2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Teras, Way of Life, dan Kendali Emosi Manusia ala Henry Manampiring

Luh Putu Anggreny by Luh Putu Anggreny
September 30, 2023
in Khas
Filosofi Teras, Way of Life, dan Kendali Emosi Manusia ala Henry Manampiring

Acara bedah buku Filosofi Teras di Singaraja Literary Festival 2023 di Gedong Kirtya | Foto: Dok. Omen

“Manusia tidak memiliki kuasa untuk memiliki apa pun yang dia mau, tetapi dia memiliki kuasa untuk tidak mengingini apa yang dia belum miliki, dan dengan gembira memaksimalkan apa yang dia terima.”

— Filosofi Teras

***

BERBICARA mengenai filsafat memang tak pernah ada habisnya. Dari sejak zaman Thales hingga hari ini, sebagai sebuah ilmu pengetahuan, filsafat masih terus dipelajari, dibicarakan, dan tak jarang juga diperdebatkan.

Dalam konteks pengetahuan atau filsafat sebagai cara, sosok bernama Henry Manampiring, masih mempelajari dan mengembangkannya menjadi tulisan-tulisan menarik yang konteks dengan kehidupan kita sebagai anak muda, khususnya.

Dalam bukunya yang berjudul Filosofi Teras, misalnya, lelaki yang akrab dipanggil Om Piring itu mampu menerjemahkan konsep stoic—filsafat Yunani-Romawi Kuno yang bagi saya pembahasannya memang berat—ke dalam sebuah buku dengan gaya bahasa ringan yang dapat dinikmati banyak kalangan.

Maka tak heran, buku yang diterbitkan Kompas pada 2019 itu, seketika menjadi semacam bacaan wajib bagi anak muda—yang hari-hari ini sepertinya memang lebih banyak mengeluh daripada bekerja keras.

Pada Jumat, (29/9/2023) sore, Om Piring hadir secara perdana di acara Singaraja Literary Festival di Kawasan Gedong Kirtya, Singaraja, Bali. Ia bersama Kadek Sonia Piscayanti, sastrawan sekaligus festival founder, membedah buku bukunya di hadapan anak-anak muda milenial dan penggemarnya di Bali.

Kadek Sonia Piscayanti dan Henry Manampiring pada sesi bedah buku Filosofi Teras serangkaian mata acara Singaraja Literary Festival 2023 / Foto: Dok. Saka

Sebelum acara dimulai, sempat saya bersalam sapa dengannya. Ramah, itu yang saya tangkap dari tutur kata tegas saat ia menyebutkan nama seraya menjabat tangan saya. Dalam hati saya begitu berdebar.. Hahaha. Siapa yang tidak deg-degan berjabat tangan dengan penulis terkenal?

Saat acara dimulai, bersama Bu Sonia, ia duduk tepat di depan saya. Bu Sonia, pada kesempatan tersebut, mulai membedah buku Filosofi Teras dengan menjelaskan tentang “trikotomi kendali”. Mendengar penjelasan tersebut, dalam hati saya bergumam, “Kenapa ini sepertinya sulit ya?”

“Kalau baca Filosofi Teras, kalian juga harus paham isinya,” begitu celetuk Bu Sonia kepada peserta bedah buku yang membludak sampai ada yang tidak kebagian kursi. Deg. Saya tiba-tiba merasa fomo. Berarti sekarang saya harus serius mendengarkan.

Bu Sonia kembali menjelaskan bahwa “trikotomi kendali” dalam Filosofi Teras menegaskan bahwa manusia di dalam hidupnya bisa hidup rileks namun bukan berarti menjadi malas. Dalam artian, manusia bisa sefleksibel mungkin menjalankan hidupnya. Fleksibel di sini artinya apa adanya, penerimaan atas segala sesuatu, semampunya, sewajarnya, dan bukan sebagai alasan untuk bermalas-malasan atau pasrah.

