6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PKB, Hujan, dan Kenangan yang Tercecer dari Gong Kebyar Wanita Manik Kencana Putri, Kelaci, Marga, Tabanan

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
July 16, 2023
in Khas
PKB, Hujan, dan Kenangan yang Tercecer dari Gong Kebyar Wanita Manik Kencana Putri, Kelaci, Marga, Tabanan

TABUH PENGIRING tari kreasi itu selesai dengan baik. Tidak ada kesalahan. Antara gerak tari dan tabuh berjalan harmonis. Gemuruh tepuk tangan penonton memenuhi panggung terbuka Ardha Candra.

Tribun barat, utara dan selatan dipenuhi penonton. Perasaan jadi lega. Anak-anak sudah sukses mengiringi  tarian dengan judul Resik Segara itu dengan baik. Tarian yang menggambarkan pencemaran laut, yang membuat ikan-ikan terkapar.

Sekaa Gong Manik Kencana Putri, sebagai Duta Kabupaten Tabanan kategori Gong Kebyar Wanita, yang terdiri dari remaja dan anak-anak putri, dari kelas 3 SD sampai SMA, telah sukses membawakan satu tabuh dengan sangat lancar.

Mental panggung mereka telah teruji. Beberapa kali ujian panggung di depan ratusan pasang mata penonton telah mengasah mental mereka. Mereka bukan lagi anak-anak yang gampang grogi. Perasaan jadi lega.

Cuaca malam itu begitu cerah. Bintang kelihatan di posisi mereka masing-masing. Dari tadi pagi kami semua merasa cemas, karena hujan tak henti-henti mengguyur kota Denpasar. Hujan datang dan pergi. Pukul empat pagi, gladi kami berkali-kali dihentikan hujan deras. Kami pun melakukan gladi seadanya.

Malam itu ternyata alam begitu baik. Tiga sekaa gong kebyar tampil dengan sangat baik tanpa gangguan cuaca.  Di posisi tengah ada Gong Kebyar Dewasa yang diwakilkan oleh Sekaa Gong Giri Kusuma dari Banjar Dinas Senganan Kanginan, Desa Senganan, Penebel.

Sekaa Gong Manik Kencana Putri, Banjar Dinas Kelaci, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga | Foto: Junaedi

Di bagian utara ada Gong Kebyar Anak-anak dari Sanggar Tari dan Tabuh Natya Praja, Banjar Dinas Saraswati, Desa Bajera, Selemadeg. Dan di bagian selatan panggung adalah Gong Kebyar Wanita, dari Sekaa Gong Manik Kencana Putri, Banjar Dinas Kelaci, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga.

Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Menjelang pementasan tabuh pepanggulan yang dibawakan Gong Kebyar Anak-anak (GKA) berakhir, tiba-tiba angin berhembus kencang. Entah dari mana, awan bergulung-gulung datang.

Pada lampu penerangan panggung, kelihatan gerimis turun dengan butiran-butiran tipis. Protokol penyiapkan payung untuk para pejabat. Awalnya hanya gerimis. Kemudian hujan lebat betul-betul menghentikan pertunjukan kami. Raut wajah kecewa. Banyak yang menggerutu.

Bahkan ada yang mengumpat dengan marah: “Seseorang telah mengirim hujan saat Duta Kabupaten Tabanan pentas!” Entahlah, apakah memang betul ada seseorang yang memiliki kuasa terhadap alam.

Anak-anak kembali ke kamar berhias dengan wajah layu. Penata rias memperbaiki wajah mereka. Kami baru menampilkan satu tabuh dan tarian. Masih ada sisa satu penampilan dari Tarian Sandhya Gita yang akan tampil di giliran ke enam. Dan juga anak-anak akan ikut pada kolaborasi, berbaur nada dengan Sekaa Gong Dewasa dan Sekaa Gong Anak-anak dalam satu garapan tabuh sebagai pertunjukan penutup.

Enam bulan sudah kami latihan rutin dan instens, untuk dua buah pertunjukan yang berdurasi 13 menit dan 16 menit. Saat semuanya sudah siap dan matang, semuanya dirusak oleh hujan. Saya ikut ke ruangan berias dengan langkah yang linglung, menemani anak-anak yang kecewa.

Sempat Sedih

Sebagai koordinator Gong Kebyar Wanita (GKW), sungguh malam ini saya sedih, kecewa dan sedikit marah. Tapi siapa yang bisa disalahkan. Ini bukanlah kesalahan teknis dari ulah manusia. Ini kehendak alam. Setiap cuaca merupakan titip alam mencari keseimbangan.

