23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merenungkan Pelestarian dan Pengembangan Seni – Dari Pikiran Sendiri Untuk Menyendiri

Adi Setiawan by Adi Setiawan
July 30, 2024
in Esai
Merenungkan Pelestarian dan Pengembangan Seni – Dari Pikiran Sendiri Untuk Menyendiri

Janger Menyali yang tradisional sekaligus modern | Foto: Dok. tatkala.co

INI pikiran saya sendiri tentang istilah pelestarian dan pengembangan seni.

Senin, 29 Juli 2024, tepat pukul 21.34 wita, di Pondok Seni Parasara saya mengosongkan pikiran. Mencoba tentang. Pondok seni, sebuah tempat yang saya bangun itu saya yakini memang bagus untuk mendapatkan ketenangan.

Malam itu, terdengar suara jangkrik. Suara itu menjadi musik pengiring ketika saya menuliskan pikiran ini. Barangkali pada dasarnya saya hanya berpura-pura menulis untuk diri sendiri saja.

Perkembangan dan pelestarian seni, itulah kalimat awal yang terlitas pada pikiran saya yang kosong ini. Perkembangan itu apa? Pelestarian itu apa?

Seringkali kita bicara tentang perkembangan seni, namun tiba-tiba pembicaraan dikekang pikiran atau situasi tentang pentingnya pelestarian.

Itu kata dari pikiran saya, yang sedikit saya tanyakan kepada saya sendiri (jangan ikut dipikirkan). Oke, sebelum bercerita tentang hal-hal yang tak sepenuhnya saya pahami, baiklah saya teguk dulu kopi hitam tanpa gula, dan sedikit isapam tembakau yang tergulung.

Seni sudah banyak dibicarakan orang-orang bahkan sampai menjadi materi pembelajaran di sekolah. Ini mungkin maksud pemerintah agar kita sejak usia sekolah usdah tahu soal seni.

Tapi saya memikirkan kata seni menurut pikiran saya pribadi yaitu kesenangan, rasa gembira, dan ketenangan. Dan dari pengertian ini, saya bertanya kembali, apakah ketika saya berkesenian atau melakukan proses kesenian saya sudah senang, tenang dan gembira?

Nah hal ini mungkin kita bisa renungkan bersama tapi jangan dibawa serius agar tak stress.

Ketika proses berkesenian ini berlangsung atau kita jalani, entah menjalankan proses seni yang klasik, yang sudah ada, atau membangun proses baru dalam ciptaan seni, secara tidak langsung kita sudah melestarikan kata seni itu sendiri. Di dalamnya sekaligus kita juga mengembangkan pemikiran sendiri dalam proses itu.

Jadi, dalam proses pelestarian pun sesungguhnya terdapat proses pengembangan, proses perkembangan.  

Dalam satu sisi lain, istilah pelestarian kadang mencoba untuk “membekukan” sesuatu. Namun kadang juga “memberontak” untuk mengikuti perkembangan zaman, sehingga yang beku pun akan bisa menjadi cair, meleleh dan mencari ruang sendiri dalam perkembangan zaman.

Nah, artinya, dalam proses pelestarian, sekaligus perkembangan zaman juga ikut bergandengan dalam hal ini. Kadangkala hal yang dilestarikan ya memang untuk lestari, tetapi bagaimana dengan perkembangan jaman yang secara tidak langsung merangsang ide-ide baru dalam penciptaan?

Salah satu contohnya membajak sawah, dulu memakai alat tradisional seperti sapi, tengala, lampit dan lain-lain, tapi sekarang berkembang dengan alat modern seperti traktor untuk memudahkan si petani bekerja. Kenyataannya, hingga sekarang kelestarian sawah masih terjaga.

Berarti pengembangan itu juga ikut melestarikan. Bukankah begitu?

Ada beberapa opini yang menurut saya pribadi itu menjadi fakta yang terjadi, dimana ada beberapa kesenian tradisi yang dibawakan dalam pertunjukan namun sedikit ada pembaharuan, sedikit orang mengapresiasi hal itu, dan sedikit orang mempertanyakan hal itu.

