8 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bhagat Singh dan Nasib Para Tokoh Palu Arit di Negara Kita

Jaswanto by Jaswanto
April 7, 2024
in Esai
Bhagat Singh dan Nasib Para Tokoh Palu Arit di Negara Kita

Ajay Devgan saat berperan sebagai Bhagat Singh dalam The Legend of Bhagat Singh (2002)

AKHIR tahun lalu saya menonton Drishyam (1&2). Film ini dibintangi Ajay Devgan. Sebelum saya menonton Ajay dalam film thriller kriminal yang bagus tersebut (dalam hal ini, India memang nyaris tak pernah gagal mengeksekusi cerita thriller), lebih dulu saya menemukannya dalam film Gangubai Kathiawadi (2022).

Gangubai merupakan sebuah film biopic Ganga Harjivandas—yang memiliki julukan The Mafia Queen of Mumbai—yang memperjuangkan hak-hak pelacur di India. Dalam film Gangubai, Ajay berperan sebagai Haji Mastan, salah satu mafia Mumbai yang berteman dengan Don Karim Lala dan Varadarajan.

Namun, selain dua film tersebut, sependek ingatan, saya tak pernah lagi menonton Ajay dalam film apa pun. Hingga awal tahun ini, setelah membaca beberapa artikel Mahfud Ikhwan yang membahas tentang film India, saya kembali menonton Ajay dalam film The Lagend of Bhagat Singh—film lama di belantikan Bollywood.

The Lagend of Bhagat Singh merupakan film bikinan Rajkumar Santhosi bertahun 2002. Film ini bercerita tentang sosok revolusioner India yang memilih jalan non-kompromi terhadap kolonialisme Inggris—bahkan tak jarang menerapkan anarkhisme ala Bakunin dalam perjuangannya. Pahlawan tersebut bernama Bhagat Shing—revolusioner kelahiran Punjab yang namanya harum di India, khususnya di India Utara. Bisa dikata, Bhagat adalah sisi lain dari kepahlawanan Gandhi yang lembek.

Dalam film ini, tak main-main, Ajay langsung membintangi tokoh utama, sang legenda, Bhagat Singh. Dengan kumis melintang dan topi kulit yang khas, Ajay menjelma menjadi Bhagat muda yang pemberani dengan tangan mengepal meneriakkan “Inquilab Zindabad!” bersama kolega-kolega sosialisnya.

Pada kisarah tahun 50-an sampai 2000-an, setidaknya ada tujuh film tentang Bhagat Singh yang diproduksi, salah satunya adalah The Lagend of Bhagat Singh—salah satu film India yang saya tonton tanpa subtitle bahasa Indonesia, selain Gandhi (1982).

Meskipun Bhagat Singh seorang atheis, namanya tetap harum sebagai pahlawan di India. Ia dipatungkan bersama Gandhi dan Bose. Pada tahun 2008, sebuah polling di majalah India Today menempatkan Bhagat di posisi pertama sebagai “The Greatest Indian” mengalahkan Gandhi dan Bose.

Itu merupakan bukti betapa India menaruh hormat kepada Bhagat. Bahkan di tengah sikap fundamentalisme agama di India yang semakin menguat, nama Bhagat Singh ternyata tidak terlupakan oleh rakyat India.

Saya tidak tahu bagaimana orang India memperlakukan pahlawannya. Tapi yang jelas, di India, tampaknya pahlawan tetaplah pahlawan, tak peduli apakah dia seorang Hindu, Muslim, maupun Komunis sekali pun. Dan yang dilakukan para sineas India sungguh hebat. Mereka tak pilih kasih dalam memfilmkan sosok pahlawan India. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan negara kita, Indonesia.

Banar apa yang dikatakan Mahfud Ikhawan. Saat menonton The Lagend of Bhagat Singh, saya langsung teringat satu sosok yang sama-sama menginginkan “Merdeka 100%”, Tan Malaka. Dalam tuntutan kemerdekaan, Bhagat Singh tak jauh berbeda dengan Tan Malaka.

Bhagat memiliki teriakan “Inquilab Zindabad!”, di Indonesia punya “Merdeka atau Mati!” Namun, meski demikian, nasib keduanya jauh berbeda. Bhagat sangat dicintai. Tapi Tan, jangankan memiliki tujuh film tentangnya, bahkan menyebut namanya saja seolah pamali bagi banyak orang.

Pada 2010 ada Sang Pencerah, film tentang tokoh besar Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Tiga tahun berselang, giliran tokoh Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim As’ari, yang diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Kiai. Lalu tayang Soekarno (2013), Tjokroaminoto: Guru Bangsa (2015), Rudy Habibie (2016), Kartini (2017), hingga Buya Hamka (2023), tapi tidak dengan tokoh di “sisi kiri jalan” macam Tan Malaka, Haji Misbach, Kartosuwirjo, Semaun, apalagi sampai Amir Sjarifudin, Muso, Widarta, Kutil, hingga Aidit, Lukman, sampai Disman.

