23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lulus Tetapi Tidak Naik Kelas

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 26, 2023
in Esai
Lulus Tetapi Tidak Naik Kelas

Ilustrasi tatkala.co : Wiradinata

 “… Pengajaran harus bersifat kebangsaan…. Kalau pengajaran bagi anak-anak tidak berdasarkan kenasionalan, anak-anak tak mungkin mempunyai rasa cinta bangsa dan makin lama terpisah dari bangsanya, kemudian barangkali menjadi lawan kita …” (Ki Hadjar Dewantara).

DUNIA pendidikan kita kini sedang tidak baik-baik saja. Banyak kasus menimpa dunia pendidikan saat Program Merdeka Belajar gencar dilaksanakan. Di Bengkulu seorang guru bernama Zahraman (58) diketapel orangtua siswa karena  tidak terima anaknya ditegur merokok di sekolah. Akibatnya, sang guru buta permanen. Di Tangerang, siswa diculik gurunya.  Sebuah ironi di tengah kampanye Sekolah Aman dan ramah Anak. Mahasiswa senior membunuh yuniornya di Perguruan Tinggi ternama. Sungsangnya dunia pendidikan itu  masih bisa diperpanjang.

Kita menyayangkan tragedi demi tragedi menimpa dunia pendidikan, tempat yang ditasbihkan sebagai arena memanusiakan manusia. Setelah 78 Tahun Indonesia Merdeka,  pendidikan kita belum  naik kelas walaupun angka kelulusan terus naik 100%.

Secara statistik (2022) angka melek huruf  Indonesia Merdeka mencapai 96,35%, tetapi angka kesadaran aksara bermakna makin menurun. Indikatornya tiga dosa pendidikan (perundungan, intoleransi, radikalisme) masih terus mengintai. Makin banyaknya sampah komunikasi di media sosial yang ditebar oleh mereka yang melek huruf adalah indikator lain.  Sampah komunikasi   tidak tanggung-tanggung diproduksi  oleh publik figur yang  seharusnya diteladani.  Semua itu akan menjadi pelajaran bagi semua anak bangsa yang terkoneksi tanpa batas melalui media sosial.

Sri Edi Swasono (2016) menengerai hal itu sebagai gagalnya  pendidikan menjadi instrumen pembudayaan sejak Proklamasi Kemerdekaan. Baginya, Proklamasi adalah pernyataan kemerdekaan sekaligus pernyataan kebudayaan. Sebagai pernyataan kemerdekaan, Proklamasi  adalah permakluman kepada dunia Internasional bahwa Indonesia telah sampai pada titik kulminasi perjuangan bangsa yang diraih melalui pengorbanan pantang menyerah tak gentar lawannya seribu kali. Chairil Anwar mencatat  sebagai “luka dan bisa kubawa berlari. Berlari hingga hilang perih-peri”.

Pesan itu sebagai pernyataan sikap  betapa gigihnya semangat pendiri bangsa membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Mendobrak penjajah sampai ke depan pintu kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Inilah revolusi Indonesia sesungguhnya. Tugas selanjutnya adalah masuk ke ruang rumah (batin) bangsa untuk merawat cinta kasih melalui pendidikan.

Sebagai pernyataan kebudayaan, Proklamasi Kemerdekaan adalah dokumen budaya yang dihasilkan melalui cipta, rasa, karsa para pendiri bangsa setelah suntuk berkontemplasi menggali mutiara di bumi pertiwi Nusantara yang akarnya ditemukan jauh sebelum kedatangan penjajah. Kerja cerdas para penggali mutiara yang literat berkeadaban berhasil merumuskan Proklamasi  dan UUD 1945 dengan bernas. Kebernasannya mengalami pendangkalan semakin jauh dari babonnya, seiring dengan makin tuanya usia kemerdekaan. Makin jauh jarak waktu kita merdeka, nilai patriotisme makin samar-samar. Di sini berlaku  teori medan makna  yang diandaikan dengan melemparkan batu ke pusaran air. Pusaran keras dan kuat terasa dipusat batu jatuh, makin menjauh makin lemah bahkan nyaris tak terasa.

Melemahnya semangat nasionalisme menurut Sri Edi Swasono (2016) disebabkan oleh kekhilafan kita  dalam pembudayaan Pancasila dan pembudayaan semangat kemerdekaan melalui arah pendidikan nasional. Kurikulum sudah 11 kali berubah sejak Indonesia Merdeka. Pancasila sebagai mata pelajaran timbul tenggelam dalam struktur Kurikulum. Saat Orde Baru, Pancasila muncul dalam mata Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dari SD – SMA/SMK dan diperkuat dengan Penataran P-4 di bawah lembaga BP-7. Di Perguruan Tinggi,  mahasiswa OSPEK wajib mengikuti Penataran P-4 Pola 100 jam yang dikonversi menjadi 2 SKS mata kuliah Pancasila.   

Kini MPR mengembangkan pola sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945). Sosialisasi umumnya bersifat musiman, musim reses yang difasilitasi oleh MPR. Jangkauannya terbatas dengan menggandeng  Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

 Pembudayaan semangat Kemerdekaan melalui arah Pendidikan Nasional kini berhadapan dengan semakin menguatnya budaya materialistik, hedonis, instan, terburu-buru dengan mengorbankan proses. Hujan protes makin marak tanpa etika. Protes tanpa proses berpikir yang memanusiakan membuat kegaduhan. Saling caci dan saling hujat bertebaran di media sosial dilakukan oleh orang-orang dewasa berpendidikan tinggi. Tingginya pendidikan tidak berelasi dengan ahlak mulia bangsa yang berperadaban Pancasila. Taufiq Ismail (2000) dalam puisi berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia menuliskan, “… Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak/Hukum tak tegak, doyong berderak-derak….”

 Setelah 78 Tahun Merdeka, sejarah mencatat kemajuan fisik pembangunan bergerak cepat di seluruh negeri. Namun, kita gagal mengubah pola pikir (mindset) untuk melaksanakan amanat Proklamasi sebagai produk kebudayaan (Sri Edi Swasono, 2016). Sejak 2011, Kemediknas berupaya membangkitkan kesadaran budaya melalui penguatan karakter bangsa dengan 18 nilai  yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri,  demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air,  menghargai prestasi, komunikatif/bersahabat,  cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

 Di dalam Kurikulum Merdeka, ke-18 nilai itu diterjemahkan ke dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dengan 6 indikator. Tujuannya jelas untuk kembali pada ajaran Ki Hadjar Dewantara seperti dikutip pada awal tulisan ini.

Begitulah negeri ini sudah 78 Tahun Merdeka lulus dari ujian kekerasan kolonial, lulus dari kekerasan G30S/PKI (1965), lulus dari peristiwa kerusuhan Mei 1998 tetapi terasa belum mampu naik kelas. Indonesia Raya terus berhasil dikumandangkan tetapi pengamalannya masih perlu terus diperjuangkan.. “… Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya….”  Inilah  renungan 95 Tahun Sumpah Pemuda  yang mengusung tema, “Bersama Majukan Indonesia”.  Pantang api semangat dipadamkan! [T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Ki Hadjar Dewantara Melembutkan Kegarangan Chairil Anwar dan Bung Karno
Dari Chairil Anwar ke Bung Karno
Tags: PendidikanPolitiksekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Dari Meja Rene Descartes | Seri Pertama Soal Being

Next Post

“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” — Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” — Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan

“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” -- Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co