Mendengar penjelasan tersebut, seorang gadis berkebaya merah merasa tercerahkan dan kemudian berkata, “Kalau begini sebenarnya saya disadarkan, ya. Selama ini saya selalu bermalas-malasan.” Sedangkan saya bergumam, “Duh, saya ini sadar apa tidak ya?” pikir saya sembari menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.

Semakin lama, penjelasan Bu sonia dan Om Piring semakin menyadarkan saya. Bu Sonia kembali menyinggung tentang Stoisisme yang ada pada buku Filosofi Teras. Ia menyampaikan bahwa manusia harus menggunakan nalar dan rasionalitas yang kemudian dihubungkan dengan “Trikotomi Kendali”. 

Sementara itu, Om Piring menimpali, bahwa dalam hal hidup, manusia kebanyakan menginginkan hidup yang bebas atau jauh dari emosi negatif. “Hal ini dapat dilakukan apabila manusia memiliki kendali terhadap dirinya sendiri,” begitu katanya, menegaskan, dengan gerak tangan dan muka serius.

Pada saat Om Piring berkata “Kalau saya hubungkan antara filosofi teras, filsafat, dan kegiatan literasi seperti ini, ada satu hal yang terjelaskan dalam pikiran saya” membuat saya penasaran sekali. “Memangnya filsafat dan literasi—apalagi bukunya—ada hubungan?”

Dan Om Piring melanjutkan, “Bahwa bagaimana sebuah ide bisa menembus zaman. Event-event literasi dan ilmu filsafat bisa dikatakan terus maju sesuai zaman yang terus berkembang pesat.” Ah, kenapa saya tidak berpikir sampai ke sana, ya? Kenapa saya malah berpikir bahwa filsafat itu terlalu sulit? Kenapa… kenapa… dan kenapa? Pikiran itu terus berputar dalam benak saya.

Filosofi Teras, Way of Life

Berdasarkan laman Dianns.org—website resmi dari Lembaga Pers Mahasiswa FIA UB—Filosofi Teras adalah buku yang ditulis Henry Manampiring karena ia pernah didiagnosis menderita Major Depressive Disorder atau depresi pada tahun 2017.

Pada masa pemulihan, Henry menemukan dan membaca sebuah buku yang berjudul How to Be a Stoic karya Massimo Pigliucci yang berisikan ajaran stoisisme atau filsafat stoa.

Dengan membaca dan mempraktikkan ajaran yang terdapat pada buku itulah, Henry merasa menjadi lebih tenang dan dapat mengendalikan emosi negatifnya. Hal itulah yang melatarbelakangi Henry Manampiring untuk menulis buku ini. Dengan menciptakan buku ini, Henry berharap bukunya dapat meningkatkan minat baik pembaca sehingga pembaca dapat memperoleh hidup yang lebih tenang.

Dalam buku ini, Henry tidak sedang membahas mengenai pikiran buruk orang-orang tentang filsafat, tapi justru mengenalkan salah satu ilmu filsafat bernama stoisisme atau yang sering disingkat dengan filsafat stoa. Filosofi teras sendiri merupakan terjemahan langsung dari filsafat stoa tersebut.

Henry menganggap bahwa filsafat stoa adalah sebuah way of life, jalan hidup. Filsafat seringkali dinilai sebagai cara berpikir yang ruwet dan njelimet, namun filsafat stoa justru berbeda. Filsafat stoa berisi ajaran untuk kita dapat berpikir lebih simpel.

Filsafat stoa dapat memberikan banyak pelajaran-pelajaran mengenai kehidupan bagi setiap kalangan tanpa memandang latar belakangnya apa. Stoisisme bersifat “dogmatis” karena filsafat ini bukan agama yang memiliki aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar, atau terdapat ancaman masuk neraka ketika dilanggar.

Filsafat ini tidak menjamin kita agar selalu hidup dalam kebahagiaan tetapi hidup dengan ketenangan hati dan pikiran. Hal tersebut selaras dengan tujuan dari filsafat stoa yaitu hidup bebas dari emosi negatif dan hidup mengasah kebajikan.

