6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gong Kebyar Dewasa dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Tabanan, Sajikan Sunar Genjong, Raga Sidhi, dan Jayaning Singasana di PKB 2024

Julio Saputra by Julio Saputra
July 5, 2024
in Ulas Pentas
Gong Kebyar Dewasa dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Tabanan, Sajikan Sunar Genjong, Raga Sidhi, dan Jayaning Singasana di PKB 2024

Gong Kebyar Dewasa dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Tabanan, di PKB 2024

RABU, 3 Juli 2024, pukul 19.00 WITA seharusnya menjadi waktu dimulainya pementasan dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Br. Belumbang Kaja, Desa Belumbang, Kec. Kerambitan – Gong Kebyar Dewasa Duta Kabupaten Tabanan di Panggung Terbuka Ardha Chandra, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), pukul.  Namun, gerimis-gerimis tipis yang terus mericis sedari pagi memaksa semuanya untuk bersabar lebih sedikit. Sebentar lagi, hujan pasti reda. Amin paling serius.

Para penonton telah berkumpul di sekitar panggung. Mereka mencari tempat yang teduh. Sebagian berlindung di bawah payung, sebagian lagi mengenakan jas hujan. Beberapa dari mereka juga melindungi kepala menggunakan apa saja yang bisa mereka gunakan: kardus, jaket, dan sebagainya. Meski begitu, mereka sangat antusias untuk bersama-sama  menyaksikan pementasan yang sudah dijadwalkan malam itu.

Sekitar pukul 20.00 WITA, barulah hujan reda dengan sempurna. Para penonton bergegas merapat menempati tempat duduk yang tersedia. Mereka berusaha mencari posisi yang bagus agar dapat menonton dengan nyaman, pun mengambil gambar atau video dengan angel foto yang sesuai. Suasana yang semula dingin seketika berubah menjadi hangat penuh rasa semangat. Mereka semua tidak sabar menantikan pementasan dimulai. Barulah, tepuk tangan serta sorak sorai para penonton pecah saat para penampil memasuki panggung.

Yayasan Lilanjani Kerta Bumi – Gong Kebyar Dewasa Duta tabanan 2024 menempati panggung sebelah selatan | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Gong Kebyar Duta Kabupaten Tabanan menempati panggung sebelah selatan, sementara di panggung sebelah utara, Paguyuban Seniman Muda Jembrana – Gong Kebyar Duta Kabupaten Jembrana juga sudah bersiap-siap. Dua Sekaa Gong tersebut akan tampil mebarung memeriahkan perhelatan tahunan bergengsi Pesta Kesenian Bali XLVI Tahun 2024. Setelah pembawa acara menyapa para undangan dan penonton serta memperkenalkan masing-masing sekaa gong, barulah Utsawa (Parade) Gong Kebyar dimulai.

Sunar Genjong – Membaca Kembali Proses Kreatif Gamelan Bali

Malam itu, Yayasan Lilanjani Kerta Bumi bersama seniman muda Tabanan lainnya unjuk kebolehan dan keluwesan mereka dalam menabuh dan menari.  Mereka membuka Utsawa (Parade) Gong Kebyar dengan menampilkan Tabuh Kreasi Pepanggulan “Sunar Genjong”, sebuah karya yang dibuat untuk membaca dan memaknai kembali proses kreatif yang ada dalam dunia musik tradisional Bali, khususnya dalam memainkan intrumen gamelan.

Ada inspirasi menarik yang terkandung dalam Tabuh Kreasi Pepanggulan “Sunar Genjong” tersebut. Manusia yang unggul mampu mewujudkan ide-ide imajinatif menjadi nyata. Pemikiran dan budaya manusia berkembang melalui kreativitas, serta teks dan konteks yang ada dari para seniman mewarnai perjalanan gamelan itu sendiri. Adanya perubahan pada gamelan terjadi karena peran maestro, penggiat, cendikiawan, dan masyarakat umum yang mendukung budaya tersebut. Proses interaksi dan reaksi pun terus terjadi, kemudian memengaruhi aspek kognitif dan psikomotor para pelakunya. Gamelan pun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali, mulai dari zaman non-literasi hingga era modern.

