3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PKB, Hujan, dan Kenangan yang Tercecer dari Gong Kebyar Wanita Manik Kencana Putri, Kelaci, Marga, Tabanan

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
July 16, 2023
in Khas
PKB, Hujan, dan Kenangan yang Tercecer dari Gong Kebyar Wanita Manik Kencana Putri, Kelaci, Marga, Tabanan

TABUH PENGIRING tari kreasi itu selesai dengan baik. Tidak ada kesalahan. Antara gerak tari dan tabuh berjalan harmonis. Gemuruh tepuk tangan penonton memenuhi panggung terbuka Ardha Candra.

Tribun barat, utara dan selatan dipenuhi penonton. Perasaan jadi lega. Anak-anak sudah sukses mengiringi  tarian dengan judul Resik Segara itu dengan baik. Tarian yang menggambarkan pencemaran laut, yang membuat ikan-ikan terkapar.

Sekaa Gong Manik Kencana Putri, sebagai Duta Kabupaten Tabanan kategori Gong Kebyar Wanita, yang terdiri dari remaja dan anak-anak putri, dari kelas 3 SD sampai SMA, telah sukses membawakan satu tabuh dengan sangat lancar.

Mental panggung mereka telah teruji. Beberapa kali ujian panggung di depan ratusan pasang mata penonton telah mengasah mental mereka. Mereka bukan lagi anak-anak yang gampang grogi. Perasaan jadi lega.

Cuaca malam itu begitu cerah. Bintang kelihatan di posisi mereka masing-masing. Dari tadi pagi kami semua merasa cemas, karena hujan tak henti-henti mengguyur kota Denpasar. Hujan datang dan pergi. Pukul empat pagi, gladi kami berkali-kali dihentikan hujan deras. Kami pun melakukan gladi seadanya.

Malam itu ternyata alam begitu baik. Tiga sekaa gong kebyar tampil dengan sangat baik tanpa gangguan cuaca.  Di posisi tengah ada Gong Kebyar Dewasa yang diwakilkan oleh Sekaa Gong Giri Kusuma dari Banjar Dinas Senganan Kanginan, Desa Senganan, Penebel.

Sekaa Gong Manik Kencana Putri, Banjar Dinas Kelaci, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga | Foto: Junaedi

Di bagian utara ada Gong Kebyar Anak-anak dari Sanggar Tari dan Tabuh Natya Praja, Banjar Dinas Saraswati, Desa Bajera, Selemadeg. Dan di bagian selatan panggung adalah Gong Kebyar Wanita, dari Sekaa Gong Manik Kencana Putri, Banjar Dinas Kelaci, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga.

Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Menjelang pementasan tabuh pepanggulan yang dibawakan Gong Kebyar Anak-anak (GKA) berakhir, tiba-tiba angin berhembus kencang. Entah dari mana, awan bergulung-gulung datang.

Pada lampu penerangan panggung, kelihatan gerimis turun dengan butiran-butiran tipis. Protokol penyiapkan payung untuk para pejabat. Awalnya hanya gerimis. Kemudian hujan lebat betul-betul menghentikan pertunjukan kami. Raut wajah kecewa. Banyak yang menggerutu.

Bahkan ada yang mengumpat dengan marah: “Seseorang telah mengirim hujan saat Duta Kabupaten Tabanan pentas!” Entahlah, apakah memang betul ada seseorang yang memiliki kuasa terhadap alam.

Anak-anak kembali ke kamar berhias dengan wajah layu. Penata rias memperbaiki wajah mereka. Kami baru menampilkan satu tabuh dan tarian. Masih ada sisa satu penampilan dari Tarian Sandhya Gita yang akan tampil di giliran ke enam. Dan juga anak-anak akan ikut pada kolaborasi, berbaur nada dengan Sekaa Gong Dewasa dan Sekaa Gong Anak-anak dalam satu garapan tabuh sebagai pertunjukan penutup.

Enam bulan sudah kami latihan rutin dan instens, untuk dua buah pertunjukan yang berdurasi 13 menit dan 16 menit. Saat semuanya sudah siap dan matang, semuanya dirusak oleh hujan. Saya ikut ke ruangan berias dengan langkah yang linglung, menemani anak-anak yang kecewa.

Sempat Sedih

Sebagai koordinator Gong Kebyar Wanita (GKW), sungguh malam ini saya sedih, kecewa dan sedikit marah. Tapi siapa yang bisa disalahkan. Ini bukanlah kesalahan teknis dari ulah manusia. Ini kehendak alam. Setiap cuaca merupakan titip alam mencari keseimbangan.

