2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenakalan Remaja di Bali, Jangan-Jangan Ini Kegagalan Pendidik?

I Gusti Bagus Weda Sanjaya by I Gusti Bagus Weda Sanjaya
June 3, 2024
in Esai
Kenakalan Remaja di Bali, Jangan-Jangan Ini Kegagalan Pendidik?

Ilustrasi tatkala.co

BEREDAR kembali video viral mengenai pemukulan mahasiswa di salah satu toko 24 jam di Denpasar. Pemukulan ini dilakukan oleh sekelompok pemuda yang dalam video tampak datang dengan tingkah jagoan. Tanpa baju. Tanpa basa-basi, memukul pemuda yang sedang nongkrong di depan toko. Bahkan salah satu pelaku pemukulan tersebut nampak membawa sebuah senjata tajam. Ngeri. Menyaksikan video tersebut yang kebetulan lewat di linimasa media sosial saya, ada perasaan sangat miris di benak saya sebagai seorang pendidik.

Mereka, para pelaku pemukulan tersebut adalah sekelompok pemuda yang sepertinya masih belum jauh dari usia sekolah. Atau, jangan-jangan mereka semua masih berstatus pelajar? Bagaimana seorang yang terdidik bisa berperilaku seperti itu? Bagaimana mereka melewati masa-masa sekolahnya? Tidakkah mereka mendapat pendidikan karakter di bangku sekolah? Atau, inilah bukti bahwa pendidikan karakter yang digaungkan pemerintah kita gagal total? Atau kamilah, para pendidik yang telah gagal?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat saya mencoba berpikir reflektif. Jangan-jangan mereka adalah korban dari kegagalan kami selaku pendidik? Mereka adalah korban. Mereka adalah produk pembentukan disiplin kami yang mengarah pada identitas gagal. Kamilah yang membentuk mereka menjadi orang-orang gagal.

Dalam pembentukan disiplin, Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) menyebutkan bahwa guru sujatinya memiliki lima posisi kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pemantau dan manajer. Posisi kontrol penghukum dan pembuat rasa bersalah ini akan mengacu pada pembentukan identitas gagal pada murid.

Saat murid dihukum, dibentak, atau diancam oleh guru, murid akan menjadi pendendam atau berperilaku agresif. Sebaliknya, saat guru hadir dengan nada halus namun dengan tujuan membuat rasa bersalah, murid akan menjadi individu yang merasa dirinya gagal dan tidak sanggup membahagiakan orang lain. Kadang-kadang hal ini bisa lebih berbahaya dibanding murid yang dihukum, karena murid tertekan tiba-tiba bisa meletus amarahnya dan bisa menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Posisi kontrol teman dan pemantau dapat mengarah pada identitas berhasil, namun masih pada tataran kontrol positif oleh guru. Melalui kontrol seperti ini, murid akan menjadi pribadi yang disiplin namun tidak secara mandiri. Tidak memiliki disiplin diri. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang disiplin hanya untuk menjaga hubungan dengan guru, atau hanya jika diawasi. Disiplin semacam ini tidak akan bertahan lama dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Idealnya, guru dapat menciptakan identitas berhasil dengan penumbuhan kontrol diri pada murid, melalui posisi kontrol guru sebagai manajer. Dalam menjalankan posisi kontrol manajer ini, guru lebih banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berusaha menguatkan watak atau karakter, sehingga murid akan mengevaluasi diri untuk menemukan cara menjadi diri yang lebih baik.  Guru tidak hadir sebagai penghukum, tidak juga sebagai pemantau. Namun, saat murid melakukan kesalahan, guru akan berusaha membantu murid untuk menemukan solusi akan kesalahannya, dan menemukan pembelajaran dari kesalahan tersebut.

Hal ideal ini memang terdengar sangat sulit untuk dilakukan. Dalam menjalankan peran kontrol manajer ini, kita diperkenalkan dengan istilah restitusi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat.

Melalui restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya. Restitusi menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah. Ini sesuai dengan prinsip dari teori kontrol William Glasser tentang solusi menang-menang. Ada peluang luar biasa bagi murid untuk bertumbuh ketika mereka melakukan kesalahan, bukankah pada hakikatnya begitulah cara kita belajar. Murid perlu bertanggung jawab atas perilaku yang mereka pilih, namun mereka juga dapat memilih untuk belajar dari pengalaman dan membuat pilihan yang lebih baik di waktu yang akan datang.

