14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Ibu di Masjid dan Hal yang Kemudian Kita Renungkan || Catatan dari Kampung di Singaraja

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
February 23, 2021
in Khas
Hari Ibu di Masjid dan Hal yang Kemudian Kita Renungkan || Catatan dari Kampung di Singaraja

Perayaan Hari Ibu di Masjid Jami' Singaraja {foto: Harry Sumarsono]

22 Desember 2020, di Masjid Agung Jami’ Singaraja, ada sebuah acara pengajian. Acara ini bukan acara pengajian biasa, tapi dikaitkan dengan peringatan Hari Ibu.

Bagi saya ini menarik. Sebelumnya saya berpikir perayaan Hari Ibu jauh dari konteks keagamaan. Meskipun ibu adalah hal yang sangat besar dan sering dibahas dalam kitab dan hadist, tapi dalam praktik keseharian, kita sering luput mengkaitkan Hari Ibu dengan keagamaan.

Acara di Masjid Jami’ Singaraja mungkin tak bermaksud mengkait-kaitkan Hari Ibu dengan keagamaan, tapi lebih bertujuan untuk memberi ruang apresiasi kepada ibu dan wanita dalam perannya di rumah dan di lingkungan sekitar. Karena terbukti, saya kerap melihat pergerakan ibu-ibu dan wanita di lingkungan saya begitu aktif dalam melakukan berbagai peran social dan lain-lain, termasuk berperan besar di lingkungan masjid.  Ada beberapa kegiatan yang sering dilakukan oleh ibu-ibu di sekitar kampung saya, terkhusus di Kampung Kajanan Singaraja.

Perayaan Hari Ibu di Masjid Jami’ Singaraja [Foto Harry Sumarsono]

Hari Ibu

Berbicara soal Hari Ibu, maka tidak luput untuk kita ketika mendengarnya kemudian mempertanyakan kembali makna serta esensi dari perayaan Hari Ibu. Sering kali menganggap bahwa Hari Ibu adalah sebuah perayaan untuk memberi rasa pengungkapan kasih sayang ke ibu. Padahal jika ditarik ke belakang bahwa perayaan Hari Ibu ada sejarah penciptaanya, ternyata jika dicari sejarahnya terbentuk dari sebuah pemikiran presiden pertama Ir. Soekarno dalam memberi penghormatan kepada para pejuang pahlawan wanita. untuk menyeimbangkan para pahlawan lainya selain R.A Kartini, karena dianggap agar adil untuk pahlawan waita lain, maka dibentuk dan dibuatlah Hari Ibu ini.

Di Indonesia perayaan Hari Ibu dilaksanakan pada tanggal 22 Desember, berbeda dengan Hari Ibu di negara lainnya. Dengan demikian Hari Ibu termasuk Hari Ibu nasional tidak internasional. Maka dengan itu pasti ada sejarah panjang penciptaan dan latar belakang pemilihan tanggalnya. Saya sempat membaca di beberapa sumber seperti wikipedia dan magdalene.id, di kedua sumber tersebut saya menemukan ada hal yang menarik jika dipikirkan kembali.

Di sana saya menemukan bahwa ternyata terbentuk Hari Ibu adalah sebuah peringatan terkait gerakan perempuan yang pada waktu itu ada kongres perempuan nasional pertama pada masa kolonial Hindia-Belanda, gerakan perempuan semakin vokal dan progresi seiring diadakannya Kongres Perempuan pada tanggal 22-25 Desember di Yogyakarta tahun 1958. Yang dihadiri oleh 30 organisasi dari berbagai kota, kongres ini membahas berbagai isu mulai dari perkawinan anak, pendidikan, sampai kesehatan. Sekaligus menjadi peringatan Hari Ibu, tanggal ini dipilih untuk merayakan semangat perempuan Indonesia untuk memberdayakan perempuan dalam berbangsa.

Namun esensi dan semangat perayaan Hari Ibu yang progresif itu perlahan-lahan mulai pudar dan berubah saat rezim Orde Baru berkuasa. Ideologi negara yang mengesankan peran dalam perempuan sebagai istri atau ibu mulai diterapkan. Hal itu menyebabkan perayaan Hari Ibu malah berubah menjadi selebrasi peran domestik perempuan, bukan malah mendorong perempuan untuk berdaya. Begitu kira-kira rangkuman yang tertulis dari dua sumber tersebut.

Perayaan

Tetapi kali ini tujuan utama dalam pembahasannya bukan soal sejarah terciptanya Hari Ibu, yang lebih menarik adalah bagaimana peran ibu dan bagaimana macam-macam perayaan dalam memperingati hari tersebut. Banyak cara dalam memperingati Hari Ibu di berbagai wilayah Indonesia, ada yang merayakannya dengan lomba busana, perayaan potong tumpeng dalam organisasi ibu-ibu, dan salah satunya juga ada yang menarik di kampung saya yaitu pengajian dalam memperingati Hari Ibu di masjid. Ini menjadi menarik bagi saya karena hal tersebut termasuk baru dan tidak ada tertulis dalam kiab-kitab agama terdahulu, tetapi karena memperingati Hari Ibu nasional akhirnya menjadikan kita untuk mempertanayakan kedudukan ibu dalam keseharian serta hal lain di sekitarnya.

