12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jaranan di Tanah Borneo, “Kesurupan” dan Perpindahan Budaya

Krisna Aji by Krisna Aji
June 1, 2023
in Khas
Jaranan di Tanah Borneo, “Kesurupan” dan Perpindahan Budaya

Jaranan di Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur | Foto: Krisna Aji

PERJALANAN SERING KALI memberi hadiah kepada diri berupa fenomena baru yang muncul akibat interpretasi pengamat saat bertemu realita di depannya. Fenomena ini jelas sekali sangat ditentukan oleh latar belakang dari pengamat yang meliputi pengalaman subjektif sejak kecil hingga detik ini.

Begitu juga saya saat menemukan fenomena baru ketika melakukan perjalanan ke Borneo. Saya berada di Borneo, tanpa persiapan sama sekali–lupa membawa kamera mirrorless, dan dokumentasi hanya ditangkap menggunakan ponsel sehingga banyak momen yang terlewat karena keterbatasan alat rekam.

Oleh karena itu, paradoks bisa jadi akan lebih banyak terlihat pada tulisan dari pada jukstaposisi di beberapa foto yang juga ditautkan pada artikel ini

Perjalanan kali ini membawa diri ke Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Di desa itu saya menonton tarian Jaranan. Jaranan adalah produk kebudayaan dari Tanah Jawa, berupa tarian kuda lumping yang diiringi musik gamelan.

Jaranan sering kali mempertontonkan sebuah fase kesurupan dari penarinya dan kadang membuat beberapa orang yang bukan penari–bahkan penonton atau penjaja makanan di sekitar area tersebut–untuk ikut kesurupan. Berguling-guling, makan kembang mawar dan melati, mengunyah kaca, atau membuka kelapa utuh dengan gigi adalah hal yang lazim terjadi pada kesurupan Jaranan.

Sebagai individu yang hampir selalu menggunakan kaca mata psikiatri dalam melihat manusia dan perilakunya, fenomena ini cukup berkesan bagi saya. Bukan sekedar nostalgia masa kecil akan tontonan rakyat di tempat lahir dan tumbuh besar dulu–Jogjakarta, tetapi, ini lebih dari itu.

Jaranan ini terjadi di Tanah Borneo, ribuan kilometer dari tanah Jawa dengan aspek budaya yang sama sekali berbeda dari tempat asal Jaranan itu sendiri. Fenomena ini menjadi menarik karena psikiatri tidak boleh mengatakan bahwa “kesurupan” pada sebuah acara budaya sebagai gangguan jiwa karena kondisi tersebut berkaitan dengan kesadaran kolektif.

Kesadaran kolektif pada sebuah budaya tidak bisa dikatakan sebagai gangguan jiwa walaupun hal tersebut belum dapat ditelaah oleh sains sampai final. Misalkan saja, masyarakat Bali yang percaya terhadap “leak” atau masyarakat Jawa yang percaya terhadap santet tidak bisa dikatakan sebagai sebuah gangguan.

–

Jaranan di Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur | Foto: Krisna Aji

Kembali lagi, kepercayaan tersebut perlu sesuai dengan latar belakang budaya. Jika tidak sesuai, ya, bisa jadi adalah gangguan dan bisa dikonsultasikan ke psikiater. Misalkan, saat ada orang Bali mengatakan bahwa ia sering berbicara dengan keluarga terdekatnya yang baru saja meninggal dan ia yakin bahwa semua orang Bali pasti mengalami kondisi serupa, mungkin saja, ada indikasi gangguan jiwa karena tidak sesuai dengan latar belakang budaya Bali.

Garis batas gangguan jiwa dalam parameter budaya memang sangat sulit untuk ditelaah karena sifatnya yang subtil dan abu-abu. Karena sifat yang subtil tersebut, ilmu psikiatri lebih sering diterapkan pada ranah klinis terhadap pengobatan atas gangguan jiwa yang pada awalnya disinyalir sebagai sebuah bagian dari budaya; menemukan dan mengobati pasien yang sudah terlanjur terganggu aktivitas kesehariannya akibat suara atau waham yang awalnya beririsan dengan budaya dan tidak dapat terselesaikan dengan pengobatan tradisional.

Tetapi, jika keseharian tidak terganggu, psikiatri akan diam dan mengamati.

