12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival Bedug PHBI Buleleng 2024: Eksperimen Itu Berwujud Alat Musik “Tak Bernama”

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
June 17, 2024
in Khas
Festival Bedug PHBI Buleleng 2024: Eksperimen Itu Berwujud Alat Musik “Tak Bernama”

Panggung Festival Bedug PHBI Buleleng 2024 | Foto: Aguk

SUATU ketika saya bangun di siang hari dan bersiap untuk pulang ke kampung halaman—pulang ke kampung halaman kadang kala menjadi hal yang sangat membosankan. Minimnya kegiatan yang bisa saya lakukan di kampung halaman kadang membuat saya uring-uringan untuk melakukan suatu hal, karena mungkin biasa berhadapan dengan tempo pola hidup di ibu kota. Bagi saya, pulang ke kampung halaman hanyalah sebuah waktu untuk istirahat panjang, bersantai dengan teh hangat dan menikmati masakan rumahan.

Kampung saya berada di Kampung Kajanan, Singaraja, bagian pesisir paling utara Pulau Bali dan sangat berdekatan dengan Eks Pelabuhan Buleleng—pelabuhan yang dulunya dikenal terbesar dan menjadi dermaga tunggal di Bali. Pemerintah kolonial Belanda membangun pelabuhan ini dari tahun 1846 hingga 1939, memanfaatkan pantai utara yang strategis.

Suasana penonton di Festival Bedug PHBI Buleleng 2024 di Eks Pelabuhan Buleleng | Foto: Aguk

Dulu, dalam sejarah Bali, Kota Singaraja adalah ibu kota dari Provinsi Nusa Tenggara, itu mungkin sebab Eks Pelabuhan Buleleng menjadi satu-satunya dermaga di Bali. Eks Pelabuhan menjadi pusat perdagangan dan bongkar muat barang kapal pesiar asing dan juga menjadi saksi bisu perjuangan masyarakat Bali melawan penjajah Belanda.

Tapi saya tidak akan membahas sejarah panjang Eks Pelabuhan Buleleng atau Kota Singaraja. Saya menyinggung pelabuhan tua tersebut karena kebetulan saja pada Minggu, 16 Juni 2024, lokasi ini menjadi venue sebuah penyelenggaraan festival. Festival lomba bedug dan gema takbir Idul Adha 1445 H, yang diselenggarakan tiap tahun oleh Panitia Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Buleleng.

Festival ini diikuti oleh 16 remaja masjid dari seluruh Kabupaten Buleleng, diselenggarakan dari pagi hari kemudian terpilih 8 kandidat finalis yang akan dilombakan kembali pada saat malam takbir hari raya Idul Adha.

Saya yang datang dari perantauan tidak membawa tendensi apa pun ketika mendatangi festival ini, hanya kegiatan rutin yang saya anggap sebagai hal yang datang tiap tahun. Kondisi Eks Pelabuhan malam itu sangat ramai didatangi oleh masyarakat yang antusias untuk menyaksikan lomba ini.

Lomba ini juga dihadiri oleh beberapa wakil dari pemerintahan Kabupaten Buleleng, tapi itu mungkin tidak penting bagi masyarakat karena terlihat beberapa orang lalu-lalang pada tenda-tenda makanan yang ada. Pidatonya juga mungkin sangat membosankan yang terkesan begitu formal pada suasana yang riuh gemuruh malam takbiran. Lupakan.

Dari 8 peserta finalis yang akan tampil saya sangat antusias menyaksikan mereka, mungkin karena ini juga salah satu ajang bergengsi bagi para remaja masjid. Saya tahu betul bagaimana perasaan bangga untuk bisa ikut tampil pada malam final lomba ini, karena dulu saya pernah beberapa kali ikut dan turut menjadi peserta perwakilan salah satu remaja masjid.

Kini lomba itu terus berkembang dari tahun ke tahun, entah dari kepananitiaan atau pun peran artistik seperti panggung, sound system, dan lighting yang membaik.