Dalam buku Filosofi Teras ini, dijelaskan mengenai prinsip utama dari stoisisme adalah in accordance with nature, yang berarti hidup selaras dengan alam. Manusia yang hidup selaras dengan alam adalah manusia yang hidup sesuai dengan desainnya, yaitu makhluk bernalar.

Buku Filosofi Teras cetakan terbaru yang dijual saat bedah buku di Singaraja Literary Festival 2023 / Foto: Dok. Saka

Sederhananya, hidup selaras dengan alam berarti sebisa mungkin di setiap situasi hidup kita tidak kehilangan nalar kita dan berlaku seperti binatang. Kehilangan nalar tersebut pada akhirnya berujung pada ketidakbahagiaan pada diri manusia itu sendiri.

Ah, saya paham sekarang. Sebenarnya Om Piring ingin pembacanya untuk memisahkan antara hal yang “bisa dikendalikan oleh diri dan tidak bisa dikendalikan oleh diri”  agar tidak selalu fokus pada hal-hal yang sebenarnya di luar kendali.

Henry mengemas buku ini dengan uraian-uraian yang begitu mudah dimengerti dengan memberikan contoh-contoh realistis dalam kehidupan sehari-hari. Benar yang dikatakan Bu Sonia, semakin membaca lembaran demi lembaran buku Filosofi Teras, akan semakin banyak mengerti bagaimana harus bersikap agar dapat hidup dengan pikiran yang tenang tanpa diikat dengan pikiran-pikiran yang menyiksa diri.

Saat scara selesai, saya melangkahkan kaki perlahan menuju tempat Om Piring dikerubungi penggemarnya. Mereka semua hendak meminta tanda tangan dan berfoto bersama—kerumunan itu tampak begitu rampai.

Kaki saya terus berpijak pada paving-paving dan melangkah kecil mendekati Om Piring. Sampai, pikir saya. Saya menunggu di belakang penggemarnya yang masih asyik berfoto dan bergurau. Hingga dua puluh menit berlalu, akhirnya sepi.

Saya mendekati Om Piring yang sedang menunduk mengambil tas. “Pak, terima kasih sudah datang. Saya disadarkan oleh buku Filosofi Teras ini. Saya jadi sadar bahwa selama ini saya sering malas dan menjalani hidup dengan pikiran sulit yang saya timbulkan sendiri,” ucap saya dengan dada penuh debar.

Ia mengangkat kepalanya, menatap tepat di bola mata saya. Ia tersenyum tulus sembari menjawab, “Terima kasih juga telah mendengarkan saya. Tetaplah hidup dan jadi manusia hebat,” katanya sembari menggendong tas dan menepuk bahu saya dua kali. “Saya duluan, ya,” katanya, melangkah pergi dan kembali bercengkerama dengan orang lain di lain tempat.

Saya membeku, ah dia baik sekali. Akhirnya saya melangkah pergi dari keramaian—tempat penggemar Henry Manampiring—menuju sepeda motor saya untuk bersiap pulang. Hah, hari yang menyenangkan. Saat perjalanan pulang, saya menikmati sepoi angin sore itu.[T]

Editor: Jaswanto

Singaraja Literary Festival: Ruang Intelektual Baru dan Jembatan Penghubung Pengetahuan
Tags: festivalGedong KirtyaSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Desa Sinabun, Ada Teknologi Inovasi Pengelolaan Sampah Bernama Trashkleng

Next Post

Pak Sarman: Dukun Ebeg yang Berjanji Menjaga Tradisi

Luh Putu Anggreny

Luh Putu Anggreny

Penikmat kata dan halaman-halaman sunyi. Menyukai menulis dan membaca, serta hal-hal kecil yang sering terlewat. Sejak lama jatuh cinta pada senja—karena dari sanalah ia belajar bahwa keindahan sering datang bersama kefanaan. Dapat dijumpai di Instagram: @pt.anggreny_

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Pak Sarman: Dukun Ebeg yang Berjanji Menjaga Tradisi

Pak Sarman: Dukun Ebeg yang Berjanji Menjaga Tradisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co