23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kredibilitas Komunikator dalam Interaksi Budaya

Chusmeru by Chusmeru
July 3, 2023
in Esai
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

MENGAPA orang gagal berkomunikasi ketika berada di lingkungan budaya yang berbeda?. Dan mengapa ada orang yang begitu disegani dan dihormati dalam lingkungan budayanya? Penyebabnya bukan pada gegar budaya yang dialami seseorang saat berada di tempat yang baru. Namun lebih pada ketidakmampuan orang menjadi komunikator dalam interaksi budaya.

Beberapa kasus menunjukkan kredibilitas yang rendah sebagai komunikator dalam interaksi budaya. Seorang mahasiswa berinisial FS yang berasal dari luar Jawa tersandung kasus di Yogyakarta pada tahun 2014. Hanya lantaran kesal tidak diperbolehkan menyerobot antrean di salah satu SPBU di Yogyakarya, FS mengunggah kekesalannya di media sosial.

Unggahannya berisi cacian dan sumpah-serapah terhadap masyarakat Yogyakarta. Tidak terima terhadap unggahan itu, masyarakat Yogyakarta melaporkan FS ke polisi. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pun merasa tersinggung dengan unggahan tersebut. Buntutnya, FS harus duduk sebagai terdakwa di kursi pengadilan.

Kasus berikut menimpa artis dangdut Cita Citata pada tahun 2015. Menggunakan baju adat Papua dalam suatu acara, Cita Citata melontarkan perkataan yang dianggap menghina masayarakat Papua. Cita Citata pun dilaporkan ke Komnas HAM oleh perwakilan masayarakat adat Papua.

Somasi juga dilayangkan oleh Forum Papua Bersatu kepada Cita Citata. Sanksi adat dijatuhkan kepada pedangdut itu, yaitu harus meminta maaf kepada seluruh masyarakat Papua serta menyerahkan 500 ekor babi sebagai bentuk perdamaian.

Artis cantik Syahrini juga tersandung kasus yang berkaitan dengan norma dan etika saat berkunjung ke Holocaust Memorial Berlin, Jerman pada tahun 2018. Syahrini berpose dan berfoto di atas memorial tersebut. Dia pun mengunggah foto dan videonya di fitur Story Instagram.

Tindakan Syahrini dikecam netizen, karena dianggap telah melanggar etika berkunjung ke Holocaust. Norma masyarakat Jerman melarang orang untuk duduk, memanjat, maupun berfoto di Holocaust Memorial sebagai lambang korban pembantaian Nazi pimpinan Adolf Hitler.

Contoh kasus tersebut menggambarkan ketidakpahaman orang terhadap lingkungan budaya orang lain. Dalam contoh kasus itu, semua dipandang tidak kredibel berkomunikasi. Bahwa ada wilayah adat, tradisi, norma, nilai, kepercayaan, dan budaya yang perlu dipahami dan dihormati. Itulah yang seharusnya dimiliki orang agar menjadi komunikator yang kredibel.

Kredibilitas Sumber

Proses komunikasi mengisyaratkan, setiap orang dapat menjadi khalayak sekaligus komunikator. Kajian terhadap komunikator akan diperoleh gambaran tentang kredibilitas sesorang sebagai sumber informasi. Terdapat perbedaan terkait kredibilitas sumber antara masyarakat tradisional dengan masyarakat modern.

Komunikator dalam masyarakat tradisional dapat diperoleh melalui empat cara.

Pertama, orang dianggap kredibel karena informasi yang ia peroleh bersumber dari petunjuk, wangsit, wewarah, atau pawisik. Kemampuannya menjadi komunikator di masyarakatnya diperoleh secara transendental. Oleh sebab itu komunikator pada masyarakat tradisional sangat disegani dan dihormati, karena kerap membawa pesan yang bersifat gaib.

Kedua, kredibilitas diperoleh melalui laku tirakat. Seseorang dianggap sebagai komunikator dan dipercaya oleh masyarakat, karena pengetahuan yang dimiliki diperoleh melalui usaha olah batin. Biasanya komunikator tersebut menjalankan ritual puasa atau semedi untuk mendapatkan petunjuk yang dapat diterapkan dalam kehidupan di masyarakat. Secara moral kredibilitas semacam ini mendapat dukungan dari masyarakat. Artinya, orang yang sudah melakoni berbagai ikhtiar itu tentunya tidak akan berdusta atau mencederai masyarakat.

Ketiga, komunikator yang kredibel di masyarakat tradisional didapat dari proses belajar atau berguru pada orang yang disegani atau kasepuhan (orang yang dituakan) di masyarakat. Pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya merupakan hasil proses panjang dalam menimba ilmu, baik ilmu kanuragan maupun kebatinan.

 Keempat, momentum historis juga dapat menjadikan seseorang memiliki kredibilitas sumber sebagai komunikator yang dihormati. Keberhasilan seseorang di masa lalu dalam mengatasi masalah akan diingat masyarakat sebagai modal sosial. Kampung yang dulu kumuh dan sering terjadi tindak kriminal berhasil diubah oleh seseorang menjadi pemukiman yang asri, aman, dan nyaman.