Beberapa peserta mulai tampil dengan sangat performatif dengan alat seadanya. Karena dari pihak panitia juga membatasi dalam penggunaan alat, peserta tidak dibolehkan menggunakan alat yang memiliki nada harmonis, alat elektronik dan juga alat tradisi. Dan juga pihak dari panitia hanya menyiapkan 4 buah alat musik, berupa bedug. Lomba ini juga dibatasi dari tingkat umur, peserta diwajibkan berumur 14 sampai 22 tahun yang boleh mengikuti lomba dan hanya berjumlah 10 orang.

Beberapa remaja masjid mulai tampil dengan menggunakan alat yang coba dibuat untuk meramaikan aransemen musikal mereka. Beberapa peserta ada yang mengganti perkusi dengan menggunakan kentongan dari bambu.

Seperti yang kita ketahui bahwa bedug dan kentongan adalah alat musik yang dulunya digunakan oleh masyarakat Cina untuk kebutuhan komunikasi saat perang. Berdasarkan legenda Cheng Ho dari Cina, ketika Laksamana Cheng Ho datang ke tanah Jawa, mereka disambut baik oleh Raja Jawa pada masa itu.

Kemudian, ketika Cheng Ho hendak pergi, ia memberikan hadiah berupa bedug—yang kini tetap digunakan sebagai alat musik tradisional, baik dalam kegiataan keagamaan, ritual, dan politik.

Balik ke topik perlombaan. Saya yang setiap tahun selalu hadir menyaksikan lomba festival bedug ini merasa tidak memiliki harapan lebih terhadap lomba kali ini. Karena dari ke tahun ke tahun juaranya itu-itu saja dan secara musikal terkesan beragam, dengan tempo cepat yang begitu progresif.

Hingga pada satu penampilan peserta yang membuat saya tertegun, yaitu penampilan dari Remaja Masjid Nurul Amin, Kampung Kajanan. Penampilan mereka sangat perfomatif dan menarik membuat seluruh panca indra saya berpusat padanya sebentar.

Mereka tampil dengan beberapa alat musik yang asing tapi tidak juga begitu asing terdengar. Maksud saya, bebunyian itu pernah saya dengar pada alat musik tradisional dan mereka mencoba mewakili dengan cara yang lebih sederhana.

Alat alat musik yang digunakan remaja masjid, peserta Festival Bedug PHBI Buleleng 20224 | Foto: Aguk

Penampilan mereka yang membuat saya terpukau adalah bagaimana mereka berhasil melakukan penggabungan tiga elemen musik yang berbeda dari tiga etnik: Cina, Arab, dan Hindu Bali. Bedug yang menyimbolkan Cina, Arab yang diambil dari bebunyian rebana, dan ceng-ceng yang mewakili bebunyian dari Bali.

Seperti yang saya katakan di awal bahwa panitia membatasi penggunaan alat musik tradisi. Tapi alat musik ceng-ceng membuat menarik perhatian saat mereka perform. Ketika hal itu dibatasi oleh panitia, mereka mencoba mencari alternatif lain untuk menggantikannya. Dan tutup panci berhasil menjadi peran pengganti.

Perasaan kagum membuat saya berangkat ke belakang panggung usai lomba selesai guna untuk melihat-lihat sekaligus bertanya-tanya kepada peserta lomba. Di belakang panggung saya melihat langsung berbagai alat musik para peserta lomba. Ada kentongan dari bambu, krecek, simbal, kemudian beberapa set alat rumah tangga, seperti panci, kaleng bekas, dan ember.

Noval Chumaidi, salah satu pembina peserta lomba dari Masjid Nurul Amin saya temui di belakang panggung untuk wawancara singkat. “Kalau boleh tahu, alat apa saja yang dipakai?” tanya saya.

“Kalau dari kami—Remasna (Remaja Masjid Nurul Amin), ada bedug, rebana, ada ember tiga buah sama alat-alat dapur, tutup panci,” jawabnya.

