24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilema Membuka Diri Orang dengan Gangguan Jiwa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 31, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

“TATAPAN matamu kok kosong? Kamu (mengalami) depresi, ya?” kalimat itu masih saya ingat, datang dari pemilik sebuah galeri seni di Kuta Selatan, Badung, Bali. Kala itu saya melamar pekerjaan sebagai staf, informasi lowongan pekerjaan saya dapatkan dari internet.

Setelah mengirim surat lamaran dan curriculum vitae melalui surel, beberapa hari kemudian saya dihubungi untuk hadir dalam wawancara kerja. Saya datang dengan hati senang, menjawab setiap pertanyaan pemilik galeri dengan lancar. Dia pun rupanya tertarik untuk mempekerjakan saya. Ketika itu dia mengatakan saya diterima bekerja dan akan dihubungi lagi melalui telepon.

Tiga hari berikutnya, dia menelepon saya dan membatalkan penerimaan kerja sebelumnya. Kecewa, tentu. Tetapi saya mencoba untuk sabar dan menerima apa yang terjadi saat itu. Masa-masa tersebut saya masih dalam pemulihan dari skizofrenia.

Usai lima tahun menetap di kampung halaman, saya memberanikan diri untuk kembali ke Denpasar untuk mencari pekerjaan. Tidak mudah ternyata bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang telah pulih untuk kembali bekerja. Stigma tentang kesehatan mental begitu kental di masyarakat.

Mereka menganggap ODGJ pasti tidak bisa bekerja, padahal banyak dari kami yang bahkan punya prestasi di tempat kerja, terlepas dari gangguan jiwa yang dialami. Asalkan rutin berkonsultasi pada psikolog/psikiater, juga tidak pernah putus obat, rasanya ODGJ tidak berbeda dengan orang lain, mampu untuk bekerja.

Karena stigma itu pula, kawan-kawan ODGJ yang saya kenal menjadi takut untuk membuka diri, terutama pada saat melamar pekerjaan. Syarat penerimaan kerja yang sejak dulu ada, yakni “sehat jasmani dan rohani” seakan membatasi dan terkesan menjadi sebuah diskriminasi terutama bagi penyandang disabilitas, termasuk di dalamnya disabilitas mental—para penyintas gangguan jiwa yang telah pulih dan baik-baik saja.

Inklusivitas

Di Indonesia, sejak beberapa tahun belakangan, mulai banyak perusahaan yang menerima karyawan dan karyawati penyandang disabilitas. Ini sangat bagus. Inklusivitas menjadi tidak hanya jargon dan slogan, tetapi benar-benar dilaksanakan.

Inklusivitas adalah keadaan di mana semua orang dihargai dan diterima apa adanya, terlepas dari perbedaan mereka. Dalam konteks ketenagakerjaan, inklusivitas berarti menciptakan lingkungan kerja yang ramah dan terbuka bagi semua orang, termasuk penyandang disabilitas.

Perusahaan di Indonesia diwajibkan untuk mempekerjakan penyandang disabilitas sejak tahun 2016, dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Undang-undang ini mengatur perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1% (satu persen) penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. (Pasal 53 ayat (2)).

Selain itu, perusahaan wajib menyediakan aksesibilitas di tempat kerja bagi penyandang disabilitas. (Pasal 54). Terakhir, perusahaan dilarang mendiskriminasi penyandang disabilitas dalam proses rekrutmen, pelatihan, dan pengembangan karir. (Pasal 55).

Inklusivitas di tempat kerja sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang ramah dan terbuka bagi semua orang. Bagi perusahaan, mempekerjakan penyandang disabilitas dapat memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, seperti meningkatkan keragaman, inklusivitas, citra perusahaan, produktivitas, dan kinerja.

Persentase perusahaan di Indonesia yang menerima pekerja penyandang disabilitas masih tergolong rendah. Menurut survei Kementerian Ketenagakerjaan tahun 2021, hanya 13,56% perusahaan yang telah memenuhi kuota minimal 1% pekerja penyandang disabilitas.