Salah satu contoh, seni janger. Kesenian yang termasuk tradisional ini selalu bisa merangsang pemikiran-pemikiran kreatif sang seniman untuk bisa memberi “kebaruan” atau “wajah baru” dalam kesenian itu agar bisa dipertunjukkan pada zaman modern ini.

Banyak kreasi yang bisa dituangkan dalam seni janger sehingga janger selalu memiliki hal baru yang menarik untuk disajikan di atas panggung. Begitu fleksibelnya tari janger mengikuti perkembangan zaman sehingga kelestariannya tetap terjaga dan esensi atau nilai-nilai penting tetap utuh.

Kemudian seni joged bumbung. Dalam penyajian seni joged bumbung zaman sekarang terdapat banyak  alat musik yang eksis di era sekarang bisa masuk dalam sajian joged bumbung itu, dan berhasil memikat penonton. Sehingga joged bumbung bisa lestari hingga kini. Ini terlepas dari goyang pornonya (jangan berpikir jorok) yang marak terjadi.

Soal porno itu, konon sudah ditangani pemerintah. Semoga terselesaikan masalahnya.

Joged bumbung juga lestari dengan mengikuti perkembangan. Tetapi adakah bentuk kesenian yang ingin lestari di tengah perkembangan zaman ini, namun punya tabiat untuk menekang kreativitas? Ini tidak boleh. Itu tidak boleh. Untuk hal ini, pikirkan sendiri dan jawablah sendiri sesuai yang kalian temukan dan rasakan.

Seorang teman berkata:

 “Ketika berkesenian mungkin harus fleksibel, kalau sekarang berbicara tentang menjaga dan melestarikan, artinya kita melestarikan bukan terus monoton seperti itu saja dan akhirnya tergerus jaman. Karena kita melestarikan bisa mengembangkan dari segi gerakan, komposisi, dan kostum tanpa harus mengubah esensi yang ada.”

Seorang satpam sekolah berkata:

 “Senang sekali melihat seni pertunjukan sekarang yang sudah sangat berkembang dan itu menarik untuk di lihat, liu gati be luung luung tari ne jani to mirib lestari dadine.”

Kata Pak Ole (maksudnya Made Adnyana Ole, pengamat seni):

 “Kenapa tidak dibuatkan dokumen tertulis kesenian tradisi untuk bisa disimpan di beberapa museum untuk dijadikan catatan ke depannya yang bisa di baca generasi selanjutnya?”

Mungkin pikir saya kesenian tradisional itu dicatat seperti catatan usada bali yang ditulis dalam bentuk lontar, prasasti-prasasti yang ada di setiap pura sehingga apa yang ada tetap lestari.

Kembali lagi saya bertanya apakah perkembangan untuk sebuah kelestarian ada pengekangan? Ini pertanyaan serius, tapi jangan serius-serius memikirkannya. Boiiii… [T]

Jangan Sok Inovatif Sebelum Nonton Janger Kuno dari Menyali – Kostumnya saja ala Belanda
Kata-kata “Serem” dalam Kesenian Bali: Dari Rekonstruksi hingga Oratorium
Aldi Philberta dan Upaya Menggabungkan Unsur Tradisional dan Modern dalam Seni Karawitan
Gong Mebarung Wahana Santhi dan Santhi Budaya di Singaraja: Wiranjaya yang Masih Tetap Memberi Pertanyaan
“Wiranjaya Thailand” dan Ketidakkonsistenan Kita: Catatan Terkait Ribut-ribut Tari Wiranjaya Duta Buleleng di PKB
Adi Setiawan alias Sentul dan Tari Wiranjaya yang Terus jadi Bahan Pelajaran  
Tags: jangerkesenian baliseni jangerseni karawitanseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aldi Philberta dan Upaya Menggabungkan Unsur Tradisional dan Modern dalam Seni Karawitan

Next Post

Integrasi Dharma Pawayangan dan Kreativitas Dalang: Manifestasi Seni Yang Sakral dan Mendalam

Adi Setiawan

Adi Setiawan

Akrab dipanggil dengan nama Sentul. Seniman tari. Alumni ISI Denpasar. Kini mengelola Pondok Seni Parasara

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Kepopuleran Pengundang Leak Dalam Wayang Calonarang

Integrasi Dharma Pawayangan dan Kreativitas Dalang: Manifestasi Seni Yang Sakral dan Mendalam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co