14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arief Gunawan: Shorinji Kempo Adalah Rumah Kedua Saya

Jaswanto by Jaswanto
September 9, 2023
in Persona
Arief Gunawan: Shorinji Kempo Adalah Rumah Kedua Saya

Arief Gunawan

HAMPIR SETIAP PAGI, sebelum pukul 6.00 Wita, Areif harus mempersiapkan segala perlengkapan tenisnya. Raket kesayangannya tidak boleh ketinggalan. Air minum pun demikian. Dan kalau sepatu sudah dipakai, saatnya berangkat ke Lapangan Tenis GOR Bhuana Patra Singaraja. Di sana, beberapa kawan sudah menunggunya.

“Setiap hari saya bermain tenis. Dari pukul 6.30 sampai 8.30 pagi,” terangnya, kepada tatkala.co saat ditemui di GOR Bhuana Patra, Sabtu (9/9/2023) pagi.

Meski begitu, tenis lapangan sebenarnya bukan satu-satunya olahraga yang ia minati. “Itu hanya hobi saja,” katanya. Tentu, selain tenis, olahraga yang benar-benar membuatnya jatuh cinta—dan bahkan rela mengabdikan diri sampai saat ini—adalah Shorinji Kempo (selanjutnya ditulis Kempo)—salah satu seni bela diri yang berasal dari Jepang itu.

Arief Gunawan nama lengkapnya, salah seorang tokoh penting di PERKEMI (Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia) Buleleng. Ia lahir di Singaraja pada 18 April 1972, lima puluh satu tahun yang lalu. Dan mulai tertarik berlatih Kempo sejak tahun 1985. Saat itu dirinya masih duduk di bangku SMP. “Kakak yang mengenalkan Shorinji Kempo kepada saya, karena dulu saya nakal dan suka berantem,” kenangnya sembari tertawa.

Sejak saat itu, bersama sang kakak, Arief mulai rutin latihan di Dojo SMA Bhaktiyasa Singaraja. Selain di Bhaktiyasa, ia juga sempat berlatih di Dojo Kejaksaan Negeri Singaraja.

Sebagai kenshi (atlet Kempo) baru, seolah sudah ditakdirkan, Arief termasuk yang berbakat. Oleh karena kemampuannya itulah, Sensei Nyoman Muliartha dan Senpai Agung Adnyana (dua tokoh Kempo di Buleleng), sampai menyediakan waktu untuk melatih dan menempanya secara khusus. Di bawah bimbingan para sensei itulah, Arief mulai diikutsertakan dalam kejuaraan-kejuaraan di level daerah.

Selain Sensei Muliartha, ia juga menyebut dan mengakui Pande Sumertha Yoga sebagai sensei yang sangat berperan dalam karier Kempo-nya.  Menurutnya, Sensei Sumertha Yoga adalah salah seorang yang paling semangat memberinya dukungan. Namun sayang, beliau sudah almarhum, tuturnya.

Foto Arief Gunawan bersama tiga temannya di Kejurda Kediri, Jawa Timur, tahun 1991 / Foto: Dok. Toto

“Saya sangat menghormati Sensei Muliartha dan para senpai (senior). Berkat mereka saya bisa seperti sekarang,” ujar lelaki lulusan STIKI Malang angkatan 1990-1995 itu, sungguh-sungguh.

Pada 1988, Arief sudah mulai mengikuti kejuaraan daerah di Bali dan Jawa. Hingga tahun 1992, berkat bimbingan para sensei dan senpai-nya—dan juga kegigihan serta kesungguhannya—ia mulai debutnya di kancah nasional dalam Kejurnas Pra PON di Yogyakarta dan meraih medali perak. Ajang tersebut bisa dikatakan sebagai pintu masuk kariernya sebagai atlet Kempo nasional pilih tanding.

“Mulai mengikuti Kejurda Bali tahun 1988 sampai 2009; lalu Kejurda Jatim tahun 1992. Setelah itu saya mulai berani tanding di tingkat nasional,” terang alumni SMAN 1 Singaraja itu.

