14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival Bedug PHBI Buleleng 2024: Eksperimen Itu Berwujud Alat Musik “Tak Bernama”

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
June 17, 2024
in Khas
Festival Bedug PHBI Buleleng 2024: Eksperimen Itu Berwujud Alat Musik “Tak Bernama”

Panggung Festival Bedug PHBI Buleleng 2024 | Foto: Aguk

SUATU ketika saya bangun di siang hari dan bersiap untuk pulang ke kampung halaman—pulang ke kampung halaman kadang kala menjadi hal yang sangat membosankan. Minimnya kegiatan yang bisa saya lakukan di kampung halaman kadang membuat saya uring-uringan untuk melakukan suatu hal, karena mungkin biasa berhadapan dengan tempo pola hidup di ibu kota. Bagi saya, pulang ke kampung halaman hanyalah sebuah waktu untuk istirahat panjang, bersantai dengan teh hangat dan menikmati masakan rumahan.

Kampung saya berada di Kampung Kajanan, Singaraja, bagian pesisir paling utara Pulau Bali dan sangat berdekatan dengan Eks Pelabuhan Buleleng—pelabuhan yang dulunya dikenal terbesar dan menjadi dermaga tunggal di Bali. Pemerintah kolonial Belanda membangun pelabuhan ini dari tahun 1846 hingga 1939, memanfaatkan pantai utara yang strategis.

Suasana penonton di Festival Bedug PHBI Buleleng 2024 di Eks Pelabuhan Buleleng | Foto: Aguk

Dulu, dalam sejarah Bali, Kota Singaraja adalah ibu kota dari Provinsi Nusa Tenggara, itu mungkin sebab Eks Pelabuhan Buleleng menjadi satu-satunya dermaga di Bali. Eks Pelabuhan menjadi pusat perdagangan dan bongkar muat barang kapal pesiar asing dan juga menjadi saksi bisu perjuangan masyarakat Bali melawan penjajah Belanda.

Tapi saya tidak akan membahas sejarah panjang Eks Pelabuhan Buleleng atau Kota Singaraja. Saya menyinggung pelabuhan tua tersebut karena kebetulan saja pada Minggu, 16 Juni 2024, lokasi ini menjadi venue sebuah penyelenggaraan festival. Festival lomba bedug dan gema takbir Idul Adha 1445 H, yang diselenggarakan tiap tahun oleh Panitia Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Buleleng.

Festival ini diikuti oleh 16 remaja masjid dari seluruh Kabupaten Buleleng, diselenggarakan dari pagi hari kemudian terpilih 8 kandidat finalis yang akan dilombakan kembali pada saat malam takbir hari raya Idul Adha.

Saya yang datang dari perantauan tidak membawa tendensi apa pun ketika mendatangi festival ini, hanya kegiatan rutin yang saya anggap sebagai hal yang datang tiap tahun. Kondisi Eks Pelabuhan malam itu sangat ramai didatangi oleh masyarakat yang antusias untuk menyaksikan lomba ini.

Lomba ini juga dihadiri oleh beberapa wakil dari pemerintahan Kabupaten Buleleng, tapi itu mungkin tidak penting bagi masyarakat karena terlihat beberapa orang lalu-lalang pada tenda-tenda makanan yang ada. Pidatonya juga mungkin sangat membosankan yang terkesan begitu formal pada suasana yang riuh gemuruh malam takbiran. Lupakan.

Dari 8 peserta finalis yang akan tampil saya sangat antusias menyaksikan mereka, mungkin karena ini juga salah satu ajang bergengsi bagi para remaja masjid. Saya tahu betul bagaimana perasaan bangga untuk bisa ikut tampil pada malam final lomba ini, karena dulu saya pernah beberapa kali ikut dan turut menjadi peserta perwakilan salah satu remaja masjid.

Kini lomba itu terus berkembang dari tahun ke tahun, entah dari kepananitiaan atau pun peran artistik seperti panggung, sound system, dan lighting yang membaik.

