23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merenungkan Pelestarian dan Pengembangan Seni – Dari Pikiran Sendiri Untuk Menyendiri

Adi Setiawan by Adi Setiawan
July 30, 2024
in Esai
Merenungkan Pelestarian dan Pengembangan Seni – Dari Pikiran Sendiri Untuk Menyendiri

Janger Menyali yang tradisional sekaligus modern | Foto: Dok. tatkala.co

INI pikiran saya sendiri tentang istilah pelestarian dan pengembangan seni.

Senin, 29 Juli 2024, tepat pukul 21.34 wita, di Pondok Seni Parasara saya mengosongkan pikiran. Mencoba tentang. Pondok seni, sebuah tempat yang saya bangun itu saya yakini memang bagus untuk mendapatkan ketenangan.

Malam itu, terdengar suara jangkrik. Suara itu menjadi musik pengiring ketika saya menuliskan pikiran ini. Barangkali pada dasarnya saya hanya berpura-pura menulis untuk diri sendiri saja.

Perkembangan dan pelestarian seni, itulah kalimat awal yang terlitas pada pikiran saya yang kosong ini. Perkembangan itu apa? Pelestarian itu apa?

Seringkali kita bicara tentang perkembangan seni, namun tiba-tiba pembicaraan dikekang pikiran atau situasi tentang pentingnya pelestarian.

Itu kata dari pikiran saya, yang sedikit saya tanyakan kepada saya sendiri (jangan ikut dipikirkan). Oke, sebelum bercerita tentang hal-hal yang tak sepenuhnya saya pahami, baiklah saya teguk dulu kopi hitam tanpa gula, dan sedikit isapam tembakau yang tergulung.

Seni sudah banyak dibicarakan orang-orang bahkan sampai menjadi materi pembelajaran di sekolah. Ini mungkin maksud pemerintah agar kita sejak usia sekolah usdah tahu soal seni.

Tapi saya memikirkan kata seni menurut pikiran saya pribadi yaitu kesenangan, rasa gembira, dan ketenangan. Dan dari pengertian ini, saya bertanya kembali, apakah ketika saya berkesenian atau melakukan proses kesenian saya sudah senang, tenang dan gembira?

Nah hal ini mungkin kita bisa renungkan bersama tapi jangan dibawa serius agar tak stress.

Ketika proses berkesenian ini berlangsung atau kita jalani, entah menjalankan proses seni yang klasik, yang sudah ada, atau membangun proses baru dalam ciptaan seni, secara tidak langsung kita sudah melestarikan kata seni itu sendiri. Di dalamnya sekaligus kita juga mengembangkan pemikiran sendiri dalam proses itu.

Jadi, dalam proses pelestarian pun sesungguhnya terdapat proses pengembangan, proses perkembangan.  

Dalam satu sisi lain, istilah pelestarian kadang mencoba untuk “membekukan” sesuatu. Namun kadang juga “memberontak” untuk mengikuti perkembangan zaman, sehingga yang beku pun akan bisa menjadi cair, meleleh dan mencari ruang sendiri dalam perkembangan zaman.

Nah, artinya, dalam proses pelestarian, sekaligus perkembangan zaman juga ikut bergandengan dalam hal ini. Kadangkala hal yang dilestarikan ya memang untuk lestari, tetapi bagaimana dengan perkembangan jaman yang secara tidak langsung merangsang ide-ide baru dalam penciptaan?

Salah satu contohnya membajak sawah, dulu memakai alat tradisional seperti sapi, tengala, lampit dan lain-lain, tapi sekarang berkembang dengan alat modern seperti traktor untuk memudahkan si petani bekerja. Kenyataannya, hingga sekarang kelestarian sawah masih terjaga.

Berarti pengembangan itu juga ikut melestarikan. Bukankah begitu?

Ada beberapa opini yang menurut saya pribadi itu menjadi fakta yang terjadi, dimana ada beberapa kesenian tradisi yang dibawakan dalam pertunjukan namun sedikit ada pembaharuan, sedikit orang mengapresiasi hal itu, dan sedikit orang mempertanyakan hal itu.

