2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Sok Inovatif Sebelum Nonton Janger Kuno dari Menyali – Kostumnya saja ala Belanda

tatkala by tatkala
February 2, 2018
in Feature

Janger Menyali/Foto-foto Kardian Narayana

JANGER kuno dari Desa Menyali, Buleleng, sesungguhnya bisa membuat sejumlah seniman di Bali, sedikit agak malu. Janger itu kuno, diyakini sudah ada sekitar tahun 1938, namun kesenian itu seeolah memberi pelajaran bahwa kebebasan berkreasi dalam kesenian Bali sudah dilakukan sejak zaman dulu – zaman ketika istilah-istilah seni semacam seni inovatif, seni kontemporer, seni kolaborasi, dan seni postmodern, belum dikenal apalagi diucapkan sefasih seniman masa kini.

Belakangan sejumlah seniman di Bali memang sedang mengidap latah yang akut. Sedikit saja menciptakan gerakan yang berbeda dari tari tradisional (padahal meniru gerak tari tradisional di luar Bali) sudah merasa menciptakan tari kontemporer. Sedikit saja mengadopsi unsur modern semisal tata lampu, kostum, dan musik, sudah bilang seni inovatif. Hanya menggabungkan sejumlah unsur seni sudah mengaku melakukan kreasi.

Tontonlah janger dari Desa Menyali. Setelah “terkubur” puluhan tahun, janger itu direkonstruksi dan dipentaskan kembali di desa setempat pada malam Hari Raya Galungan, Rabu 5 April 2017. Penontonnya melimpah. Selain dipentaskan di desa setempat, rencananya Janger Menyali akan ditampilkan pada Pesta Kesenian Bali 2017, Juni mendatang.

Dari hasil rekonstruksi diketahui Janger Menyali memang berbeda dengan seni janger yang berkembang di Bali saat ini. Meski berbeda, bukan berarti Janger Menyali “lebih kuno” dari janger zaman sekarang. Meski secara usia bisa dibilang kuno, Janger Menyali justru menunjukkan sisi-sisi modern bahkan kontemporer, terutama pada bagian kostum dan sejumlah lagu-lagunya.

Jipak & Parik

Jika pada janger masa kini penari pria biasa disebut dag, dan penari wanita disebut janger, maka penari pria pada Janger Menyali biasa di sebut jipak, dan penari perempuannya disebut parik. Masing-masing jipak dan parik berjumlah 12 orang.

Gerakannya masih mirip dengan janger yang dikenal belakangan ini. Namun hal yang cukup mengejutkan adalah kostumnya. Para jipak mengenakan kostum pejabat dan serdadu Belanda (yang zaman kini jadi kostum nasional). Pakai baret, baju kemeja, dasi, ikat pinggang, sepatu, dan kacamata. Tampak unik, namun dari situ bisa dilihat betapa dulu (saat kita masih berstatus terjajah) sebuah kesenian bisa tercipta dari perasaan yang amat bebas tanpa terkungkung aturan-aturan yang kemudian disebut pakem.

Seorang  jipak, I Gede Suriaka, menuturkan bahwa sejak dulu kala busana penari Janger Menyali memang seperti serdadu Belanda. Baret warna merah di kepala, kemudian baju putih lengkap dengan dasi panjang berwarna hitam. Lalu, memakai sabuk, mengenakan lencana atau pangkat serta sepatu lengkap dengan kaos kaki panjang. “Tak lupa, kacamata hitam sebagai kejutan, dipakai ketika sedang pentas,” katanya.

Lagu-lagu yang dibawakan dalam pentas Janger Menali itu adalah gending kuno yang tercipta saat-saat pejuang Indonesia sedang berjuang meraih kemerdekaan. Seperti gending pembuka berjudul Ida Dane, kemudian diikuti dengan lagu Dewa Ayu Janger, Krempyang-krempyang, Saudara-Saudari, Mekacamata, Adi Cangcang dan Ratu Gusti.

Lagu-lagu itu memang biasa-biasa saja, seperti lagu jejangeran pada umumnya. Tapi pada zaman itu, lagu-lagu itu didesain dengan sadar sebagai lagu populer, yang jenaka, mudah diingat dan tak begitu banyak dibebani pesan moral, kecuali pesan tentang bagaimana bergaul dengan sesama manusia. Nadanya tetaplah pelog atau selendro, tapi liriknya boleh dibilang bebas dan lepas, bahkan bisa dianggap sudah menggunakan lirik dengan perspektif modern.

Simaklah lirik lagu Saudara-saudari yang berbahasa Indonesia:

Saudara dan saudari/ Saudara dan saudari/ Terimaafkan saya menjadilah janger/ Ini janger dari Menyali kampung kanginan/ Akan tetapi masih bodoh/  Bapak-bapak, ibu-ibu supaya bapak tau/  Ibu, bapak/ saudara dan saudari/ Terimaafkan saya menjadilah janger  Saya terlalu bingung/ Saya terlalu bingung tidak pikir diri bodoh/  Senang menari janger/ Boleh bilang saya sombong/ Dan lagi tidak malu kepada orang panonton//

Lagu Saudara-saudari hanya satu dari sejumlah lagu-lagu Janger Menyali yang liriknya menggunakan bahasa Indonesia. Ada sejumlah lagu lain dengan lirik bahasa Indonesia, namun kini masih dalam proses “aransemen ulang” untuk dipertunjukkan dalam pementasan berikutnya, termasuk dalam PKB nanti.