Teringat kembali beberapa tahun yang lalu, saat Sekaa Gong Manik Kencana Putri terbentuk. Awalnya banjar saya mendapat hibah seperangkat gong kebyar dari pemerintah provinsi, akhir tahun 2019.

Sekaa Gong Manik Kencana Putri saat pembinaan | Foto Junaedi

Atas prakarsa Made Suanta, pemilik sebuah sanggar seni di banjar Kuwum Mambal, Marga, yang kebetulan istrinya dari banjar saya, menyarankan membentuk sekaa gong wanita yang terdiri dari remaja putri yang memang kala itu masih sangat langka.

Sekaa gong wanita PKK memang sudah ketinggalan jaman. Kabupaten-kabupaten lain sudah terlebih dulu membentuk sekaa gong wanita dari remaja putri. Kali ini, Tabanan untuk pertama kalinya mengirim duta GKW dari remaja putri. Dan sungguh membanggakan, banjar saya yang pertama.

 Saat itu adalah masa-masa awal saya ngayah sebagai prajuru Desa Adat Kelaci. Setelah berembug dengan Bandesa Adat, kami sepakat. Kami meminta bajang-bajang kumpul. Mereka semangat. Kebetulan juga ada pagu anggaran Sekaa Sebunan di postur Dana Desa Adat yang bisa dipakai untuk membina sekaa gong. Di Baga Pawongan ini merupakan program wajib.

Kami menunjuk Made Suanta sebagai pelatih. Anak-anak remaja putri itu begitu giat berlatih dasar-dasar tabuh: pengenalan nada, cara memegang panggul. Mereka belajar dari titik nol.

Awalnya berlatih tabuh yang paling sederhana. Anak-anak semangat dan utuh. Berlatih 3 kali seminggu. Ada rasa optimis mereka akan menjadi penabuh yang andal di masa depan. Ini bisa menjadi tonggak kebangkitan seni di banjar kami.

Sekaa Gong Manik Kencana Putri saat pentad di Pesta Kesenian Bali 2023 | Foto: Junaedi

Tapi kedatangan Covid 19 telah membunuh harapan itu. Anak-anak berhenti latihan, karena memang saat itu ada pembatasan kegiatan dan larangan berkumpul. Setelah Covid 19 berakhir, kami kembali latihan dengan sekaa yang tidak utuh lagi. Beberapa personil keluar karena sudah punya kegiatan masing-masing.

 Syukur juga saat itu, ada yang keluar tapi ada yang menggantikan. Kami memiliki sekaa yang bervariasi. Ada anak SD, SMP dan SMA. Awalnya berlatih untuk bisa ngayah di pura, bergantian dengan sekaa gong dewasa. Hampir setahun kami berlatih untuk tabuh Tari Nelayan yang begitu rumit.

Akhirnya selesai. Itu merupakan tabuh pertama yang kami miliki. Anak-anak berproses sejak belajar cara pegang panggul, sampai menuntaskan tabuh Tari Nelayan yang sebenarnya lebih cocok untuk para penabuh dewasa.

Berkat kerja keras Made Suanta sebagai pelatih, yang dengan sangat sabar membimbing anak-anak kami. Anak-anak mementaskan tabuh Nelayan itu dari pura ke pura, menyelingi sekaa gong dewasa ngayah dengan tabuh lelambatan. Begitulah perencanaan kami. Anak-anak belajar tabuh tarian, sedangkan sekaa gong dewasa membawakan lelambatan. Saat itu sedikitpun tak pernah terbesit tujuan untuk sampai ke PKB.

Penyakit jenuh itu pun mulai datang. Sekaa kami pasang surut. Penabuh datang dan pergi. Tukang ugal, entah berapa kali sudah berganti. Begitulah anak-anak. Tidak bisa dipaksa. Masih untung Metha dan Dela tetap konsisten.

Dengan setia mereka memeluk kendang lanang dan wadon. Ada Bintang si manis yang masih SMP, dia bertahan di ugal. Ada Atha, si mungil yang mahir di reong, yang saat itu masih kelas 3 SD. Ada Dea yang pintar di kecek, yang juga masih kelas 3 SD. Ada Dinda kecil yang setia menjaga gong di belakang. Panggul gong jauh lebih besar dari lengannya yang mungil.

