23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

TIGA BAHASA HINDU BALI | 1.107 tahun pemakaian Sanskerta, 1.019 tahun pemakaian Jawa Kuno di Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
December 24, 2020
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

— Catatan Harian Sugi Lanus, 24 Desember 2020


1. Warisan teks tertulis dan praktek ritual Hindu di Bali menggunakan 3 bahasa, yang secara historis sangat penting dalam proses beragama dan penurunan ajaran, yaitu: Bahasa Sanskerta, Bahasa Kawi (Jawa Kuno) dan Bahasa Bali.


2. Bahasa Sanskerta pemakaiannya masih dalam keseharian di Bali, yang paling umum adalah Puja Tri Sandhya yang menjadi bait-bait doa yang direkomendasikan diucapkan atau dilaksanakan 3 hari sehari — pagi-siang-sore — dan bentuk lain dari praktik harian pemakaian Sanserkerta adalah Puja Suryasewana yang diuncarkan dan praktekkan oleh kaum sulinggih yang telah memasuki diksa kepanditaan tertinggi.

i. Sejarahnya, seperti temuan prasasti di berbagai belahan kepulauan Nusantara, pemakaian bahasa Sansekerta telah dipakai setidaknya semenjak dikeluarkannya prasasti-prasasti Hindu di wilayah Kutai, Kalimantan bagian timur.

Batu Yupa dari Kutai, dengan prasasti dalam tulisan Pallawa, menggunakan bahasa Sansekerta, menjadi semacam tonggak pemakaian bahasa Sansekerta di Nusantara.

ii. Pemakaian Sanskerta tertua yang ditemukan di Bali sekitar tahun  914 M, dalam Prasasti Blanjong. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta India dan bahasa Bali Kuno, menggunakan dua aksara, aksara Nagari dan aksara Kawi atau dikenal juga sebagai aksara Jawa Kuno yang diturunkan dari aksara Pallawa. Menariknya bahasa Bali Kuno ditulis dalam aksara pra-Nagari berada di satu sisi pilar, sedangkan bahasa Sanskerta ditulis dalam aksara Jawa Kuno yang diturunkan dari Pallawa (disebut juga aksara Kawi). Pilar ini bertanggal menurut era Śaka, pada hari ketujuh dari setengah waxing (‘saptāmyāṁ sita’) dari bulan Phalguna tahun Śaka 835, yang bertepatan dengan 4 Februari 914 M— sebagaimana dihitung oleh Louis-Charles Damais.

Jika mengikuti perhitungan pakar prasasti, ahli Sanskerta dan pakar perhitungan kalender kuno almarhum Louis-Charles Damais, maka 4 Februari 2021 yang akan datang adalah 1107 tahun pemakaian bahasa Sanskerta di Bali. Tahun 2025 akan menjadi tonggak 1111 tahun pemakaian Sanskerta di Bali.

Semenjak 1000 tahun lampau itu masyarakat Bali telah mengetahui dan akrab dengan pemakaian Sansekerta di Bali. Dan yang paling menarik dari keberadaan atau tonggak aksara Bali, dari prasasti Blanjong kita melihat bahwa yang dipakai dalam penulisan bahasa Bali Kuno adalah aksara Pre Nagari, yang tidak lain adalah induk atau lebih tua dibandingkan dengan Devagari yang dipakai di India sekarang.

Aksara Nāgarī yang dipakai dalam penulisan Bahasa Bali Kuno adalah nenek moyang dari aksara Devanagari, Nandinagari dan varian lainnya. Biasanya digunakan untuk menulis bahasa Prakrit dan Sanskerta, tetapi dalam prasasti Blanjong dipakai menulis bahasa Bali Kuno. Aksara Nāgarī menjadi populer selama milenium pertama. Ini bukti bahwa Bali dalam konteks persebaran budaya Asia bersentuhan langsung dengan perkembangan pengetahuan milenium pertama.

Nāgarī berakar dari keluarga aksara Brahmi kuno dan digunakan secara teratur pada abad ke-7 M, dan secara umum telah sepenuhnya berkembang menjadi aksara Devanagari (aksara yang dipakai di India atau dalam kebanyakan kitab Weda) di sekitar akhir milenium pertama era umum.