Yang menarik, selain kostum berbau Belanda, terdapat sebuah lagu dengan tema rayuan antara jipak dan parik yang juga menyinggung-nyinggung gaya hidup orang Belanda. Saat si jipak melancarkan rayuan gombal, si parik memberi syarat bahwa mereka akan menerima rayuan jipak jika jipak membelikan pakaian bergaya Belanda.

Dari situ tampak, betapa kuat pengaruh gaya hidup kolonial dalam seni Janger Menyali. Di sisi lain, seniman-seniman Menyali di masa lalu ternyata sudah membuka diri dan memiliki kesadaran untuk terbebaskan dari pakem seni Bali sekaligus melakukan kreasi dengan menyerap pengaruh dari luar Bali.

Kenapa mereka dipengaruhi gaya Belanda, tentu karena hanya gaya Belanda yang mereka tahu dan mereka kenal saat itu. Jika saat itu mereka mengenal gaya Italia, Perancis, atau Amerika, bisa dibayangkan gaya janger seperti apa yang akan mereka ciptakan di Desa Menyali — sebuah desa yang sesungguhnya sangat jauh dari pusat Kota Singaraja yang menjadi pusat pemerintahan kolonial saat itu.

Kostum Belanda memang sesuatu yang bikin heran. Kostum laki-laki atau dag dalam janger yang berkembang di Bali, juga di Buleleng belakangan ini, lebih banyak menggunakan pakaian seperti penari muani pada umumnya, antara lain menggunakan kamben-kancut, udeng atau gelungan, badong, tentu saja tanpa alas kaki dan kacamata hitam. Bahkan suatu kali pernah ada penari dag menggunakan kostum seperti tari Kebyar Duduk, atau kostum laki-laki seperti dalam tari Oleg Tambulilingan.

Yang agak mirip, dag pada janger yang berkembang kini tetap menggunakan baju, tapi bukan kemeja, melainkan baju dengan hiasan renda warna-warni atau ukiran bercat prada. Kadang ditambahi gelang kana di pergelangan tangan dan juga pada lengan. Pokoknya, kostumnya disesuaikan dengan kostum umum yang tampak pada penari atau pemain dalam seni pertunjukan tradisional Bali.

Sekitar tahun 1970-an hingga 80-an, ketika seni janger sangat populer di kalangan pelajar (terutama untuk acara perpisahan), masih terdapat kostum dag menggunakan kombinasi antara seragam sekolah dengan kostum tradisional Bali. Baju dan celananya tetap baju sekolah, biasanya diisi selempang selendang untuk variasi, namun di bagian kepala sudah dihiasi udeng songket atau udeng prada.

Yang menarik, kerap celana sekolah tetap digunakan, namun tetap juga menggunakan kamben-kancut. Baju sekolah tetap digunakan, namun badong juga tetap dipakai. Kemungkinan kostum-kostum itu masih dipengaruhi gaya janger berkostum Belanda dari Desa Menyali.

Lagu-lagu pada janger sekolah juga lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Tema lagu juga tak jauh-jauh dari tema selamat datang, selamat menonton, lengkap dengan ungkapan rendah hati, minta maaf dan mengaku bodoh. Lagu lain juga tak jauh dari tema muda-mudi, rayuan gombal dan pesan tentang persaudaraan.

Janger Politik

Mungkin karena kebebasan dalam berekspresi, terutama dalam bahasa dan kostum, seperti itulah maka janger dengan mudah bisa digunakan sebagai alat propaganda politik. Tahun 1950-an hingga terjadinya prahara politik 1965, di sejumlah desa di Bali konon banyak tumbuh sekaa janger dengan lagu-lagu yang berisi pesan-pesan kampanye partai politik.

Pada zaman Orde Baru pernah terdengar Janger P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila). Lagu-lagunya tentu saja berisi tema yang diambil dari butir-butir Pancasila. Selain itu, banyak lagunya juga berisi puja-puji terhadap pemerintahan Orde Baru.

Kini, janger terkesan sangat megah dan wah, karena menggunakan kostum ala penari Bali secara umum dan sangat lengkap dengan motif dan kombinasi yang kadang terkesan rumit. Di tengah kondisi seperti itulah Janger Menyali yang sudah kreatif sejak dari sononya itu dihidupkan kembali seakan menyindir upaya kreatif yang dilakukan seniman Bali di tengah mudahnya anggaran produksi, canggihnya teknologi pertunjukan dan banyaknya event kesenian, di zaman yang amat kontemporer ini. (T/ole/sumbangan data Kardian, Hardianta dan Eka)

Tags: balibulelengjangerSeniseni pertunjukan
Share337TweetSendShareSend
Previous Post

Petani, Siapa sih Mereka?

Next Post

Warih Wisatsana# Tiananmen, Puisi Oktober untuk Tilem, Pujian Bagi Tanganmu

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails
Next Post

Warih Wisatsana# Tiananmen, Puisi Oktober untuk Tilem, Pujian Bagi Tanganmu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co