23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pilgub Jakarta, Rasa Pilpres atau Hanya Simulakra Dunia Televisi

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi dari sumber foto google images

PEMILIHAN Gubernur atau Pilgub DKI Jakarta 2017 telah usai. Kita, meski tidak tercatat sebagai warga DKI Jakarta dan tinggal di daerah pun merasa lega. Paling tidak sudah berkurang tensi minimal “pergunjingan” antar keluarga, teman sekantor, rekan se-pekerjaan, atau sesama umat beragama. Ya, berdasarkan hasil quick count sejumlah lembaga survei, pasangan Anies-Sandiaga Uno mengungguli pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat.

Ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta ini benar-benar menyita perhatian masyarakat luas. Bukan hanya warga Jakarta, namun berkembang di daerah. Informasi, kabar, berita, dan gosip tentang Pilgub Jakarta menjadi topik yang hampir setiap detik diperbincangkan. Pilgub yang berakhir dua putaran ini menambah panjang durasi waktu. Di media sosial hampir setiap hari menjadi viral, trending topic, dan bahan diskusi.

Sejak awal, Pilgub Jakarta di-status-kan sebagai ajang pertarungan paling utama pada Pilkada serentak 2017. Berkuasa di ibukota Indonesia menjadi daya tarik bagi para calon gubernur (Cagub) dan calon wakil gubernur (Cawagub). Selain itu pertarungan dan pertaruhan masing-masing partai politik pengusung calon membuat suasana menghangat. Bahkan setelah kabar dan isu-isu “tak sedap” seperti meletupnya isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) menambah kondisi dan suasana semakin memanas.

Meski telah rampung proses pencoblosan namun Pilgub Jakarta ternyata masih banyak diperbincangkan. Di media mainstream baik media massa maupun elektronik terus diulas. Televisi membahas dan memberikan porsi khusus Pilgub Jakarta. Begitu juga di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dan youtube  masih berlanjut dibahas. Status person hingga bahan diskusi di grup.

Bahkan pada mesin pencari Google per Sabtu (22/04/2017) topik putaran kedua Pilkada DKI Jakarta sekitar 857.000 hasil (0,45 detik), Pilgub Jakarta sekitar 5.530.000 hasil (0,55 detik). Namun kata “Anies” sekitar 29.600.000 hasil (0,43 detik) dan kata “Ahok” sekitar 64.300.000 hasil (0,51 detik).

Nah, apakah memang Pilgub Jakarta ini sebagai pintu pembuka untuk hajatan pesta demokrasi yang lebih tinggi pemilihan Presiden (pilpres) atau justru hanya simulacra?

Hitungan Pilpres

Pilgub DKI Jakarta 2017 ini banyak yang pertarungan menjelang pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Sebuah simulasi Pilgub menuju Pilpres dengan istilah “Pilgub Rasa Pilpres”. Pilgub Jakarta awalnya diikuti tiga pasangan Cagub dan Cawagub dan pemungutan suara pada Rabu (15/02/2017). Ketiga pasangan itu adalah Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (Agus-Sylvi),  Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot), dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi).

Agus-Sylvidiusung Partai Demokrat, PPP, PKB dan PAN. Ahok-Djarot diusung PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Hanura, dan Partai NasDem. Anies-Sandidiusung Partai Gerindra dan PKS.

Sejak putaran pertama Pilgub Jakarta seolah pertarungan Pilpres begitu kental. Pertarungan dengan melibatkan para tokoh politik nasional dan petinggi masing-masing parpol. Pasangan Agus-Sylvi mendatangkan Ketua DPP PD yang juga Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tidak mau kalah dengan “seteru” abadinya, Megawati Soekarnoputri, yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) turun gunung mengkampanyekan jagoannya Ahok-Djarot.

Rasa Pilpres semakin terasa ketika Prabowo Subianto Djojohadikusumojuga bergerak. Ketua Umum Partai Gerindra ini berkampanye untuk pasangan Anis-Sandi. Tiga pucuk pimpinan parpol itu pun telah menggambarkan pertarungan Pilgub Jakarta terasa Pilpres. Belum lagi keterlibatan anggota DPR RI dan DPRD di daerah (bukan hanya DPRD DKI Jakarta) diwajibkan menyumbangkan tenaga dan dana untuk keperluan Pilgub Jakarta.

Pada putaran kedua mengerucut head to head antara pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi.  Aroma Pilpres makin terasa. Setelah pasangan Anies-Sandi unggul sebagai pemenang Pilgub kabarnya mengukuhkan Prabowo sebagai calon presiden (Capres) pada Pilpres 2019. Teriakan “Prabowo Presiden”pada beberapa pertemuan kader dan pendukung Anies-Sandi. Begitu sebaliknya kekalahan Ahok-Djarot tentu akan berimbas terhadap pencalonan presiden yang diusung PDI-P. Termasuk prospek Joko Widodo (Jokowi) yang berpeluang didorong maju lagi pada Pilpres 2019 nanti.

Namun bicara Pilpres tentu masih panjang karena masih dua tahun lagi. Jadi Pilgub rasa Pilpres itu, baru rasa belum ada wujudnya. Apakah ini hanya simulasi atau sebuah simulakra? Menarik ditunggu.

