24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Berita duka, kecaman, dan seruan solidaritas sudah membanjiri linimasa. Wajar. Tapi di tengah semua kebisingan itu, ada pertanyaan yang menurut saya perlu dijawab dengan kepala jernih: di mana seharusnya Indonesia berdiri, dan bagaimana caranya?

Memahami Konflik Ini Secara Jujur

Kita perlu mulai dari fakta, bukan dari perasaan.

Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan “Operation Epic Fury”, sebuah operasi militer besar-besaran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta puluhan pejabat senior lainnya. Lebih dari 200 warga sipil Iran tewas dan 747 lainnya terluka, tersebar di 24 provinsi. Di antara korban itu, setidaknya 51 orang tewas akibat serangan Israel terhadap sebuah sekolah dasar putri di kota Minab.

Tapi untuk memahami konflik ini secara utuh, kita juga perlu tahu apa yang terjadi sebelumnya. Serangan dimulai hanya beberapa hari setelah putaran perundingan nuklir AS-Iran di Swiss berakhir, di mana Iran dilaporkan menyetujui nol penimbunan uranium yang diperkaya, dan mediator Oman menyebut ada “kemajuan signifikan.” Bom dijatuhkan ketika meja diplomasi masih terbuka.

Iran bahkan sempat mengajukan proposal konkret berupa penangguhan pengayaan uranium selama beberapa tahun sebelum diizinkan kembali pada level rendah. Mungkin lebih banyak yang bisa diekstrak dari Iran jika diplomasi diberi lebih dari sekadar dua minggu dan dua sesi perundingan.

Di sisi lain, tepat sehari sebelum serangan, IAEA menemukan Iran menyembunyikan uranium yang sangat diperkaya dalam fasilitas bawah tanah yang tidak tersentuh serangan sebelumnya, dan menyatakan tidak dapat memastikan bahwa program nuklir Iran bersifat damai sepenuhnya.

Inilah yang membuat konflik ini tidak bisa disederhanakan menjadi narasi “Islam melawan Barat.” Ada ambisi nuklir yang nyata, ada diplomasi yang sengaja dipotong di tengah jalan, ada kepentingan geopolitik yang berlapis. Siapapun yang mengabaikan salah satu sisi ini sedang memilih untuk tidak memahami, dan itu berbahaya sebagai dasar pengambilan sikap.

Posisi Indonesia: Sudah ke Mana Kita Melangkah?

Respons resmi pemerintah Indonesia sebenarnya sudah cukup cepat.

Kementerian Luar Negeri RI menyatakan bahwa Indonesia sangat menyesalkan kegagalan negosiasi AS-Iran yang berujung pada eskalasi militer, dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri serta mengutamakan dialog dan diplomasi. Prabowo bahkan melangkah lebih jauh: ia menyatakan kesiapan untuk terbang ke Teheran guna menjalankan mediasi, jika disetujui kedua belah pihak.

Niat ini baik. Tapi niat baik perlu diperiksa dengan konteks yang jujur.

Beberapa pekan sebelum konflik ini meletus, Prabowo hadir dalam pertemuan perdana Board of Peace (BoP) yang digagas Trump di Washington. MUI kemudian menilai keberadaan BoP tidak berguna karena terbukti gagal menciptakan perdamaian, dan menyebut Trump sebagai penghancur perdamaian. Lebih dari itu, dalam pidatonya di PBB, Prabowo pernah menyatakan bahwa dunia harus mengakui dan menjamin keamanan Israel, dan mengakhiri pidatonya dengan kata “Shalom,” sebuah gestur yang menuai kontroversi di dalam negeri.

Apakah dalam kondisi seperti ini Iran akan melihat Indonesia sebagai mediator yang benar-benar netral? Menurut Dino Patti Djalal, Mantan Wakil Menteri Indonesia, rencana mediasi Prabowo ke Teheran sebagai tidak realistis. Ini bukan kritik yang tidak adil. Ini pertanyaan tentang kredibilitas yang perlu dijawab sebelum langkah lebih jauh diambil.

Langkah Strategis yang Lebih Tepat

Bukan berarti Indonesia harus diam. Justru sebaliknya.

Pertama, bersuaralah atas nama prinsip, bukan atas nama pihak. Indonesia selama ini membangun reputasi sebagai pembela kedaulatan dan hukum internasional, terutama dalam konteks Palestina. Konsistensi itu harus dijaga. Menteri Luar Negeri Norwegia sudah menyatakan terang-terangan bahwa serangan Israel terhadap Iran tidak sejalan dengan hukum internasional, karena serangan preventif memerlukan ancaman yang segera dan nyata. Indonesia bisa mengambil posisi yang sama: mengecam kekerasan terhadap sipil dan pelanggaran hukum internasional, tanpa harus memihak agenda politik Teheran.

Kedua, bergeraklah melalui ASEAN dan OKI, bukan sendirian. Suara kolektif jauh lebih kuat dan lebih aman secara diplomatik daripada pernyataan unilateral yang mudah disalahartikan. Sekjen PBB António Guterres sudah memperingatkan bahwa aksi militer membawa risiko memicu rangkaian peristiwa yang tidak bisa dikendalikan siapapun di kawasan yang paling mudah terbakar di dunia. Indonesia bisa menjadi inisiator konsensus regional dalam merespons peringatan itu.

Ketiga, jika serius ingin menjadi mediator, bangun dulu kepercayaan kedua pihak. Mediasi bukan soal siapa yang paling cepat menawarkan diri, tapi siapa yang paling dipercaya oleh semua pihak yang bertikai. Selama ada persepsi bahwa Indonesia terlalu dekat dengan salah satu blok, tawaran mediasi hanya akan terdengar kosong. Prabowo perlu menegaskan kembali posisi bebas-aktif Indonesia secara konsisten, lewat tindakan, bukan hanya pernyataan.

Keempat, jangan lupakan dampak ekonomi yang langsung menyentuh rakyat. Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik sudah mengganggu pengiriman minyak dan gas global. Di dalam negeri, harga solar diperkirakan naik Rp750 hingga Rp2.000 per liter, dan beberapa penerbangan dari Bali sudah mengalami gangguan. Ini bukan isu abstrak geopolitik. Ini soal daya beli dan mobilitas jutaan orang Indonesia, dan itu sendiri sudah cukup menjadi alasan kuat mengapa Indonesia perlu bekerja keras mendorong de-eskalasi.

Tekanan publik kepada Prabowo untuk bersikap tegas itu sah dan perlu didengar. Tapi tekanan yang sama seharusnya mendorong sikap yang cerdas, bukan hanya yang keras.

Indonesia tidak akan lebih dihormati di panggung internasional karena lantang memihak. Indonesia akan dihormati karena konsisten berprinsip, jernih berpikir, dan berani menjadi suara akal sehat ketika dunia sedang panas.

Konflik ini masih sangat dinamis. Keputusan yang diambil hari-hari ini akan meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang dari konflik itu sendiri. Di situlah ujian sesungguhnya, bukan hanya ujian bagi Prabowo, tapi ujian bagi kita sebagai bangsa yang selalu bangga menyebut dirinya cinta damai. [T]

Penulis: Elpeni Fitrah
Editor: Adnyana Ole

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Tags: Amerika SerikatIranperang Iranpolitik internasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara Anak Gianyar Tahun 2026: Menolak Normalisasi Perkawinan Anak Hingga Etika Penggunaan ‘Artificial Intellegence’ Pada Anak

Next Post

Suryak Siu

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Suryak Siu

Suryak Siu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co