12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menikmati Sensasi Baru Menu “Uraban Nyawan” atau “Lawar Lebah” di Desa Tambakan-Buleleng

Hizkia Adi Wicaksnono by Hizkia Adi Wicaksnono
August 15, 2024
in Kuliner
Menikmati Sensasi Baru Menu “Uraban Nyawan” atau “Lawar Lebah” di Desa Tambakan-Buleleng

Uraban/lawar nyawan di Desa Tambakan, Buleleng | Foto: tatkala.co/Hizkia

APA yang biasa dikonsumsi dari lebah? Umunya orang akan jawab: madu. Namun, pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasa dari lebah itu sendiri? Apakah rasanya seperti sengatan?

Pertanyaan itu yang terlintas dibenak saya saat ditawari menu uraban nyawan atau lawar nyawan atau lawar lebah di Desa Tambakan, Kubutambahan, Buleleng, Bali, Selasa, 6 Agustus 2024.

Saat itu, di Desa Tambakan, tepatnya di areal sekitar Pura Mrajapati, sedang digelar acara pembukaan pameran seni instalasi karya perupa Nyoman “Polenk” Redi

Saat acara makan siang usai seremonial pembukaan pameran, saya ditawari uraban nyawan, atau orang lebih banyak menyebutkan lawar nyawan. Uraban, atau lawar, adalah menu makanan khas Bali, biasanya terdiri dari campuran berbagai jenis sayur, bumbu lengkap dan parutan kelapa. Juga berisi campuran daging. Jika campurannya dadging babi, maka menu itu disebut lawar babi. Jika menggunakan daging sapi, maka disebut lawar sapi.

Nah, ini lawar nyawan, atau lawar lebah.  Artinya, lawar itu berisi daging lebah. Bisa dibayangkan, bagaimana lebah menjadi makanan untuk lauk-lauk.

Ketika ditawari, saya ragu-ragu.  Saya punya pengalaman masa kecil yang membuat saya sedikit trauma dengan serangga penyengat semacam lebah. Saya pernah iseng menyentuh tawon yang sudah mati dan saya tersengat tawon mati itu. Biarpun lebah tidak dapat menyengat dalam keadaan mati seperti tawon, tetap saja hal itu membangkitkan rasa cemas dan takut untuk memcicipi hidangan uraban nyawan itu.

Saya bayangkan, sengat lebah bisa saja menusuk bagian dalam mulut saya. Rasanya pasti akan sangat tidak bisa dibanggakan.

Namun, saya penasaran juga. Melihat orang lain yang baik-baik saja saat menyantap menu makanan yang unik itu, saya pun memberanikan diri untuk mencoba hidangan eksotik itu. Makan tanpa nasi bagi saya seperti hari raya Paskah tanpa telur paskah.

Saya menyantap hidangan itu dengan nasi yang dibungkus daun. Awalnya saya hanya menyantap nasi bungkus sambil menatap hidangan dari lebah itu. Saya mengunyahnya perlahan sambil terus menatap hidangan dari lebah itu. Sesuap, dua suap nasi bungkus tertelan hingga akhirnya keberanian saya terkumpul untuk mencoba uraban nyawan itu.

Mulanya hanya seujung sendok hidangan itu saya cicipi. Dengan perlahan suapan pertama itu saya dekatkan ke mulut saya. Sedikit merinding saat menatap sendok yang berisi sedikit olahan lebah itu mengarah ke mulut saya.

Namun, bagian menariknya adalah, sesampainya makanan itu di dalam mulut saya dan menyentuh lidah saya, terasa gurih. Orang Bali biasa menyebut nyangluh.  Barangkali rasa gurih itu muncul dari bumbu-bumbu yang dipakai untuk mengolah makanan itu.

Bukan hanya itu, ketika lebah-lebah mungil itu terkunyah dan lumer di mulut, ada sedikit rasa pahit bercampur manis, ditambah dengan rasa gurih dari bumbunya, membuat olahan unik itu memiliki rasa nikmat yang istimewa.

Santapan makan siang di pameran Seni Instalasi Partisipatif Teo-Ekologis Sampi Duwe karya Nyoman “Polenk” Rediasa di Desa Tambakan | Foto : tatkala.co/Sonhaji

Setelah uraban atau lawar nyawan masuk jadi suapan pertama di mulut saya,  saya tidak bisa berhenti lagi untuk terus melahapnya. Tak perlu waktu lama nasi bungkus dan uraban nyawan ituludes tanpa sisa di tangan saya.

