6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jaranan di Tanah Borneo, “Kesurupan” dan Perpindahan Budaya

Krisna Aji by Krisna Aji
June 1, 2023
in Khas
Jaranan di Tanah Borneo, “Kesurupan” dan Perpindahan Budaya

Jaranan di Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur | Foto: Krisna Aji

PERJALANAN SERING KALI memberi hadiah kepada diri berupa fenomena baru yang muncul akibat interpretasi pengamat saat bertemu realita di depannya. Fenomena ini jelas sekali sangat ditentukan oleh latar belakang dari pengamat yang meliputi pengalaman subjektif sejak kecil hingga detik ini.

Begitu juga saya saat menemukan fenomena baru ketika melakukan perjalanan ke Borneo. Saya berada di Borneo, tanpa persiapan sama sekali–lupa membawa kamera mirrorless, dan dokumentasi hanya ditangkap menggunakan ponsel sehingga banyak momen yang terlewat karena keterbatasan alat rekam.

Oleh karena itu, paradoks bisa jadi akan lebih banyak terlihat pada tulisan dari pada jukstaposisi di beberapa foto yang juga ditautkan pada artikel ini

Perjalanan kali ini membawa diri ke Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Di desa itu saya menonton tarian Jaranan. Jaranan adalah produk kebudayaan dari Tanah Jawa, berupa tarian kuda lumping yang diiringi musik gamelan.

Jaranan sering kali mempertontonkan sebuah fase kesurupan dari penarinya dan kadang membuat beberapa orang yang bukan penari–bahkan penonton atau penjaja makanan di sekitar area tersebut–untuk ikut kesurupan. Berguling-guling, makan kembang mawar dan melati, mengunyah kaca, atau membuka kelapa utuh dengan gigi adalah hal yang lazim terjadi pada kesurupan Jaranan.

Sebagai individu yang hampir selalu menggunakan kaca mata psikiatri dalam melihat manusia dan perilakunya, fenomena ini cukup berkesan bagi saya. Bukan sekedar nostalgia masa kecil akan tontonan rakyat di tempat lahir dan tumbuh besar dulu–Jogjakarta, tetapi, ini lebih dari itu.

Jaranan ini terjadi di Tanah Borneo, ribuan kilometer dari tanah Jawa dengan aspek budaya yang sama sekali berbeda dari tempat asal Jaranan itu sendiri. Fenomena ini menjadi menarik karena psikiatri tidak boleh mengatakan bahwa “kesurupan” pada sebuah acara budaya sebagai gangguan jiwa karena kondisi tersebut berkaitan dengan kesadaran kolektif.

Kesadaran kolektif pada sebuah budaya tidak bisa dikatakan sebagai gangguan jiwa walaupun hal tersebut belum dapat ditelaah oleh sains sampai final. Misalkan saja, masyarakat Bali yang percaya terhadap “leak” atau masyarakat Jawa yang percaya terhadap santet tidak bisa dikatakan sebagai sebuah gangguan.

–

Jaranan di Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur | Foto: Krisna Aji

Kembali lagi, kepercayaan tersebut perlu sesuai dengan latar belakang budaya. Jika tidak sesuai, ya, bisa jadi adalah gangguan dan bisa dikonsultasikan ke psikiater. Misalkan, saat ada orang Bali mengatakan bahwa ia sering berbicara dengan keluarga terdekatnya yang baru saja meninggal dan ia yakin bahwa semua orang Bali pasti mengalami kondisi serupa, mungkin saja, ada indikasi gangguan jiwa karena tidak sesuai dengan latar belakang budaya Bali.

Garis batas gangguan jiwa dalam parameter budaya memang sangat sulit untuk ditelaah karena sifatnya yang subtil dan abu-abu. Karena sifat yang subtil tersebut, ilmu psikiatri lebih sering diterapkan pada ranah klinis terhadap pengobatan atas gangguan jiwa yang pada awalnya disinyalir sebagai sebuah bagian dari budaya; menemukan dan mengobati pasien yang sudah terlanjur terganggu aktivitas kesehariannya akibat suara atau waham yang awalnya beririsan dengan budaya dan tidak dapat terselesaikan dengan pengobatan tradisional.

Tetapi, jika keseharian tidak terganggu, psikiatri akan diam dan mengamati.

