23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jembatan Kaca dan Penyimpangan Pariwisata Berkelanjutan

Chusmeru by Chusmeru
November 15, 2023
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

INSIDEN pecahnya jembatan kaca di wahana wisata The Geong, Limpakuwus, Kabupaten Banyumas, Jawa Tenggah pada 25 Oktober 2023 lalu mengundang keprihatinan bagi pariwisata Indonesia. Insiden tersebut menyebabkan dua orang luka dan satu orang meninggal dunia.

Jembatan kaca merupakan wahana wisata yang banyak dijumpai di Indonesia. Sebagai bagian dari wisata luar ruang (outdoor), jembatan kaca dan wahana permaian lain memang rawan terjadi kecelakaan. Beberapa kasus kecelakaan di objek dan daya tarik wisata sering terjadi, karena sulit untuk dilakukan pengawasan kepada wisatawan.

Secara umum, ada empat faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan di objek wisata. Pertama, faktor alam dan cuaca. Contohnya hujan badai, petir, banjir, tanah longsor, puting beliung, gempa bumi, dan sebagainya. Musibah yang disebabkan faktor ini sulit untuk dihindari wisatawan. Karenanya mitigasi bencana sangat diperlukan dalam pariwisata.

Kedua, faktor sarana dan prasarana di objek wisata. Misal, konstruksi wahana wisata yang jelek, keropos, maupun tidak sesua standar. Kasus pecahnya jembatan kaca di Kabupaten Banyumas antara lain disebabkan kualitas kaca yang jelek dan ketebalan kaca yang tidak layak; hanya 1,2 cm.

Ketiga, faktor pengelola yang tidak profesional dalam mengelola objek wisata. Banyak objek wisata yang tidak memiliki Standard Operational Procedure (SOP) yang jelas. Padahal setiap objek wisata semestinya memiliki SOP. Pengelola juga tidak melakukan pengawasan kepada wisatawan serta tidak melakukan pengecekan wahana wisata secara rutin.

Keempat, faktor pengunjung atau wisatawan yang lengah dan lalai dalam berwisata. Kadang wisatawan abai terhadap rambu-rambu yang sudah dipasang di objek wisata. Kecelakaan juga sering terjadi karena wisatawan asyik berswafoto di objek wisata tanpa memperhatikan faktor keamanan dan keselamatan jiwanya.

Distorsi Visual

Jatuhnya wisatawan dari jembatan kaca di Kabupaten Banyumas dapat dijadikan pelajaran bagi para pemangku kepentingan sektor pariwisata. Pengelola wahana wisata seperti jembatan kaca dan wisatawan yang berkunjung perlu memperhatikan tiga hal, yaitu keamanan, keselamatan, dan kenyamanan dalam berwisata.

Faktor keamanan akan berkaitan dengan konstruksi jembatan dan bahan baku jembatan yang terbuat dari kaca. Perlu ada hasil uji laboratorium terlebih dahulu sebelum jembatan kaca dijadikan wahana untuk wisatawan. Bagaimana kekuatan konstruksinya, ketebalan dan kekuatan kacanya, dan daya tamping maksimal pengunjungnya. Jangan sampai jembatan kaca mudah pecah dan kelebihan pengunjung.

Oleh sebab itu, pengelola perlu memastikan bahwa jembatan layak dikunjungi wisatawan dengan secara rutin mengecek kondisi jembatan setiap hari. Pengelola juga harus membatasi jumlah pengunjung yang menggunakan jembatan kaca agar tidak sarat beban.

Wisatawan sendiri juga perlu memperhatikan keselamatan jiwanya. Jangan memaksakan diri untuk untuk menggunakan wahana itu jika jumlah pengunjung sudah terlalu banyak. Kecenderungan wisatawan untuk swafoto acapkali mengabaikan keselamatan.

Pemerintah sebaiknya perlu mempertimbangkan kembali pembangunan jenis wahana wisata seperti jembatan kaca. Selain sangat beresiko terhadap faktor keamanan, banyak jembatan kaca di berbagai objek wisata alam justru menimbulkan distorsi visual. Objek wisata alam akan kehilangan view yang indah dengan adanya jembatan kaca itu.

