1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kredibilitas Komunikator dalam Interaksi Budaya

Chusmeru by Chusmeru
July 3, 2023
in Esai
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

MENGAPA orang gagal berkomunikasi ketika berada di lingkungan budaya yang berbeda?. Dan mengapa ada orang yang begitu disegani dan dihormati dalam lingkungan budayanya? Penyebabnya bukan pada gegar budaya yang dialami seseorang saat berada di tempat yang baru. Namun lebih pada ketidakmampuan orang menjadi komunikator dalam interaksi budaya.

Beberapa kasus menunjukkan kredibilitas yang rendah sebagai komunikator dalam interaksi budaya. Seorang mahasiswa berinisial FS yang berasal dari luar Jawa tersandung kasus di Yogyakarta pada tahun 2014. Hanya lantaran kesal tidak diperbolehkan menyerobot antrean di salah satu SPBU di Yogyakarya, FS mengunggah kekesalannya di media sosial.

Unggahannya berisi cacian dan sumpah-serapah terhadap masyarakat Yogyakarta. Tidak terima terhadap unggahan itu, masyarakat Yogyakarta melaporkan FS ke polisi. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pun merasa tersinggung dengan unggahan tersebut. Buntutnya, FS harus duduk sebagai terdakwa di kursi pengadilan.

Kasus berikut menimpa artis dangdut Cita Citata pada tahun 2015. Menggunakan baju adat Papua dalam suatu acara, Cita Citata melontarkan perkataan yang dianggap menghina masayarakat Papua. Cita Citata pun dilaporkan ke Komnas HAM oleh perwakilan masayarakat adat Papua.

Somasi juga dilayangkan oleh Forum Papua Bersatu kepada Cita Citata. Sanksi adat dijatuhkan kepada pedangdut itu, yaitu harus meminta maaf kepada seluruh masyarakat Papua serta menyerahkan 500 ekor babi sebagai bentuk perdamaian.

Artis cantik Syahrini juga tersandung kasus yang berkaitan dengan norma dan etika saat berkunjung ke Holocaust Memorial Berlin, Jerman pada tahun 2018. Syahrini berpose dan berfoto di atas memorial tersebut. Dia pun mengunggah foto dan videonya di fitur Story Instagram.

Tindakan Syahrini dikecam netizen, karena dianggap telah melanggar etika berkunjung ke Holocaust. Norma masyarakat Jerman melarang orang untuk duduk, memanjat, maupun berfoto di Holocaust Memorial sebagai lambang korban pembantaian Nazi pimpinan Adolf Hitler.

Contoh kasus tersebut menggambarkan ketidakpahaman orang terhadap lingkungan budaya orang lain. Dalam contoh kasus itu, semua dipandang tidak kredibel berkomunikasi. Bahwa ada wilayah adat, tradisi, norma, nilai, kepercayaan, dan budaya yang perlu dipahami dan dihormati. Itulah yang seharusnya dimiliki orang agar menjadi komunikator yang kredibel.

Kredibilitas Sumber

Proses komunikasi mengisyaratkan, setiap orang dapat menjadi khalayak sekaligus komunikator. Kajian terhadap komunikator akan diperoleh gambaran tentang kredibilitas sesorang sebagai sumber informasi. Terdapat perbedaan terkait kredibilitas sumber antara masyarakat tradisional dengan masyarakat modern.

Komunikator dalam masyarakat tradisional dapat diperoleh melalui empat cara.

Pertama, orang dianggap kredibel karena informasi yang ia peroleh bersumber dari petunjuk, wangsit, wewarah, atau pawisik. Kemampuannya menjadi komunikator di masyarakatnya diperoleh secara transendental. Oleh sebab itu komunikator pada masyarakat tradisional sangat disegani dan dihormati, karena kerap membawa pesan yang bersifat gaib.

Kedua, kredibilitas diperoleh melalui laku tirakat. Seseorang dianggap sebagai komunikator dan dipercaya oleh masyarakat, karena pengetahuan yang dimiliki diperoleh melalui usaha olah batin. Biasanya komunikator tersebut menjalankan ritual puasa atau semedi untuk mendapatkan petunjuk yang dapat diterapkan dalam kehidupan di masyarakat. Secara moral kredibilitas semacam ini mendapat dukungan dari masyarakat. Artinya, orang yang sudah melakoni berbagai ikhtiar itu tentunya tidak akan berdusta atau mencederai masyarakat.

Ketiga, komunikator yang kredibel di masyarakat tradisional didapat dari proses belajar atau berguru pada orang yang disegani atau kasepuhan (orang yang dituakan) di masyarakat. Pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya merupakan hasil proses panjang dalam menimba ilmu, baik ilmu kanuragan maupun kebatinan.

 Keempat, momentum historis juga dapat menjadikan seseorang memiliki kredibilitas sumber sebagai komunikator yang dihormati. Keberhasilan seseorang di masa lalu dalam mengatasi masalah akan diingat masyarakat sebagai modal sosial. Kampung yang dulu kumuh dan sering terjadi tindak kriminal berhasil diubah oleh seseorang menjadi pemukiman yang asri, aman, dan nyaman.

Interaksi sosial budaya yang dilakukannya semata sebagai upaya untuk memecahkan masalah di masyarakat, tanpa orientasi pada kepentingan ekonomi maupun kekuasaan. Oleh sebab itulah, setiap informasi yang disampaikan orang itu akan dipercaya masyarakat.  

Sedangkan pada masyarakat modern seperti saat ini, kredibilitas sumber sering merujuk pada tingkat pendidikan, jabatan, maupun penguasaan informasi. Semakin tinggi tingkat pendidikan dianggap semakin benar informasi yang disampaikan.