Proses interaksi budaya gamelan terus berlangsung dalam hubungan sosial dan internalisasi pribadi, meskipun ada sikap apatis, protektif, dan konservatif, serta berbagai konsep dominasi yang bisa jadi sangat menganggu. Kreativitas dalam memainkan gamelan tetap berkembang, baik secara bertahap maupun secara radikal.

Yayasan Lilanjani Kerta Bumi – Gong Kebyar Dewasa Duta tabanan 2024 menyajikan Tabuh Kreasi Pepanggulan Sunar Genjong sebagai pembuka | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Keragaman dalam karya selalu dipengaruhi oleh lingkungan. Kondisi situasional berperan dalam membentuk paradigma dan implementasi kreatif bagi mereka yang merespon gamelan. Konteks kosmos dan kaos dengan berbagai aktor dan gamelan secara mendalam maupun formal, menjadikan proses kreatif tersebut bernilai sebagai entitas dan realitas. Tabuh Kreasi Pepanggulan “Sunar Genjong” adalah penghormatan bagi setiap insan kreatif yang terus menerangi langkah dan melanjutkan kreativitas pada gamelan Bali, dari dulu hingga sekarang.

I Gede Putu Resky Gita Adi Pratista, S.Sn., M.Sn, dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi adalah komposer di balik Tabuh Kreasi Pepanggulan “Sunar Genjong” tersebut. Ia juga mengandeng I Gede Eka Saputra sebagai kordinator dan Dhrana Winangun, Br. Belumbang Kaja, Karang Taruna Priti Swaka Dharma Desa Belumbang, dan Yowana Adat Desa Belumbang untuk menghadirkan karya tersebut di atas panggung. Mereka pun berhasil pentas dengan sangat baik dan memukau, mengundang tepuk tangan dan sorak sorai dari para penonton.

Tari Kekebyaran “Raga Sidhi” – Kebebasan Sang Tubuh dalam Berekspresi

Setelah menyajikan tabuh kreasi pepanggulan, Yayasan Lilanjani Kerta Bumi menampilkan garapan selanjutnya, yaitu Tari Kekebyaran “Raga Sidhi”, sebuah tari yang memaknai tema PKB XLVI Tahun 2024 – Jana Kerthi: belajar memahami kemuliaan sang manusia itu sendiri.

Tidak dapat dipungkiri jika sifat maskulin dan feminin terdapat dalam setiap tubuh baik laki-laki dan perempuan. Tubuh menjadi rumah bagi sang jiwa dalam mengungkapkan emosi dan ekspresi. Istilah “Raga Sidhi” bermakna kedigjayaan atau kemerdekaan sang tubuh sebagai media ungkap atas daya rasa dan imajinasi dengan bahasa sebuah ungkapan gerak. Merujuk kembali pada cerminan diri manusia, yang diolah berdasarkan pada persepsi dualisme, maskulinitas dan feminitas, berbaur dan bersinergi menjadi satuan karya ekspresif.

Tari Kekebyaran Raga Sidhi yang dipentaskan oleh penari menjadi sajian kedua dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Rumah dalam konteks “Raga Sidhi” adalah Tabanan, sebagai ruang hidup seni secara historis memiliki seniman melegenda yakni I Ketut Marya, dengan Tari Oleg Tamulilingan yang sangat fenomenal dan mengilhami spirit kebyar lagendaris yang terdapat di Perean. Tentunya Tabanan sangat lekat sebagai rumah dari kekebyaran itu sendiri, berdasarkan landasan tersebut, mereka sebagai generasi penerus patut menghargai setinggi-tingginya lagenda dan mestro mereka  serta karya-karyanya yang menjadi sumber inspirasi dalam proses penciptaan Tari Kekebyaran “Raga Sidhi” yang berakar dari semangat kebebasan sang tubuh untuk berkreativitas.

