6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Teras, Way of Life, dan Kendali Emosi Manusia ala Henry Manampiring

Luh Putu Anggreny by Luh Putu Anggreny
September 30, 2023
in Khas
Filosofi Teras, Way of Life, dan Kendali Emosi Manusia ala Henry Manampiring

Acara bedah buku Filosofi Teras di Singaraja Literary Festival 2023 di Gedong Kirtya | Foto: Dok. Omen

“Manusia tidak memiliki kuasa untuk memiliki apa pun yang dia mau, tetapi dia memiliki kuasa untuk tidak mengingini apa yang dia belum miliki, dan dengan gembira memaksimalkan apa yang dia terima.”

— Filosofi Teras

***

BERBICARA mengenai filsafat memang tak pernah ada habisnya. Dari sejak zaman Thales hingga hari ini, sebagai sebuah ilmu pengetahuan, filsafat masih terus dipelajari, dibicarakan, dan tak jarang juga diperdebatkan.

Dalam konteks pengetahuan atau filsafat sebagai cara, sosok bernama Henry Manampiring, masih mempelajari dan mengembangkannya menjadi tulisan-tulisan menarik yang konteks dengan kehidupan kita sebagai anak muda, khususnya.

Dalam bukunya yang berjudul Filosofi Teras, misalnya, lelaki yang akrab dipanggil Om Piring itu mampu menerjemahkan konsep stoic—filsafat Yunani-Romawi Kuno yang bagi saya pembahasannya memang berat—ke dalam sebuah buku dengan gaya bahasa ringan yang dapat dinikmati banyak kalangan.

Maka tak heran, buku yang diterbitkan Kompas pada 2019 itu, seketika menjadi semacam bacaan wajib bagi anak muda—yang hari-hari ini sepertinya memang lebih banyak mengeluh daripada bekerja keras.

Pada Jumat, (29/9/2023) sore, Om Piring hadir secara perdana di acara Singaraja Literary Festival di Kawasan Gedong Kirtya, Singaraja, Bali. Ia bersama Kadek Sonia Piscayanti, sastrawan sekaligus festival founder, membedah buku bukunya di hadapan anak-anak muda milenial dan penggemarnya di Bali.

Kadek Sonia Piscayanti dan Henry Manampiring pada sesi bedah buku Filosofi Teras serangkaian mata acara Singaraja Literary Festival 2023 / Foto: Dok. Saka

Sebelum acara dimulai, sempat saya bersalam sapa dengannya. Ramah, itu yang saya tangkap dari tutur kata tegas saat ia menyebutkan nama seraya menjabat tangan saya. Dalam hati saya begitu berdebar.. Hahaha. Siapa yang tidak deg-degan berjabat tangan dengan penulis terkenal?

Saat acara dimulai, bersama Bu Sonia, ia duduk tepat di depan saya. Bu Sonia, pada kesempatan tersebut, mulai membedah buku Filosofi Teras dengan menjelaskan tentang “trikotomi kendali”. Mendengar penjelasan tersebut, dalam hati saya bergumam, “Kenapa ini sepertinya sulit ya?”

“Kalau baca Filosofi Teras, kalian juga harus paham isinya,” begitu celetuk Bu Sonia kepada peserta bedah buku yang membludak sampai ada yang tidak kebagian kursi. Deg. Saya tiba-tiba merasa fomo. Berarti sekarang saya harus serius mendengarkan.

Bu Sonia kembali menjelaskan bahwa “trikotomi kendali” dalam Filosofi Teras menegaskan bahwa manusia di dalam hidupnya bisa hidup rileks namun bukan berarti menjadi malas. Dalam artian, manusia bisa sefleksibel mungkin menjalankan hidupnya. Fleksibel di sini artinya apa adanya, penerimaan atas segala sesuatu, semampunya, sewajarnya, dan bukan sebagai alasan untuk bermalas-malasan atau pasrah.

