24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenakalan Remaja di Bali, Jangan-Jangan Ini Kegagalan Pendidik?

I Gusti Bagus Weda Sanjaya by I Gusti Bagus Weda Sanjaya
June 3, 2024
in Esai
Kenakalan Remaja di Bali, Jangan-Jangan Ini Kegagalan Pendidik?

Ilustrasi tatkala.co

BEREDAR kembali video viral mengenai pemukulan mahasiswa di salah satu toko 24 jam di Denpasar. Pemukulan ini dilakukan oleh sekelompok pemuda yang dalam video tampak datang dengan tingkah jagoan. Tanpa baju. Tanpa basa-basi, memukul pemuda yang sedang nongkrong di depan toko. Bahkan salah satu pelaku pemukulan tersebut nampak membawa sebuah senjata tajam. Ngeri. Menyaksikan video tersebut yang kebetulan lewat di linimasa media sosial saya, ada perasaan sangat miris di benak saya sebagai seorang pendidik.

Mereka, para pelaku pemukulan tersebut adalah sekelompok pemuda yang sepertinya masih belum jauh dari usia sekolah. Atau, jangan-jangan mereka semua masih berstatus pelajar? Bagaimana seorang yang terdidik bisa berperilaku seperti itu? Bagaimana mereka melewati masa-masa sekolahnya? Tidakkah mereka mendapat pendidikan karakter di bangku sekolah? Atau, inilah bukti bahwa pendidikan karakter yang digaungkan pemerintah kita gagal total? Atau kamilah, para pendidik yang telah gagal?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat saya mencoba berpikir reflektif. Jangan-jangan mereka adalah korban dari kegagalan kami selaku pendidik? Mereka adalah korban. Mereka adalah produk pembentukan disiplin kami yang mengarah pada identitas gagal. Kamilah yang membentuk mereka menjadi orang-orang gagal.

Dalam pembentukan disiplin, Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) menyebutkan bahwa guru sujatinya memiliki lima posisi kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pemantau dan manajer. Posisi kontrol penghukum dan pembuat rasa bersalah ini akan mengacu pada pembentukan identitas gagal pada murid.

Saat murid dihukum, dibentak, atau diancam oleh guru, murid akan menjadi pendendam atau berperilaku agresif. Sebaliknya, saat guru hadir dengan nada halus namun dengan tujuan membuat rasa bersalah, murid akan menjadi individu yang merasa dirinya gagal dan tidak sanggup membahagiakan orang lain. Kadang-kadang hal ini bisa lebih berbahaya dibanding murid yang dihukum, karena murid tertekan tiba-tiba bisa meletus amarahnya dan bisa menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Posisi kontrol teman dan pemantau dapat mengarah pada identitas berhasil, namun masih pada tataran kontrol positif oleh guru. Melalui kontrol seperti ini, murid akan menjadi pribadi yang disiplin namun tidak secara mandiri. Tidak memiliki disiplin diri. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang disiplin hanya untuk menjaga hubungan dengan guru, atau hanya jika diawasi. Disiplin semacam ini tidak akan bertahan lama dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Idealnya, guru dapat menciptakan identitas berhasil dengan penumbuhan kontrol diri pada murid, melalui posisi kontrol guru sebagai manajer. Dalam menjalankan posisi kontrol manajer ini, guru lebih banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berusaha menguatkan watak atau karakter, sehingga murid akan mengevaluasi diri untuk menemukan cara menjadi diri yang lebih baik.  Guru tidak hadir sebagai penghukum, tidak juga sebagai pemantau. Namun, saat murid melakukan kesalahan, guru akan berusaha membantu murid untuk menemukan solusi akan kesalahannya, dan menemukan pembelajaran dari kesalahan tersebut.

Hal ideal ini memang terdengar sangat sulit untuk dilakukan. Dalam menjalankan peran kontrol manajer ini, kita diperkenalkan dengan istilah restitusi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat.

Melalui restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya. Restitusi menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah. Ini sesuai dengan prinsip dari teori kontrol William Glasser tentang solusi menang-menang. Ada peluang luar biasa bagi murid untuk bertumbuh ketika mereka melakukan kesalahan, bukankah pada hakikatnya begitulah cara kita belajar. Murid perlu bertanggung jawab atas perilaku yang mereka pilih, namun mereka juga dapat memilih untuk belajar dari pengalaman dan membuat pilihan yang lebih baik di waktu yang akan datang.

