6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kekasih Penyair

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
February 2, 2018
in Cerpen

Lukisan: Nyoman Wirata (cropping)

Cerpen: Kim Al Ghozali AM  

USIA kami selisih cukup jauh, dia dua belas tahun lebih tua dariku. Tapi itu tak menjadi soal, justru karena perbedaan itulah membuat hubungan kami menjadi sangat nyaman. Kedewasaan itulah yang membuatku takluk padanya. Dia selalu bisa meredakan gejolak – tempramentalku, dan sifat keibuannya membuatku merasa aman dari rasa cemas tanpa sebab yang seringkali datang tiba-tiba—menghantuiku. Idealnya, dia perempuan yang aku cari selama ini.

Kami pertama kali dipertemukan di sebuah acara sastra di kota yang cukup jauh dari kotaku, butuh waktu sekitar dua puluh jam untuk sampai ke sana dengan perjalanan darat. Kebetulan saat itu aku menjadi pembicara pada salah satu sesi dalam acara tersebut, dan dia menjadi peserta diskusi. Pada sesi tanya jawab, dialah perempuan yang pertama-tama mengangkat tangan ketika moderator acara memberi kesempatan bertanya kepada peserta.

“Mengapa penyair seromantis Anda sampai sekarang belum punya kekasih?” begitulah pertanyaan yang diajukan perempuan itu, yang sontak disertai sorak-tawa peserta lainnya. Ketika waktu menjawab tiba, tentu aku memberi jawaban selugas mungkin untuk menjaga imej–ku di dalam forum dan sebagai penyair, sambil disertai kalimat jenaka.

“Saya masih setia pada puisi, Mbak. Tapi ada juga saatnya nanti saya membagi kesetiaan saya antara puisi dan perempuan.” Tutupku atas jawaban kepada perempuan itu. Dan dia tampak tersenyum.

Seperti lumrahnya acara-acara sastra ketika diskusi formal berakhir, para pemateri atau penulis undangan selalu diserbu oleh para peserta, entah itu meminta tanda tangan untuk bukunya, mengajak selfi atau berbincang seputar kepenulisan serta bertanya ini itu karena belum puas dengan materi yang disajikan, dan itu berlaku tak terkecuali diriku.

Teman pemateriku telah dikerubungi para peserta, sebagian besar perempuan-perempuan muda, mahasiswi, dan ia dengan sabar meladeni mereka mengajak foto satu persatu. Rambut gondrong, sedikit slenge’an, pakaiannya awut-awutan dan sorot matanya yang tajam tentu telah memenuhi syarat-syarat sebagai seniman secara badaniyah. Mungkin itu sebagai daya pesona tersendiri bagi para perempuan. Tapi lebih dari itu mungkin juga mereka kesengsem dengan puisi-puisi romantik yang ditulis temanku di buku keduanya yang baru-baru ini diterbitkan.

Cukup menggelikan rasanya bagiku dikerubungi perempuan hanya untuk mengajak foto atau minta tanda tangan, bahkan ada yang bersalaman dan mencium tanganku. Tapi, toh, tetap aja aku layani juga sampai selesai. Meski ada perasaan kesel namun juga menyenangkan.

Dan setelah satu-persatu para peserta keluar ruangan, kulihat perempuan itu masih juga berada di tempat duduknya, sendiri sambil memegang sebuah buku dengan cover berwarna merah. Tak lain buku itu adalah buku kumpulan puisiku yang terbit beberapa bulan lalu.

Dengan wajah agak sungkan dia memandangiku. Dan aku menghampirinya,  sedikit basa-basi kulontarkan pernyataan, “Terima kasih atas pertanyaannya tadi.” Kulihat dia tersenyum sambil memerah mukanya.

“Mas, minta tanda tangannya,” ucapnya pelan sambil menyodorkan buku.

“Terima kasih udah membeli bukuku,” ucapku setelah selesai menandatangani, untuk memancing obrolan lebih lanjut.

“Maaf loh, tadi udah bertanya agak ngawur.” Kini dia sudah tidak canggung lagi setelah ucapan itu. Dan dalam ruangan yang begitu terang dengan sorot lampu, kuamati wajahnya dari samping, tidak cantik tapi manis, dan menampakkan aura keibuannya.

“Aku suka puisimu yang ada di halaman dua puluh tiga. Naratif, romantis dan sedikit erotis. Tapi aku yakin itu cuma khayalan semata. Maksudnya bukan pengalaman empiris penulisnya,” ucapnya. Ucapan yang benar-benar terdengar menggoda bagiku.

