26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tanaman Obat Sekolah (TOS): Usaha Mendekatkan Usadha Kuno kepada Generasi Masa Kini

I Kadek Susila Priangga by I Kadek Susila Priangga
September 4, 2024
in Esai
Tanaman Obat Sekolah (TOS): Usaha Mendekatkan Usadha Kuno kepada Generasi Masa Kini
  • Artikel ini adalah hasil dari seminar “Khazanah Rempah dalam Lontar”, program khusus Singaraja Literary Festival 2024, yang didukung Direktorat PPK (Pengembangan & Pemanfaatan Kebudayaan), Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, 23-25 Agustus 2024.

INDONESIA adalah negara yang kaya budaya, adat, bahasa, dan hasil bumi yang melimpah. Mengutip pemaparan Putu Eka Guna Yasa, salah seorang narasumber dalam diskusi “Khazanah Rempah dalam Lontar” pada Singaraja Literary Festival 2024, “burung merak indah karena bulunya, dari bulunya ia disanjung seluruh dunia namun karena bulunya juga, burung merak diburu.

Macan disanjung dunia karena belangnya, namun macan juga banyak diburu dan mati karena belangnya. Begitu juga Indonesia yang kaya akan rempah, karena rempah kita disanjung, tapi karena rempah pula, kita dijajah dan dijarah. Penjajah datang karena ada yang mereka inginkan, terbukti banyak hasil bumi asli Nusantara mereka jarah habis-habisan, salah satunya adalah rempah.”

Dalam diskusi tersebut, dibahas tuntas tentang jalur penyebaran rempah dalam perdagangan dunia. Mulai dari rempah sebagai pewangi (ganda) tubuh, kamar, dan fungsinya dalam keharmonisan rumah tangga; rempah sebagai bumbu makanan (boga) yang telah dilakukan secara turun-temurun; sampai rempah sebagai obat/kesehatan (usadha) sebagaimana tertulis dalam naskah-naskah kuno (lontar).

Bicara tentang rempah memang sangat menarik. Rempah tertuang dalam berbagai lontar kuno, baik terkait dengan ganda (wewangian/parfum), boga (masakan), dan usadha (pengobatan). Tertulis lengkap, namun semakin jarang diterapkan karena berbagai faktor, perkembangan zaman salah satunya.

Generasi masa kini sudah mulai melupakan manfaat dari rempah, bahkan menyebutkan namanya pun mereka kesulitan, apalagi membudidayakannya. Generasi yang dimanjakan dengan berbagai kemudahan dan perkembangan teknologi ini semakin menjauh dan memutus akar dari sebuah ajaran yang adiluhung yang ditulis oleh pendahulu kita. Sehingga banyak terjadi pergeseran yang lama-kelamaan mulai menghilang.

Terkait budidaya rempah, tiap sekolah telah melakukannya, termasuk SMPN 3 Sukasada. TOS (Tanaman Obat Sekolah) adalah salah satu gerakan untuk tetap menjaga kekayaan rempah di Indonesia. Siswa diajarkan untuk menanam dan merawat tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk obat (usadha), seperti kunyit, jahe, temu, lengkuas, dan berbagai tanaman yang berguna sebagai obat, baik memanfaatkan umbi, bunga, daun, getah dan lainnya.

Siswa dikenalkan pada manfaat yang bisa diambil dari tanaman yang nantinya bisa membuat siswa memilki rasa untuk mencintai tanaman dan mampu merawat keberadaannya. Kalau di rumah tangga ada gerakan TOGA (Tanaman Obat Rumah Tangga) yang entah masih berjalan atau tidak, dilingkup sekolah ada TOS (Tanaman Obat Sekolah), sebagai gerakan menjaga kekayaan leluhur dalam memanfaatkan tanaman sebagai obat (Usada) yang tentunya mudah di dapat dan dibudidayakan.

Memanfaatkan lahan sempit dengan media pot dan polybag, tanaman obat dengan berbagai macam di tanam. Dibentuk sebuah organisasi bernama KKR (Kader Kesehatan Remaja), mereka yang memiliki rasa peduli terhadap kesehatan, bersama guru pembina, merawat dan memanfaatkan tanaman yang ditanam tersebut.

