2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

TIGA BAHASA HINDU BALI | 1.107 tahun pemakaian Sanskerta, 1.019 tahun pemakaian Jawa Kuno di Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
December 24, 2020
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

— Catatan Harian Sugi Lanus, 24 Desember 2020


1. Warisan teks tertulis dan praktek ritual Hindu di Bali menggunakan 3 bahasa, yang secara historis sangat penting dalam proses beragama dan penurunan ajaran, yaitu: Bahasa Sanskerta, Bahasa Kawi (Jawa Kuno) dan Bahasa Bali.


2. Bahasa Sanskerta pemakaiannya masih dalam keseharian di Bali, yang paling umum adalah Puja Tri Sandhya yang menjadi bait-bait doa yang direkomendasikan diucapkan atau dilaksanakan 3 hari sehari — pagi-siang-sore — dan bentuk lain dari praktik harian pemakaian Sanserkerta adalah Puja Suryasewana yang diuncarkan dan praktekkan oleh kaum sulinggih yang telah memasuki diksa kepanditaan tertinggi.

i. Sejarahnya, seperti temuan prasasti di berbagai belahan kepulauan Nusantara, pemakaian bahasa Sansekerta telah dipakai setidaknya semenjak dikeluarkannya prasasti-prasasti Hindu di wilayah Kutai, Kalimantan bagian timur.

Batu Yupa dari Kutai, dengan prasasti dalam tulisan Pallawa, menggunakan bahasa Sansekerta, menjadi semacam tonggak pemakaian bahasa Sansekerta di Nusantara.

ii. Pemakaian Sanskerta tertua yang ditemukan di Bali sekitar tahun  914 M, dalam Prasasti Blanjong. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta India dan bahasa Bali Kuno, menggunakan dua aksara, aksara Nagari dan aksara Kawi atau dikenal juga sebagai aksara Jawa Kuno yang diturunkan dari aksara Pallawa. Menariknya bahasa Bali Kuno ditulis dalam aksara pra-Nagari berada di satu sisi pilar, sedangkan bahasa Sanskerta ditulis dalam aksara Jawa Kuno yang diturunkan dari Pallawa (disebut juga aksara Kawi). Pilar ini bertanggal menurut era Śaka, pada hari ketujuh dari setengah waxing (‘saptāmyāṁ sita’) dari bulan Phalguna tahun Śaka 835, yang bertepatan dengan 4 Februari 914 M— sebagaimana dihitung oleh Louis-Charles Damais.

Jika mengikuti perhitungan pakar prasasti, ahli Sanskerta dan pakar perhitungan kalender kuno almarhum Louis-Charles Damais, maka 4 Februari 2021 yang akan datang adalah 1107 tahun pemakaian bahasa Sanskerta di Bali. Tahun 2025 akan menjadi tonggak 1111 tahun pemakaian Sanskerta di Bali.

Semenjak 1000 tahun lampau itu masyarakat Bali telah mengetahui dan akrab dengan pemakaian Sansekerta di Bali. Dan yang paling menarik dari keberadaan atau tonggak aksara Bali, dari prasasti Blanjong kita melihat bahwa yang dipakai dalam penulisan bahasa Bali Kuno adalah aksara Pre Nagari, yang tidak lain adalah induk atau lebih tua dibandingkan dengan Devagari yang dipakai di India sekarang.

Aksara Nāgarī yang dipakai dalam penulisan Bahasa Bali Kuno adalah nenek moyang dari aksara Devanagari, Nandinagari dan varian lainnya. Biasanya digunakan untuk menulis bahasa Prakrit dan Sanskerta, tetapi dalam prasasti Blanjong dipakai menulis bahasa Bali Kuno. Aksara Nāgarī menjadi populer selama milenium pertama. Ini bukti bahwa Bali dalam konteks persebaran budaya Asia bersentuhan langsung dengan perkembangan pengetahuan milenium pertama.

Nāgarī berakar dari keluarga aksara Brahmi kuno dan digunakan secara teratur pada abad ke-7 M, dan secara umum telah sepenuhnya berkembang menjadi aksara Devanagari (aksara yang dipakai di India atau dalam kebanyakan kitab Weda) di sekitar akhir milenium pertama era umum.