Pulau Bali betul-betul menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan tradisi penulisan dan keberaksaraan yang penulisan tradisi Vedic era milenium pertama..

iii. Berbagai temuan lontar Puja, Stawa, dan pedoman pemujaan berbahasa Sansekerta di Bali disebut dalam klasifkasi Weda — jika kita merujuk pembagian dan klasifikasi Perpustakaan Lontar Kirtya Singaraja —  menjadi pokok penentu kehidupan beragama di Bali yang menjadi pedoman khusus kalangan pendeta.

Berbagai Arga Patra pedoman pemujaan sulinggih kita temukan di Kirtya dengan kandungan pemujaan berbahasa Sanskerta, hanya pengantar atau petunjuk bagaimana sikap memuja yang berbahasa Jawa Kuno, selebihnya mantra 100% Sanskerta. Di antaranya:  Lontar 6604 / Ib Arga Puja Parikrama, Lontar 6759 / Ic Arggha Patra, Lontar 7067/1b Arggha Patra, Lontar 2461 / Ib Arghapatra Resi Puja, Lontar 1778 / Ic Asta Prenawa, Lontar 74/8.Ib Astaka Mantra, Lontar 1843 / Ib Astawa Mantra, dstnya.

Lontar berbahasa Sanskerta yang menjadi pedoman etika atau susila yang terwariskan menjadi pedoman etik dan dharma diantara: Slokantara, Sarasamuscaya, dan berbagai pedoman pengajaran kutipan Ramayana yang menjadi pedoman pengajaran Sanskerta di Nusantara.

Teks keagamaan yang bernuasa ajaran Kesiwaan yang bertajuk atau dalam payung Jnana Siddhanta dengan berbagai variasinya meninggalkan jejak kuat mengakarnya pemakaian Sansekerta di kalangan para cendikiawan dan pendeta di masa silam di Bali.


3. Bahasa kedua setelah Sansekrta adalah Jawa Kuno atau Kawi, menjadi salah satu dari 3 pilar bahasa dalam Hinduisme di Bali.

Berbagai temuan prasasti di Bali memberikan gambaran kapan mulainya pemakaian bahasa Jawa Kuno di Bali. Tahun 804 Śaka (882 Masehi) sampai dengan pemerintahan Raja Anak Wungsu tahun 994 Śaka (1072 Masehi) bahasa Bali Kuno masih dipakai dalam prasasti Bali, setelah itu peran Bali Kuno sebagai bahasa prasasti digantikan oleh bahasa Jawa Kuno. Terlihat semenjak itulah pemakaian bahasa Jawa Kuno menjadi suatu kebiasaan penulisan prasasti di Bali menggunakan bahasa Jawa Kuno.

Setidaknya telah sekitar 950 tahun lalu dipakai Jawa Kuno di Bali. Ditengarai setelah Udayana menikah dengan Mahendradatta Bahasa Jawa Kuno masuk kerajaan Bali. Ada indikasi tahun 1001 Masehi ketika datang Mpu Kuturan, bahasa Jawa Kuno mulai berpengaruh dalam pemakaian keagamaan dan pedoman puja. Lontar pedoman kepemangkuan Kusumadewa dan Sangkulputih disebut sebagai peninggalan dari Mpu Kuturan. Jika ini benar adanya, maka telah 1019 tahun pemakaian Jawa Kuno di Bali.

i. Pedoman pemangku di Bali yang dikenal sebagai Kusuma Dewa dan Sangkuputih berbahasa Jawa Kuno dengan berbagai stawa berbahasa Sanskerta. Kusuma Dewa dan Sangkulputih sangat jelas “komposisi puja dan stawa” yang memang telah dibumikan atau berbasis kepentingan pemujaan di candi, pura atau parahyangan yang berkembang dalam tradisi Jawa Kuno atau Nusantara, yang diwarisi sampai hari ini menjadi pedoman pemujaan terpenting di kalangan pemangku. Kebahasaannya jelas Kawi dan bercampur bahasa Bali halus yang kelihatan sangat tua.