Nama-nama yang terakhir disebut sepertinya adalah kemustahilan dalam sinema Indonesia—meski memungkinkan, tapi sepertinya kita harus menunggu sangat lama untuk peristiwa itu terjadi. Mereka, para pahlawan Komunis itu, tak ubahnya bajingan bagi bangsa ini.

Sebagaimana seorang bajingan—yang tak bertuhan lagi—tentu tak pantas mendapat penghormatan. Bangsa ini bukan India, yang menghormati pahlawannya tanpa memandang latar belakang agama, ideologi, dan bagaimana pun jalan yang ditempuhnya—hal yang oleh bangsa ini masih harus terus dipelajari.

Tapi jangankan Tan Malaka, bahkan untuk orang-orang yang namanya tenar, “bersih”, dan “berdiri di sisi kanan jalan” macam Bung Hatta, Sjahrir, juga jenderal besar Pak Dirman (sebenarnya ada satu, tapi itu karena ada jenderal lain yang ingin numpang tenar) saja tak memiliki film biografi sebagaimana Bhagat, Gandhi, Surya Sen, Netaji Bose, Udham Singh, dll.

Bhagar Singh lahir sebagai Sikh dan gugur sebagai atheis, diberi gelar Shaheed-E-Azaam, dan dipuja di Republik Islam Pakistan. Surya Sen, seorang guru Hindu di Cittagong yang memberontak bersama murid-muridnya, dimuliakan sebagai pahlawan Bangladesh, dan terus dihormati di India (dan bahkan diabadikan dalam dua film yang indah oleh sineas-sineas Bollywood di Bombay) meskipun Cittagong kini sudah bukan lagi menjadi wilayah India.

Jika di India Pemberontakan Cittagong yang dilakukan seorang guru bersama 10 rekan dan 50-an murid-murid yang masih remaja tampak begitu agung dan abadi, di Indonesia, pemberontakan kaum Komunis di Prambanan, Banten, dan Silungkang yang melibatkan ribuan orang bahkan nyaris terlupakan—kalau bukan dipersalahkan sebagai tindakan merusak perjuangan.

Tak ada tempat bagi tokoh palu arit di negara ini—bahkan untuk nama besar macam Tan Malaka. Si Pacar Merah—begitulah para penulis fiksi tahun 30-an menyebutnya—memang memiliki nama yang tenar. Buku-buku yang ditulisnya dan buku tentangnya laris dibaca. Tapi, pada saat yang sama, ia tidak benar-benar sepenuhnya diterima.

Pembongkaran kuburannya bukannya menjadi peristiwa bersejarah yang mengharukan, tapi malah beralih jadi peristiwa politik yang kontroversial. Diskusi-diskusi buku dan pemikirannya tidak dihadiri khalayak dengan buku catatan dan rasa ingin tahu, tapi dengan pedang, pentungan, dan batu.

Tan dibenci oleh sebagain besar rakyat Indonesia tanpa perlu mengenalnya. Bahwa ia seorang tokoh PKI, partai yang telah dihabisi dan ideologinya sampai sekarang masih terlarang di negeri ini, dan bahwa ia mati ditembak tentara, itu sudah cukup untuk jadi alasan menyingkirkannya dari buku-buku sejarah di sekolah dan film-film di bioskop.

Saat nama Bhagat Singh harum di samping nama-nama besar pahlawan India, bahkan tak satu jalan pun yang menggunakan nama Tan Malaka—kecuali, konon, sebuah jalan kecil di kampung halamannya sendiri. Bhagat punya National Martyr Memorial di Husainiwala, juga Bhagat Singh Museum & Bhagat Singh Memorial tempat kelahirannya di Khatkar Kalan, sementara kuburan Tan Malaka—dan tokoh-tokoh PKI lainnya—terlantar dan hampir tak terlacak keberadaannya.

Seperti kata Cak Mahfud, pasti indah sekali jika bisa menyaksikan seorang aktor Indonesia memerankan Tan Malaka yang berpidato di depan Lenin dan para petinggi partai Komunis sedunia tentang betapa cocoknya Komunisme dan Pan-Islamisme, tapi ah… sudahlah. Saya tak mau berandai-andai.[T]

Sisi Lain D.N. Aidit: Tokoh PKI dan Aktivis Literasi
Tags: Bhagat SinghfilmFilm BollywoodindiaKomunisPKITan Malaka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film “Jayaprana Layonsari”, Lain Dulu Lain Sekarang

Next Post

Beragam Peran Cendikiawan Mengawal Ilmu Pariwisata Indonesia

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Beragam Peran Cendikiawan Mengawal Ilmu Pariwisata Indonesia

Beragam Peran Cendikiawan Mengawal Ilmu Pariwisata Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co