Pulau Bali betul-betul menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan tradisi penulisan dan keberaksaraan yang penulisan tradisi Vedic era milenium pertama..

iii. Berbagai temuan lontar Puja, Stawa, dan pedoman pemujaan berbahasa Sansekerta di Bali disebut dalam klasifkasi Weda — jika kita merujuk pembagian dan klasifikasi Perpustakaan Lontar Kirtya Singaraja —  menjadi pokok penentu kehidupan beragama di Bali yang menjadi pedoman khusus kalangan pendeta.

Berbagai Arga Patra pedoman pemujaan sulinggih kita temukan di Kirtya dengan kandungan pemujaan berbahasa Sanskerta, hanya pengantar atau petunjuk bagaimana sikap memuja yang berbahasa Jawa Kuno, selebihnya mantra 100% Sanskerta. Di antaranya:  Lontar 6604 / Ib Arga Puja Parikrama, Lontar 6759 / Ic Arggha Patra, Lontar 7067/1b Arggha Patra, Lontar 2461 / Ib Arghapatra Resi Puja, Lontar 1778 / Ic Asta Prenawa, Lontar 74/8.Ib Astaka Mantra, Lontar 1843 / Ib Astawa Mantra, dstnya.

Lontar berbahasa Sanskerta yang menjadi pedoman etika atau susila yang terwariskan menjadi pedoman etik dan dharma diantara: Slokantara, Sarasamuscaya, dan berbagai pedoman pengajaran kutipan Ramayana yang menjadi pedoman pengajaran Sanskerta di Nusantara.

Teks keagamaan yang bernuasa ajaran Kesiwaan yang bertajuk atau dalam payung Jnana Siddhanta dengan berbagai variasinya meninggalkan jejak kuat mengakarnya pemakaian Sansekerta di kalangan para cendikiawan dan pendeta di masa silam di Bali.


3. Bahasa kedua setelah Sansekrta adalah Jawa Kuno atau Kawi, menjadi salah satu dari 3 pilar bahasa dalam Hinduisme di Bali.

Berbagai temuan prasasti di Bali memberikan gambaran kapan mulainya pemakaian bahasa Jawa Kuno di Bali. Tahun 804 Śaka (882 Masehi) sampai dengan pemerintahan Raja Anak Wungsu tahun 994 Śaka (1072 Masehi) bahasa Bali Kuno masih dipakai dalam prasasti Bali, setelah itu peran Bali Kuno sebagai bahasa prasasti digantikan oleh bahasa Jawa Kuno. Terlihat semenjak itulah pemakaian bahasa Jawa Kuno menjadi suatu kebiasaan penulisan prasasti di Bali menggunakan bahasa Jawa Kuno.

Setidaknya telah sekitar 950 tahun lalu dipakai Jawa Kuno di Bali. Ditengarai setelah Udayana menikah dengan Mahendradatta Bahasa Jawa Kuno masuk kerajaan Bali. Ada indikasi tahun 1001 Masehi ketika datang Mpu Kuturan, bahasa Jawa Kuno mulai berpengaruh dalam pemakaian keagamaan dan pedoman puja. Lontar pedoman kepemangkuan Kusumadewa dan Sangkulputih disebut sebagai peninggalan dari Mpu Kuturan. Jika ini benar adanya, maka telah 1019 tahun pemakaian Jawa Kuno di Bali.

i. Pedoman pemangku di Bali yang dikenal sebagai Kusuma Dewa dan Sangkuputih berbahasa Jawa Kuno dengan berbagai stawa berbahasa Sanskerta. Kusuma Dewa dan Sangkulputih sangat jelas “komposisi puja dan stawa” yang memang telah dibumikan atau berbasis kepentingan pemujaan di candi, pura atau parahyangan yang berkembang dalam tradisi Jawa Kuno atau Nusantara, yang diwarisi sampai hari ini menjadi pedoman pemujaan terpenting di kalangan pemangku. Kebahasaannya jelas Kawi dan bercampur bahasa Bali halus yang kelihatan sangat tua.