Beberapa peserta mulai tampil dengan sangat performatif dengan alat seadanya. Karena dari pihak panitia juga membatasi dalam penggunaan alat, peserta tidak dibolehkan menggunakan alat yang memiliki nada harmonis, alat elektronik dan juga alat tradisi. Dan juga pihak dari panitia hanya menyiapkan 4 buah alat musik, berupa bedug. Lomba ini juga dibatasi dari tingkat umur, peserta diwajibkan berumur 14 sampai 22 tahun yang boleh mengikuti lomba dan hanya berjumlah 10 orang.

Beberapa remaja masjid mulai tampil dengan menggunakan alat yang coba dibuat untuk meramaikan aransemen musikal mereka. Beberapa peserta ada yang mengganti perkusi dengan menggunakan kentongan dari bambu.

Seperti yang kita ketahui bahwa bedug dan kentongan adalah alat musik yang dulunya digunakan oleh masyarakat Cina untuk kebutuhan komunikasi saat perang. Berdasarkan legenda Cheng Ho dari Cina, ketika Laksamana Cheng Ho datang ke tanah Jawa, mereka disambut baik oleh Raja Jawa pada masa itu.

Kemudian, ketika Cheng Ho hendak pergi, ia memberikan hadiah berupa bedug—yang kini tetap digunakan sebagai alat musik tradisional, baik dalam kegiataan keagamaan, ritual, dan politik.

Balik ke topik perlombaan. Saya yang setiap tahun selalu hadir menyaksikan lomba festival bedug ini merasa tidak memiliki harapan lebih terhadap lomba kali ini. Karena dari ke tahun ke tahun juaranya itu-itu saja dan secara musikal terkesan beragam, dengan tempo cepat yang begitu progresif.

Hingga pada satu penampilan peserta yang membuat saya tertegun, yaitu penampilan dari Remaja Masjid Nurul Amin, Kampung Kajanan. Penampilan mereka sangat perfomatif dan menarik membuat seluruh panca indra saya berpusat padanya sebentar.

Mereka tampil dengan beberapa alat musik yang asing tapi tidak juga begitu asing terdengar. Maksud saya, bebunyian itu pernah saya dengar pada alat musik tradisional dan mereka mencoba mewakili dengan cara yang lebih sederhana.

Alat alat musik yang digunakan remaja masjid, peserta Festival Bedug PHBI Buleleng 20224 | Foto: Aguk

Penampilan mereka yang membuat saya terpukau adalah bagaimana mereka berhasil melakukan penggabungan tiga elemen musik yang berbeda dari tiga etnik: Cina, Arab, dan Hindu Bali. Bedug yang menyimbolkan Cina, Arab yang diambil dari bebunyian rebana, dan ceng-ceng yang mewakili bebunyian dari Bali.

Seperti yang saya katakan di awal bahwa panitia membatasi penggunaan alat musik tradisi. Tapi alat musik ceng-ceng membuat menarik perhatian saat mereka perform. Ketika hal itu dibatasi oleh panitia, mereka mencoba mencari alternatif lain untuk menggantikannya. Dan tutup panci berhasil menjadi peran pengganti.

Perasaan kagum membuat saya berangkat ke belakang panggung usai lomba selesai guna untuk melihat-lihat sekaligus bertanya-tanya kepada peserta lomba. Di belakang panggung saya melihat langsung berbagai alat musik para peserta lomba. Ada kentongan dari bambu, krecek, simbal, kemudian beberapa set alat rumah tangga, seperti panci, kaleng bekas, dan ember.

Noval Chumaidi, salah satu pembina peserta lomba dari Masjid Nurul Amin saya temui di belakang panggung untuk wawancara singkat. “Kalau boleh tahu, alat apa saja yang dipakai?” tanya saya.

“Kalau dari kami—Remasna (Remaja Masjid Nurul Amin), ada bedug, rebana, ada ember tiga buah sama alat-alat dapur, tutup panci,” jawabnya.