“Dari mana bisa berprasangka kalau itu cuma khayalan semata, Mbak?”

“Ya ‘kan belum punya kekasih, paling-paling cuma mengkhayal,” sekaknya.

Tentu aku cuma tersenyum mendengar ucapan itu. Kemudian obrolan pun beralih ke seputar penulisan, teknik mengatasi kebuntuan ide, bertukar kontak dan pertanyaan basa-basi lainnya semacam naik apa ke sini, bersama siapa, memfollow facebookku, berapa hari menginap dan lain-lainnya yang sungguh tidak penting amat. Dari situ juga aku mengetahui dia berasal dari sebuah kota yang cukup jauh, dan datang hanya untuk mengikuti acaraku.

Beberapa jam setelah itu kami pun bersiap-siap untuk kembali ke kota masing-masing. Karena perjalan searah, kami sepakat untuk pulang bersama. Namun karena hari itu berbarengan dengan dimulainya libur panjang  akhirnya kami tidak kebagian tiket kereta api.

Dengan terpaksa dan sedikit menyesal diputuskanlah naik bis malam. Sesuatu yang selalu aku hindari ketika bepergian beberapa waktu terakhir ini.  Naik bis bukanlah sebuah momen yang tepat menikmati perjalanan, apalagi bis malam. Supir yang ugal-ugalan, calo di terminal, kejahatan yang bisa saja terjadi di dalam bis, macet, dsb. Setidaknya itu yang menjadi alasanku untuk lebih memilih naik kereta api.

Terminal agak sepi, tidak ramai seperti biasanya, mungkin karena sudah hampir jam sebelas malam. Hanya ada satu dua bis yang siap berangkat, dan kebetulan bis jurusan ke kotanya. Tanpa pikir panjang kami langsung menaiki bis itu. Cukup bagus, ber-AC dan dapat jatah air mineral.

Satu jam berjalan, dua jam berjalan, bis masih merambat pelan. Berhenti di beberapa halte kota untuk menaikkan penumpang. Bis berjalan lagi tapi supir tetap belum menunjukkan aksinya. Halus jalannya. Halus, lembut, seperti kendaraan iringan penganten. Dan kursi dalam bis baru terisi separuh.

Kami diam, hanya sesekali saling pandang. Entah,  kenapa tiba-tiba sulit rasanya aku mau mengeluarkan suara, memulai obrolan dengannya, kata-kata yang selama ini begitu akrab dan mudah kutuang dalam puisi menjadi menjauh, sulit kugiring ke otakku kemudian dikeluarkan lewat mulut.

Kota demi kota telah dilalui. Sudah sekitar jam satu dini hari. Lamat-lamat suasana mencair, kami duduk tanpa jarak sama sekali dan sesekali dia memegangangi tanganku. Di keremangan ruang bis kulihat dia tak menampakkan rasa ngantuk, begitu pun diriku.

“Ternyata kamu beda dengan puisi-puisimu ya, Mas,” bisiknya, yang membuatku terpaksa menatap mukanya di keremangan itu.

“Puisi-puisinya erotik dan agak nakal, tapi ternyata penyairnya sedikit pemalu,” lanjutnya.

“Apa kau menginginkan aku senakal puisi-puisiku?” godaku. Dia hanya tersenyum manja.

Kemudian kami terus mengobrol hal-hal sepele, jauh dari persoalan puisi. Tentang kehidupan pribadi masing-masing sampai soal rencana-rencana ke depannya. Hingga hari menjadi siang, hingga jalanan terang benderang dan tak lama setelah itu bis memasuki terminal terakhir, tiba di kotanya. Dari perbincangan itu kuketahui dia sudah bersuami dan punya anak satu.

“Lalu bagaimana dengan suamimu?” tanyaku sebelum kami turun dari bis dan berpisah.

Dia hanya terdiam. Seperti ada sesuatu yang berat dan ditahan ditenggorokannya. Dia mengalihkan perbincangan, lalu mengucapkan kata pisah sambil mengulurkan tangannya.  Mungkin dia tak bahagia, batinku.

“Dan naik bis ternyata menyenangkan ya,” ucapku kepadanya sebelum kami saling menjauh, dan dia telah ditunggu suaminya di luar terminal, dijemput.

