23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
April 26, 2024
in Esai
 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

Ilustrasi tatkala.co

SETAHUN yang lalu saya menulis sebuah artikel di media on line berjudul“Ke mana guru penggerak bergerak?”. Artikel itu terinspirasi dari obrolan saya  dengan seorang birokrat di  amben rumah sambil minum kopi. Sebagai Kepala Sekolah yang sedang melaksanakan Program Sekolah Penggerak (PSP), memang tidak banyak guru penggerak di sekolah yang saya pimpin. Hanya ada seorang guru penggerak.

Maklumlah, sekolah baru, gedung baru, dan guru baru yang belum memenuhi syarat untuk melamar menjadi guru penggerak. Guru yang bisa melamar menjadi guru penggerak minimal masa kerjanya 5 tahun dan usia maksimal 50 tahun. Aturan usia maksimal itu, kini sudah direvisi setelah diprotes oleh PGRI dan memberikan peluang guru di atas usia 50 tahun melamar menjadi guru penggerak.

Menyandang predikat guru penggerak mendapat privasi lebih dalam bergerak dan belajar. Ia belajar dan bergerak dari mana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Dari hotel ke hotel, dari sekolah ke sekolah, dari bandara ke bandara dalam provinsi dan luar provinsi. Pergerakan mereka baik daring dan luring dibiayai oleh negara melalui APBN dan terkadang mengganggu proses belajar di satuan administrasi pangkal (satminkal)-nya sendiri bahkan  menimbulkan kecemburuan sosial.

Selain itu, ia juga mendapat free pass untuk menjadi Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah, berpeluang pula menjadi pengajar praktik, fasilitator, dan instruktur. Posisi strategis itu membuat kasta baru guru di sekolah. Sebelumnya, di sekolah ada guru PNS dan PPPK yang disebut guru ASN, guru kontrak Provinsi/Kabupaten dan guru kontrak sekolah  disebut guru non-ASN. Asal muasal guru penggerak dapat berasal dari ASN dan non-ASN melalui proses seleksi dan diklat daring selama 6 – 9 bulan tanpa meninggalkan tugas.

Sesama  guru penggerak  memiliki perlakuan dalam pergerakan yang sama tanpa memandang asal-usul status. Namun demikian, kasta guru itu mencerminkan perbedaan hak yang melekat tetapi dengan kewajiban yang sama. Fenomena ini menjadi benih-benih disharmoni di satuan pendidikan sebagai bentuk ketidakadilan sesama guru (penggerak) yang sama-sama bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa.

Terlepas dari hal itu, saya selalu mendorong guru-guru muda untuk mengikuti seleksi Program Guru Penggerak (PGP) karena itu juga menjadi indikator penilaian  dalam akreditasi sekolah dan survey lingkungan belajar (surlingjar) dalam Asesmen Nasional dengan luaran Rapor Satuan Pendidikan. Harapan lain dari kehadiran guru penggerak di sekolah adalah mempercepat proses tansformasi pembelajaran (pendidikan) dengan kemampuan guru yang berdiferensiasi sebagai mana juga  karakteristik peserta yang unik dan beragam.

Dengan kemampuan intelektual  guru penggerak yang di atas rata-rata, ia potensial disetarakan dengan balian katakson ? Sesuai dengan namanya, guru penggerak idealnya bergerak dari dalam ke luar. Dari dalam satminkal ke luar satminkal. Ia boleh bersinar di mana-mana tetapi tidak lupa bersinar di dalam satminkalnya seperti  halnya balian ketakson ’dukun bertaksu’ di Bali.

“Sebagai balian ketakson, ia bekerja berdasarkan ilham dan  menguasai guna, gina, dana”, kata Kadek Satria sekretaris  LP2M UNHI Denpasar. Seorang balian ketakson yang menguasai guna, ia menggunakan  metode ilmiah dalam menjalankan profesi secara logik, bukan magic.  Acap sudah disebut, ilmu itu seperti pisau bermata dua : mencelakakan dan memuliakan. Arie Wibowo mempopulerkan melalui lagu Madu dan Racun.

Balian juga begitu, ada balian pengiwa beraliran kiri dan balian penengen beraliran kanan.   Keduanya juga punya guru yang berbeda. Namun, seorang balian ketakson adalah orang yang arif bijaksana memperlakukan guna ilmu sebesar-besarnya untuk memuliakan kemanusiaan. Ia mengedepankan dharma kawiwekan (kebijaksanaan), bukan dharma kawisesan (kesaktian). Begitu pula seyogyanya guru penggerak dengan semangat wiweka jaya sadhu (arif bijaksana dalam memenangkan persaingan berdasarkan kebudayaan bangsa).

Balian ketakson idealnya juga melaksanakan swadharma berdasarkan  tuntutan gina  secara profesional. Seorang profesional  bertindak sesuai dengan etika profesi berdasarkan kode etik. Mendahulukan keselamatan pasien dengan mengerahkan segala daya upaya profesi bila perlu berkolaborasi dengan sesama balian saling menguatkan. Demikian juga hendaknya guru penggerak tetap berpijak pada etika profesi di satminkalnya masing-masing tanpa menolak bersinar ke luar.

Inilah yang disebut konvergensi oleh Ki Hadjar Dewantara. Dalam konteks ke-Bali-an, Prof. Ida Bagus Mantra menyebut sebagai manusia Bali mesti mengenali dirinya dengan sadar untuk membangun kreativitas. Kuat ke dalam tanpa tabu menerima pengaruh luar asalkan sesuai dengan kepribadian bangsa selaras dengan kearifan lokal Bali.

Balian ketakson yang bekerja  berdasarkan guna dan gina pasti akan menghasilkan dana. Proses yang benar  tidak akan mengkhianati hasil. Guna dan gina yang benar akan menghasilkan dana yang benar. Dana yang dihasilkan dengan benar pasti “masari” sebagai representasi dari hasil kekuatan logis keilmuan (pikir) dan  integritas profesi yang dilakoni secara berkesadaran.

Kata Einstein, pusat gravitasi kesadaran manusia adalah hati. Di hati pula pusat cinta kasih. Kerja-kerja pendidikan yang dilakoni guru (penggerak) seyogyanya memberikan perhatian pada tumbuhnya kesadaran dari hati yang nekeng tuas. Jangan sampai guru penggerak bersemangat di luar dengan alasan untuk mendapatkan cuan lebih padahal mendapat gaji bulanan di satminkalnya.

 Di tengah  sengitnya persaingan dengan budaya materialistik hedonis instan, tantangan menjadi guru (penggerak) sebagai balian ketakson tak dapat dipungkiri. Bukan berarti tidak dapat tercapai. Tantangan inilah yang seyogyanya dijawab oleh guru penggerak dengan segala kelebihannya. Jika itu bisa dilakoni guru penggerak, ia telah berhasil menyinari dirinya (satminkalnya) yang vibrasinya juga dirasakan di luar  satminkalnya. Inilah yang disebut guru penggerak ketakson. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Habis Gelap Belum Juga Terang
Kurikulum Merdeka Berkiblat ke Taman Siswa
Nasib Guru di Persimpangan Jalan
Refleksi Hari Guru Nasional 2023: Karmayoga Seorang Guru
Refleksi Tiga Tahun Kurikulum Merdeka
Tags: guruguru penggerakPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Melajah Kalah”

Next Post

Bengkel Maksum

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Bengkel Maksum

Bengkel Maksum

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co