Perayaan Hari Ibu di Masjid Jami’ Singaraja [Foto Harry Sumarsono]

Mengenai perayaan Hari Ibu di Masjid Jami’ Singaraja, terdapat banyak hal yang bias direnungkan. Beberapa takmir cukup serius untuk menyiapkan perayaan ini, mulai dari menata ruangan masjid hingga menyiapkan hidangan dan sovenir untuk perayaan Hari Ibu. Para kaum adam mulai bersibuk untuk menyiapkan itu dari satu hari sebelum hari perayaan, perayaan tersebut juga mengundang seluruh ibu-ibu sekitar kampung baik yang dalam organisasi masyrakat dan individu.

Suasana perayaan begitu intim dan sangat kekeluargaan, acara berlangsung dari sehabis sholat maghrib yang diisi dengan tausiah pengajian tentang kedudukan ibu. Lalu dilanjut dengan menonton beberapa video pendek tentang beberapa hal yang bersangkutan dengan ibu.

Tapi ada beberapa hal yang harus juga dipikirkan kembali dalam perayaan bahwa tanpa sadar ada hal yang kecil tetapi jika dipikirkan ulang perlu juga pengadaptasian dalam perayaan Hari Ibu. Jika memang dalam hal ini ingin mengapresiasi kedudukan ibu, kenapa tidak totalitas dalam hal ini. Semisal pengisi tausiah atau pengajian yang membicarakan kedudukan ibu, saya rasa akan lebih menarik dan totalitas jika hal semacam itu juga diisi oleh ibu-ibu. Yang laki-laki khusus dalam hal persiapan acara.

Tetapi itu juga menjadi hal yang dipertimbangkan mengingat kedudukan perempuan hari ini masih dalam tataran hanya sebatas sebagai ibu rumah tangga. Jauh dari hal itu ada hal yang harusnya jauh dipikirkan yaitu kesetaraan antara wanita dan lelaki dalam hal berorganisasi dan membangun sebuah kelompok masyarakat. Seolah-olah tidak ada kepercayaan di dalam diri wanita dalam mengatur hal-hal yang biasa diatur oleh kaum laki. Apalagi perayaan tersebut hanya sehari, sebenarnya akan lebih totalitas jika hal lainya sekalian saja berikan pada kaum wanita. Tapi itu hanya kemungkinan bagi pandangan saya, tidak tahu kembali mungkin ada pandangan lain dalam menyusun itu bagi takmir.

Setidaknya karena mungkin hal yang pertama diselenggarakan ini menjadi hal menarik ke depannya tentang berpikir ulang soal kaum wanita dalam keseharian membangun menciptakan suatu lingkungan. Setidaknya pula ini menjadi awal dalam hal baru yang patut juga dipikirkan, mengingat banyak kegiatan yang sering dilakukan oleh kaum wanita di masjid. Terbukti, bahwa ternyata kaum wanita-pun memiliki sumber daya yang mempuni, tanpa tetap tidak terlepas bahwa kaum laki menjadi hal yang utama dalam segala hal. Mungkin terlalu jauh jika berbicara soal kesetaraan genre, mengingat banyak hal yang memang selalu menjadikan kaum lelaki adalah hal yang memang memimpin segala hal.

Tapi, secara umum, pada acara di Masjid Jami’ itu  memang membuat saya kagum, bagaimana masjid dipenuhi lebih banyak kaum wanita ketimbang kaum laki. Hal itu sedikit menyadarkan saya akan banyak hal salah satunya adalah pentingnya wanita. Apalagi ketika sholat isya’ berlangsung saya sedikit kagum akan apresiasi takmir dalam peryaan Hari Ibu, terbukti dari pembagian shaf baris sholat.

Pada hari biasanya ataupun dalam kegiatan apapun di masjid, biasanya ruangan untuk wanita terlihat lebih kecil dari pada lelaki. Kemarin yang terjadi di masjid lebih luas sha barisan sholat untuk wanita, yang membuat pikiran saya melompat memandang kejadian itu. Bagaimana kita hari ini memandang perempuan, dan bagaimana seharusnya kita memberikan hak-hak dalam memandang wanita. Walaupun tetap koridor ukuranya tidak melepaskan kaum lelaki sebagai imam dalam segala hal.

Tetapi karena ini adalah perayaan Hari Ibu nasional yang tidak pernah tertulis dalam kitab keagamaan, itu bisa menjadi hal yang patut kita pikirkan ulang kembali bagaimana caranya mengaitkan hal yang nasional ini dengan menggandeng pengetahuan agama. Maksudnya begini, semacam melihat dan mengambil kesempatan hal nasional ini lalu membawanya ke ranah keagamaan. Sekaligus menjadi sumber daya baru dalam membangun masyarakat serta fungsi wanita dalam bermasyarakat. Agar tidak hanya memiliki pemikiran bahwa wanita hanya sekedar mengurus rumah tangga, tetapi ada hal yang bisa juga dilakukan wanita dan itu saya yakin pasti juga bermanfaat untuk wanita tersebut menjalankan rumah tangga dan keluarga. Suasana Hari Ibu di masjid membuat saya kagum dan menimbulkan kesadaran dalam memandang wanita, tetapi apakah hal ini hanya terjadi ketika Hari Ibu saja atau setiap harinya? Mari kita renungkan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Inilah Ruang Temu yang Tak Kaku, Bahkan Terlalu Cair || Ulasan Malam Olah Sastra Siar Siur Kalangan

Next Post

TIGA BAHASA HINDU BALI | 1.107 tahun pemakaian Sanskerta, 1.019 tahun pemakaian Jawa Kuno di Bali

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

TIGA BAHASA HINDU BALI | 1.107 tahun pemakaian Sanskerta, 1.019 tahun pemakaian Jawa Kuno di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co