Secara lebih teknis, pelaksanaan restitusi oleh guru dilakukan melalui tiga tahapan yang disebut dengan segi tiga restitusi, yaitu menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Melalui tiga tahapan inilah murid diharapkan menemukan jawaban atas kesalahannya, tanpa membuat ia merasa menjadi individu yang gagal. Murid belajar bertanggung jawab, dan siap kembali pada kelompoknya tanpa mencederai harga dirinya.

Sepertinya konsep restitusi ini masih awam di telinga kita. Kami, para guru, para pendidik masih belum banyak memahami tentang restitusi ini. Bahkan, saat tau akan konsepnya, mungkin sebagian besar akan apatis, apakah hal ini bisa diterapkan di hadapan murid-murid kami? Selama ini para guru sudah sangat terbiasa dengan posisi kontrol sebagai penghukum. Saat menemukan murid yang melanggar aturan, guru akan dengan semangat menghukum dengan dalih untuk membiasakan mereka menaati peraturan.

Mungkin semenjak kehadiran seorang senator yang suka menghukum para guru penghukum, guru mulai beranjak ke posisi kontrol pembuat rasa bersalah, atau mungkin sebagai teman. Hal ini dapat dikatakan sebagai sebuah perkembangan positif. Namun belum cukup. Disiplin yang dibentuk dari kontrol ini masih belum mampu menghadirkan disiplin diri murid. Motivasi untuk berperilaku disiplin belum berasal dari motivasi internal.

Jika kita berbicara lebih jauh mengenai motivasi, secara umum ada tiga motivasi perilaku manusia, yaitu untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, dan yang paling ideal adalah untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Pembentukan disiplin di sekolah-sekolah belum banyak yang berhasil menyentuh motivasi yang ketiga tersebut. Murid cenderung dibentuk untuk disiplin agar dapat menghindari hukuman, atau mendapat pujian. Mereka tidak terbiasa menggali nilai-nilai kebajikan dari aturan-aturan yang harus mereka ikuti.

Maka, kamilah yang gagal menanamkan nilai-nilai kebajikan ini. Kami berkutat pada penegakan aturan. Layaknya seorang polisi di sekolah, kami berpatroli mencari murid yang melanggar aturan, mengejar mereka, dan menghukumnya. Mereka dihukum, tanpa mereka berhasil menemukan nilai kebajikan dari aturan tersebut. Mereka hanya tau mereka telah gagal mengikuti aturan, mereka layak dihukum. Kejadian serupa yang berulang menjadi hal yang biasa bagi mereka, tanpa ada pelajaran yang bermakna.

Saya membayangkan para pemuda yang melakukan aksi pemukulan tersebut saat berada di sekolah. Dengan seragam sekolah yang tak rapi, mereka nongkrong di kantin sekolah. Datanglah salah seorang guru yang ditugaskan menegakkan disiplin oleh kepala sekolah. Guru itu datang dengan wajah galak, kemudian menunjuk-nunjuk para murid itu, memelototi sambil membentak. Lalu mereka dihukum, dijejerkan di lapangan sekolah, dijemur, disaksikan teman-teman mereka. Mereka didisiplinkan. Dan jadilah diri mereka yang ada pada video itu.

Maka, kamilah yang gagal menanamkan disiplin pada mereka. Kamilah yang patut disalahkan. Kami gagal menanamkan budaya positif pada murid-murid kami. Kegagalan mereka adalah karena kegagalan kami. Mungkin kami yang perlu direstitusi. [T]

Bulan Merdeka Belajar di Tengah Tragedi  Pendidikan 
Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Melihat Realitas Pendidikan Lebih Dekat dan Nyata
Guru Pengerak, “Transformasi dari Guru Mengajar Menjadi Guru Belajar”
Memaknai Esensi Guru Pengerak: Siapa yang Digerakkan?
Selamatkan Pendidikan Anak-Anak Desa Terpencil di Bangli
Tags: gurukenakalan remajaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bersama Swasthi Bandem dan Luh Menek, Membincangkan Peran Perempuan dalam Seni Pertunjukan

Next Post

Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

Pembelajar yang ditugaskan menemani pembelajar lain untuk belajar. Serupa guru. Lahir di Tabanan, lereng selatan Gunung Batukaru.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les

Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co