14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenakalan Remaja di Bali, Jangan-Jangan Ini Kegagalan Pendidik?

I Gusti Bagus Weda Sanjaya by I Gusti Bagus Weda Sanjaya
June 3, 2024
in Esai
Kenakalan Remaja di Bali, Jangan-Jangan Ini Kegagalan Pendidik?

Ilustrasi tatkala.co

BEREDAR kembali video viral mengenai pemukulan mahasiswa di salah satu toko 24 jam di Denpasar. Pemukulan ini dilakukan oleh sekelompok pemuda yang dalam video tampak datang dengan tingkah jagoan. Tanpa baju. Tanpa basa-basi, memukul pemuda yang sedang nongkrong di depan toko. Bahkan salah satu pelaku pemukulan tersebut nampak membawa sebuah senjata tajam. Ngeri. Menyaksikan video tersebut yang kebetulan lewat di linimasa media sosial saya, ada perasaan sangat miris di benak saya sebagai seorang pendidik.

Mereka, para pelaku pemukulan tersebut adalah sekelompok pemuda yang sepertinya masih belum jauh dari usia sekolah. Atau, jangan-jangan mereka semua masih berstatus pelajar? Bagaimana seorang yang terdidik bisa berperilaku seperti itu? Bagaimana mereka melewati masa-masa sekolahnya? Tidakkah mereka mendapat pendidikan karakter di bangku sekolah? Atau, inilah bukti bahwa pendidikan karakter yang digaungkan pemerintah kita gagal total? Atau kamilah, para pendidik yang telah gagal?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat saya mencoba berpikir reflektif. Jangan-jangan mereka adalah korban dari kegagalan kami selaku pendidik? Mereka adalah korban. Mereka adalah produk pembentukan disiplin kami yang mengarah pada identitas gagal. Kamilah yang membentuk mereka menjadi orang-orang gagal.

Dalam pembentukan disiplin, Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) menyebutkan bahwa guru sujatinya memiliki lima posisi kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pemantau dan manajer. Posisi kontrol penghukum dan pembuat rasa bersalah ini akan mengacu pada pembentukan identitas gagal pada murid.

Saat murid dihukum, dibentak, atau diancam oleh guru, murid akan menjadi pendendam atau berperilaku agresif. Sebaliknya, saat guru hadir dengan nada halus namun dengan tujuan membuat rasa bersalah, murid akan menjadi individu yang merasa dirinya gagal dan tidak sanggup membahagiakan orang lain. Kadang-kadang hal ini bisa lebih berbahaya dibanding murid yang dihukum, karena murid tertekan tiba-tiba bisa meletus amarahnya dan bisa menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Posisi kontrol teman dan pemantau dapat mengarah pada identitas berhasil, namun masih pada tataran kontrol positif oleh guru. Melalui kontrol seperti ini, murid akan menjadi pribadi yang disiplin namun tidak secara mandiri. Tidak memiliki disiplin diri. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang disiplin hanya untuk menjaga hubungan dengan guru, atau hanya jika diawasi. Disiplin semacam ini tidak akan bertahan lama dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Idealnya, guru dapat menciptakan identitas berhasil dengan penumbuhan kontrol diri pada murid, melalui posisi kontrol guru sebagai manajer. Dalam menjalankan posisi kontrol manajer ini, guru lebih banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berusaha menguatkan watak atau karakter, sehingga murid akan mengevaluasi diri untuk menemukan cara menjadi diri yang lebih baik.  Guru tidak hadir sebagai penghukum, tidak juga sebagai pemantau. Namun, saat murid melakukan kesalahan, guru akan berusaha membantu murid untuk menemukan solusi akan kesalahannya, dan menemukan pembelajaran dari kesalahan tersebut.

Hal ideal ini memang terdengar sangat sulit untuk dilakukan. Dalam menjalankan peran kontrol manajer ini, kita diperkenalkan dengan istilah restitusi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat.

Melalui restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya. Restitusi menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah. Ini sesuai dengan prinsip dari teori kontrol William Glasser tentang solusi menang-menang. Ada peluang luar biasa bagi murid untuk bertumbuh ketika mereka melakukan kesalahan, bukankah pada hakikatnya begitulah cara kita belajar. Murid perlu bertanggung jawab atas perilaku yang mereka pilih, namun mereka juga dapat memilih untuk belajar dari pengalaman dan membuat pilihan yang lebih baik di waktu yang akan datang.