Sebagai sumber informasi tanaman dan fungsinya dalam kesehatan tubuh, terpampang koleksi tanaman yang berisi manfaat yang bisa diambil dari masing-masing tanaman tersebut, sehingga siswa menjadi tahu dan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, pemanfaatannya memang masih sangat rendah. Siswa yang mengalami luka, misalnya, cenderung enggan memanfaatkan kunyit sebagai antiseptik karena berbagai alasan dan memilih obat merah kemasan. Dan alasan mereka adalah kuno.

Ya, memang benar, kunyit telah tertuang dalam berbagai lontar kuno, berbagai naskah kuno sebagai antiseptik alami, dan penelitian membenarkan itu. Namun konteks kuno dari jawaban siswa bukan karena mereka tahu itu tertuang di naskah-naskah kuno, tapi lebih tepatnya mencemooh kita yang masih menyarankan pengobatan kuno di era yang modern ini. Mereka menolak memanfaatkan rempah dengan alasan zaman.

TOS bisa menjadi sarana mempertahankan keberadaan rempah dilingkup sekolah, merubah stigma siswa sebagai generasi yang serba modern saat ini, untuk mengenal dan tetap memanfaatkan rempah sebagai obat, wangi-wangian, dan bumbu dalam masakan.

Namun, TOS bukan hanya tentang rempah, pula ruang lingkupnya lebih luas, karena lebih mengedepankan pemanfaatan tanaman yang berguna sebagai obat. Seperti pemanfaatan tanaman lidah mertua sebagai tanaman pembersih udara di dalam kelas, ekstraksi bunga teleng sebagai penghilang stres, dan lain sebagainya yang tentunya bukan termasuk ke dalam bagian rempah yang kita kenal.

Dalam koleksi TOS juga banyak terdapat berbagai golongan rempah, yang tentunya sebagian besar dalam golongan umbi-umbian. Karena mempertimbangkan ukuran tanaman yang tidak terlalu besar, mudah perawatannya, dan berbagai pertimbangan lainnya, termasuk lahan sekolah yang dimanfaatkan.

Pengenalan rempah yang berkaitan dengan ganda, boga dan usadha dilingkup sekolah memang tidak terlalu signifikan. Saat ini di SMPN 3 Sukasada hanya bisa menyentuh usadha walau masih dalam skala kecil dan masih mengalami cukup banyak rintangan.

Rintangan tidak membuat pihak sekolah menyerah. Salah satu gerakan yang tetap dilakukan adalah siswa diajak untuk mengonsumsi tanaman-tanaman untuk kesehatan tubuh, seperti panen bunga teleng yang dibuat teh dan diminum bersama. Juga menempatkan tanaman lidah mertua di setiap kelas sebagai penyaring udara kotor dan gerakan-gerakan kecil lainnya.

Memang dampaknya pada tubuh tidak serta merta langsung dirasakan, namun gerakan seperti ini harus dilakukan terus menerus, agar terpatri dengan baik pada siswa, bahwa rempah dan tanaman obat lainnya memiliki manfaat yang luar biasa pada tubuh kita. Dan terus bersama membudidayakan keberadaan kekayaan rempah dan tanaman obat kita serta memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan mengenal, mereka tahu cara memanfaatkannya, dengan memanfaatkan mereka peduli akan keberadaannya dan merasakan pengaruhnya pada tubuh. Dan harapannya, dari lingkungan sekolah bisa berdampak hingga ke lingkungan masyarakat dengan perantara siswa yang sadar akan manfaat rempah yang begitu kaya.

Dan ke depan, dengan bekal diskusi “Khazanah Rempah dalam Lontar” ini, bukan hanya pengetahuan tentang usadha saja yang dapat menyentuk siswa SMPN 3 Singaraja, namun juga ganda dan boga.[T]

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Rempah-Rempah dalam Perdagangan dan Kebudayaan Bali Utara
Tentang Petani Cengkeh, Berkah dan Masalah,  serta Surga dan Neraka
Sumbangsih Rempah-Rempah dalam Mengaya Metafora Bahasa Bali
Rempah Paling Cong!
Menebak Aroma Sihir Janda Jirah
Tags: jalur rempahrempahseri rempahSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ritus Tari Seblang Bakungan dan Imaji Kontemporer Masyarakat Pedesaan di Masa Lalu

Next Post

Digitalisasi Pariwisata: Tantangan dan Keniscayaan

I Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga

Lahir di Karangasem. Guru seni budaya di SMPN 3 Sukasada, Buleleng, Bali

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Digitalisasi Pariwisata: Tantangan dan Keniscayaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co