***

Meski berbeda kota hubungan kami terus berlanjut, semakin intim bahkan hampir-hampir tak ada sesuatu yang disembunyikan antara satu sama lain. Dia juga sering bercerita tentang kehidupan keluarganya, tentang anaknya yang baru masuk SMA atau tentang rutinitasnya sehari-hari.

Dan sesekali aku datang ke kotanya untuk menemuinya, tentu saja bisa dibayangkan bagaimana ribetnya menjalin affair itu, lebih ribet dari menjalin kisah dengan ABG cabe-cabean yang masih tidur dengan emaknya, bahkan, pun hanya untuk bertemu. Juga, dua tiga kali dia datang ke kotaku, menemuiku dan itu lebih mudah.

Ketika kami berjauhan kembali, sesekali dia kukirimi penggalan puisi kangennya WS Rendra melalui pesan WhatsApp—media yang selama ini menjadi perantara kami. “Engkau telah menjadi racun bagi darahku. Apabila aku dalam kangen dan sepi, itulah berarti aku tungku tanpa api.”

Aku tidak tahu seperti apa air mukanya ketika menerima penggalan puisi itu, namun aku yakin dia senang dan itu ditunjukkan melalui simbol-emotion yang dibalaskan kepadaku. Kadang juga kukirimi penggalan puisi-puisi erotiknya Rimbaud atau kutipan dari soneta cintanya Pablo Neruda, penyair masyhur kelahiran Chili itu. Sesekali pula kubacakan puisi langsung ketika kami mengobrol melalui telepon.

“Kalau kamu baca puisi, suaramu selalu mengingatkan aku pada sandiwara radio—Tutur Tinular,” kelakarnya dari seberang sana.

Sebagai balasannya aku selalu memintanya bernyanyi, karena dia memang punya suara yang merdu. Akhirnya mengalunlah lagu Negeri di Awan-nya Katon Bagaskara, lagu kesukaannya. Tentu dengan cara-cara begitulah kami merawat cinta jarak jauh kami agar tidak layu.

Pada suatu kali, perempuanku—panggilan akrabku kepadanya—mengirim pesan singkat saja kepadaku, memberitahukan bahwa dia kini hamil lagi. Baguslah, tentu saja aku merespon begitu. Toh, juga perempuan bersuami. Berarti dia akan punya anak lagi. Beruntunglah orang yang dikaruniai anak, apalagi lebih dari satu. Lihat  di luar sana banyak sekali lelaki ataupun perempuan yang ingin menikah agar segera punya anak. Banyak pula pasangan sudah menikah selama bertahun-tahun dan belum dikaruniai anak. Tentu betapa tersiksanya batin mereka, mendambakan keturunan untuk melanjutkan silsilahnya, merumatnya di hari tuanya.

Setelah itu dia tidak menceritakan apa-apa lagi, maksudku hal-hal penting mengenai dirinya. Kadang-kadang hanya memberi sebuah laporan kepadaku melalui pesan singkat mengenai dirinya, bahwa dirinya sehat dan normal. Hingga pada tiba hari persalinannya, sang bayi keluar dari rahimnya.

“Mas… Anakmu udah lahir. Anak kita...”.                

Bunyi sebuah chat yang membuatku kaget, tapi sekaligus senang dan terheran-heran. Anakku? Sebelum aku membalas chat-nya, dia sudah membanjiri beberapa kalimat lagi.

“Lihat, matanya mirip benar dengan kamu, hidungnya, bibirnya…”

Sambil mengirimi aku beberapa foto tentang bayi itu.

“Seperti halnya anak pertamaku, nanti anak ini juga aku yang akan memberikan nama. Kunamakan dia Milza, sebagai kebalikan dari namamu: Zamil. Milza Setiawan.”

Dari situ kuketahui dia berkelamin laki-laki. Aku melompat girang, aku telah punya anak, dan lebih awal dari seperti yang kubayangkan. Tapi kemudian, tiba-tiba aku menjadi bingung dan sedih, benarkah aku telah punya anak? Benarkah dia anakku, darah dagingku? Bagaimana nasib ke depannya antara aku dengan anakku? (T)  

Tags: Cerpen
Share75TweetSendShareSend
Previous Post

Senang Melihat Lansia Senam dengan Gembira – Kabar KKN Undiksha di Sampalan Tengah

Next Post

JUS/t/KUSTIK di Apple Mart Singaraja: Buah, Musik, dan Hal-hal yang Menyehatkan

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post

JUS/t/KUSTIK di Apple Mart Singaraja: Buah, Musik, dan Hal-hal yang Menyehatkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co