23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Berita duka, kecaman, dan seruan solidaritas sudah membanjiri linimasa. Wajar. Tapi di tengah semua kebisingan itu, ada pertanyaan yang menurut saya perlu dijawab dengan kepala jernih: di mana seharusnya Indonesia berdiri, dan bagaimana caranya?

Memahami Konflik Ini Secara Jujur

Kita perlu mulai dari fakta, bukan dari perasaan.

Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan “Operation Epic Fury”, sebuah operasi militer besar-besaran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta puluhan pejabat senior lainnya. Lebih dari 200 warga sipil Iran tewas dan 747 lainnya terluka, tersebar di 24 provinsi. Di antara korban itu, setidaknya 51 orang tewas akibat serangan Israel terhadap sebuah sekolah dasar putri di kota Minab.

Tapi untuk memahami konflik ini secara utuh, kita juga perlu tahu apa yang terjadi sebelumnya. Serangan dimulai hanya beberapa hari setelah putaran perundingan nuklir AS-Iran di Swiss berakhir, di mana Iran dilaporkan menyetujui nol penimbunan uranium yang diperkaya, dan mediator Oman menyebut ada “kemajuan signifikan.” Bom dijatuhkan ketika meja diplomasi masih terbuka.

Iran bahkan sempat mengajukan proposal konkret berupa penangguhan pengayaan uranium selama beberapa tahun sebelum diizinkan kembali pada level rendah. Mungkin lebih banyak yang bisa diekstrak dari Iran jika diplomasi diberi lebih dari sekadar dua minggu dan dua sesi perundingan.

Di sisi lain, tepat sehari sebelum serangan, IAEA menemukan Iran menyembunyikan uranium yang sangat diperkaya dalam fasilitas bawah tanah yang tidak tersentuh serangan sebelumnya, dan menyatakan tidak dapat memastikan bahwa program nuklir Iran bersifat damai sepenuhnya.

Inilah yang membuat konflik ini tidak bisa disederhanakan menjadi narasi “Islam melawan Barat.” Ada ambisi nuklir yang nyata, ada diplomasi yang sengaja dipotong di tengah jalan, ada kepentingan geopolitik yang berlapis. Siapapun yang mengabaikan salah satu sisi ini sedang memilih untuk tidak memahami, dan itu berbahaya sebagai dasar pengambilan sikap.

Posisi Indonesia: Sudah ke Mana Kita Melangkah?

Respons resmi pemerintah Indonesia sebenarnya sudah cukup cepat.

Kementerian Luar Negeri RI menyatakan bahwa Indonesia sangat menyesalkan kegagalan negosiasi AS-Iran yang berujung pada eskalasi militer, dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri serta mengutamakan dialog dan diplomasi. Prabowo bahkan melangkah lebih jauh: ia menyatakan kesiapan untuk terbang ke Teheran guna menjalankan mediasi, jika disetujui kedua belah pihak.

Niat ini baik. Tapi niat baik perlu diperiksa dengan konteks yang jujur.

Beberapa pekan sebelum konflik ini meletus, Prabowo hadir dalam pertemuan perdana Board of Peace (BoP) yang digagas Trump di Washington. MUI kemudian menilai keberadaan BoP tidak berguna karena terbukti gagal menciptakan perdamaian, dan menyebut Trump sebagai penghancur perdamaian. Lebih dari itu, dalam pidatonya di PBB, Prabowo pernah menyatakan bahwa dunia harus mengakui dan menjamin keamanan Israel, dan mengakhiri pidatonya dengan kata “Shalom,” sebuah gestur yang menuai kontroversi di dalam negeri.

Apakah dalam kondisi seperti ini Iran akan melihat Indonesia sebagai mediator yang benar-benar netral? Menurut Dino Patti Djalal, Mantan Wakil Menteri Indonesia, rencana mediasi Prabowo ke Teheran sebagai tidak realistis. Ini bukan kritik yang tidak adil. Ini pertanyaan tentang kredibilitas yang perlu dijawab sebelum langkah lebih jauh diambil.

Langkah Strategis yang Lebih Tepat

Bukan berarti Indonesia harus diam. Justru sebaliknya.

Pertama, bersuaralah atas nama prinsip, bukan atas nama pihak. Indonesia selama ini membangun reputasi sebagai pembela kedaulatan dan hukum internasional, terutama dalam konteks Palestina. Konsistensi itu harus dijaga. Menteri Luar Negeri Norwegia sudah menyatakan terang-terangan bahwa serangan Israel terhadap Iran tidak sejalan dengan hukum internasional, karena serangan preventif memerlukan ancaman yang segera dan nyata. Indonesia bisa mengambil posisi yang sama: mengecam kekerasan terhadap sipil dan pelanggaran hukum internasional, tanpa harus memihak agenda politik Teheran.

Kedua, bergeraklah melalui ASEAN dan OKI, bukan sendirian. Suara kolektif jauh lebih kuat dan lebih aman secara diplomatik daripada pernyataan unilateral yang mudah disalahartikan. Sekjen PBB António Guterres sudah memperingatkan bahwa aksi militer membawa risiko memicu rangkaian peristiwa yang tidak bisa dikendalikan siapapun di kawasan yang paling mudah terbakar di dunia. Indonesia bisa menjadi inisiator konsensus regional dalam merespons peringatan itu.

Ketiga, jika serius ingin menjadi mediator, bangun dulu kepercayaan kedua pihak. Mediasi bukan soal siapa yang paling cepat menawarkan diri, tapi siapa yang paling dipercaya oleh semua pihak yang bertikai. Selama ada persepsi bahwa Indonesia terlalu dekat dengan salah satu blok, tawaran mediasi hanya akan terdengar kosong. Prabowo perlu menegaskan kembali posisi bebas-aktif Indonesia secara konsisten, lewat tindakan, bukan hanya pernyataan.

Keempat, jangan lupakan dampak ekonomi yang langsung menyentuh rakyat. Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik sudah mengganggu pengiriman minyak dan gas global. Di dalam negeri, harga solar diperkirakan naik Rp750 hingga Rp2.000 per liter, dan beberapa penerbangan dari Bali sudah mengalami gangguan. Ini bukan isu abstrak geopolitik. Ini soal daya beli dan mobilitas jutaan orang Indonesia, dan itu sendiri sudah cukup menjadi alasan kuat mengapa Indonesia perlu bekerja keras mendorong de-eskalasi.

Tekanan publik kepada Prabowo untuk bersikap tegas itu sah dan perlu didengar. Tapi tekanan yang sama seharusnya mendorong sikap yang cerdas, bukan hanya yang keras.

Indonesia tidak akan lebih dihormati di panggung internasional karena lantang memihak. Indonesia akan dihormati karena konsisten berprinsip, jernih berpikir, dan berani menjadi suara akal sehat ketika dunia sedang panas.

Konflik ini masih sangat dinamis. Keputusan yang diambil hari-hari ini akan meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang dari konflik itu sendiri. Di situlah ujian sesungguhnya, bukan hanya ujian bagi Prabowo, tapi ujian bagi kita sebagai bangsa yang selalu bangga menyebut dirinya cinta damai. [T]

Penulis: Elpeni Fitrah
Editor: Adnyana Ole

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Tags: Amerika SerikatIranperang Iranpolitik internasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara Anak Gianyar Tahun 2026: Menolak Normalisasi Perkawinan Anak Hingga Etika Penggunaan ‘Artificial Intellegence’ Pada Anak

Next Post

Suryak Siu

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Suryak Siu

Suryak Siu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co