ii. Jika pemujaan dengan stawa berbahasa Sansekerta disebut dengan “maweda”, maka pemujaan dengan bahasa Jawa Kuno atau Kawi ini kadang disebut “masaa” atau “puja-saha”. Menggunakan bentukan ata frase Kawi kadang diselang-selingin dengan bahasa Bali singgih.

iii. Jika Suryasewana berbasis pemujaan di rumah masing-masing pendeta Siwa-Buddha-Rsi dengan murni Sansekerta, pemakaian buku manual pemujaan dengan bahasa Kawi ini menjadi praktek pelaksanaan upakara di odalan atau karya di parahyangan dan pura-pura. Pemujaan ke alam dewa yang komunikatif di pura dilakukan dengan Kawi oleh pemangku yang berpedoman Sangkulputih dan Kusumadewa.


4. Bahasa Bali Singgih dipakai dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali ketika memuja untuk “wilayah privat”; maksudnya sembahyang di rumah bersama keluarga dan bukan ketika memimpin upakara sebagaimana doa sulinggih atau pemangku untuk publik.

Dalam prosesi 3 bulanan, sebagai contoh, maka doa diucapkan dalam bahasa Bali. Keluarga berdoa bersama dalam bahasa Bali. Demikian juga ketika otonan. Persembahyangan ketika Tumpek Kandang, Bubuh, dll, dilakukan dalam bahasa Bali yang umum dipahami. Komunikasi pun seolah sedang berbicara atau berdialog dengan “yang tidak tampak”.

Pemujaan dengan bahasa Bali umum ini kadang disebut “sesontengan”. Umum pula dipakai memuja ketika “mayah sesangi” (bayar kaul) atau kesempatan yang sifatnya “privat’, bukan dalam konteks prosesi keagamaan publik seperti doa-doa mantra pendeta tinggi di depan publik yang diuncarkan dalam bahasa Sansekerta atau Jawa Kuno (Kawi).

Sesontengan atau doa dengan bahasa yang lumrah kita dengar dalam keseharian ini memang terasa paling akrab menjadi “bahasa agama Hindu Bali”. Karena bahasa keseharian inilah yang memang menjadi “ranah umat umum”. Bahasa Sanskerta, kecuali dalam Tri Sandhya dan Panca Krama, memang lebih merupakan bahasa pendeta tinggi. Bahasa Kawi dalam pemujaan lebih menjadi “bahasa Pemangku” dalam praktek persembahyangan di Bali.


5. Sekedar gambaran perbedaan bahasa Sanskerta, Kawi, dan bahasa Bali, maka berikut akan diberikan contoh mantra Sanskerta (i), puja Kawi (ii), dan piuning dalam bahasa Bali (iii).

(i) // 0 // iti āpaḥ stawa/ ma / oṃ gaṅgāpuruṣo mūrttiṇam/ brahmamaṇḍala waiṣṇawam/ gaṇgā ratnākara dewaṃ brahmāmūrtti trilokanam// jalanidhi mūrtti dewaṃ/ bhūmimatsyamahārodram/ bruṇadewa mahāliṅgam/ lembuharo indrātmakam// nāgendra krūramūrttiṇaṃ/ gajendra matsyawaktraṇam bruṇadewa maśarīram/ sarwwa jagat śuddhātmakam// jalanidhi mahāwiryyam/ brahmā wiṣṇu ṃaheśwaram sarwwa jagat prakīrttiṇaṃ/ sarwwa wighnawināśanam// indra parwwatamaṇḍalam/ jalanidhi mūrttiwīryyam/ rudra agni jwalitejo/ sarwwawighnawināśanam//

Ini adalah gambaran Sanskrit dalam lontar Bali, yang kadang sebut olah para ahli sebagai Sanskerta Nusantara atau Sanskerta yang dipakai atau berkembang di Nusantara.

