2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merenungkan Pelestarian dan Pengembangan Seni – Dari Pikiran Sendiri Untuk Menyendiri

Adi Setiawan by Adi Setiawan
July 30, 2024
in Esai
Merenungkan Pelestarian dan Pengembangan Seni – Dari Pikiran Sendiri Untuk Menyendiri

Janger Menyali yang tradisional sekaligus modern | Foto: Dok. tatkala.co

INI pikiran saya sendiri tentang istilah pelestarian dan pengembangan seni.

Senin, 29 Juli 2024, tepat pukul 21.34 wita, di Pondok Seni Parasara saya mengosongkan pikiran. Mencoba tentang. Pondok seni, sebuah tempat yang saya bangun itu saya yakini memang bagus untuk mendapatkan ketenangan.

Malam itu, terdengar suara jangkrik. Suara itu menjadi musik pengiring ketika saya menuliskan pikiran ini. Barangkali pada dasarnya saya hanya berpura-pura menulis untuk diri sendiri saja.

Perkembangan dan pelestarian seni, itulah kalimat awal yang terlitas pada pikiran saya yang kosong ini. Perkembangan itu apa? Pelestarian itu apa?

Seringkali kita bicara tentang perkembangan seni, namun tiba-tiba pembicaraan dikekang pikiran atau situasi tentang pentingnya pelestarian.

Itu kata dari pikiran saya, yang sedikit saya tanyakan kepada saya sendiri (jangan ikut dipikirkan). Oke, sebelum bercerita tentang hal-hal yang tak sepenuhnya saya pahami, baiklah saya teguk dulu kopi hitam tanpa gula, dan sedikit isapam tembakau yang tergulung.

Seni sudah banyak dibicarakan orang-orang bahkan sampai menjadi materi pembelajaran di sekolah. Ini mungkin maksud pemerintah agar kita sejak usia sekolah usdah tahu soal seni.

Tapi saya memikirkan kata seni menurut pikiran saya pribadi yaitu kesenangan, rasa gembira, dan ketenangan. Dan dari pengertian ini, saya bertanya kembali, apakah ketika saya berkesenian atau melakukan proses kesenian saya sudah senang, tenang dan gembira?

Nah hal ini mungkin kita bisa renungkan bersama tapi jangan dibawa serius agar tak stress.

Ketika proses berkesenian ini berlangsung atau kita jalani, entah menjalankan proses seni yang klasik, yang sudah ada, atau membangun proses baru dalam ciptaan seni, secara tidak langsung kita sudah melestarikan kata seni itu sendiri. Di dalamnya sekaligus kita juga mengembangkan pemikiran sendiri dalam proses itu.

Jadi, dalam proses pelestarian pun sesungguhnya terdapat proses pengembangan, proses perkembangan.  

Dalam satu sisi lain, istilah pelestarian kadang mencoba untuk “membekukan” sesuatu. Namun kadang juga “memberontak” untuk mengikuti perkembangan zaman, sehingga yang beku pun akan bisa menjadi cair, meleleh dan mencari ruang sendiri dalam perkembangan zaman.

Nah, artinya, dalam proses pelestarian, sekaligus perkembangan zaman juga ikut bergandengan dalam hal ini. Kadangkala hal yang dilestarikan ya memang untuk lestari, tetapi bagaimana dengan perkembangan jaman yang secara tidak langsung merangsang ide-ide baru dalam penciptaan?

Salah satu contohnya membajak sawah, dulu memakai alat tradisional seperti sapi, tengala, lampit dan lain-lain, tapi sekarang berkembang dengan alat modern seperti traktor untuk memudahkan si petani bekerja. Kenyataannya, hingga sekarang kelestarian sawah masih terjaga.

Berarti pengembangan itu juga ikut melestarikan. Bukankah begitu?

Ada beberapa opini yang menurut saya pribadi itu menjadi fakta yang terjadi, dimana ada beberapa kesenian tradisi yang dibawakan dalam pertunjukan namun sedikit ada pembaharuan, sedikit orang mengapresiasi hal itu, dan sedikit orang mempertanyakan hal itu.

