23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Petani dalam Tatapan Sastrawan Kita: Dulu dan Kini

I Made Sujaya by I Made Sujaya
August 23, 2024
in Esai

I Made Sujaya | desain tatkala.co

DALAM sebuah esainya bertajuk “Sosok Petani dalam Sastra Kita” yang dimuat dalam buku Sastra dalam Empat Orba (2001), Agus R. Sarjono menyebut sastra Indonesia sepi dengan tema pertanian. Tidak banyak karya sastra Indonesia yang mengangkat masalah dan sosok petani. Bila pun ada, masalah dan sosok petani tidak menjadi tema utama.

Hal ini dipandang sebagai keganjilan karena faktanya Indonesia sebagai negara agraris dengan masyarakat petani serta wilayah pertanian sebagai realitas dominan bangsa Indonesia. Masalah yang dihadapi petani dan dunia pertanian juga sangat kompleks dan beragam.

Kondisi ini dihubungkan Sarjono dengan latar belakang para sastrawan Indonesia yang terdidik secara Barat. Pada awal kelahiran sastra Indonesia, misalnya era Balai Pustaka hingga Pujangga Baru, para sastrawan itu umumnya berasal dari golongan priyayi yang gagap memunculkan dan mengartikulasikan dunia pertanian. Masih menurut Sarjono, dunia pertanian dalam tatapan sastrawan Indonesia merupakan cerminan dunia tradisionalitas yang justru hendak ditinggalkan.

Penilaian Sarjono memang tidak sepenuhnya keliru, namun tidak sepenuhnya juga benar. Bahwa tema dunia pertanian tidak banyak muncul dalam genre prosa fiksi, khususnya novel, mungkin ada benarnya.  Tampaknya, bagi para novelis Indonesia, problematika yang dihadapi petani kurang menarik perhatian dibandingkan problematika religiositas, pertentangan tradisi dan modernitas, marginalisasi perempuan atau isu-isu seksualitas.

Di antara sedikit novel Indoneis yang mengungkap kehidupan petani atau menghadirkan sosok petani adalah Kemarau (1967) karya A.A. Navis. Dalam novel ini, Navis memunculkan sosok petani tangguh bernama Sutan Duano dalam menghadapi musim kemarau panjang, sebaiknya juga secara satiris mengkritik perilaku masyarakat pedesaan yang lebih mengedepankan religiositas pada tataran permukaan. Mereka mementingkan berdoa memohon hujan turun tapi bermalas-malasan menggarap sawah-sawah mereka.

Novel Pulang karya Toha Mohtar

Sebelumnya, Toha Mohtar menulis novel Pulang (1958) yang juga menggambarkan kehidupan petani di desa. Tokoh utama cerita, Tamin, kembali ke desanya di Gunung Wilis setelah memutuskan berhenti menjadi Heiho, tentara masa pendudukan Jepang. Sang tokoh menebus rasa bersalah karena berkhianat kepada bangsanya sendiri dengan pulang membangun desanya.  

Namun, tema dunia pertanian dengan sosok petani dengan berbagai masalahnya sebagai titik tolak cukup banyak muncul dalam puisi dan cerpen Indonesia. Puisi-puisi Indonesia periode awal yang dicirikan oleh gambaran alam kuat banyak memotret suasana alam persawahan di desa dan kehidupan petani. Memang, pada periode ini, puisi-puisi Indonesia tentang petani atau alam pertanian sangat dipengaruhi oleh cara pandang romantisisme sehingga gambaran tentang petani dan alam pertanian terasa cenderung eksotis. Sanusi Pane menulis sejumlah puisi tentang petani dan alam pertanian yang indah dan menawan.

Memasuki periode tahun 1960-an, sosok dan nasib para petani mendapat perhatian pada sastrawan, khususnya sastrawan yang terhimpun dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Dipengaruhi oleh cara pandang realisme sosialis, para pengarang Lekra sangat getol menggambarkan perlawanan kaum tani melawan penindasan, terutama menghadapi tuan tanah. Menurut hasil penelitian I Wayan Artika atas antologi Gugur Merah dan Laporan dari Bawah yang dituangkan dalam buku Representasi Ideologi dalam Sastra Lekra (2024) cerpen-cerpen Lekra tentang kaum tani bergerak dari (1) adanya penderitaan kaum tani yang dibayangkan tertindas oleh kaum tuan tanah, (2) perlawanan kaum tani, lalu berakhir dengan (3) kemenangan kaum tani.

Para pengarang Lekra juga memberi perhatian pada keberadaan perempuan tani. Para perempuan petani ini tidak saja digambarkan dengan penuh keberanian melawan kekuasaan kaum tuan tanah, namun juga memperjuangkan kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki.

Salah satu pengarang Lekra dari Bali, Putu Oka Sukanta menulis cerpen berjudul “Bibi Kerti” yang menggambarkan perjuangan perempuan tani Bali memperoleh tanah. Melalui cerpen ini, pengarang tak hanya mengusung gagasan soal landreform namun juga mengkritik budaya patriarkhi yang begitu kokoh dalam kehidupan masyarakat Bali.