Lalu, bagaimana dengan Jaranan di Tanah Borneo? Jaranan adalah produk budaya Tanah Jawa dan dibawa oleh suku Jawa ke Kalimantan (dan mungkin juga ke daerah lainnya) pada saat program transmigrasi di era Orde Baru. Pada saat itu, terjadi bedol desa dari daerah-daerah padat penduduk seperti Bali dan Jawa ke area yang masih sepi.

Perpindahan penduduk yang nyaris serentak pada perjalanannya membentuk sebuah komunitas dengan ciri yang seragam di lahan yang baru bahkan ada yang sampai membentuk kampung yang bernama sesuai dengan ciri dari komunitas tersebut seperti Kampung Jawa, Kampung Bali, dan sebagainya.

–

Jaranan di Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur | Foto: Krisna Aji

Perpindahan penduduk yang besar dan nyaris serentak itu pun tidak hanya “memindahkan” fisik manusia saja, tetapi juga latar belakang budaya dari komunitas asal. Penduduk yang berpindah–awalnya hanya berada pada satu garis generasi–lambat laun beranak-cucu di tempat transmigrasi dan membentuk komunitas yang lebih besar. Pertumbuhan komunitas itu juga diikuti oleh lestarinya budaya asal di tempat baru, salah satunya tradisi Jaranan.

Tradisi Jaranan hampir selalu melibatkan prosesi kesurupan dalam pagelarannya. Dalam hal ini, kesurupan terjadi karena adanya makhluk astral yang merasuki penari Jaranan. Kepercayaan terhadap bentuk dan jenis makhluk astral akan berbeda antara satu area geografis dengan area geografis lainnya. Berdasarkan premis tersebut, maka bisa dipahami jika kesurupan akan dengan mudah terjadi saat Jaranan digelar di daerah asal dari Jaranan itu sendiri–karena masih memiliki kepercayaan terhadap makhluk astral yang sesuai dengan konteks dari Jaranan.

Lalu, bagaimana dengan Jaranan yang diadakan di daerah lain yang memiliki local wisdom berupa animisme dan dinamisme yang berbeda dengan tempat asal Jaranan? Bisakah kesurupan terjadi jika ada “ketidaksesuaian” antara ritual jaranan dengan kepercayaan akan makhluk astral setempat yang berbeda? Di mana letak irisan psikiatri dan budaya pada kondisi ini? Lalu, sejauh apa psikiatri boleh bergerak secara klinis untuk menanggapi ini?

–

Jaranan di Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur | Foto: Krisna Aji

Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah pertanyaan tak berujung akibat berbagai paradoks yang hadir secara organik. Pertanyaan yang selalu menyisakan kegelisahan di dalam diri dalam menikmati fenomenologi yang dihadiahkan oleh semesta dan pengamat yang menanggapinya.

Tapi, paradoks yang menyisakan kegelisahanlah yang awalnya membuat pengamat tertarik untuk mengamati dan menikmati.

Jika dipikirkan lebih jauh lagi, adanya paradoks yang berimbang memang perlu hadir di setiap munculnya pengetahuan baru. Paradoks yang berimbang adalah penanda bahwa pembelajaran masih berada di jalur yang benar. Jika yang hadir adalah kecenderungan “semakin paham”, seseorang dapat terjebak dalam dogma dan delusi.

Sebaliknya, jika yang muncul adalah kecenderungan “semakin tidak paham”, seseorang bisa terjebak pada kecemasan yang membahayakan. Dengan memandang secara berimbang, kesempatan untuk menikmati kekinian juga akan muncul dengan optimal.

Oleh karena itu, mari nikmati saja paradoks ini: Hokya! Hokya! [T]

  • BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI
Gempita Fragmen Tari Bawi Srenggi Dadia Pudeh, Begini Awal Mula Ogoh-Ogoh di Tajun
Komunikasi dan Revitalisasi Kesenian Tradisional
Kerauhan Zaman Now dan Kesehatan Jiwa
Tags: BorneojarananjawaKalimantankerauhankesenian jawaseni jaranan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembelajaran Moral dari Buku “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” Karya Luis Sepulveda

Next Post

Tubuh, Kecantikan, dan Tentang Menyusui

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh, Kecantikan, dan Tentang Menyusui

Tubuh, Kecantikan, dan Tentang Menyusui

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co