Salah satu contoh, seni janger. Kesenian yang termasuk tradisional ini selalu bisa merangsang pemikiran-pemikiran kreatif sang seniman untuk bisa memberi “kebaruan” atau “wajah baru” dalam kesenian itu agar bisa dipertunjukkan pada zaman modern ini.

Banyak kreasi yang bisa dituangkan dalam seni janger sehingga janger selalu memiliki hal baru yang menarik untuk disajikan di atas panggung. Begitu fleksibelnya tari janger mengikuti perkembangan zaman sehingga kelestariannya tetap terjaga dan esensi atau nilai-nilai penting tetap utuh.

Kemudian seni joged bumbung. Dalam penyajian seni joged bumbung zaman sekarang terdapat banyak  alat musik yang eksis di era sekarang bisa masuk dalam sajian joged bumbung itu, dan berhasil memikat penonton. Sehingga joged bumbung bisa lestari hingga kini. Ini terlepas dari goyang pornonya (jangan berpikir jorok) yang marak terjadi.

Soal porno itu, konon sudah ditangani pemerintah. Semoga terselesaikan masalahnya.

Joged bumbung juga lestari dengan mengikuti perkembangan. Tetapi adakah bentuk kesenian yang ingin lestari di tengah perkembangan zaman ini, namun punya tabiat untuk menekang kreativitas? Ini tidak boleh. Itu tidak boleh. Untuk hal ini, pikirkan sendiri dan jawablah sendiri sesuai yang kalian temukan dan rasakan.

Seorang teman berkata:

 “Ketika berkesenian mungkin harus fleksibel, kalau sekarang berbicara tentang menjaga dan melestarikan, artinya kita melestarikan bukan terus monoton seperti itu saja dan akhirnya tergerus jaman. Karena kita melestarikan bisa mengembangkan dari segi gerakan, komposisi, dan kostum tanpa harus mengubah esensi yang ada.”

Seorang satpam sekolah berkata:

 “Senang sekali melihat seni pertunjukan sekarang yang sudah sangat berkembang dan itu menarik untuk di lihat, liu gati be luung luung tari ne jani to mirib lestari dadine.”

Kata Pak Ole (maksudnya Made Adnyana Ole, pengamat seni):

 “Kenapa tidak dibuatkan dokumen tertulis kesenian tradisi untuk bisa disimpan di beberapa museum untuk dijadikan catatan ke depannya yang bisa di baca generasi selanjutnya?”

Mungkin pikir saya kesenian tradisional itu dicatat seperti catatan usada bali yang ditulis dalam bentuk lontar, prasasti-prasasti yang ada di setiap pura sehingga apa yang ada tetap lestari.

Kembali lagi saya bertanya apakah perkembangan untuk sebuah kelestarian ada pengekangan? Ini pertanyaan serius, tapi jangan serius-serius memikirkannya. Boiiii… [T]

Jangan Sok Inovatif Sebelum Nonton Janger Kuno dari Menyali – Kostumnya saja ala Belanda
Kata-kata “Serem” dalam Kesenian Bali: Dari Rekonstruksi hingga Oratorium
Aldi Philberta dan Upaya Menggabungkan Unsur Tradisional dan Modern dalam Seni Karawitan
Gong Mebarung Wahana Santhi dan Santhi Budaya di Singaraja: Wiranjaya yang Masih Tetap Memberi Pertanyaan
“Wiranjaya Thailand” dan Ketidakkonsistenan Kita: Catatan Terkait Ribut-ribut Tari Wiranjaya Duta Buleleng di PKB
Adi Setiawan alias Sentul dan Tari Wiranjaya yang Terus jadi Bahan Pelajaran  
Tags: jangerkesenian baliseni jangerseni karawitanseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aldi Philberta dan Upaya Menggabungkan Unsur Tradisional dan Modern dalam Seni Karawitan

Next Post

Integrasi Dharma Pawayangan dan Kreativitas Dalang: Manifestasi Seni Yang Sakral dan Mendalam

Adi Setiawan

Adi Setiawan

Akrab dipanggil dengan nama Sentul. Seniman tari. Alumni ISI Denpasar. Kini mengelola Pondok Seni Parasara

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kepopuleran Pengundang Leak Dalam Wayang Calonarang

Integrasi Dharma Pawayangan dan Kreativitas Dalang: Manifestasi Seni Yang Sakral dan Mendalam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co