Sastrawan Bali terbilang memiliki sensibilitas terhadap kehidupan petani dan dunia pertanian. Panji Tisna menulis sebuah cerpen berjudul “Menolong Orang Menyiangi Padi”. Cerpen yang dimuat di majalah Damai (1955) ini menggambarkan kehidupan petani Bali di desa yang kental dengan tradisi tolong-menolong. Dalam cerpen ini diceritakan tokoh utama yang seorang petani mengundang kerabat dan sahabatnya untuk membantu menyiangi padi di sawah. Namun, citra stereotif dunia pertanian yang sarat dengan beban hidup tetap terasa.

Gambaran problematika petani dan dunia pertanian dalam karya sastra memang tak bisa dilepaskan dari konteks zamannya. Jika pada era Lekra, problematika petani dikaitkan dengan isu landreform, pada era booming pariwisata, problematika petani dan dunia pertanian dihubungkan dengan industri turisme yang haus lahan. Itu sebabnya, puisi-puisi dan cerpen-cerpen karya sastrawan Indonesia, khususnya di Bali, banyak memotret konflik tanah antara petani dan kapitalis pariwisata.

Pada era 1990-an, sajak-sajak penyair Bali didominasi oleh suara keresahan mengenai ludesnya tanah-tanah Bali, terutama oleh masifnya perkembangan industri pariwisata. Dampaknhya tentu saja ruang gerak para petani dan dunia pertanian makin sempit. Puisi-puisi Oka Rusmini, I Wayan Arthawa, Nyoman Wirata, Alit S. Rini maupun GM Sukawidana mencerminkan perhatian para penyair Bali terhadap isu alih fungsi lahan pertanian yang berimplikasi pada terdesaknya para petani.

Cerpenis Gde Aryantha Soethama menulis cerpen “Sawah Indah nan Subur” yang dengan sangat baik menggambarkan proses alih kepemilikan tanah sawah di Bali dari orang Bali kepada orang luar. Proses alih kepemilikan itu terjadi begitu perlahan dan halus. Tanpa disadari, lahan sawah para petani telah dikuasai pemodal dari luar lalu meskipun tetap difungsikan sebagai sawah, fungsinya sudah bergeser sekadar sebagai atraksi wisata.

Gde Aryantha Soethama juga menulis sebuah cerpen yang memuliakan para petani yang dikaitkan dengan konteks spiritualitas khas Bali, “Surga untuk Petani”. Cerpen yang diadaptasi dari cerita rakyat Bali ini menceritakan tentang seorang petani yang tekun akhirnya diterima dengan tangan terbuka oleh penguasa surga. Walaupun si petani tidak memiliki pengetahuan tentang agama yang kuat seperti halnya seorang pendeta. Seperti halnya Navis, Aryantha Soethama juga mengkritik laku hipokrit orang-orang berjubah agama. Tokoh petani yang tekun dan suntuk dengan kewajibannya bergelut dengan ibu pertiwi digambarkan lebih mulia tinimbang seorang pendeta yang memiliki pengetahuan agama yang luas tetapi minim ketulusan dan kejujuran.

Cerpenis Made Adnyana Ole juga tergolong memiliki perhatian besar pada sosok petani dan dunia pertanian di Bali. Pada sebagian sajak-sajaknya dalam buku Dongeng dari Utara (2014) dan sebagian cerpen-cerpennya dalam Padi Dumadi (2007) dan Gadis Suci yang Melukis Tanda Suci di Tempatr Suci (20180 menunjukkan bagaimana pengarang memaknai petani dan kehidupan bertani sebagai laku mulia. Namun, dia juga tidak menutup mata pada problematika soal makin terdesaknya petani dan kehidupan petani.

Penyair Nyoman Wirata menulis buku kumpulan puisi Merayakan Pohon di Kebun Puisi (2007) yang sejatinya juga menggambarkan kemuliaan laku bercocok tanam. Lima puluh lima puisi dalam buku ini seluruhnya melukiskan tentang pohon yang mencerminkan gagasan tentang pemuliaan ibu bumi sebagai sumber energi utama kehidupan manusia. Dalam sastra Bali modern, kita juga disuguhi gagasan tentang petani dan dunia pertanian dengan penuh optimisme. Drama Masan Cengkehe Nedeng Mabunga (1978) karya Nyoman Manda menggambarkan semangat para petani di Desa Nyebah, Kayuamba, Bangli, Bali menanam dan merawat tanaman cengkeh sebagai sumber penghidupan. Dalam drama ini ditampilkan tokoh utama I Nyoman Sadra yang membangun desa dengan menjadi penyuluh pertanian untuk mendampingi para petani cengkeh. Dibalut dengan konflik khas masyarakat pedesaan Bali dengan problematika keyakinan dan tradisi, drama menyampaikan pesan penting kepada masyarakat Bali untuk membangun desanya sesuai potensi masing-masing dalam bidang pertanian. Memang, drama ini tak bisa menghindarkan diri dari kesan propaganda program pemerintah. Namun, pesan semacam itu juga masih gayut dengan problematika sosial masyarakat pedesaan Bali hingga kini. [T]

  • BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024
Rempah-Rempah Kita dalam Khazanah Gastronomi Internasional
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
Parfum Berbahan Rempah: Kearifan Sastra Bermotif Panji yang Belum Banyak Digali
Tentang Rambut dan Kisah-kisahnya
WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali
Apa itu Gincu?
Tags: apresiasi sastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Candu Kekuasaan dan Upaya Kangkangi Konstitusi

Next Post

Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024

Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co