“Itu terinspirasi dari mana?”

“Karena enggak boleh pakai alat tradisonal, makanya kami mencoba membuat ceng-ceng Bali dari tutup panci. Tutup panci itu kan menyerupai, jadi kami bereksperimen menggunakan itu,” lanjutnya.

“Jadi, sekalian angkat budaya, ya?” tanya saya lagi.

“Iya. Karena dari pinitia enggak dibolehin pakai alat yang isi tangga nada (do, re, mi, fa, so, la, si, dol), jadi kami pakai alat yang ada, kayak alat dapur,” tutur Noval.

***

“Eksperimen” adalah satu kata yang kemudian timbul di pikiran saya. Eksperimen adalah prosedur yang dilakukan untuk mendukung atau menyangkal hipotesis, atau menentukan kemanjuran atau kemungkinan sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Eksperimen memberikan wawasan sebab-akibat dengan menunjukkan hasil apa yang terjadi ketika faktor tertentu dimanipulasi—fafifu wasweswos, ah pusing… Bagi saya, sederhananya adalah sebuah tindakan ujicoba hal lain untuk menggantikan suatu hal yang ada.

Alat alat musik yang digunakan remaja masjid, peserta Festival Bedug PHBI Buleleng 20224 | Foto: Aguk

Tutup panci yang mereka gunakan sebagai pengganti ceng-ceng adalah sebuah eksperimen yang coba mereka lakukan, termasuk juga penggunaan alat rumah tangga seperti ember dan kaleng bekas. Mereka mencoba memaksimalkan hal-hal yang ada untuk melakukan eksplorasi membentuk sebuah aransemen musik.

Dengan keterbatsan tersebut mereka melakukan eksperimentasi bagaimana artistik yang ada dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menghasilkan bunyi yang kompleks dan beragam.

Tindakan ini mungkin mereka lakukan tanpa sadar, tapi bagi saya ini adalah sebuah hal yang cukup menarik. Bagaimana ketika pengalaman saya menyaksikan musisi eksperimental, semacam Senyawa, misalnya. Pertanyaan pertama yang timbul saat itu adalah, “Alat musik apa itu?”.

Dalam hal ini eksperimen yang dilakukan oleh Remasna juga berhasil membuat saya bertanya ketika saya pertama kali menyaksikan Senyawa. Jika misalnya mereka ditanya, serangkaian set alat dapur yang mereka gunakan itu namanya apa? Mungkin mereka akan mencoba menjawab set drum, tapi jika dipertanyakan ulang sejatinya drum juga tidak begitu. Atau juga tutup panci yang mereka gunakan, itu namanya apa?

Berangkat dari pertanyaan itu saya mencoba berpikir sederhana bahwa eksperimen, kata kuncinya adalah eksplorasi. Eksperimen adalah sebuah tindakan penggalian ide mendalam, yang dilakukan untuk menyerupai hal yang ada sebelumnya. Bukan pembaharuan, karena bagi saya tidak ada yang baru di dunia ini. Tapi ini adalah upaya bentuk pengembangan.

Dalam artikel yang saya baca, yang ditulis oleh Rio Tantomo di media Pophariini berjudul “Binatangisme: Fabel Senggama Kuntari”. Rio menuliskan buku Pekak! Skena Eksperimental Noise di Asia Tenggara dan Jepang, penulisnya Indra Menus, noise merupakan penggabungan beragam gaya musik dan praktik inovatif berbasis suara sehingga membuat suara menjadi sebuah elemen yang penting.

Sedangkan komponen musik ekperimental menyatukan musik yang terkadang tidak jelas dan musisi menyajikan komposisi yang tak terduga, baik per bagian maupun keseluruhannya. Membedakan antara noise dan musik eksperimental, masih menurut Menus, mungkin sulit dilakukan karena sebagian besar dari keduanya terdiri dari unsur yang sama, salah satunya eksplorasi. Dan ‘eksplorasi’ buat saya adalah kata yang mesti distabilo, karena ‘tak ada yang tak boleh dilakukan di kancah eksperimental.’ 