Teringat kembali beberapa tahun yang lalu, saat Sekaa Gong Manik Kencana Putri terbentuk. Awalnya banjar saya mendapat hibah seperangkat gong kebyar dari pemerintah provinsi, akhir tahun 2019.

Sekaa Gong Manik Kencana Putri saat pembinaan | Foto Junaedi

Atas prakarsa Made Suanta, pemilik sebuah sanggar seni di banjar Kuwum Mambal, Marga, yang kebetulan istrinya dari banjar saya, menyarankan membentuk sekaa gong wanita yang terdiri dari remaja putri yang memang kala itu masih sangat langka.

Sekaa gong wanita PKK memang sudah ketinggalan jaman. Kabupaten-kabupaten lain sudah terlebih dulu membentuk sekaa gong wanita dari remaja putri. Kali ini, Tabanan untuk pertama kalinya mengirim duta GKW dari remaja putri. Dan sungguh membanggakan, banjar saya yang pertama.

 Saat itu adalah masa-masa awal saya ngayah sebagai prajuru Desa Adat Kelaci. Setelah berembug dengan Bandesa Adat, kami sepakat. Kami meminta bajang-bajang kumpul. Mereka semangat. Kebetulan juga ada pagu anggaran Sekaa Sebunan di postur Dana Desa Adat yang bisa dipakai untuk membina sekaa gong. Di Baga Pawongan ini merupakan program wajib.

Kami menunjuk Made Suanta sebagai pelatih. Anak-anak remaja putri itu begitu giat berlatih dasar-dasar tabuh: pengenalan nada, cara memegang panggul. Mereka belajar dari titik nol.

Awalnya berlatih tabuh yang paling sederhana. Anak-anak semangat dan utuh. Berlatih 3 kali seminggu. Ada rasa optimis mereka akan menjadi penabuh yang andal di masa depan. Ini bisa menjadi tonggak kebangkitan seni di banjar kami.

Sekaa Gong Manik Kencana Putri saat pentad di Pesta Kesenian Bali 2023 | Foto: Junaedi

Tapi kedatangan Covid 19 telah membunuh harapan itu. Anak-anak berhenti latihan, karena memang saat itu ada pembatasan kegiatan dan larangan berkumpul. Setelah Covid 19 berakhir, kami kembali latihan dengan sekaa yang tidak utuh lagi. Beberapa personil keluar karena sudah punya kegiatan masing-masing.

 Syukur juga saat itu, ada yang keluar tapi ada yang menggantikan. Kami memiliki sekaa yang bervariasi. Ada anak SD, SMP dan SMA. Awalnya berlatih untuk bisa ngayah di pura, bergantian dengan sekaa gong dewasa. Hampir setahun kami berlatih untuk tabuh Tari Nelayan yang begitu rumit.

Akhirnya selesai. Itu merupakan tabuh pertama yang kami miliki. Anak-anak berproses sejak belajar cara pegang panggul, sampai menuntaskan tabuh Tari Nelayan yang sebenarnya lebih cocok untuk para penabuh dewasa.

Berkat kerja keras Made Suanta sebagai pelatih, yang dengan sangat sabar membimbing anak-anak kami. Anak-anak mementaskan tabuh Nelayan itu dari pura ke pura, menyelingi sekaa gong dewasa ngayah dengan tabuh lelambatan. Begitulah perencanaan kami. Anak-anak belajar tabuh tarian, sedangkan sekaa gong dewasa membawakan lelambatan. Saat itu sedikitpun tak pernah terbesit tujuan untuk sampai ke PKB.

Penyakit jenuh itu pun mulai datang. Sekaa kami pasang surut. Penabuh datang dan pergi. Tukang ugal, entah berapa kali sudah berganti. Begitulah anak-anak. Tidak bisa dipaksa. Masih untung Metha dan Dela tetap konsisten.

Dengan setia mereka memeluk kendang lanang dan wadon. Ada Bintang si manis yang masih SMP, dia bertahan di ugal. Ada Atha, si mungil yang mahir di reong, yang saat itu masih kelas 3 SD. Ada Dea yang pintar di kecek, yang juga masih kelas 3 SD. Ada Dinda kecil yang setia menjaga gong di belakang. Panggul gong jauh lebih besar dari lengannya yang mungil.