Penelitian Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) tahun 2022 menyebut, hanya 30,3% perusahaan yang sudah memiliki kebijakan inklusi disabilitas, dan hanya 14,2% perusahaan yang telah mempekerjakan penyandang disabilitas.

Meskipun masih rendah, ada beberapa perusahaan di Indonesia yang sudah berkomitmen untuk inklusivitas disabilitas dan telah mempekerjakan penyandang disabilitas dengan proporsi yang lebih tinggi dari kuota minimal.

Meskipun masih banyak tantangan, inklusivitas disabilitas di tempat kerja di Indonesia terus berkembang. Dengan komitmen dan kerjasama dari semua pihak, diharapkan semakin banyak perusahaan yang menerima dan mempekerjakan penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat berkontribusi dan mencapai potensi penuh mereka.

Stigma “gila”

Berbeda dengan penyandang disabilitas fisik, penyandang disabilitas mental seperti penyintas skizofrenia, gangguan cemas, bipolar bahkan mereka yang mengalami depresi lebih sulit untuk mencari pekerjaan karena stigma bahwa mereka adalah ODGJ yang dalam bahasa awam adalah “gila”.

Dalam pandangan umum, ODGJ tidak akan bisa pulih, tak punya masa depan, membahayakan dan dianggap tidak mampu mengerjakan apa yang menjadi tugas mereka jika diterima bekerja baik pada perusahaan kecil maupun perusahaan besar.

Karena itulah ODGJ yang telah pulih banyak yang memilih untuk tidak berterus terang tentang penyakit mereka saat proses rekruitmen pekerja. Sulitnya, ketika jadwal berobat, biasanya satu bulan sekali, ODGJ yang telah diterima sebagai karyawan atau karyawati, mereka mesti berbohong untuk meminta izin tak bekerja dari kantor.

Lama-kelamaan, perusahaan pasti akan tahu kondisi sebenarnya bahwa mereka adalah penyintas gangguan jiwa meskipun tampak dari luar mereka tidak sakit.

Menurut saya, tidak salah jika sedari awal ODGJ jujur dan terbuka perihal penyakit mereka. Meskipun berdasarkan pengalaman saya, hal itu bisa membuat pemilik perusahaan akan berpikir dua kali untuk menerima ODGJ bekerja.

Namun saya yakin, tidak semua perusahaan seperti itu. Ada yang memberikan kesempatan bagi ODGJ untuk bekerja, apalagi ada anjuran pemerintah untuk mempekerjakan penyandang disabilitas.

Membuka diri tentang kesehatan mental merupakan sebuah langkah besar, menurut saya. Setelah itu dilakukan, akan ada rekan kerja yang mencibir tetapi akan ada juga yang memberi semangat dan dukungan untuk ODGJ. Toh, pada masa sekarang isu kesehatan mental telah banyak diperbincangkan dan menjadi kian “umum” karena ternyata banyak orang Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, dari yang paling ringan hingga gangguan psikotik yang berat.

Dengan ini, semoga tidak ada lagi dilema bagi ODGJ untuk membuka diri; berani speak-up tentang apa yang mereka alami dan rasakan. Sehingga, di masa mendatang inklusivitas benar-benar terwujud, tidak hanya di tempat kerja tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat tanpa stigma dan saling mendukung satu sama lain. Semoga ini bukan mimpi di siang bolong.[T]

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Meditasi Selamatkan Hidup Saya
Menjadi Terbuka Itu Berbahaya | Catatan Akhir Tahun
Tags: Gangguan JiwaODGJ
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival Komponis Perempuan Wrdhi Cwaram: Bentuk Dukungan dan Pengakuan untuk Komponis Perempuan

Next Post

Nilai Pancasila dan Karakter Bangsa

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Nilai Pancasila dan Karakter Bangsa

Nilai Pancasila dan Karakter Bangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co