Interaksi sosial budaya yang dilakukannya semata sebagai upaya untuk memecahkan masalah di masyarakat, tanpa orientasi pada kepentingan ekonomi maupun kekuasaan. Oleh sebab itulah, setiap informasi yang disampaikan orang itu akan dipercaya masyarakat.  

Sedangkan pada masyarakat modern seperti saat ini, kredibilitas sumber sering merujuk pada tingkat pendidikan, jabatan, maupun penguasaan informasi. Semakin tinggi tingkat pendidikan dianggap semakin benar informasi yang disampaikan.

Jabatan yang dimiliki seseorang juga dipandang sebagai modal tingkat kepercayaan sumber sebagai komunikator. Begitu pula dengan akses media yang membuat seseorang dipandang memahami berbagai persoalan.

Kredibilitas dalam masyarakat modern sangat rentan terhadap persoalan moralitas, karena informasi bernilai pragmatis serta sarat dengan kepentingan ekonomi dan politik. Tidak heran jika ada orang yang berpendidikan tinggi, memiliki jabatan keren, serta sangat melek media melakukan manipulasi informasi untuk memperoleh keuntungan ekonomi maupun politik.

Kejujuran

Menjadi komunikator dalam interaksi antarbudaya membutuhkan landasan moralitas, yaitu kejujuran dalam menarasikan budaya sendiri maupun budaya orang lain. Kadangkala orang menambahkan narasi budaya sendiri agar dianggap baik oleh orang lain. Atau juga menutupi narasi budaya agar tidak dinilai buruk pihak lain.

Padahal tidak ada hal yang benar atau salah, baik atau buruk dalam memberikan penilaian budaya. Setiap masyarakat memiliki persepsi sendiri tentang budayanya, dan pihak lain tidak dapat memberikan penilaian baik-buruk dan benar-salah atas budaya orang lain. Justru acapkali orang melakukan tindakan yang keliru atas dasar pemahaman yang kurang terhadap budaya orang lain; seperti contoh kasus FS, Syahrini, dan Cita Citata.

Kejujuran adalah kunci penting dalam interaksi budaya. Masyarakat Indonesia zaman dahulu mengenal istilah opo anane, apa adanya. Katakan apa adanya tentang nilai, norma, tradisi, kepercayaan, budaya kepada orang lain.

Jika orang lain memahami dan sepakat, maka interaksi budaya berlanjut. Namun jika orang lain tidak sepakat dan tidak paham, maka diharapkan ada tenggang rasa, tidak mencela, dan tidak memberi penilaian buruk tentang budaya seseorang.

Sayang sekali, di era yang serba digital ini kredibilitas komunikator dalam interaksi budaya sulit ditemui. Media sosial sering dijadikan sumber informasi budaya dan sarana untuk menarasikan budaya sendiri. Namun media sosial acap tidak lengkap dalam menyuguhkan informasi budaya.

Begitu pula narasi budaya yang dibangun lewat media sosial sering mengalami distorsi. Maka tidak heran, jika muncul kasus wisatawan yang berkunjung ke suatu negara melakukan tindakan tidak etis, seperti pelecehan terhadap simbol-simbol budaya masayarakat setempat.

Komunikasi dan interaksi antarbudaya memang membutuhkan keterbukaan antarpihak. Namun keterbukaan juga acapkali menimbulkan kerentanan dalam memahami budaya pihak lain. Seperti kata Paul Kendall, komunikasi yang baik dan sehat tidak mungkin tanpa keterbukaan, kejujuran, dan kerentanan. [T]

  • BACA opini dan esai lain tentang komunikasi dari penulis CHUSMERU
Mendem: Totalitas Komunikasi Transendental dalam Berkesenian
Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi Hindu, Untuk Apa?
Ruang Komunikasi dalam Seni Rupa
Komunikasi sebagai Kunci Interaksi Lintas Budaya | Catatan dari Inggris [2]
Strategi Kampanye Pemilu: Antara Komunikasi Persuasif dan Pencitraan
Sentuhan Komunikasi dalam Pariwisata
Tradisi Bayen di Wonosobo: Komunikasi Antarpersona Mewujudkan Women Support Women
Teknologi Komunikasi: Analisis Trade Policy Marketplace di Indonesia
Komunikasi dan Revitalisasi Kesenian Tradisional
Menjaga Reputasi Melalui Interaksi dengan Netizen
Tags: ilmu komunikasikomunikasikomunikasi informasiPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi

Next Post

Mengajari Pertemanan dan Mengurangi Penggunaan Gadget | Dari Pentas Janger Anak-anak Sanggar Tari Lokananta

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Mengajari Pertemanan dan Mengurangi Penggunaan Gadget | Dari Pentas Janger Anak-anak Sanggar Tari Lokananta

Mengajari Pertemanan dan Mengurangi Penggunaan Gadget | Dari Pentas Janger Anak-anak Sanggar Tari Lokananta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co