(ii) Iki malih puja nira mangku Kulputih, Ma, Ong Bhatara Pasupati, pukulun manüsa nirä, angaturana padukä bhatara ngaturana paduka bhatara, angundang bhatara pukulun, pada tdun kayangan agung nuhut kukusang mnyan majagawu candana manngen, sami mapupul ring pasamuan kabeh, ta burat wangi mrik sumurit, siddhi rastu nama siwaya. Ong Ang Mang Ung. Iki rajah payuk wadah toya, pabrésihan. Rajah sékar, Ong Mang Ung Sah, ésat mrettha ya namah, Ong Mang Iswara ne namah, putih. Ong Ung Wisnu ne namah, ireng. Ong Brahma ne namah barak, Ong Hrang Hring Sah Paramasiwaditia ya namah.

Kita bisa melihat bagaimana pedoman pemujaan berbahasa Kawi atau Jawa Kuno dipakai sampai hari ini di Bali oleh pemangku yang berpedoman pada teks kepemangkuan Sangkulputih dan atau Kusuma Dewa.

 (iii) Inggih Ratu Paduka Betara, titiang pedek tangkil ring wengine mangkin, ngaturang pejati kukus harus, nunas ica, mangda titiang molihang merta, manda pemargin titiange setata galang. Dumumadak Ratu lédan mapaica karahayuan ring pianak titiang sami, mangda sami rahayu kelanturan…

Pemakaian bahasa Bali dalam doa harian persembahyangan pribadi ini sangat bersifat personal, kadang juga ditentukan oleh dialek dan ragam bahasa Bali yang berbeda antara masyarakat Bali pesisir dan Bali pegunungan yang punya dialek berbeda, demikian juga sor singgih, atau anggah-ungguh yang pola atau aturannya cukup berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.


6. Tidak beralasan mengatakan bahwa satu satu dari tiga bahasa tersebut, Sanskerta-Kawi-Bali, paling unggul atau utama. Dalam praktek doa harian, dalam tradisi pewarisan ajaran teks tertulis, dan dalam berbagai kegiataan keagamaan Hindu di Bali ketiganya menduduki posisi sama pentingnya dan saling mengisi, saling melengkapi.

Tiga pilar bahasa yang dipakai dalam Hindu Bali ini yang menjadikan Hindu Bali punya ciri kebahasaan yang tidak mudah dimasuki teks tertulisnya yang berbahasa Kawi dan Sansekrta. Masyarakat Bali atau luar Bali yang mau memasuki ajaran tertulis Hindu Bali, mau tidak mau, harus memahami Jawa Kuno dan Sanskerta jika ingin paham mendalam Hindu di Bali. Jika hanya paham bahasa Bali umum cukup untuk memahami praktek hariannya, tapi tidak cukup untuk memasuki teks pedoman kependetaan yang ditulis dalam aksara Bali, berbahasa Kawi dan Sanskerta.


7. Tiga bahasa tersebut, dan melek aksara Bali, menjadi keharusan bagi siapapun yang ingin memasuki ke dalaman teks lisan dan tertulis yang menjadi pedoman Hindu di Bali. Tanpa pemahaman baik dan mendalam dari 3 bahasa ini, akan sangat diragukan kedalaman pemahaman teks yang dimiliki.

Namun, sekalipun demikian, sekalipun punya kepasihan berbahasa ketiga bahasa yang dipakai dalam masyarakat Hindu di Bali, juga tidak ada jaminan seseorang yang paham ajaran bisa sejajar pengetahuan dharmanya dengan tindakan hariannya dalam menjalankan dharma. [T]

——CATATAN: Jika dipakai rujukan adalah bentuk huruf sezaman dengan meterai tanah liat yang memuat mantra Budha, yang disebut “yete mantra” yang ditemukan di Bali, diduga berasal dari tahun 778 Masehi, maka telah 1242 tahun usia penggunaan Sansekerta di Bali.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Ibu di Masjid dan Hal yang Kemudian Kita Renungkan || Catatan dari Kampung di Singaraja

Next Post

Still We Rise | Balinese Women Movements: 2 Empowering Projects, 21 Inspiring Women

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Still We Rise | Balinese Women Movements: 2 Empowering Projects, 21 Inspiring Women

Still We Rise | Balinese Women Movements: 2 Empowering Projects, 21 Inspiring Women

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co