Mendengar penjelasan tersebut, seorang gadis berkebaya merah merasa tercerahkan dan kemudian berkata, “Kalau begini sebenarnya saya disadarkan, ya. Selama ini saya selalu bermalas-malasan.” Sedangkan saya bergumam, “Duh, saya ini sadar apa tidak ya?” pikir saya sembari menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.

Semakin lama, penjelasan Bu sonia dan Om Piring semakin menyadarkan saya. Bu Sonia kembali menyinggung tentang Stoisisme yang ada pada buku Filosofi Teras. Ia menyampaikan bahwa manusia harus menggunakan nalar dan rasionalitas yang kemudian dihubungkan dengan “Trikotomi Kendali”. 

Sementara itu, Om Piring menimpali, bahwa dalam hal hidup, manusia kebanyakan menginginkan hidup yang bebas atau jauh dari emosi negatif. “Hal ini dapat dilakukan apabila manusia memiliki kendali terhadap dirinya sendiri,” begitu katanya, menegaskan, dengan gerak tangan dan muka serius.

Pada saat Om Piring berkata “Kalau saya hubungkan antara filosofi teras, filsafat, dan kegiatan literasi seperti ini, ada satu hal yang terjelaskan dalam pikiran saya” membuat saya penasaran sekali. “Memangnya filsafat dan literasi—apalagi bukunya—ada hubungan?”

Dan Om Piring melanjutkan, “Bahwa bagaimana sebuah ide bisa menembus zaman. Event-event literasi dan ilmu filsafat bisa dikatakan terus maju sesuai zaman yang terus berkembang pesat.” Ah, kenapa saya tidak berpikir sampai ke sana, ya? Kenapa saya malah berpikir bahwa filsafat itu terlalu sulit? Kenapa… kenapa… dan kenapa? Pikiran itu terus berputar dalam benak saya.

Filosofi Teras, Way of Life

Berdasarkan laman Dianns.org—website resmi dari Lembaga Pers Mahasiswa FIA UB—Filosofi Teras adalah buku yang ditulis Henry Manampiring karena ia pernah didiagnosis menderita Major Depressive Disorder atau depresi pada tahun 2017.

Pada masa pemulihan, Henry menemukan dan membaca sebuah buku yang berjudul How to Be a Stoic karya Massimo Pigliucci yang berisikan ajaran stoisisme atau filsafat stoa.

Dengan membaca dan mempraktikkan ajaran yang terdapat pada buku itulah, Henry merasa menjadi lebih tenang dan dapat mengendalikan emosi negatifnya. Hal itulah yang melatarbelakangi Henry Manampiring untuk menulis buku ini. Dengan menciptakan buku ini, Henry berharap bukunya dapat meningkatkan minat baik pembaca sehingga pembaca dapat memperoleh hidup yang lebih tenang.

Dalam buku ini, Henry tidak sedang membahas mengenai pikiran buruk orang-orang tentang filsafat, tapi justru mengenalkan salah satu ilmu filsafat bernama stoisisme atau yang sering disingkat dengan filsafat stoa. Filosofi teras sendiri merupakan terjemahan langsung dari filsafat stoa tersebut.

Henry menganggap bahwa filsafat stoa adalah sebuah way of life, jalan hidup. Filsafat seringkali dinilai sebagai cara berpikir yang ruwet dan njelimet, namun filsafat stoa justru berbeda. Filsafat stoa berisi ajaran untuk kita dapat berpikir lebih simpel.

Filsafat stoa dapat memberikan banyak pelajaran-pelajaran mengenai kehidupan bagi setiap kalangan tanpa memandang latar belakangnya apa. Stoisisme bersifat “dogmatis” karena filsafat ini bukan agama yang memiliki aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar, atau terdapat ancaman masuk neraka ketika dilanggar.

Filsafat ini tidak menjamin kita agar selalu hidup dalam kebahagiaan tetapi hidup dengan ketenangan hati dan pikiran. Hal tersebut selaras dengan tujuan dari filsafat stoa yaitu hidup bebas dari emosi negatif dan hidup mengasah kebajikan.