Tari Kekebyaran “Raga Sidhi” dipentaskan oleh 6 orang penari. Feministas dan maskulinitas yang mereka bawakan sangat seimbang. Sikap faminin dan maskulin ditampilkan dengan harmonis. Mereka memadukan gerakan halus dan lembut yang mewakili feminitas dengan gerakan kuat dan tegas yang mencerminkan maskulinitas.

Gerakan feminin yang dapat dilihat adalah gerakan-gerakan tari yang menonjolkan kelembutan dan kehalusan, melibatkan tangan yang lentur, mata yang ekspresif, dan langkah yang anggun dan penuh perasaan. Sebaliknya, gerakan maskulin yang dihadirkan malam itu menonjolkan kekuatan, ketegasan, dan keberanian. Gerakan-gerakan tersebut dihadirkan dalam bentuk langkah yang kuat, sikap tubuh yang kokoh, dan ekspresi wajah yang tegar, menciptakan suasana dan kesan dinamis, pun penuh energi.

Tari Kekebyaran “Raga Sidhi” adalah tari yang kaya dan beragam. Para penari pria dan wanita, melalui gerakan mereka, menampikan keseimbangan antara sifat-sifat maskulin dan feminin, menunjukan bahwa kedua sifat tersebut saling melengkapi dan membentuk keutuhan dalam ekspresi seni tari.

Tari Kekebyaran Raga Sidhi yang dipentaskan oleh penari menjadi sajian kedua dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Di samping itu, Tari Kekebyaran “Raga Sidhi” juga meminjam beberapa laku gerak dari tari-tari karya I Ketut Marya, seperti laku jongkok pada Tari Igel Jongkok atau Kebyar duduk, dan sebagainya. Tari tersebut diciptakan oleh I Nyoman Agus Hari Sudarma Giri, S.Sn., M.Sn, dibantu oleh A.A. Bagus Ari Suryawan, S.Sn sebagai komposer, serta diiringi oleh Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, didukung oleh Dhrana Winangun, Br. Belumbang Kaja, Karang Taruna Priti Swaka Dharma Desa Belumbang, dan Yowana Adat Desa Belumbang.

Fragmentari Jayaning Singasana

Sebagai penampilan ketiga sekaligus penampilan penutup, Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Br. Belumbang Kaja, Desa Belumbang, Kec. Kerambitan mempersembahkan sebuah fragmentari yang bertajuk “Jayaning Singasana”.

Dikisahkan perjalanan Sri Magada Nata telah usai melaksanakan pertapaannya. Dari proses tersebut, Sri Magada Nata mendapat pawisik untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Puri Pucangan ke suatu daerah di mana ditemukan sebuah sumur gaib yang mengepulkan asap.

Dalam perjalanan ini, Sri Magada Nata, menyusuri arah selatan puri guna menemukan sumur gaib yang diisyaratkan pada pertapaannya. Hingga akhirnya, rombongan Sri Magada Nata tiba di sebuah pesraman atau padukuhan, dan di tempat itulah ditemukan sumur gaib dengan kepulan asap menjulang. Kepada Ki Dukuh Sakti sebagai penglisir yang merawat dan mengelola pedukuhan tersebut, Sri Magada Nata kemudian menjelaskan kedatangannya untuk menjadikan tempat tersebut sebagai kawasan puri yang baru atas pawisik yang diterima oleh Sri Magada Nata.

Mendengar ucapan Sri Magada Nata, Ki Dukuh Sakti bersama murid-murid padukuhan akhirnya mengizinkan tempat tersebut untuk dijadikan puri. Sri Magada Nata kemudian merelokasi pedukuhan untuk berada di sebelah tenggara puri yang saat ini bernama wilayah Sakenan Belodan. Tidak terkisahkan berapa lamanya proses pembangunan puri tersebut, hingga akhirnya puri beserta lanskapnya dapat diselesaikan dan dilaksanakan upacara pemelaspasan tanggal 29 November 1943. Puri yang baru ini kemudian diberi nama Puri Agung Tabanan dengan kotanya yang disebut Kota Singasana.