Menjadi Duta Tabanan

Akhirnya surat itu pun datang. Surat dari pemerintah kecamatan, bahwa kami ditunjuk mewakili kecamatan Marga mengikuti seleksi Gong Kebyar Wanita untuk ajang PKB 2023. Rasa gembira campur haru ketika saya menerima surat itu. Ini sebuah kemajuan. Anak-anak kami dilirik. Sebuah kehormatan menjadi kontestan seleksi gong kebyar.

Tapi saat itu kami krisis personil. Beberapa penabuh sudah berhenti lebih dulu, sebelum surat itu datang. Atas saran Made Suanta, kami meminta tambahan personil ke banjar sebelah, yaitu Banjar Ole.

Sebenarnya dulu di Banjar Ole sempat terbentuk sekaa gong wanita dari remaja putri, tapi entah kenapa bubar. Kami kemudian mendatangkan 7 orang penabuh dari Ole, dua mengisi suling dan 5 orang di gangsa.

Sekaa Gong Manik Kencana Putri saat pentad di Pesta Kesenian Bali 2023 | Foto: Junaedi

Sebuah formasi yang bagus. Yang paling depan ada deretan 8 orang tukang suling, dari SD, SMP dan SMA. Kami berlatih dengan sangat intens, untuk memenangkan seleksi. Memantapkan tabuh Tari Nelayan dan tabuh lelambatan. Dibina oleh 3 orang pelatih: Made Suanta, Wayan Suendra dan Dimas Swadharma. Dan hasilnya memang membanggakan. Kami betul-betul lolos seleksi.

Ini menjadi hari bersejarah. Menjadi Duta Kabupaten Tabanan sungguh membanggakan. Terbayang sudah anak-anak kami tampil di panggung Terbuka Ardha Candra. Pesta Kesenian Bali adalah ajang bergengsi.

Kami menunjuk Wayan Wiryadi sebagai penggarap tabuh tari kreasi. Selanjutnya Sanggar Rare Anggon menggarap tarian kreasi Resik Segara. Pak Yan Muder, seniman dari Angseri, yang sehari-hari sebagai ASN di Pemkab Tabanan, menjadi penggarap Tabuh Sandhya Gita.

Target 15 hari tercapai dengan baik. Di hari ke sebelas, tabuh tari kreasi sudah bisa dimainkan utuh oleh anak-anak Manik Kencana Putri. Tabuh yang berdurasi 13 menit, dengan permainan melodi-melodi indah yang enak didengar. Kemudian tinggal penyempurnaan. Di bulan ke dua Pak Yan Muder hadir dengan konsep tabuh Sandhya Gita. Dadong Rerod menjadi penggarap vocal dan gerak. Sandhya Gita yang begitu indah. Olah vocal dan gerak tari, dimainkan oleh 8 penari pria dan 9 penari wanita.

Dari bulan ke bulan, anak-anak kami berproses. Mewujudkan 3 buah pertunjukan seharga 200 juta rupiah. Ternyata, dana pembinaan 200 juta yang diberikan Pemkab Tabanan tidak ada artinya setelah terserap untuk konsumsi latihan harian, beli kostum, biaya tata rias, bayar honor, biaya pemondokan, sewa bus dan lain-lainnya. Kedas mesapsapan.

Keceriaan Sekaa Gong Manik Kencana Putri saat pentad di Pesta Kesenian Bali 2023 | Foto: Junaedi

Kekurangannya kami harus menggali dana dengan menjual baju kaos dan mengadakan turnamen cekian. Sisanya dibiayai dari kebaikan para donatur di banjar kami. Begitu mahal harga sebuah pertunjukan.

Seni memang butuh biaya. Di samping itu, sebuah proses pertunjukan bisa memutar roda perekonomian selama beberapa bulan. Cobalah dihitung, tiap hari kami belanja snack ratusan ribu yang memberi rejeki UKM. Segala sektor ekonomi menjadi menggeliat.

***

“Perhatian anak-anak. Tiang dapat info dari Disbud, bahwa pertunjukan akan dilanjutkan setelah hujan reda!” ucap Jero Bandesa Adat di ruang rias, membuyarkan lamunan saya.

Sontak, anak-anak pun bersorak gembira. Aura kegembiraan memenuhi ruangan rias itu. Ada sedikit asa yang muncul. Meski rasa pesimis masih menghinggapi perasaan kami.

Apakah hujan betul-betul mau reda? Sampai kapan kami menunggu? Bagaimana kalau nanti di tengah-tengah pertunjukan hujan kembali datang menyela. Kalaupun hujan reda dan pertunjukan dimulai lagi, toh kami sudah kehilangan penonton. Untuk apa juga sebuah pegelaran dengan segelintir penonton?