Salah satu contoh, seni janger. Kesenian yang termasuk tradisional ini selalu bisa merangsang pemikiran-pemikiran kreatif sang seniman untuk bisa memberi “kebaruan” atau “wajah baru” dalam kesenian itu agar bisa dipertunjukkan pada zaman modern ini.

Banyak kreasi yang bisa dituangkan dalam seni janger sehingga janger selalu memiliki hal baru yang menarik untuk disajikan di atas panggung. Begitu fleksibelnya tari janger mengikuti perkembangan zaman sehingga kelestariannya tetap terjaga dan esensi atau nilai-nilai penting tetap utuh.

Kemudian seni joged bumbung. Dalam penyajian seni joged bumbung zaman sekarang terdapat banyak  alat musik yang eksis di era sekarang bisa masuk dalam sajian joged bumbung itu, dan berhasil memikat penonton. Sehingga joged bumbung bisa lestari hingga kini. Ini terlepas dari goyang pornonya (jangan berpikir jorok) yang marak terjadi.

Soal porno itu, konon sudah ditangani pemerintah. Semoga terselesaikan masalahnya.

Joged bumbung juga lestari dengan mengikuti perkembangan. Tetapi adakah bentuk kesenian yang ingin lestari di tengah perkembangan zaman ini, namun punya tabiat untuk menekang kreativitas? Ini tidak boleh. Itu tidak boleh. Untuk hal ini, pikirkan sendiri dan jawablah sendiri sesuai yang kalian temukan dan rasakan.

Seorang teman berkata:

 “Ketika berkesenian mungkin harus fleksibel, kalau sekarang berbicara tentang menjaga dan melestarikan, artinya kita melestarikan bukan terus monoton seperti itu saja dan akhirnya tergerus jaman. Karena kita melestarikan bisa mengembangkan dari segi gerakan, komposisi, dan kostum tanpa harus mengubah esensi yang ada.”

Seorang satpam sekolah berkata:

 “Senang sekali melihat seni pertunjukan sekarang yang sudah sangat berkembang dan itu menarik untuk di lihat, liu gati be luung luung tari ne jani to mirib lestari dadine.”

Kata Pak Ole (maksudnya Made Adnyana Ole, pengamat seni):

 “Kenapa tidak dibuatkan dokumen tertulis kesenian tradisi untuk bisa disimpan di beberapa museum untuk dijadikan catatan ke depannya yang bisa di baca generasi selanjutnya?”

Mungkin pikir saya kesenian tradisional itu dicatat seperti catatan usada bali yang ditulis dalam bentuk lontar, prasasti-prasasti yang ada di setiap pura sehingga apa yang ada tetap lestari.

Kembali lagi saya bertanya apakah perkembangan untuk sebuah kelestarian ada pengekangan? Ini pertanyaan serius, tapi jangan serius-serius memikirkannya. Boiiii… [T]

Jangan Sok Inovatif Sebelum Nonton Janger Kuno dari Menyali – Kostumnya saja ala Belanda
Kata-kata “Serem” dalam Kesenian Bali: Dari Rekonstruksi hingga Oratorium
Aldi Philberta dan Upaya Menggabungkan Unsur Tradisional dan Modern dalam Seni Karawitan
Gong Mebarung Wahana Santhi dan Santhi Budaya di Singaraja: Wiranjaya yang Masih Tetap Memberi Pertanyaan
“Wiranjaya Thailand” dan Ketidakkonsistenan Kita: Catatan Terkait Ribut-ribut Tari Wiranjaya Duta Buleleng di PKB
Adi Setiawan alias Sentul dan Tari Wiranjaya yang Terus jadi Bahan Pelajaran  
Tags: jangerkesenian baliseni jangerseni karawitanseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aldi Philberta dan Upaya Menggabungkan Unsur Tradisional dan Modern dalam Seni Karawitan

Next Post

Integrasi Dharma Pawayangan dan Kreativitas Dalang: Manifestasi Seni Yang Sakral dan Mendalam

Adi Setiawan

Adi Setiawan

Akrab dipanggil dengan nama Sentul. Seniman tari. Alumni ISI Denpasar. Kini mengelola Pondok Seni Parasara

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kepopuleran Pengundang Leak Dalam Wayang Calonarang

Integrasi Dharma Pawayangan dan Kreativitas Dalang: Manifestasi Seni Yang Sakral dan Mendalam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co