Sajian ketiga dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi – Fragmentari Jayaning Singasana | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Sri Magada Nata pada akhirnya memilih untuk melaksanakan kehidupan kerohanian dan berdiam di Pura Dalem Kubontingguh, dan menyerahkan tata kerajaan kepada putranya yaitu Nararya Anglurah Langwang yang bergelar Prabu Singasana. Adanya pemindahan pusat pemerintahan ke kawasan yang baru tersebut memberi dampak signifikan pada kemaslahatan hidup masyarakat dalam naungan Puri Agung Tabanan.

Dalam menghadirkan fragmentari tersebut, Yayasan Lilanjani Kerta Bumi berkolaborasi dengan beberapa seniman muda dan pelaku kreatif yang ada di Kabupaten Tabanan. I Gede Putu Resky Gita Adi Pratista, S.Sn., M.Sn dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi menjadi pimpinan produksi. I Putu Agus Meli Artawan, S.Sn dipercaya menjadi konseptor. Seluruh gerakan tubuh pada fragmentaryi tersebut diciptakan oleh Ida Bagus Putra Darmayasa, S.Sn., M.Si, dan Ni Made Ariyanti Putri Negara, S.Sn., M.Si. Iringan tetabuhannya disusun oleh I Putu Suta Muliartawan, S.Sn dan Dewa Gede Rahma Adiputra, S.Sn.

Properti disiapkan oleh Febry Garage dan Guti Yoga and De’Odi Workshop. I Gede Eka Saputra menjadi kordinator, dan tentu saja Yayasan Lilanjani Kerta Bumi sebagai penampil didukung oleh Dhrana Winangun, Br. Belumbang Kaja, Karang Taruna Priti Swaka Dharma Desa Belumbang, dan Yowana Adat Desa Belumbang.

Penampilan Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Br. Belumbang Kaja, Desa Belumbang, Kec. Kerambitan mendapat respon antusias dari penonton. Terbukti, penonton setia berada di areal Panggung Terbuka Ardha Chandra, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center) dan tak beranjak sampai pementasan selesai. Penampilan mereka juga mendapat apresiasi dari banyak orang.

Berproses dan Berprogres, Harapan, dan Terima Kasih

I Gede Putu Resky Gita Adi Pratista, S.Sn., M.Sn, mewakili Yayasan Lilanjani Kerta Bumi Br. Belumbang Kaja, Desa Belumbang, Kec. Kerambitan, mengatakan persiapan dan latihan pementasan sudah dilakukan sejak bulan Januari lalu, namun belum bisa dilakukan secara maksimal karena berbenturan dengan aktivitas kepemudaan untuk menyambut persiapan Pengerupukan/Tawur Agung Kesanga.

Sajian ketiga dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi – Fragmentari Jayaning Singasana | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Mereka kemudian memutuskan untuk latihan sektoral per kelompok instrument, menyesuaikan dengan jadwal luang dari masing-masing penabuh atau musisi. Lumayan berat, tapi harus tetap memutar otak untuk tetap berproses dan berprogres. Latihan secara efektif baru bisa dilakukan setelah Hari raya Nyepi. Seluruh penabuh atau musisi juga mulai mengadakan latihan gabungan. Susunan kepanitiaan pun sudah siap dan mulai menjalankan jobdesknya masing-masing.

Resky mengaku cukup lega setelah pementasan kemarin. Selama proses berlangsung, ada berbagai problematika terkait materi, kelengkapan, dan teknis untuk pentas yang bergejolak di kepalanya. Ditambah dengan cuaca saat hari pementasan yang kurang bersahabat, khawatir pementasan akan terhambat karena hujan.

“Tapi astungkara berkat doa seluruh pihak yang terlibat kemarin, akhirnya pementasan dapat dilangsungkan dengan lancar. Meskipun genangan air masih menghiasi panggung, cukup memberi tantangan untuk penari agar tetap bergerak dengan maksimal, juga penabuh akhirnya banyak yang masuk angin” ujarnya sambil berkelakar. Waduh, semangat Wi-Wi Penabuh.