Sebuah Simulakra

Melihat dan mendengar perbincangan Pilgub DKI Jakarta di televisi semakin hari semakin menarik. Tidak hanya menghabiskan waktu satu jam atau dua jam, namun berjam-jam untuk menunggu dan menonton tayangan Pilgub DKI Jakarta. Apakah itu berita, straight news, feature, ulasan, analisis hingga perbincangan para tim pemenangan. Sejumlah televisi nasionalnya sejak awal membuat program khusus Pilgub Jakarta. Kegiatan para calon, keluarga calon, dukungan, bujuk rayu, hingga propaganda.

Penayangan dari sudut-sudut tertentu di Jakarta membawa pemirsa seperti berada di Ibukota. Bahkan rasa khawatirnya melebihi warga Jakarta dan pendukung para calon. Tayangan debat publik para calon yang disiarkan langsung televisi nasional dengan rating tinggi. Bahkan para pemirsa bukan hanya warga Jakarta saja, namun masyarakat di luar Jakarta yang hampir seluruh rumah mempunyai televisi rela menanti debat final Pilkada Jakarta. Urat-urat dan otot para calon begitu jelas. Gambar wajah dan gaya tangan Ahok saat bicara misalnya tampak detail. Juga gaya bicara Anies tampak jelas.

Setelah itu, perkataan, gaya, hingga gestur para calon itu menjadi viral dan trending topic di media sosial. Belum lagi tayangan televisi yang “diciptakan” Jakarta begitu genting. Tayangan gambar pengadangan calon saat kampanye hingga pengusiran dari tempat ibadah. Juga spanduk-spanduk yang dipasang di berbagai titik dan tempat ibadah tentang larangan salat antarpendukung. Statistik target dan optimistis para tim pememangan.

Padahal bisa jadi, di Jakarta tidak terjadi setegang yang dilihat melalui televisi tersebut. Para calon dan pendukung sama-sama tidak ada bertemu. Mereka tetap tersenyum antarpendukung. Namun para penonton justru terbawa oleh suasana panas setelah melihat tayangan televisi.

Mereka rela menunggu lama hanya ingin melihat perkembangan, situasi dan kondisi Jakarta. Seperti para penonton, pendukung, suporter sepak bola. Apalagi laga yang menyajikan pertandingan dua klub yang punya sejarah dan rivalitas panjang. Derby AC Milan vs Inter milan, Liverpool bertemu dengan Manchester United, El Clasico antara Real Madrid versusBarcelona selalu dinanti.

Para pemirsa Pilgub Jakarta menunggu di depan televisi dengan wajah cemas dan berseri. Mereka terlihat pucat pasi. Ada juga yang berteriak-teriak saat jagoannya unggul dalam perhitungan suara. Mereka lalu menggelar syukuran di berbagai tempat, di rumah, di sekolah, bahkan di tempat ibadah. Realitas yang semu yang diciptakan televisi sebagai industri media menjadi acuan bagi realitas asli.

Pada tahap inilah seperti Jean Baudrillard menyebut sebagai simulasi atau simulakra. Baudrillard menuturkan simulakra ini seperti mantra kehidupan yang ampuh mengubah dan membentuk berbagai realitas palsu dalam kehidupan manusia yang mempunyai pengaruh syang kuat terhadap khalayak.

Simulasi atau simulakra telah menciptakan hyper-reality. Sebagai subyek sosial, manusia seharusnya diletakkan sebagai pusat dari seluruh realitas, namun kehadiran televisi telah meruntuhkan kekuatan manusia yang menyebabkan runtuhnya ideologi tentang humanisme.

Seperti ditulis Iswandi Syahputra (GPU: 2013) nilai-nilai kebaikan umum dalam humanisme bercerai berai dalam berbagai implosi (ledakan) makna struktural karena dilumat oleh simulakra atau hyper-reality yang dibangun di atas berbagai kode. Hasil akhir dari pemikiran Baudrillard ini adalah terlepasnya kontrol manusia sebagai subyek sosial terhadap berbagai obyek kehidupan.

Bagi Baudrillard, media massa yang telah membentuk dunia dari berb gai simulasi menjadi kebal terhadap berbagai kritik yang dilontarkan kaum rasionalis. Berbagai produksi kemasan informasi yang membanjiri masyarakat dapat menjinakkan siapa saja yang mempertanyakan media massa dengan nada kritis. Walau televisi memproduksi berbagai program tanpa akar realitas yang jelas dan cara kerjanya di luar logika representasi, namun masyarakat tetap memberi respon.

Tayangan televisi Pilgub Jakarta yang jauh di ibukota telah mengubah cara berfikir, tingkah laku, idealisme hingga pandangan agama masyarakat yang ada di daerah. Bahkan sering masyarakat terbawa emosi dan marah dengan teman yang tidak sependapat dan beda jagoan pada Pilgub Jakarta.

Sekarang Pilgub Jakarta telah selesai, maka masyarakat mudah-mudahan kembali ke realitas sehari-hari yang benar-benar real. Di sisi lain, media televisi jangan harap berhenti membuat simulasi-simulasi baru. (T)

Tags: AhokAnies BaswedanDKI Jakartamedia massaPilkadatelevisi
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Berat-Ringan Tak Perlu Timbangan – Cukup Berperan Bodoh Seperti I Belog

Next Post

Bercakap-Cakap dengan Pencuri

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Bercakap-Cakap dengan Pencuri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co