ii. Jika pemujaan dengan stawa berbahasa Sansekerta disebut dengan “maweda”, maka pemujaan dengan bahasa Jawa Kuno atau Kawi ini kadang disebut “masaa” atau “puja-saha”. Menggunakan bentukan ata frase Kawi kadang diselang-selingin dengan bahasa Bali singgih.

iii. Jika Suryasewana berbasis pemujaan di rumah masing-masing pendeta Siwa-Buddha-Rsi dengan murni Sansekerta, pemakaian buku manual pemujaan dengan bahasa Kawi ini menjadi praktek pelaksanaan upakara di odalan atau karya di parahyangan dan pura-pura. Pemujaan ke alam dewa yang komunikatif di pura dilakukan dengan Kawi oleh pemangku yang berpedoman Sangkulputih dan Kusumadewa.


4. Bahasa Bali Singgih dipakai dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali ketika memuja untuk “wilayah privat”; maksudnya sembahyang di rumah bersama keluarga dan bukan ketika memimpin upakara sebagaimana doa sulinggih atau pemangku untuk publik.

Dalam prosesi 3 bulanan, sebagai contoh, maka doa diucapkan dalam bahasa Bali. Keluarga berdoa bersama dalam bahasa Bali. Demikian juga ketika otonan. Persembahyangan ketika Tumpek Kandang, Bubuh, dll, dilakukan dalam bahasa Bali yang umum dipahami. Komunikasi pun seolah sedang berbicara atau berdialog dengan “yang tidak tampak”.

Pemujaan dengan bahasa Bali umum ini kadang disebut “sesontengan”. Umum pula dipakai memuja ketika “mayah sesangi” (bayar kaul) atau kesempatan yang sifatnya “privat’, bukan dalam konteks prosesi keagamaan publik seperti doa-doa mantra pendeta tinggi di depan publik yang diuncarkan dalam bahasa Sansekerta atau Jawa Kuno (Kawi).

Sesontengan atau doa dengan bahasa yang lumrah kita dengar dalam keseharian ini memang terasa paling akrab menjadi “bahasa agama Hindu Bali”. Karena bahasa keseharian inilah yang memang menjadi “ranah umat umum”. Bahasa Sanskerta, kecuali dalam Tri Sandhya dan Panca Krama, memang lebih merupakan bahasa pendeta tinggi. Bahasa Kawi dalam pemujaan lebih menjadi “bahasa Pemangku” dalam praktek persembahyangan di Bali.


5. Sekedar gambaran perbedaan bahasa Sanskerta, Kawi, dan bahasa Bali, maka berikut akan diberikan contoh mantra Sanskerta (i), puja Kawi (ii), dan piuning dalam bahasa Bali (iii).

(i) // 0 // iti āpaḥ stawa/ ma / oṃ gaṅgāpuruṣo mūrttiṇam/ brahmamaṇḍala waiṣṇawam/ gaṇgā ratnākara dewaṃ brahmāmūrtti trilokanam// jalanidhi mūrtti dewaṃ/ bhūmimatsyamahārodram/ bruṇadewa mahāliṅgam/ lembuharo indrātmakam// nāgendra krūramūrttiṇaṃ/ gajendra matsyawaktraṇam bruṇadewa maśarīram/ sarwwa jagat śuddhātmakam// jalanidhi mahāwiryyam/ brahmā wiṣṇu ṃaheśwaram sarwwa jagat prakīrttiṇaṃ/ sarwwa wighnawināśanam// indra parwwatamaṇḍalam/ jalanidhi mūrttiwīryyam/ rudra agni jwalitejo/ sarwwawighnawināśanam//

Ini adalah gambaran Sanskrit dalam lontar Bali, yang kadang sebut olah para ahli sebagai Sanskerta Nusantara atau Sanskerta yang dipakai atau berkembang di Nusantara.