Keunikan rasa dan tampilannya membuat saya penasaran untuk mengetahui bagaimana orang Desa Tambakan mengolah hidangan unik ini. Saya memutuskan untuk berbincang dengan Ni Komang Srinadi.  Ia adalah orang yang menawarkan menu itu kepada para pengunjung termasuk saya.

Srinadi mengatakan, hidangan ini sudah ada sejak  dulu di Desa Tambakan. Lebah-lebah yang menjadi bahan baku hidangan ini didapat saat warga mencari madu di hutan. Jika warga menjumpai sarang lebah yang berisi anak-anak lebah yang dirasa cukup untuk diolah, maka anak-anak lebah itulah yang kemudian mereka bawa kemudian diolah menjadi uraban nyawan.

Bahan utama uraban nyawan ini tentu saja nyawan atau lebah. Lebah yang masih bayi, atau lebah yang biasanya masih berada dalam gumpan sarangnya. Bukan lebah dewasa yang sudah bisa terbang dan menyengat.

Bumbu dan bahan lainnya berupa kencur, kelapa, garam, dan cabai yang dimasak selama kurang lebih 30 menit.

Ditengah perbincangan saya dengan Ni Komang Srinadi, datang seorang laki-laki berpakaian kemeja biru gelap dengan udeng di kepalanya bermaksud ikut berbincang soal uraban nyawan.

Laki-laki itu bernama Ketut Suliarta. Ia menjelaskan bahwa selain menjadi makanan konsumsi warga Desa Tambakan, uraban nyawan juga disajikan dan di-hatur-kan sebagai persembahan upacara Sakep Tilem yang dilaksanakan di Pura Dalem. Jadi, uraban nyawan ini juga dipersembahkan untuk Dewa.

Ni Komang Srinadi | Foto : tatkala.co/Sonhaji

Saya bukanlah satu-satunya orang yang pertama kali mencoba uraban nyawan ini saat acara pembukaan pameran seni di Desa Tambakan itu.

Banyak pengunjung lain yang juga baru kali itu merasakan hidangan dari lebah khas Desa Tambakan itu dan menyukainya. Salah satunya, teman saya Sonhaji, salah satu tim tatkala.co yang memang ke Desa Tambakan untuk meliput pembukaan pameran.

Menurutnya hidangan ini memiliki rasa yang unik. Sama seperti saya, awalnya dia juga takut dan ngeri melihat hidangan itu, namun setelah mencobanya dia mulai menyukainya. Menurutnya keunikan dan kekayaan rasa hidangan itu membuat nafsu makannya bertambah. Rasa gurih dari bumbu, dan anak-anak lebah itu terasa pahit, manis, dan asam menciptakan sensasi makan yang menyenangkan baginya.

Pengunjung menikmati nasi bungkus dengan tambahan menu lawar nyawan | Foto : tatkala.co/Sonhaji

Ni Komang Srinadi mengatakan banyak orang dari luar Desa Tambakan bahkan luar Buleleng yang gemar dengan uraban nyawan. Mereka kerap kali ke Desa Tambakan untuk membeli madu sekaligus anakan lebah yang nantinya diolah sendiri menjadi uraban nyawan. Tentu, jika tak mau repot, banyak juga yang membeli uraban nyawan yang sudah jadi. [T]

Reporter: Hizkia Adi Wicaksono
Penulis: Hizkia Adi Wicaksono
Editor: Adnyana Ole

Nikmatnya Kuliner Bandut dari Desa Pedawa
Subatah, Makanan Unik: Di Desa Pucaksari Subatah Biasa Digoreng, juga Bisa Di-nyatnyat
Gorengan Ores, Makanan Khas Masyarakat Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng
Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les
Klipes Sune Cekuh, Kumbang Air Goreng Khas Desa Kedis
Tags: Desa Tambakankulinerkuliner khas balikuliner lokalserangga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dewi Sri dan Spirit Kemerdekaan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja

Next Post

Merdeka, tetapi Belum!

Hizkia Adi Wicaksnono

Hizkia Adi Wicaksnono

Fotografer/Videografer tatkala.co

Related Posts

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Merdeka, tetapi Belum!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co