13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Sok Inovatif Sebelum Nonton Janger Kuno dari Menyali – Kostumnya saja ala Belanda

tatkala by tatkala
February 2, 2018
in Feature

Janger Menyali/Foto-foto Kardian Narayana

JANGER kuno dari Desa Menyali, Buleleng, sesungguhnya bisa membuat sejumlah seniman di Bali, sedikit agak malu. Janger itu kuno, diyakini sudah ada sekitar tahun 1938, namun kesenian itu seeolah memberi pelajaran bahwa kebebasan berkreasi dalam kesenian Bali sudah dilakukan sejak zaman dulu – zaman ketika istilah-istilah seni semacam seni inovatif, seni kontemporer, seni kolaborasi, dan seni postmodern, belum dikenal apalagi diucapkan sefasih seniman masa kini.

Belakangan sejumlah seniman di Bali memang sedang mengidap latah yang akut. Sedikit saja menciptakan gerakan yang berbeda dari tari tradisional (padahal meniru gerak tari tradisional di luar Bali) sudah merasa menciptakan tari kontemporer. Sedikit saja mengadopsi unsur modern semisal tata lampu, kostum, dan musik, sudah bilang seni inovatif. Hanya menggabungkan sejumlah unsur seni sudah mengaku melakukan kreasi.

Tontonlah janger dari Desa Menyali. Setelah “terkubur” puluhan tahun, janger itu direkonstruksi dan dipentaskan kembali di desa setempat pada malam Hari Raya Galungan, Rabu 5 April 2017. Penontonnya melimpah. Selain dipentaskan di desa setempat, rencananya Janger Menyali akan ditampilkan pada Pesta Kesenian Bali 2017, Juni mendatang.

Dari hasil rekonstruksi diketahui Janger Menyali memang berbeda dengan seni janger yang berkembang di Bali saat ini. Meski berbeda, bukan berarti Janger Menyali “lebih kuno” dari janger zaman sekarang. Meski secara usia bisa dibilang kuno, Janger Menyali justru menunjukkan sisi-sisi modern bahkan kontemporer, terutama pada bagian kostum dan sejumlah lagu-lagunya.

Jipak & Parik

Jika pada janger masa kini penari pria biasa disebut dag, dan penari wanita disebut janger, maka penari pria pada Janger Menyali biasa di sebut jipak, dan penari perempuannya disebut parik. Masing-masing jipak dan parik berjumlah 12 orang.

Gerakannya masih mirip dengan janger yang dikenal belakangan ini. Namun hal yang cukup mengejutkan adalah kostumnya. Para jipak mengenakan kostum pejabat dan serdadu Belanda (yang zaman kini jadi kostum nasional). Pakai baret, baju kemeja, dasi, ikat pinggang, sepatu, dan kacamata. Tampak unik, namun dari situ bisa dilihat betapa dulu (saat kita masih berstatus terjajah) sebuah kesenian bisa tercipta dari perasaan yang amat bebas tanpa terkungkung aturan-aturan yang kemudian disebut pakem.

Seorang  jipak, I Gede Suriaka, menuturkan bahwa sejak dulu kala busana penari Janger Menyali memang seperti serdadu Belanda. Baret warna merah di kepala, kemudian baju putih lengkap dengan dasi panjang berwarna hitam. Lalu, memakai sabuk, mengenakan lencana atau pangkat serta sepatu lengkap dengan kaos kaki panjang. “Tak lupa, kacamata hitam sebagai kejutan, dipakai ketika sedang pentas,” katanya.

Lagu-lagu yang dibawakan dalam pentas Janger Menali itu adalah gending kuno yang tercipta saat-saat pejuang Indonesia sedang berjuang meraih kemerdekaan. Seperti gending pembuka berjudul Ida Dane, kemudian diikuti dengan lagu Dewa Ayu Janger, Krempyang-krempyang, Saudara-Saudari, Mekacamata, Adi Cangcang dan Ratu Gusti.

Lagu-lagu itu memang biasa-biasa saja, seperti lagu jejangeran pada umumnya. Tapi pada zaman itu, lagu-lagu itu didesain dengan sadar sebagai lagu populer, yang jenaka, mudah diingat dan tak begitu banyak dibebani pesan moral, kecuali pesan tentang bagaimana bergaul dengan sesama manusia. Nadanya tetaplah pelog atau selendro, tapi liriknya boleh dibilang bebas dan lepas, bahkan bisa dianggap sudah menggunakan lirik dengan perspektif modern.

Simaklah lirik lagu Saudara-saudari yang berbahasa Indonesia:

Saudara dan saudari/ Saudara dan saudari/ Terimaafkan saya menjadilah janger/ Ini janger dari Menyali kampung kanginan/ Akan tetapi masih bodoh/  Bapak-bapak, ibu-ibu supaya bapak tau/  Ibu, bapak/ saudara dan saudari/ Terimaafkan saya menjadilah janger  Saya terlalu bingung/ Saya terlalu bingung tidak pikir diri bodoh/  Senang menari janger/ Boleh bilang saya sombong/ Dan lagi tidak malu kepada orang panonton//

Lagu Saudara-saudari hanya satu dari sejumlah lagu-lagu Janger Menyali yang liriknya menggunakan bahasa Indonesia. Ada sejumlah lagu lain dengan lirik bahasa Indonesia, namun kini masih dalam proses “aransemen ulang” untuk dipertunjukkan dalam pementasan berikutnya, termasuk dalam PKB nanti.