Lalu, bagaimana dengan Jaranan di Tanah Borneo? Jaranan adalah produk budaya Tanah Jawa dan dibawa oleh suku Jawa ke Kalimantan (dan mungkin juga ke daerah lainnya) pada saat program transmigrasi di era Orde Baru. Pada saat itu, terjadi bedol desa dari daerah-daerah padat penduduk seperti Bali dan Jawa ke area yang masih sepi.

Perpindahan penduduk yang nyaris serentak pada perjalanannya membentuk sebuah komunitas dengan ciri yang seragam di lahan yang baru bahkan ada yang sampai membentuk kampung yang bernama sesuai dengan ciri dari komunitas tersebut seperti Kampung Jawa, Kampung Bali, dan sebagainya.

–

Jaranan di Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur | Foto: Krisna Aji

Perpindahan penduduk yang besar dan nyaris serentak itu pun tidak hanya “memindahkan” fisik manusia saja, tetapi juga latar belakang budaya dari komunitas asal. Penduduk yang berpindah–awalnya hanya berada pada satu garis generasi–lambat laun beranak-cucu di tempat transmigrasi dan membentuk komunitas yang lebih besar. Pertumbuhan komunitas itu juga diikuti oleh lestarinya budaya asal di tempat baru, salah satunya tradisi Jaranan.

Tradisi Jaranan hampir selalu melibatkan prosesi kesurupan dalam pagelarannya. Dalam hal ini, kesurupan terjadi karena adanya makhluk astral yang merasuki penari Jaranan. Kepercayaan terhadap bentuk dan jenis makhluk astral akan berbeda antara satu area geografis dengan area geografis lainnya. Berdasarkan premis tersebut, maka bisa dipahami jika kesurupan akan dengan mudah terjadi saat Jaranan digelar di daerah asal dari Jaranan itu sendiri–karena masih memiliki kepercayaan terhadap makhluk astral yang sesuai dengan konteks dari Jaranan.

Lalu, bagaimana dengan Jaranan yang diadakan di daerah lain yang memiliki local wisdom berupa animisme dan dinamisme yang berbeda dengan tempat asal Jaranan? Bisakah kesurupan terjadi jika ada “ketidaksesuaian” antara ritual jaranan dengan kepercayaan akan makhluk astral setempat yang berbeda? Di mana letak irisan psikiatri dan budaya pada kondisi ini? Lalu, sejauh apa psikiatri boleh bergerak secara klinis untuk menanggapi ini?

–

Jaranan di Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur | Foto: Krisna Aji

Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah pertanyaan tak berujung akibat berbagai paradoks yang hadir secara organik. Pertanyaan yang selalu menyisakan kegelisahan di dalam diri dalam menikmati fenomenologi yang dihadiahkan oleh semesta dan pengamat yang menanggapinya.

Tapi, paradoks yang menyisakan kegelisahanlah yang awalnya membuat pengamat tertarik untuk mengamati dan menikmati.

Jika dipikirkan lebih jauh lagi, adanya paradoks yang berimbang memang perlu hadir di setiap munculnya pengetahuan baru. Paradoks yang berimbang adalah penanda bahwa pembelajaran masih berada di jalur yang benar. Jika yang hadir adalah kecenderungan “semakin paham”, seseorang dapat terjebak dalam dogma dan delusi.

Sebaliknya, jika yang muncul adalah kecenderungan “semakin tidak paham”, seseorang bisa terjebak pada kecemasan yang membahayakan. Dengan memandang secara berimbang, kesempatan untuk menikmati kekinian juga akan muncul dengan optimal.

Oleh karena itu, mari nikmati saja paradoks ini: Hokya! Hokya! [T]

  • BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI
Gempita Fragmen Tari Bawi Srenggi Dadia Pudeh, Begini Awal Mula Ogoh-Ogoh di Tajun
Komunikasi dan Revitalisasi Kesenian Tradisional
Kerauhan Zaman Now dan Kesehatan Jiwa
Tags: BorneojarananjawaKalimantankerauhankesenian jawaseni jaranan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembelajaran Moral dari Buku “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” Karya Luis Sepulveda

Next Post

Tubuh, Kecantikan, dan Tentang Menyusui

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh, Kecantikan, dan Tentang Menyusui

Tubuh, Kecantikan, dan Tentang Menyusui

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co