Dalam buku Filosofi Teras ini, dijelaskan mengenai prinsip utama dari stoisisme adalah in accordance with nature, yang berarti hidup selaras dengan alam. Manusia yang hidup selaras dengan alam adalah manusia yang hidup sesuai dengan desainnya, yaitu makhluk bernalar.

Buku Filosofi Teras cetakan terbaru yang dijual saat bedah buku di Singaraja Literary Festival 2023 / Foto: Dok. Saka

Sederhananya, hidup selaras dengan alam berarti sebisa mungkin di setiap situasi hidup kita tidak kehilangan nalar kita dan berlaku seperti binatang. Kehilangan nalar tersebut pada akhirnya berujung pada ketidakbahagiaan pada diri manusia itu sendiri.

Ah, saya paham sekarang. Sebenarnya Om Piring ingin pembacanya untuk memisahkan antara hal yang “bisa dikendalikan oleh diri dan tidak bisa dikendalikan oleh diri”  agar tidak selalu fokus pada hal-hal yang sebenarnya di luar kendali.

Henry mengemas buku ini dengan uraian-uraian yang begitu mudah dimengerti dengan memberikan contoh-contoh realistis dalam kehidupan sehari-hari. Benar yang dikatakan Bu Sonia, semakin membaca lembaran demi lembaran buku Filosofi Teras, akan semakin banyak mengerti bagaimana harus bersikap agar dapat hidup dengan pikiran yang tenang tanpa diikat dengan pikiran-pikiran yang menyiksa diri.

Saat scara selesai, saya melangkahkan kaki perlahan menuju tempat Om Piring dikerubungi penggemarnya. Mereka semua hendak meminta tanda tangan dan berfoto bersama—kerumunan itu tampak begitu rampai.

Kaki saya terus berpijak pada paving-paving dan melangkah kecil mendekati Om Piring. Sampai, pikir saya. Saya menunggu di belakang penggemarnya yang masih asyik berfoto dan bergurau. Hingga dua puluh menit berlalu, akhirnya sepi.

Saya mendekati Om Piring yang sedang menunduk mengambil tas. “Pak, terima kasih sudah datang. Saya disadarkan oleh buku Filosofi Teras ini. Saya jadi sadar bahwa selama ini saya sering malas dan menjalani hidup dengan pikiran sulit yang saya timbulkan sendiri,” ucap saya dengan dada penuh debar.

Ia mengangkat kepalanya, menatap tepat di bola mata saya. Ia tersenyum tulus sembari menjawab, “Terima kasih juga telah mendengarkan saya. Tetaplah hidup dan jadi manusia hebat,” katanya sembari menggendong tas dan menepuk bahu saya dua kali. “Saya duluan, ya,” katanya, melangkah pergi dan kembali bercengkerama dengan orang lain di lain tempat.

Saya membeku, ah dia baik sekali. Akhirnya saya melangkah pergi dari keramaian—tempat penggemar Henry Manampiring—menuju sepeda motor saya untuk bersiap pulang. Hah, hari yang menyenangkan. Saat perjalanan pulang, saya menikmati sepoi angin sore itu.[T]

Editor: Jaswanto

Singaraja Literary Festival: Ruang Intelektual Baru dan Jembatan Penghubung Pengetahuan
Tags: festivalGedong KirtyaSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Desa Sinabun, Ada Teknologi Inovasi Pengelolaan Sampah Bernama Trashkleng

Next Post

Pak Sarman: Dukun Ebeg yang Berjanji Menjaga Tradisi

Luh Putu Anggreny

Luh Putu Anggreny

Penikmat kata dan halaman-halaman sunyi. Menyukai menulis dan membaca, serta hal-hal kecil yang sering terlewat. Sejak lama jatuh cinta pada senja—karena dari sanalah ia belajar bahwa keindahan sering datang bersama kefanaan. Dapat dijumpai di Instagram: @pt.anggreny_

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Pak Sarman: Dukun Ebeg yang Berjanji Menjaga Tradisi

Pak Sarman: Dukun Ebeg yang Berjanji Menjaga Tradisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co