Secara lebih teknis, pelaksanaan restitusi oleh guru dilakukan melalui tiga tahapan yang disebut dengan segi tiga restitusi, yaitu menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Melalui tiga tahapan inilah murid diharapkan menemukan jawaban atas kesalahannya, tanpa membuat ia merasa menjadi individu yang gagal. Murid belajar bertanggung jawab, dan siap kembali pada kelompoknya tanpa mencederai harga dirinya.

Sepertinya konsep restitusi ini masih awam di telinga kita. Kami, para guru, para pendidik masih belum banyak memahami tentang restitusi ini. Bahkan, saat tau akan konsepnya, mungkin sebagian besar akan apatis, apakah hal ini bisa diterapkan di hadapan murid-murid kami? Selama ini para guru sudah sangat terbiasa dengan posisi kontrol sebagai penghukum. Saat menemukan murid yang melanggar aturan, guru akan dengan semangat menghukum dengan dalih untuk membiasakan mereka menaati peraturan.

Mungkin semenjak kehadiran seorang senator yang suka menghukum para guru penghukum, guru mulai beranjak ke posisi kontrol pembuat rasa bersalah, atau mungkin sebagai teman. Hal ini dapat dikatakan sebagai sebuah perkembangan positif. Namun belum cukup. Disiplin yang dibentuk dari kontrol ini masih belum mampu menghadirkan disiplin diri murid. Motivasi untuk berperilaku disiplin belum berasal dari motivasi internal.

Jika kita berbicara lebih jauh mengenai motivasi, secara umum ada tiga motivasi perilaku manusia, yaitu untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, dan yang paling ideal adalah untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Pembentukan disiplin di sekolah-sekolah belum banyak yang berhasil menyentuh motivasi yang ketiga tersebut. Murid cenderung dibentuk untuk disiplin agar dapat menghindari hukuman, atau mendapat pujian. Mereka tidak terbiasa menggali nilai-nilai kebajikan dari aturan-aturan yang harus mereka ikuti.

Maka, kamilah yang gagal menanamkan nilai-nilai kebajikan ini. Kami berkutat pada penegakan aturan. Layaknya seorang polisi di sekolah, kami berpatroli mencari murid yang melanggar aturan, mengejar mereka, dan menghukumnya. Mereka dihukum, tanpa mereka berhasil menemukan nilai kebajikan dari aturan tersebut. Mereka hanya tau mereka telah gagal mengikuti aturan, mereka layak dihukum. Kejadian serupa yang berulang menjadi hal yang biasa bagi mereka, tanpa ada pelajaran yang bermakna.

Saya membayangkan para pemuda yang melakukan aksi pemukulan tersebut saat berada di sekolah. Dengan seragam sekolah yang tak rapi, mereka nongkrong di kantin sekolah. Datanglah salah seorang guru yang ditugaskan menegakkan disiplin oleh kepala sekolah. Guru itu datang dengan wajah galak, kemudian menunjuk-nunjuk para murid itu, memelototi sambil membentak. Lalu mereka dihukum, dijejerkan di lapangan sekolah, dijemur, disaksikan teman-teman mereka. Mereka didisiplinkan. Dan jadilah diri mereka yang ada pada video itu.

Maka, kamilah yang gagal menanamkan disiplin pada mereka. Kamilah yang patut disalahkan. Kami gagal menanamkan budaya positif pada murid-murid kami. Kegagalan mereka adalah karena kegagalan kami. Mungkin kami yang perlu direstitusi. [T]

Bulan Merdeka Belajar di Tengah Tragedi  Pendidikan 
Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Melihat Realitas Pendidikan Lebih Dekat dan Nyata
Guru Pengerak, “Transformasi dari Guru Mengajar Menjadi Guru Belajar”
Memaknai Esensi Guru Pengerak: Siapa yang Digerakkan?
Selamatkan Pendidikan Anak-Anak Desa Terpencil di Bangli
Tags: gurukenakalan remajaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bersama Swasthi Bandem dan Luh Menek, Membincangkan Peran Perempuan dalam Seni Pertunjukan

Next Post

Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

Pembelajar yang ditugaskan menemani pembelajar lain untuk belajar. Serupa guru. Lahir di Tabanan, lereng selatan Gunung Batukaru.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les

Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co