Menjadi Duta Tabanan

Akhirnya surat itu pun datang. Surat dari pemerintah kecamatan, bahwa kami ditunjuk mewakili kecamatan Marga mengikuti seleksi Gong Kebyar Wanita untuk ajang PKB 2023. Rasa gembira campur haru ketika saya menerima surat itu. Ini sebuah kemajuan. Anak-anak kami dilirik. Sebuah kehormatan menjadi kontestan seleksi gong kebyar.

Tapi saat itu kami krisis personil. Beberapa penabuh sudah berhenti lebih dulu, sebelum surat itu datang. Atas saran Made Suanta, kami meminta tambahan personil ke banjar sebelah, yaitu Banjar Ole.

Sebenarnya dulu di Banjar Ole sempat terbentuk sekaa gong wanita dari remaja putri, tapi entah kenapa bubar. Kami kemudian mendatangkan 7 orang penabuh dari Ole, dua mengisi suling dan 5 orang di gangsa.

Sekaa Gong Manik Kencana Putri saat pentad di Pesta Kesenian Bali 2023 | Foto: Junaedi

Sebuah formasi yang bagus. Yang paling depan ada deretan 8 orang tukang suling, dari SD, SMP dan SMA. Kami berlatih dengan sangat intens, untuk memenangkan seleksi. Memantapkan tabuh Tari Nelayan dan tabuh lelambatan. Dibina oleh 3 orang pelatih: Made Suanta, Wayan Suendra dan Dimas Swadharma. Dan hasilnya memang membanggakan. Kami betul-betul lolos seleksi.

Ini menjadi hari bersejarah. Menjadi Duta Kabupaten Tabanan sungguh membanggakan. Terbayang sudah anak-anak kami tampil di panggung Terbuka Ardha Candra. Pesta Kesenian Bali adalah ajang bergengsi.

Kami menunjuk Wayan Wiryadi sebagai penggarap tabuh tari kreasi. Selanjutnya Sanggar Rare Anggon menggarap tarian kreasi Resik Segara. Pak Yan Muder, seniman dari Angseri, yang sehari-hari sebagai ASN di Pemkab Tabanan, menjadi penggarap Tabuh Sandhya Gita.

Target 15 hari tercapai dengan baik. Di hari ke sebelas, tabuh tari kreasi sudah bisa dimainkan utuh oleh anak-anak Manik Kencana Putri. Tabuh yang berdurasi 13 menit, dengan permainan melodi-melodi indah yang enak didengar. Kemudian tinggal penyempurnaan. Di bulan ke dua Pak Yan Muder hadir dengan konsep tabuh Sandhya Gita. Dadong Rerod menjadi penggarap vocal dan gerak. Sandhya Gita yang begitu indah. Olah vocal dan gerak tari, dimainkan oleh 8 penari pria dan 9 penari wanita.

Dari bulan ke bulan, anak-anak kami berproses. Mewujudkan 3 buah pertunjukan seharga 200 juta rupiah. Ternyata, dana pembinaan 200 juta yang diberikan Pemkab Tabanan tidak ada artinya setelah terserap untuk konsumsi latihan harian, beli kostum, biaya tata rias, bayar honor, biaya pemondokan, sewa bus dan lain-lainnya. Kedas mesapsapan.

Keceriaan Sekaa Gong Manik Kencana Putri saat pentad di Pesta Kesenian Bali 2023 | Foto: Junaedi

Kekurangannya kami harus menggali dana dengan menjual baju kaos dan mengadakan turnamen cekian. Sisanya dibiayai dari kebaikan para donatur di banjar kami. Begitu mahal harga sebuah pertunjukan.

Seni memang butuh biaya. Di samping itu, sebuah proses pertunjukan bisa memutar roda perekonomian selama beberapa bulan. Cobalah dihitung, tiap hari kami belanja snack ratusan ribu yang memberi rejeki UKM. Segala sektor ekonomi menjadi menggeliat.

***

“Perhatian anak-anak. Tiang dapat info dari Disbud, bahwa pertunjukan akan dilanjutkan setelah hujan reda!” ucap Jero Bandesa Adat di ruang rias, membuyarkan lamunan saya.

Sontak, anak-anak pun bersorak gembira. Aura kegembiraan memenuhi ruangan rias itu. Ada sedikit asa yang muncul. Meski rasa pesimis masih menghinggapi perasaan kami.

Apakah hujan betul-betul mau reda? Sampai kapan kami menunggu? Bagaimana kalau nanti di tengah-tengah pertunjukan hujan kembali datang menyela. Kalaupun hujan reda dan pertunjukan dimulai lagi, toh kami sudah kehilangan penonton. Untuk apa juga sebuah pegelaran dengan segelintir penonton?