Yang menarik, selain kostum berbau Belanda, terdapat sebuah lagu dengan tema rayuan antara jipak dan parik yang juga menyinggung-nyinggung gaya hidup orang Belanda. Saat si jipak melancarkan rayuan gombal, si parik memberi syarat bahwa mereka akan menerima rayuan jipak jika jipak membelikan pakaian bergaya Belanda.

Dari situ tampak, betapa kuat pengaruh gaya hidup kolonial dalam seni Janger Menyali. Di sisi lain, seniman-seniman Menyali di masa lalu ternyata sudah membuka diri dan memiliki kesadaran untuk terbebaskan dari pakem seni Bali sekaligus melakukan kreasi dengan menyerap pengaruh dari luar Bali.

Kenapa mereka dipengaruhi gaya Belanda, tentu karena hanya gaya Belanda yang mereka tahu dan mereka kenal saat itu. Jika saat itu mereka mengenal gaya Italia, Perancis, atau Amerika, bisa dibayangkan gaya janger seperti apa yang akan mereka ciptakan di Desa Menyali — sebuah desa yang sesungguhnya sangat jauh dari pusat Kota Singaraja yang menjadi pusat pemerintahan kolonial saat itu.

Kostum Belanda memang sesuatu yang bikin heran. Kostum laki-laki atau dag dalam janger yang berkembang di Bali, juga di Buleleng belakangan ini, lebih banyak menggunakan pakaian seperti penari muani pada umumnya, antara lain menggunakan kamben-kancut, udeng atau gelungan, badong, tentu saja tanpa alas kaki dan kacamata hitam. Bahkan suatu kali pernah ada penari dag menggunakan kostum seperti tari Kebyar Duduk, atau kostum laki-laki seperti dalam tari Oleg Tambulilingan.

Yang agak mirip, dag pada janger yang berkembang kini tetap menggunakan baju, tapi bukan kemeja, melainkan baju dengan hiasan renda warna-warni atau ukiran bercat prada. Kadang ditambahi gelang kana di pergelangan tangan dan juga pada lengan. Pokoknya, kostumnya disesuaikan dengan kostum umum yang tampak pada penari atau pemain dalam seni pertunjukan tradisional Bali.

Sekitar tahun 1970-an hingga 80-an, ketika seni janger sangat populer di kalangan pelajar (terutama untuk acara perpisahan), masih terdapat kostum dag menggunakan kombinasi antara seragam sekolah dengan kostum tradisional Bali. Baju dan celananya tetap baju sekolah, biasanya diisi selempang selendang untuk variasi, namun di bagian kepala sudah dihiasi udeng songket atau udeng prada.

Yang menarik, kerap celana sekolah tetap digunakan, namun tetap juga menggunakan kamben-kancut. Baju sekolah tetap digunakan, namun badong juga tetap dipakai. Kemungkinan kostum-kostum itu masih dipengaruhi gaya janger berkostum Belanda dari Desa Menyali.

Lagu-lagu pada janger sekolah juga lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Tema lagu juga tak jauh-jauh dari tema selamat datang, selamat menonton, lengkap dengan ungkapan rendah hati, minta maaf dan mengaku bodoh. Lagu lain juga tak jauh dari tema muda-mudi, rayuan gombal dan pesan tentang persaudaraan.

Janger Politik

Mungkin karena kebebasan dalam berekspresi, terutama dalam bahasa dan kostum, seperti itulah maka janger dengan mudah bisa digunakan sebagai alat propaganda politik. Tahun 1950-an hingga terjadinya prahara politik 1965, di sejumlah desa di Bali konon banyak tumbuh sekaa janger dengan lagu-lagu yang berisi pesan-pesan kampanye partai politik.

Pada zaman Orde Baru pernah terdengar Janger P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila). Lagu-lagunya tentu saja berisi tema yang diambil dari butir-butir Pancasila. Selain itu, banyak lagunya juga berisi puja-puji terhadap pemerintahan Orde Baru.

Kini, janger terkesan sangat megah dan wah, karena menggunakan kostum ala penari Bali secara umum dan sangat lengkap dengan motif dan kombinasi yang kadang terkesan rumit. Di tengah kondisi seperti itulah Janger Menyali yang sudah kreatif sejak dari sononya itu dihidupkan kembali seakan menyindir upaya kreatif yang dilakukan seniman Bali di tengah mudahnya anggaran produksi, canggihnya teknologi pertunjukan dan banyaknya event kesenian, di zaman yang amat kontemporer ini. (T/ole/sumbangan data Kardian, Hardianta dan Eka)

Tags: balibulelengjangerSeniseni pertunjukan
Share337TweetSendShareSend
Previous Post

Petani, Siapa sih Mereka?

Next Post

Warih Wisatsana# Tiananmen, Puisi Oktober untuk Tilem, Pujian Bagi Tanganmu

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

Read moreDetails

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

Read moreDetails

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
0
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
0
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
0
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

Read moreDetails

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
0
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails
Next Post

Warih Wisatsana# Tiananmen, Puisi Oktober untuk Tilem, Pujian Bagi Tanganmu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co