23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lulus Tetapi Tidak Naik Kelas

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 26, 2023
in Esai
Lulus Tetapi Tidak Naik Kelas

Ilustrasi tatkala.co : Wiradinata

 “… Pengajaran harus bersifat kebangsaan…. Kalau pengajaran bagi anak-anak tidak berdasarkan kenasionalan, anak-anak tak mungkin mempunyai rasa cinta bangsa dan makin lama terpisah dari bangsanya, kemudian barangkali menjadi lawan kita …” (Ki Hadjar Dewantara).

DUNIA pendidikan kita kini sedang tidak baik-baik saja. Banyak kasus menimpa dunia pendidikan saat Program Merdeka Belajar gencar dilaksanakan. Di Bengkulu seorang guru bernama Zahraman (58) diketapel orangtua siswa karena  tidak terima anaknya ditegur merokok di sekolah. Akibatnya, sang guru buta permanen. Di Tangerang, siswa diculik gurunya.  Sebuah ironi di tengah kampanye Sekolah Aman dan ramah Anak. Mahasiswa senior membunuh yuniornya di Perguruan Tinggi ternama. Sungsangnya dunia pendidikan itu  masih bisa diperpanjang.

Kita menyayangkan tragedi demi tragedi menimpa dunia pendidikan, tempat yang ditasbihkan sebagai arena memanusiakan manusia. Setelah 78 Tahun Indonesia Merdeka,  pendidikan kita belum  naik kelas walaupun angka kelulusan terus naik 100%.

Secara statistik (2022) angka melek huruf  Indonesia Merdeka mencapai 96,35%, tetapi angka kesadaran aksara bermakna makin menurun. Indikatornya tiga dosa pendidikan (perundungan, intoleransi, radikalisme) masih terus mengintai. Makin banyaknya sampah komunikasi di media sosial yang ditebar oleh mereka yang melek huruf adalah indikator lain.  Sampah komunikasi   tidak tanggung-tanggung diproduksi  oleh publik figur yang  seharusnya diteladani.  Semua itu akan menjadi pelajaran bagi semua anak bangsa yang terkoneksi tanpa batas melalui media sosial.

Sri Edi Swasono (2016) menengerai hal itu sebagai gagalnya  pendidikan menjadi instrumen pembudayaan sejak Proklamasi Kemerdekaan. Baginya, Proklamasi adalah pernyataan kemerdekaan sekaligus pernyataan kebudayaan. Sebagai pernyataan kemerdekaan, Proklamasi  adalah permakluman kepada dunia Internasional bahwa Indonesia telah sampai pada titik kulminasi perjuangan bangsa yang diraih melalui pengorbanan pantang menyerah tak gentar lawannya seribu kali. Chairil Anwar mencatat  sebagai “luka dan bisa kubawa berlari. Berlari hingga hilang perih-peri”.

Pesan itu sebagai pernyataan sikap  betapa gigihnya semangat pendiri bangsa membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Mendobrak penjajah sampai ke depan pintu kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Inilah revolusi Indonesia sesungguhnya. Tugas selanjutnya adalah masuk ke ruang rumah (batin) bangsa untuk merawat cinta kasih melalui pendidikan.

Sebagai pernyataan kebudayaan, Proklamasi Kemerdekaan adalah dokumen budaya yang dihasilkan melalui cipta, rasa, karsa para pendiri bangsa setelah suntuk berkontemplasi menggali mutiara di bumi pertiwi Nusantara yang akarnya ditemukan jauh sebelum kedatangan penjajah. Kerja cerdas para penggali mutiara yang literat berkeadaban berhasil merumuskan Proklamasi  dan UUD 1945 dengan bernas. Kebernasannya mengalami pendangkalan semakin jauh dari babonnya, seiring dengan makin tuanya usia kemerdekaan. Makin jauh jarak waktu kita merdeka, nilai patriotisme makin samar-samar. Di sini berlaku  teori medan makna  yang diandaikan dengan melemparkan batu ke pusaran air. Pusaran keras dan kuat terasa dipusat batu jatuh, makin menjauh makin lemah bahkan nyaris tak terasa.

Melemahnya semangat nasionalisme menurut Sri Edi Swasono (2016) disebabkan oleh kekhilafan kita  dalam pembudayaan Pancasila dan pembudayaan semangat kemerdekaan melalui arah pendidikan nasional. Kurikulum sudah 11 kali berubah sejak Indonesia Merdeka. Pancasila sebagai mata pelajaran timbul tenggelam dalam struktur Kurikulum. Saat Orde Baru, Pancasila muncul dalam mata Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dari SD – SMA/SMK dan diperkuat dengan Penataran P-4 di bawah lembaga BP-7. Di Perguruan Tinggi,  mahasiswa OSPEK wajib mengikuti Penataran P-4 Pola 100 jam yang dikonversi menjadi 2 SKS mata kuliah Pancasila.   

Kini MPR mengembangkan pola sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945). Sosialisasi umumnya bersifat musiman, musim reses yang difasilitasi oleh MPR. Jangkauannya terbatas dengan menggandeng  Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

 Pembudayaan semangat Kemerdekaan melalui arah Pendidikan Nasional kini berhadapan dengan semakin menguatnya budaya materialistik, hedonis, instan, terburu-buru dengan mengorbankan proses. Hujan protes makin marak tanpa etika. Protes tanpa proses berpikir yang memanusiakan membuat kegaduhan. Saling caci dan saling hujat bertebaran di media sosial dilakukan oleh orang-orang dewasa berpendidikan tinggi. Tingginya pendidikan tidak berelasi dengan ahlak mulia bangsa yang berperadaban Pancasila. Taufiq Ismail (2000) dalam puisi berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia menuliskan, “… Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak/Hukum tak tegak, doyong berderak-derak….”

 Setelah 78 Tahun Merdeka, sejarah mencatat kemajuan fisik pembangunan bergerak cepat di seluruh negeri. Namun, kita gagal mengubah pola pikir (mindset) untuk melaksanakan amanat Proklamasi sebagai produk kebudayaan (Sri Edi Swasono, 2016). Sejak 2011, Kemediknas berupaya membangkitkan kesadaran budaya melalui penguatan karakter bangsa dengan 18 nilai  yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri,  demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air,  menghargai prestasi, komunikatif/bersahabat,  cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

 Di dalam Kurikulum Merdeka, ke-18 nilai itu diterjemahkan ke dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dengan 6 indikator. Tujuannya jelas untuk kembali pada ajaran Ki Hadjar Dewantara seperti dikutip pada awal tulisan ini.

Begitulah negeri ini sudah 78 Tahun Merdeka lulus dari ujian kekerasan kolonial, lulus dari kekerasan G30S/PKI (1965), lulus dari peristiwa kerusuhan Mei 1998 tetapi terasa belum mampu naik kelas. Indonesia Raya terus berhasil dikumandangkan tetapi pengamalannya masih perlu terus diperjuangkan.. “… Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya….”  Inilah  renungan 95 Tahun Sumpah Pemuda  yang mengusung tema, “Bersama Majukan Indonesia”.  Pantang api semangat dipadamkan! [T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Ki Hadjar Dewantara Melembutkan Kegarangan Chairil Anwar dan Bung Karno
Dari Chairil Anwar ke Bung Karno
Tags: PendidikanPolitiksekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Dari Meja Rene Descartes | Seri Pertama Soal Being

Next Post

“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” — Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” — Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan

“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” -- Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co