Pesan lewat Whatsapp dari pegawai Disbud, agar kami bersiap-siap. Saya bersama teman-teman kru, bahu membahu membersihkan gambelan dari air hujan. Menyeka bilah-bilah gambelan dengan lap kanebo.

Sekaa Gong Manik Kencana Putri saat pentad di Pesta Kesenian Bali 2023 | Foto: Junaedi

Entah pukul berapa saat itu, saat semuanya siap, pertunjukan dimulai lagi. Kontingen Gong Kebyar Wanita, Gong Kebyar Anak-anak dan Gong Kebyar Dewasa kembali ke posisi masing-masing. Gong Kebyar Wanita di sisi selatan, Gong Kebyar Anak-anak di utara, dan Gong Kebyar Dewasa di tengah-tengah.

Kru dari panitia PKB membersihkan genangan air di panggung. Kemudian MC keluar. Giliran pementasan tari kreasi dari sekaa gong dewasa.

Kami menonton dengan harap-harap cemas, sambil sesekali menoleh langit. Satu per satu penonton kembali, hingga tribun barat, utara dan selatan kembali penuh.

Ternyata para penonton tidak pulang. Menteri PUPR, Gubernur Bali dan Bupati Tabanan kembali ke tempat duduk mereka yang mungkin sudah diganti karena basah. Yah, pagelaran terasa kembali meriah seperti semula.

Tepuk tangan menggema, ada juga yang mengucapkan yel-yel ketika kontingen mereka memulai pertunjukan. Dolanan yang dibawakan Sekaa Gong Anak-anak selesai dengan baik. Panggung menjadi hangat dengan kelucuan bocah-bocah.

Kemudian giliran pementasan dari anak-anak kami, Gong Kebyar Wanita. Tabuh dan tarian Sandhya Gita. Tabuh pembuka menghentak. Sorak sorai penonton. Saya terharu. Sembilan penari wanita keluar beriringan, dengan kostum yang didominasi warna merah.

Diikuti delapan penari pria sambil bernyayi. Nyanyian yang indah. Perpaduan vokal wanita dan pria. Vokal Sandhya Gita itu diciptakan oleh Wayan Juwana yang lebih dikenal Dadong Rerod. “Segara Kidul Tanah Lot”, begitulah judulnya.

Lengkingan suara Arisanthi, dengan vocal solonya yang indah dan menyentuh hati, seperti mengawali babak Tarian Sandhya Gita itu. Para penonton kembali bersorak.

Para penari menari dan menyanyi dengan senyum mengembang. Mengajak penonton untuk hanyut dalam keindahan vokal dan gerak tari. Para penonton terbius. Senyap. Perhatian terfokus pada tarian Sandhya Gita.

Kemudian suara Nur melengking dengan vokal solonya, diiringi suling yang dimainkan oleh salah satu penari cowok. Kembali penonton bertepuk tangan sebentar.

Tari dan Tabuh Sandhya Gita selesai dengan lancar. Tidak ada kesalahan. Sebagai penutup, ketiga sekaa memainkan kolaborasi. Ketiga sekaa memainkan gambelan secara bersamaan, saling mengisi. Akhirnya pementasan itu pun selesai tanpa gangguan cuaca lagi.

Bupati Tabanan bersalaman dengan penabuh Sekaa Gong Manik Kencana Putri saat pentad di Pesta Kesenian Bali 2023 | Foto: Junaedi

Pada sesi foto bersama dengan Pak Gubernur, Pak Bupati dan Bapak Menteri, semuanya kelihatan ceria. Seluruh penari dan penabuh berbaur di panggung dengan bentangan karpet merah itu. Saling bersalam-salaman, saling berpelukan. Suasana cair. Aura persahabatan memancar.

Sekaa Gong Manik Kencana Putri, anak-anak kami, sudah menuntaskan tugasnya sebagai Duta Kabupaten Tabanan. Ini akan selalu dikenang oleh mereka. Lebih jauh lagi, ini akan menciptakan wawasan berpikir kepada mereka, bahwa dengan latihan disiplin dan kerja keras, tujuan pasti akan tercapai dengan baik. [T]

Tags: Banjar KelaciDesa Marga Dauh Purigong kebyarkesenian baliPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2023
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Antuk Linggih” Gus Lolec | In Memoriam Ida Bagus Sura Kusuma

Next Post

Puisi-puisi Putra Pradnyana | Merangkai Latri

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Putra Pradnyana | Merangkai Latri

Puisi-puisi Putra Pradnyana | Merangkai Latri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co