Pesan lewat Whatsapp dari pegawai Disbud, agar kami bersiap-siap. Saya bersama teman-teman kru, bahu membahu membersihkan gambelan dari air hujan. Menyeka bilah-bilah gambelan dengan lap kanebo.

Sekaa Gong Manik Kencana Putri saat pentad di Pesta Kesenian Bali 2023 | Foto: Junaedi

Entah pukul berapa saat itu, saat semuanya siap, pertunjukan dimulai lagi. Kontingen Gong Kebyar Wanita, Gong Kebyar Anak-anak dan Gong Kebyar Dewasa kembali ke posisi masing-masing. Gong Kebyar Wanita di sisi selatan, Gong Kebyar Anak-anak di utara, dan Gong Kebyar Dewasa di tengah-tengah.

Kru dari panitia PKB membersihkan genangan air di panggung. Kemudian MC keluar. Giliran pementasan tari kreasi dari sekaa gong dewasa.

Kami menonton dengan harap-harap cemas, sambil sesekali menoleh langit. Satu per satu penonton kembali, hingga tribun barat, utara dan selatan kembali penuh.

Ternyata para penonton tidak pulang. Menteri PUPR, Gubernur Bali dan Bupati Tabanan kembali ke tempat duduk mereka yang mungkin sudah diganti karena basah. Yah, pagelaran terasa kembali meriah seperti semula.

Tepuk tangan menggema, ada juga yang mengucapkan yel-yel ketika kontingen mereka memulai pertunjukan. Dolanan yang dibawakan Sekaa Gong Anak-anak selesai dengan baik. Panggung menjadi hangat dengan kelucuan bocah-bocah.

Kemudian giliran pementasan dari anak-anak kami, Gong Kebyar Wanita. Tabuh dan tarian Sandhya Gita. Tabuh pembuka menghentak. Sorak sorai penonton. Saya terharu. Sembilan penari wanita keluar beriringan, dengan kostum yang didominasi warna merah.

Diikuti delapan penari pria sambil bernyayi. Nyanyian yang indah. Perpaduan vokal wanita dan pria. Vokal Sandhya Gita itu diciptakan oleh Wayan Juwana yang lebih dikenal Dadong Rerod. “Segara Kidul Tanah Lot”, begitulah judulnya.

Lengkingan suara Arisanthi, dengan vocal solonya yang indah dan menyentuh hati, seperti mengawali babak Tarian Sandhya Gita itu. Para penonton kembali bersorak.

Para penari menari dan menyanyi dengan senyum mengembang. Mengajak penonton untuk hanyut dalam keindahan vokal dan gerak tari. Para penonton terbius. Senyap. Perhatian terfokus pada tarian Sandhya Gita.

Kemudian suara Nur melengking dengan vokal solonya, diiringi suling yang dimainkan oleh salah satu penari cowok. Kembali penonton bertepuk tangan sebentar.

Tari dan Tabuh Sandhya Gita selesai dengan lancar. Tidak ada kesalahan. Sebagai penutup, ketiga sekaa memainkan kolaborasi. Ketiga sekaa memainkan gambelan secara bersamaan, saling mengisi. Akhirnya pementasan itu pun selesai tanpa gangguan cuaca lagi.

Bupati Tabanan bersalaman dengan penabuh Sekaa Gong Manik Kencana Putri saat pentad di Pesta Kesenian Bali 2023 | Foto: Junaedi

Pada sesi foto bersama dengan Pak Gubernur, Pak Bupati dan Bapak Menteri, semuanya kelihatan ceria. Seluruh penari dan penabuh berbaur di panggung dengan bentangan karpet merah itu. Saling bersalam-salaman, saling berpelukan. Suasana cair. Aura persahabatan memancar.

Sekaa Gong Manik Kencana Putri, anak-anak kami, sudah menuntaskan tugasnya sebagai Duta Kabupaten Tabanan. Ini akan selalu dikenang oleh mereka. Lebih jauh lagi, ini akan menciptakan wawasan berpikir kepada mereka, bahwa dengan latihan disiplin dan kerja keras, tujuan pasti akan tercapai dengan baik. [T]

Tags: Banjar KelaciDesa Marga Dauh Purigong kebyarkesenian baliPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2023
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Antuk Linggih” Gus Lolec | In Memoriam Ida Bagus Sura Kusuma

Next Post

Puisi-puisi Putra Pradnyana | Merangkai Latri

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Putra Pradnyana | Merangkai Latri

Puisi-puisi Putra Pradnyana | Merangkai Latri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co