang paling mudah terbakar di dunia. Indonesia bisa menjadi inisiator konsensus regional dalam merespons peringatan itu.

Ketiga, jika serius ingin menjadi mediator, bangun dulu kepercayaan kedua pihak. Mediasi bukan soal siapa yang paling cepat menawarkan diri, tapi siapa yang paling dipercaya oleh semua pihak yang bertikai. Selama ada persepsi bahwa Indonesia terlalu dekat dengan salah satu blok, tawaran mediasi hanya akan terdengar kosong. Prabowo perlu menegaskan kembali posisi bebas-aktif Indonesia secara konsisten, lewat tindakan, bukan hanya pernyataan.

Keempat, jangan lupakan dampak ekonomi yang langsung menyentuh rakyat. Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik sudah mengganggu pengiriman minyak dan gas global. Di dalam negeri, harga solar diperkirakan naik Rp750 hingga Rp2.000 per liter, dan beberapa penerbangan dari Bali sudah mengalami gangguan. Ini bukan isu abstrak geopolitik. Ini soal daya beli dan mobilitas jutaan orang Indonesia, dan itu sendiri sudah cukup menjadi alasan kuat mengapa Indonesia perlu bekerja keras mendorong de-eskalasi.

Tekanan publik kepada Prabowo untuk bersikap tegas itu sah dan perlu didengar. Tapi tekanan yang sama seharusnya mendorong sikap yang cerdas, bukan hanya yang keras.

Indonesia tidak akan lebih dihormati di panggung internasional karena lantang memihak. Indonesia akan dihormati karena konsisten berprinsip, jernih berpikir, dan berani menjadi suara akal sehat ketika dunia sedang panas.

Konflik ini masih sangat dinamis. Keputusan yang diambil hari-hari ini akan meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang dari konflik itu sendiri. Di situlah ujian sesungguhnya, bukan hanya ujian bagi Prabowo, tapi ujian bagi kita sebagai bangsa yang selalu bangga menyebut dirinya cinta damai. [T]

Penulis: Elpeni Fitrah
Editor: Adnyana Ole

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Tags: Amerika SerikatIranperang Iranpolitik internasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara Anak Gianyar Tahun 2026: Menolak Normalisasi Perkawinan Anak Hingga Etika Penggunaan ‘Artificial Intellegence’ Pada Anak

Next Post

Suryak Siu

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Suryak Siu

Suryak Siu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co