Jabatan yang dimiliki seseorang juga dipandang sebagai modal tingkat kepercayaan sumber sebagai komunikator. Begitu pula dengan akses media yang membuat seseorang dipandang memahami berbagai persoalan.

Kredibilitas dalam masyarakat modern sangat rentan terhadap persoalan moralitas, karena informasi bernilai pragmatis serta sarat dengan kepentingan ekonomi dan politik. Tidak heran jika ada orang yang berpendidikan tinggi, memiliki jabatan keren, serta sangat melek media melakukan manipulasi informasi untuk memperoleh keuntungan ekonomi maupun politik.

Kejujuran

Menjadi komunikator dalam interaksi antarbudaya membutuhkan landasan moralitas, yaitu kejujuran dalam menarasikan budaya sendiri maupun budaya orang lain. Kadangkala orang menambahkan narasi budaya sendiri agar dianggap baik oleh orang lain. Atau juga menutupi narasi budaya agar tidak dinilai buruk pihak lain.

Padahal tidak ada hal yang benar atau salah, baik atau buruk dalam memberikan penilaian budaya. Setiap masyarakat memiliki persepsi sendiri tentang budayanya, dan pihak lain tidak dapat memberikan penilaian baik-buruk dan benar-salah atas budaya orang lain. Justru acapkali orang melakukan tindakan yang keliru atas dasar pemahaman yang kurang terhadap budaya orang lain; seperti contoh kasus FS, Syahrini, dan Cita Citata.

Kejujuran adalah kunci penting dalam interaksi budaya. Masyarakat Indonesia zaman dahulu mengenal istilah opo anane, apa adanya. Katakan apa adanya tentang nilai, norma, tradisi, kepercayaan, budaya kepada orang lain.

Jika orang lain memahami dan sepakat, maka interaksi budaya berlanjut. Namun jika orang lain tidak sepakat dan tidak paham, maka diharapkan ada tenggang rasa, tidak mencela, dan tidak memberi penilaian buruk tentang budaya seseorang.

Sayang sekali, di era yang serba digital ini kredibilitas komunikator dalam interaksi budaya sulit ditemui. Media sosial sering dijadikan sumber informasi budaya dan sarana untuk menarasikan budaya sendiri. Namun media sosial acap tidak lengkap dalam menyuguhkan informasi budaya.

Begitu pula narasi budaya yang dibangun lewat media sosial sering mengalami distorsi. Maka tidak heran, jika muncul kasus wisatawan yang berkunjung ke suatu negara melakukan tindakan tidak etis, seperti pelecehan terhadap simbol-simbol budaya masayarakat setempat.

Komunikasi dan interaksi antarbudaya memang membutuhkan keterbukaan antarpihak. Namun keterbukaan juga acapkali menimbulkan kerentanan dalam memahami budaya pihak lain. Seperti kata Paul Kendall, komunikasi yang baik dan sehat tidak mungkin tanpa keterbukaan, kejujuran, dan kerentanan. [T]

  • BACA opini dan esai lain tentang komunikasi dari penulis CHUSMERU
Mendem: Totalitas Komunikasi Transendental dalam Berkesenian
Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi Hindu, Untuk Apa?
Ruang Komunikasi dalam Seni Rupa
Komunikasi sebagai Kunci Interaksi Lintas Budaya | Catatan dari Inggris [2]
Strategi Kampanye Pemilu: Antara Komunikasi Persuasif dan Pencitraan
Sentuhan Komunikasi dalam Pariwisata
Tradisi Bayen di Wonosobo: Komunikasi Antarpersona Mewujudkan Women Support Women
Teknologi Komunikasi: Analisis Trade Policy Marketplace di Indonesia
Komunikasi dan Revitalisasi Kesenian Tradisional
Menjaga Reputasi Melalui Interaksi dengan Netizen
Tags: ilmu komunikasikomunikasikomunikasi informasiPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi

Next Post

Mengajari Pertemanan dan Mengurangi Penggunaan Gadget | Dari Pentas Janger Anak-anak Sanggar Tari Lokananta

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

by Arief Rahzen
May 1, 2026
0
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

Read moreDetails

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
0
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

Read moreDetails

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

by Sugi Lanus
April 30, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

Read moreDetails

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
0
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

Read moreDetails

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
0
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

Read moreDetails

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

by Angga Wijaya
April 28, 2026
0
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

Read moreDetails

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

by Asep Kurnia
April 27, 2026
0
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

Read moreDetails

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
0
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

Read moreDetails

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

by Isran Kamal
April 27, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

Read moreDetails

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

by Sugi Lanus
April 27, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

Read moreDetails
Next Post
Mengajari Pertemanan dan Mengurangi Penggunaan Gadget | Dari Pentas Janger Anak-anak Sanggar Tari Lokananta

Mengajari Pertemanan dan Mengurangi Penggunaan Gadget | Dari Pentas Janger Anak-anak Sanggar Tari Lokananta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini
Budaya

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

Di antara program Kartini sepanjang bulan April 2026, ada yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu komunitas perempuan di Buleleng...

by tatkala
May 1, 2026
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’
Khas

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya
Gaya

HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya

PASAR ponsel pintar di Indonesia kembali diramaikan oleh kehadiran perangkat yang mendobrak batas kewajaran spesifikasi di kelasnya. Infinix Note 60...

by tatkala
May 1, 2026
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan
Ulas Musik

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru
Pop

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

SETELAH hampir satu dekade tenggelam dalam kesibukan masing-masing, SWR Bali akhirnya kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru bertajuk “Palas”. Band...

by Dede Putra Wiguna
May 1, 2026
‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co