Benar. Sejak saat itu semangat Arief tak terbendung. Ia bahkan menjadi atlet andalan PERKEMI Buleleng. Dan meski harus bolak-balik Malang-Singaraja—saat itu ia sudah kuliah di STIKI Malang—pada PON XIII tahun 1993 di Jakarta,  Arif mampu meraih juara 2 dengan medali perak.

Lalu, tiga tahun kemudian, tepatnya PON XIV di Jakarta 1996, ia mendapatkan perunggu. Selanjutnya, pada tahun 2004, saat PON XVI Palembang, Arief kembali meraih medali perungggu. Dan, pada ajang Indonesia Open 2003, ia berhasil meraih medali emas untuk kategori Embu Beregu Putra

Selain itu, masih banyak medali yang ia raih, di antaranya:  medali perunggu Kejurnas 1995 Randori (tarung) Beregu; medali perunggu Kejurnas 2003 Embu Beregu Putra; medali perunggu PON XVI 2004 Embu Beregu Putra; medali emas Embu Pasangan Yudhansa Porprov 2003; medali emas Embu Pasangan Campuran Yudhansa Porprov 2003; medali emas Embu Beregu Putra Porprov 2003; dan medali emas Embu Pasangan Yudhansa putra Porprov 2009.

“Terakhir saya meraih mendali emas Radori Kelas 75 KG Porprov 2009. Saat itu umur saya sudah hampir 40 tahun,” katanya.

Sesaat setelah mengatakan hal itu, sebelum keringat di pelipis matanya menetes, Arief mengenang suka dukanya dulu saat pertama kali mengikuti kejuaran. Bersama riuh orang-orang bermain tenis lapangan, ia bercerita pernah kehujanan saat berangkat untuk bertanding.

“Kami naik pickup yang ditutup terpal. Tapi karena berangkat bersama-sama, jadi asyik aja,” kenangnya. Tak hanya itu, saat mengikuti kejuaraan, bersama atlet yang lain ia juga pernah tidur di atas bangku sekolah.

Medali-medali yang diraih Arief Gunawan selama ini / Foto: Dok. Arief

Dan saat ditanya mengenai cedera yang pernah dialami, Arief menjawab, “Sering.” Dan salah satu yang terparah adalah pada saat latihan menjelang PON XIII 1993. “Saat itu, rasanya lulut kanannya sampai sampai terlepas. Sudah pesimis untuk lanjut sebenarnya, tapi karena berkat motivasi tinggi dari berbagai pihak, saya tetap berangkat ke Jakarta dan syukur dapat meraih medali perak,” imbuhnya.

Tak hanya lutut yang bergeser, Arief juga pernah mengalami pecah pembuluh darah hingga kakinya panjang sebelah dan cedera-cedera ringan lainnya—yang tak terhitung jumlahnya. “Tapi itu tidak mengurangi semangat saya untuk terus berlatih dan aktif di Kempo.”

Benar. Sampai saat ini, Arief Gunawan masih aktif di dunia Kempo. Kenshi pemegang Sabuk IV Dan itu, selain aktif menjadi pengurus PERKEMI Buleleng sebagai wakil ketua, ia juga masih aktif melatih para kenshi muda di GOR Bhuwana Patra Singaraja setiap hari Selasa, Rabu, Jumat, dan Minggu, nyaris setiap hari.

Arief mengaku, bahwa Shorinji Kempo sudah dianggap sebagai “rumah” keduanya—begitu berharga dan berartinya Kempo bagi lelaki paruh baya yang kini berprofesi sebagai wiraswasta itu.

Dan atas pengabdiannya selama ini, pada momen peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) di Taman Kota Singaraja, Jumat (8/9/2023), bersama lima atlet senior lainnya, KONI Buleleng memberinya penghargaan sebagai bentuk penghormatan karena telah mengharumkan nama Buleleng dan Bali pada masanya.

“Penghargaan ini sebagai bentuk perhatian bagi dunia olahraga. Semoga dunia olahraga semakin diperhatikan oleh elemen masyarakat dan pemerintah. Karena olahraga juga bagian penting dalam perjalanan bangsa,” ujarnya, kepada para wartawan setelah prosesi penyerahan penghargaan.