“Itu terinspirasi dari mana?”

“Karena enggak boleh pakai alat tradisonal, makanya kami mencoba membuat ceng-ceng Bali dari tutup panci. Tutup panci itu kan menyerupai, jadi kami bereksperimen menggunakan itu,” lanjutnya.

“Jadi, sekalian angkat budaya, ya?” tanya saya lagi.

“Iya. Karena dari pinitia enggak dibolehin pakai alat yang isi tangga nada (do, re, mi, fa, so, la, si, dol), jadi kami pakai alat yang ada, kayak alat dapur,” tutur Noval.

***

“Eksperimen” adalah satu kata yang kemudian timbul di pikiran saya. Eksperimen adalah prosedur yang dilakukan untuk mendukung atau menyangkal hipotesis, atau menentukan kemanjuran atau kemungkinan sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Eksperimen memberikan wawasan sebab-akibat dengan menunjukkan hasil apa yang terjadi ketika faktor tertentu dimanipulasi—fafifu wasweswos, ah pusing… Bagi saya, sederhananya adalah sebuah tindakan ujicoba hal lain untuk menggantikan suatu hal yang ada.

Alat alat musik yang digunakan remaja masjid, peserta Festival Bedug PHBI Buleleng 20224 | Foto: Aguk

Tutup panci yang mereka gunakan sebagai pengganti ceng-ceng adalah sebuah eksperimen yang coba mereka lakukan, termasuk juga penggunaan alat rumah tangga seperti ember dan kaleng bekas. Mereka mencoba memaksimalkan hal-hal yang ada untuk melakukan eksplorasi membentuk sebuah aransemen musik.

Dengan keterbatsan tersebut mereka melakukan eksperimentasi bagaimana artistik yang ada dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menghasilkan bunyi yang kompleks dan beragam.

Tindakan ini mungkin mereka lakukan tanpa sadar, tapi bagi saya ini adalah sebuah hal yang cukup menarik. Bagaimana ketika pengalaman saya menyaksikan musisi eksperimental, semacam Senyawa, misalnya. Pertanyaan pertama yang timbul saat itu adalah, “Alat musik apa itu?”.

Dalam hal ini eksperimen yang dilakukan oleh Remasna juga berhasil membuat saya bertanya ketika saya pertama kali menyaksikan Senyawa. Jika misalnya mereka ditanya, serangkaian set alat dapur yang mereka gunakan itu namanya apa? Mungkin mereka akan mencoba menjawab set drum, tapi jika dipertanyakan ulang sejatinya drum juga tidak begitu. Atau juga tutup panci yang mereka gunakan, itu namanya apa?

Berangkat dari pertanyaan itu saya mencoba berpikir sederhana bahwa eksperimen, kata kuncinya adalah eksplorasi. Eksperimen adalah sebuah tindakan penggalian ide mendalam, yang dilakukan untuk menyerupai hal yang ada sebelumnya. Bukan pembaharuan, karena bagi saya tidak ada yang baru di dunia ini. Tapi ini adalah upaya bentuk pengembangan.

Dalam artikel yang saya baca, yang ditulis oleh Rio Tantomo di media Pophariini berjudul “Binatangisme: Fabel Senggama Kuntari”. Rio menuliskan buku Pekak! Skena Eksperimental Noise di Asia Tenggara dan Jepang, penulisnya Indra Menus, noise merupakan penggabungan beragam gaya musik dan praktik inovatif berbasis suara sehingga membuat suara menjadi sebuah elemen yang penting.

Sedangkan komponen musik ekperimental menyatukan musik yang terkadang tidak jelas dan musisi menyajikan komposisi yang tak terduga, baik per bagian maupun keseluruhannya. Membedakan antara noise dan musik eksperimental, masih menurut Menus, mungkin sulit dilakukan karena sebagian besar dari keduanya terdiri dari unsur yang sama, salah satunya eksplorasi. Dan ‘eksplorasi’ buat saya adalah kata yang mesti distabilo, karena ‘tak ada yang tak boleh dilakukan di kancah eksperimental.’ 