Ia berharap ekosistem seni khususnya di Kabupaten Tabanan semakin kondusif. Saling menyesuaikan diri dan beradaptasi pada beragam perspektif seni yang pada hakikatnya keragaman tersebutlah yang memberi kehidupan pada kreativitas seni.

“Semoga kita juga dapat memahami dan memaknai capaian para seniman pendahulu menjadi spirit untuk kekaryaan kini. Menapaki diri di tanah agraris yang subur, menumbuhkan banyak pemikir, cendikiawan, dan berbagai figur visioner lainnya. Sekali lagi, semoga Tabanan selalu beragam akan pemikiran, dan bersinergi dalam semangatnya membangun seni secara berkelanjutan.” imbuhnya.

Sajian ketiga dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi – Fragmentari Jayaning Singasana | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Tak lupa, ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim, panitia, serta penampil Gong Kebyar Dewasa Duta Kabupaten Tabanan 2024. Ia mengapresiasi rasa saling rangkul dan rasa memiliki terhadap tim tersebut, tercermin dari pengorbanan energi, waktu, dan pemikiran masing-masing demi kelancaran proses hingga pementasan.

“Terima kasih juga kepada krama Banjar Adat Belumbang Kaja, yang selalu memberi dorongan moril, tenaga, serta kemudahan untuk mengakses fasilitasnya demi kelancaran proses persiapan hingga pementasan.”

Tentang Yayasan Lilanjani Kerta Bumi

Bermula dari ide dari I Nyoman Wiradana untuk membentuk ekosistem pertunjukan yang aktif di lingkungan sekitarnya, pengabdian seni secara reaktif dilakukan, dengan melatih berbagai kelompok seni di berbagai daerah. Melihat sambutan hangat pecinta seni pertunjukan tersebut, juga antusiasme warga Belumbang dengan para generasinya dalam mengikuti berbagai kegiatan keorganisasian, terkhusus pada bidang kebudayaan, mendorong Wiradana untuk membentuk ruang kreatif yang mewadahi para penggiat seni di sekitarnya untuk mengembangkan potensinya dalam lembaga Yayasan Lilanjani Kerta Bhumi.

Foto bersama seluruh Tim Gong Kebyar Dewasa Duta Tabanan 2024 | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Sejak awal kiprahnya, Yayasan Lilanjani Kerta Bhumi telah mengikuti berbagai jenis kegiatan seperti pengabdian masyarakat, edukasi seni, hingga berbagai jenis event mulai dari utsawa (parade) serta wimbakara (lomba) pertunjukan sebagai hasil dari aktivitas seni yang senantiasa selalu berlanjut.

Pengabdian bidang sosial, budaya, dan keagamaan tetap menjadi landasan pijak aktivitas yang berlangsung hingga detik ini, begitu pula dengan aktivitas edukatif lainnya. Atas dukungan berbagai elemen masyarakat di lingkungan Yayasan Lilanjani Kerta Bhumi, maka proses diskursif dan dialektik selalu berlangsung, memotivasi lembaga ini untuk selalu bermaslahat dan menjalankan salah satu cita-cita bangsa, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, melalui kebudayaan. [T]

Reporter: Julio Saputra
Penulis: Julio Saputra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel tentang GONG KEBYAR dan artikel lain dari penulis JULIO SAPUTRA

Tags: gong kebyargong kebyar dewasagong kebyar tabananPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2024tabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Roti Kembang Waru, Ikon Kuliner Khas Kotagede Yogyakarta

Next Post

Tari Sanghyang Sengkrong dan Kepercayaan Masyarakat Adat Kepaon

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
0
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal...

Read moreDetails

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

by I Putu Ardiyasa
January 23, 2026
0
Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di...

Read moreDetails

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

by Agus Arta Wiguna
December 25, 2025
0
Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

MALAM, 19 Desember 2025, di halaman belakang gedung Desain Hub, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sebuah karya pertunjukan kolektif dipentaskan...

Read moreDetails
Next Post
Tari Sanghyang Sengkrong dan Kepercayaan Masyarakat Adat Kepaon

Tari Sanghyang Sengkrong dan Kepercayaan Masyarakat Adat Kepaon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co