(ii) Iki malih puja nira mangku Kulputih, Ma, Ong Bhatara Pasupati, pukulun manüsa nirä, angaturana padukä bhatara ngaturana paduka bhatara, angundang bhatara pukulun, pada tdun kayangan agung nuhut kukusang mnyan majagawu candana manngen, sami mapupul ring pasamuan kabeh, ta burat wangi mrik sumurit, siddhi rastu nama siwaya. Ong Ang Mang Ung. Iki rajah payuk wadah toya, pabrésihan. Rajah sékar, Ong Mang Ung Sah, ésat mrettha ya namah, Ong Mang Iswara ne namah, putih. Ong Ung Wisnu ne namah, ireng. Ong Brahma ne namah barak, Ong Hrang Hring Sah Paramasiwaditia ya namah.

Kita bisa melihat bagaimana pedoman pemujaan berbahasa Kawi atau Jawa Kuno dipakai sampai hari ini di Bali oleh pemangku yang berpedoman pada teks kepemangkuan Sangkulputih dan atau Kusuma Dewa.

 (iii) Inggih Ratu Paduka Betara, titiang pedek tangkil ring wengine mangkin, ngaturang pejati kukus harus, nunas ica, mangda titiang molihang merta, manda pemargin titiange setata galang. Dumumadak Ratu lédan mapaica karahayuan ring pianak titiang sami, mangda sami rahayu kelanturan…

Pemakaian bahasa Bali dalam doa harian persembahyangan pribadi ini sangat bersifat personal, kadang juga ditentukan oleh dialek dan ragam bahasa Bali yang berbeda antara masyarakat Bali pesisir dan Bali pegunungan yang punya dialek berbeda, demikian juga sor singgih, atau anggah-ungguh yang pola atau aturannya cukup berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.


6. Tidak beralasan mengatakan bahwa satu satu dari tiga bahasa tersebut, Sanskerta-Kawi-Bali, paling unggul atau utama. Dalam praktek doa harian, dalam tradisi pewarisan ajaran teks tertulis, dan dalam berbagai kegiataan keagamaan Hindu di Bali ketiganya menduduki posisi sama pentingnya dan saling mengisi, saling melengkapi.

Tiga pilar bahasa yang dipakai dalam Hindu Bali ini yang menjadikan Hindu Bali punya ciri kebahasaan yang tidak mudah dimasuki teks tertulisnya yang berbahasa Kawi dan Sansekrta. Masyarakat Bali atau luar Bali yang mau memasuki ajaran tertulis Hindu Bali, mau tidak mau, harus memahami Jawa Kuno dan Sanskerta jika ingin paham mendalam Hindu di Bali. Jika hanya paham bahasa Bali umum cukup untuk memahami praktek hariannya, tapi tidak cukup untuk memasuki teks pedoman kependetaan yang ditulis dalam aksara Bali, berbahasa Kawi dan Sanskerta.


7. Tiga bahasa tersebut, dan melek aksara Bali, menjadi keharusan bagi siapapun yang ingin memasuki ke dalaman teks lisan dan tertulis yang menjadi pedoman Hindu di Bali. Tanpa pemahaman baik dan mendalam dari 3 bahasa ini, akan sangat diragukan kedalaman pemahaman teks yang dimiliki.

Namun, sekalipun demikian, sekalipun punya kepasihan berbahasa ketiga bahasa yang dipakai dalam masyarakat Hindu di Bali, juga tidak ada jaminan seseorang yang paham ajaran bisa sejajar pengetahuan dharmanya dengan tindakan hariannya dalam menjalankan dharma. [T]

——CATATAN: Jika dipakai rujukan adalah bentuk huruf sezaman dengan meterai tanah liat yang memuat mantra Budha, yang disebut “yete mantra” yang ditemukan di Bali, diduga berasal dari tahun 778 Masehi, maka telah 1242 tahun usia penggunaan Sansekerta di Bali.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Ibu di Masjid dan Hal yang Kemudian Kita Renungkan || Catatan dari Kampung di Singaraja

Next Post

Still We Rise | Balinese Women Movements: 2 Empowering Projects, 21 Inspiring Women

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Still We Rise | Balinese Women Movements: 2 Empowering Projects, 21 Inspiring Women

Still We Rise | Balinese Women Movements: 2 Empowering Projects, 21 Inspiring Women

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co