Noval Chumaidi, pelatih salah satu dari remaja masjid | Foto: Aguk

Mengingat tulisan itu saya beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh Remaja Masjid Nurul Amin adalah sebuah tindakan eksperimental. Meski mungkin sadar atau tidak yang mereka melakukan. Hanya saja mungkin karena koridornya lomba, eksperimentasi itu tidak terjadi lebih luas dan mendalam. Karena terikat oleh koridor lomba yang mengikat waktu dan mengejar hal yang terkesan indah.

Tapi saya cukup sangat merasa senang menyaksikan penampilan mereka, membuat saya sadar bahwa jangan-jangan artistik yang bisa kita gunakan untuk bereksperimen berada di sekitar kita. Tinggal sekarang bagaimana menggunakan kata eksplorasi di dalamnya untuk menemukan kemungkinan lain yang dianggap baru, dan tidak pernah berhenti untuk terus melakukan eksplorasi.

Ah sial, saya jadi teringat Senyawa lagi soal bagaimana wacana mereka ketika mengangkat eksperimen yang mereka lakukan.

Selain itu, juga apa yang dilakukan oleh Remaja Masjid Nurul Amin mengingatkan saya kepada sejarah panjang kejayaan Eks Pelabuhan dan daerah pesisir sekitarnya. Bagaimana kehidupan kenyataan kedekatan budaya antara Cina, Arab, dan Hindu begitu dekat. Itu bisa kita lihat langsung di Eks Pelabuhan Buleleng ini. Adanya pura, kelenteng, dan masjid adalah monumen dari gambaran peradaban yang berjalan di daerah tersebut.

Saya bengong beberapa detik saat usai menyaksikan penampilan dari Remaja Masjid Nurul Amin, saya seperti melihat bahwa musik dapat menembus ruang dan waktu untuk memberikan gambaran bagaimana peradaban terus berjalan mempengaruhi kebudayaan. Dan bahkan musik bisa melepaskan diri dari struktur agama.

Sepertinya saya pun harus dipaksa untuk terus melakukan eksplorasi mendalam soal bagaimana kaitan antara musik dengan kebudayaan di kampung saya. Untuk mencari tahu bagaimana sejarah tercipta.

Kepulangan saya ke kampung kali ini terasa tidak begitu buruk dan membosankan seperti yang saya katakan di paragraf awal tadi. Festival lomba bedug kali ini cukup memberi saya sesuatu.

Tulisan ini saya sudahi dulu sebelum semakin ngarul-ngidul ke sana-ke mari, nanti malah jadi buku. Haha. Waktu sudah siang—waktu yang cocok untuk tidur sambil mendengarkan album Alkisah dari Senyawa.[T]

Editor: Jaswanto

Masjid, dan Kemungkinan Lain di Dalamnya – [Catatan dari Kampung di Singaraja]
Masjid dan Gerakan Masyarakat di Sekelilingnya || Catatan dari Kampung di Singaraja
Hari Ibu di Masjid dan Hal yang Kemudian Kita Renungkan || Catatan dari Kampung di Singaraja
Warung Masjid dan 12.000 Porsi Makan Gratis | Catatan dari Kampung di Singaraja
Tags: Festival BedugFestival Bedug PHBI Buleleng 2024PHBI Buleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pelembagaan dan Pembudayaan Bahasa Bali

Next Post

Workshop Inklusifitas Seni Komunitas Aghumi: Ikhtiar Menumbuhkan Ruang Kesenian bagi Masyarakat Difabel, Autism, dan Rentan

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Workshop Inklusifitas Seni Komunitas Aghumi: Ikhtiar Menumbuhkan Ruang Kesenian bagi Masyarakat Difabel, Autism, dan Rentan

Workshop Inklusifitas Seni Komunitas Aghumi: Ikhtiar Menumbuhkan Ruang Kesenian bagi Masyarakat Difabel, Autism, dan Rentan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co