Noval Chumaidi, pelatih salah satu dari remaja masjid | Foto: Aguk

Mengingat tulisan itu saya beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh Remaja Masjid Nurul Amin adalah sebuah tindakan eksperimental. Meski mungkin sadar atau tidak yang mereka melakukan. Hanya saja mungkin karena koridornya lomba, eksperimentasi itu tidak terjadi lebih luas dan mendalam. Karena terikat oleh koridor lomba yang mengikat waktu dan mengejar hal yang terkesan indah.

Tapi saya cukup sangat merasa senang menyaksikan penampilan mereka, membuat saya sadar bahwa jangan-jangan artistik yang bisa kita gunakan untuk bereksperimen berada di sekitar kita. Tinggal sekarang bagaimana menggunakan kata eksplorasi di dalamnya untuk menemukan kemungkinan lain yang dianggap baru, dan tidak pernah berhenti untuk terus melakukan eksplorasi.

Ah sial, saya jadi teringat Senyawa lagi soal bagaimana wacana mereka ketika mengangkat eksperimen yang mereka lakukan.

Selain itu, juga apa yang dilakukan oleh Remaja Masjid Nurul Amin mengingatkan saya kepada sejarah panjang kejayaan Eks Pelabuhan dan daerah pesisir sekitarnya. Bagaimana kehidupan kenyataan kedekatan budaya antara Cina, Arab, dan Hindu begitu dekat. Itu bisa kita lihat langsung di Eks Pelabuhan Buleleng ini. Adanya pura, kelenteng, dan masjid adalah monumen dari gambaran peradaban yang berjalan di daerah tersebut.

Saya bengong beberapa detik saat usai menyaksikan penampilan dari Remaja Masjid Nurul Amin, saya seperti melihat bahwa musik dapat menembus ruang dan waktu untuk memberikan gambaran bagaimana peradaban terus berjalan mempengaruhi kebudayaan. Dan bahkan musik bisa melepaskan diri dari struktur agama.

Sepertinya saya pun harus dipaksa untuk terus melakukan eksplorasi mendalam soal bagaimana kaitan antara musik dengan kebudayaan di kampung saya. Untuk mencari tahu bagaimana sejarah tercipta.

Kepulangan saya ke kampung kali ini terasa tidak begitu buruk dan membosankan seperti yang saya katakan di paragraf awal tadi. Festival lomba bedug kali ini cukup memberi saya sesuatu.

Tulisan ini saya sudahi dulu sebelum semakin ngarul-ngidul ke sana-ke mari, nanti malah jadi buku. Haha. Waktu sudah siang—waktu yang cocok untuk tidur sambil mendengarkan album Alkisah dari Senyawa.[T]

Editor: Jaswanto

Masjid, dan Kemungkinan Lain di Dalamnya – [Catatan dari Kampung di Singaraja]
Masjid dan Gerakan Masyarakat di Sekelilingnya || Catatan dari Kampung di Singaraja
Hari Ibu di Masjid dan Hal yang Kemudian Kita Renungkan || Catatan dari Kampung di Singaraja
Warung Masjid dan 12.000 Porsi Makan Gratis | Catatan dari Kampung di Singaraja
Tags: Festival BedugFestival Bedug PHBI Buleleng 2024PHBI Buleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pelembagaan dan Pembudayaan Bahasa Bali

Next Post

Workshop Inklusifitas Seni Komunitas Aghumi: Ikhtiar Menumbuhkan Ruang Kesenian bagi Masyarakat Difabel, Autism, dan Rentan

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Workshop Inklusifitas Seni Komunitas Aghumi: Ikhtiar Menumbuhkan Ruang Kesenian bagi Masyarakat Difabel, Autism, dan Rentan

Workshop Inklusifitas Seni Komunitas Aghumi: Ikhtiar Menumbuhkan Ruang Kesenian bagi Masyarakat Difabel, Autism, dan Rentan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co