Dalam perspektif ekologis, jembatan kaca sangat tidak sesuai dengan prinsip pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Jembatan kaca tidak ramah lingkungan. Jembatan kaca di daerah juga tidak mendukung keberlanjutan dari sisi ekonomi, sosial, dan budaya bagi masyarakat sekitar.

Sertifikasi

Banyak hal yang mesti diperhatikan dalam menjajakan wahana wisata, termasuk jembatan kaca. Setiap wahana wisata selayaknya memiliki SOP yang jelas. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan wisatawan serta apa yang harus dilakukan pengelola harus jelas. Rambu-rambu maupun papan informasi harus dipasang jelas untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

Fasilitas K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) harus tersedia di semua objek wisata yang memiliki wahana. Dengan adanya fasilitas K3, wisatawan akan merasa tenang dan nyaman saat berwisata. Fasilitas K3 juga menujukkan kesiapan pengelola untuk memberikan pertolongan darurat ketika terjadi musibah. Banyak kasus kecelakaan di objek wisata yang tidak tertangani karena tidak adanya fasilitas K3 seperti tandu untuk mengangkut korban maupun obat-obatan.

Pencegahan terhadap kecelakaan di wahana wisata dapat dilakukan sedari awal dengan melibatkan unsur pemerintah dan pengelola. Peran masing-masing harus diatur dengan jelas. Sehingga ketika terjadi musibah di wahana wisata masing-masing tidak saling tuding dan saling lempar tanggung jawab.

Kelalaian yang menyebabkan wisatawan celaka bisa datang dari kecerobohan wiasatawan, pengelola yang tidak memenuhi standar operasional, maupun pihak pemerintah yang tidak melakukan monitoring dan evaluasi terhadap objek wisata di daerahnya. Jika memang wahana jembatan kaca tidak memenuhi kelayakan, maka pemerintah dapat menutupnya. Sehingga ketika terjadi musibah tidak menimbulkan kegaduhan saling melempar tanggung jawab.

Oleh sebab itulah, studi kelayakan sangat diperlukan. Studi kelayakan harus melibatkan berbagai pihak yang berkompeten dalam pembangunan jembatan kaca. Jika perlu, sebelum beroperasi perlu uji laboratorium terlebih dahulu untuk memastikan faktor keamanan dan keselamatan.

Tak kalah penting, setiap wahana wisata semestinya sudah lolos sertifikasi dari pihak-pihak terkait. Sertifikasi menjadi syarat wajib bagi semua wahana wisata. Jika memang ada wahana yang tidak lolos sertifikasi, maka pemerintah tidak perlu ragu untuk menutupnya.

Jangan sampai terjadi “main mata” antara pemerintah, investor, dan pengelola wahana wisata yang tidak lolos uji sertifikasi. Atau upaya “tutup mata” pihak pemerintah. Wahana wisata yang belum studi kelayakan dan uji sertifikasi dibiarkan beroperasi. Dan ketika terjadi musibah, pihak pengelola yang selalu dijadikan tersangka. Sedangkan pemerintah lepas dari tanggung jawab.

Sekali lagi, ini semua demi keselamatan dan keamanan wisatawan. Sangat menyedihan jika wisatawan yang bertujuan mencari kesenangan justru menjumpai kematian. [T]

  • BACA artikel tentang PARIWISATA atau artikel lain dari penulis CHUSMERU
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

                                                                                               

Di Balik Kemajuan Pariwisata Pemuteran Ada Nama Ketut Sutrawan Selamet
“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali
Tags: PariwisataPariwisata Berkelanjutan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perangi Hoaks Jelang Pemilu, 30 Jurnalis dari Lima Provinsi Berlatih Cek Fakta AMSI di Bali

Next Post

Teknik Long Exposure Untuk Mengabadikan Aliran Air Selembut Kapas dalam Fotografi

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Teknik Long Exposure Untuk Mengabadikan Aliran Air Selembut Kapas dalam Fotografi

Teknik Long Exposure Untuk Mengabadikan Aliran Air Selembut Kapas dalam Fotografi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co