Arief Gunawan (berkacamata) saat menerima penghargaan dari KONI Buleleng / Foto: Dok. Perkemi Buleleng

Ajaran Kempo

Perkembangan Kempo di Indonesia tidak terlepas dari sosok Utin Sahraz (almarhum), Indra Kartasasmita, dan Ginanjar Kartasasmita. Ketiga tokoh tersebut merupakan pelopor berdirinya PERKEMI (Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia)—yang pada tahun 2014 berubah nama menjadi Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia hingga sekarang. PERKEMI didirikan pada 2 Februari 1966 di Jakarta.

Sementara itu, menurut Arief, bersama beberapa tokoh lainnya, Sensei Nyoman Muliartha bisa dibilang termasuk orang yang berjasa dalam perkembangan Kempo di Buleleng. Melalui tangan dingin para founding fathers tersebut, ajaran Kempo bisa berkembang pesat—dan diterima tentu saja—di Singaraja.

Kempo tidak hanya sekadar olahraga, tapi juga olahjiwa. Dalam Kempo, banyak ajaran yang mengarah pada hal-hal yang sifatnya spiritual, seperti meditasi, misalnya.

Dan sebagai sebuah cabang olahraga beladiri, Shorinji Kempo merupakan beladiri yang sangat lengkap— dengan teknik-teknik keras dan lemah yang dipadukan secara harmonis. Hal tersebut merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Betapa tidak, dengan dilandasi pondasi yang kuat, yaitu falsafah dan doktrin yang sangat jelas dan terarah, sangatlah tepat bila ajaran-ajaran Kempo dikuasai, dipahami, dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Arief, Kempo tidak hanya mengajarkan ilmu beladiri, tapi juga cara menjadi manusia yang baik—manusia yang dapat bermanfaat bagi sesama. “Misi kami belajar Shorinji Kempo itu adalah membantu dan bisa membahagiakan orang lain. Sebab, pada dasarnya, Kempo itu menganut asas persaudaraan,” terangnya.

Sementara itu, khususnya di Buleleng, Arief menuturkan bahwa pihaknya terus berusaha untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada para kenshi yang baru maupun lama. Sebab, tantangan atau musuh terbesar seorang kenshi adalah dirinya sendiri.

Di dalam jurnalnya Komunikasi antara Pelatih dan Atlet Shorinji Kempo dalam Menerapkan Nilai-nilai Bushido: Studi Deskriptif pada Shorinji Kempo (2018), Sophia Jasmine Marthadi menuliskan, dalam Shorinji Kempo sering terdengar kata-kata seperti “taklukkan dirimu sebelum menaklukkan orang lain”.

Falsafah di atas memiliki makna sangat dalam; para kenshi diajarkan untuk terus introspeksi terhadap diri sendiri; tahu kelemahan dan mengerti kelebihannya; menaklukkan rasa egois dan individual; dan memupuk sifat sportif. Ajaran itu, dalam istilah Shorinji Kempo dikenal dengan Bushido.

“Kami berusaha menjauhkan anak-anak dari narkoba. Lalu menanamkan ajaran untuk menghormati dan mencintai orang tua. Itu yang paling penting. Dan dengan adanya latihan Kempo, itu juga bisa mengurangi waktu anak-anak dalam bermain handphone,” jelas Arief.

Sekali lagi, Kempo bagi Arief Gunawan adalah “rumah” keduanya. Oleh karena itu, layaknya rumah, ia juga harus dijaga, dirawat, diperbaiki jika ada yang rusak, dan dibersihkan jika ada yang kotor. Bagi Arief, mencintai Shorinji Kempo sama besarnya seperti mencintai dirinya sendiri.[T]

Baca juga artikel terkait TOKOH atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Tags: baliolahragapencak silatSingarajatokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menengok Putu Oka Sukanta: Mengenang GONG Kronik di Denpasar 1964

Next Post

Renjana: Gemuruh Hati Seorang April Artison

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
Renjana: Gemuruh Hati Seorang April Artison

Renjana: Gemuruh Hati Seorang April Artison

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co