Secara lebih teknis, pelaksanaan restitusi oleh guru dilakukan melalui tiga tahapan yang disebut dengan segi tiga restitusi, yaitu menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Melalui tiga tahapan inilah murid diharapkan menemukan jawaban atas kesalahannya, tanpa membuat ia merasa menjadi individu yang gagal. Murid belajar bertanggung jawab, dan siap kembali pada kelompoknya tanpa mencederai harga dirinya.

Sepertinya konsep restitusi ini masih awam di telinga kita. Kami, para guru, para pendidik masih belum banyak memahami tentang restitusi ini. Bahkan, saat tau akan konsepnya, mungkin sebagian besar akan apatis, apakah hal ini bisa diterapkan di hadapan murid-murid kami? Selama ini para guru sudah sangat terbiasa dengan posisi kontrol sebagai penghukum. Saat menemukan murid yang melanggar aturan, guru akan dengan semangat menghukum dengan dalih untuk membiasakan mereka menaati peraturan.

Mungkin semenjak kehadiran seorang senator yang suka menghukum para guru penghukum, guru mulai beranjak ke posisi kontrol pembuat rasa bersalah, atau mungkin sebagai teman. Hal ini dapat dikatakan sebagai sebuah perkembangan positif. Namun belum cukup. Disiplin yang dibentuk dari kontrol ini masih belum mampu menghadirkan disiplin diri murid. Motivasi untuk berperilaku disiplin belum berasal dari motivasi internal.

Jika kita berbicara lebih jauh mengenai motivasi, secara umum ada tiga motivasi perilaku manusia, yaitu untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, dan yang paling ideal adalah untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Pembentukan disiplin di sekolah-sekolah belum banyak yang berhasil menyentuh motivasi yang ketiga tersebut. Murid cenderung dibentuk untuk disiplin agar dapat menghindari hukuman, atau mendapat pujian. Mereka tidak terbiasa menggali nilai-nilai kebajikan dari aturan-aturan yang harus mereka ikuti.

Maka, kamilah yang gagal menanamkan nilai-nilai kebajikan ini. Kami berkutat pada penegakan aturan. Layaknya seorang polisi di sekolah, kami berpatroli mencari murid yang melanggar aturan, mengejar mereka, dan menghukumnya. Mereka dihukum, tanpa mereka berhasil menemukan nilai kebajikan dari aturan tersebut. Mereka hanya tau mereka telah gagal mengikuti aturan, mereka layak dihukum. Kejadian serupa yang berulang menjadi hal yang biasa bagi mereka, tanpa ada pelajaran yang bermakna.

Saya membayangkan para pemuda yang melakukan aksi pemukulan tersebut saat berada di sekolah. Dengan seragam sekolah yang tak rapi, mereka nongkrong di kantin sekolah. Datanglah salah seorang guru yang ditugaskan menegakkan disiplin oleh kepala sekolah. Guru itu datang dengan wajah galak, kemudian menunjuk-nunjuk para murid itu, memelototi sambil membentak. Lalu mereka dihukum, dijejerkan di lapangan sekolah, dijemur, disaksikan teman-teman mereka. Mereka didisiplinkan. Dan jadilah diri mereka yang ada pada video itu.

Maka, kamilah yang gagal menanamkan disiplin pada mereka. Kamilah yang patut disalahkan. Kami gagal menanamkan budaya positif pada murid-murid kami. Kegagalan mereka adalah karena kegagalan kami. Mungkin kami yang perlu direstitusi. [T]

Bulan Merdeka Belajar di Tengah Tragedi  Pendidikan 
Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Melihat Realitas Pendidikan Lebih Dekat dan Nyata
Guru Pengerak, “Transformasi dari Guru Mengajar Menjadi Guru Belajar”
Memaknai Esensi Guru Pengerak: Siapa yang Digerakkan?
Selamatkan Pendidikan Anak-Anak Desa Terpencil di Bangli
Tags: gurukenakalan remajaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bersama Swasthi Bandem dan Luh Menek, Membincangkan Peran Perempuan dalam Seni Pertunjukan

Next Post

Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

Pembelajar yang ditugaskan menemani pembelajar lain untuk belajar. Serupa guru. Lahir di Tabanan, lereng selatan Gunung Batukaru.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les

Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co