1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dicky Bisinglasi: “Membekukan” Peristiwa Olahraga dengan Kamera

Jaswanto by Jaswanto
May 19, 2023
in Persona
Dicky Bisinglasi: “Membekukan” Peristiwa Olahraga dengan Kamera

Dicky Bisinglasi saat memberikan workshop foto jurnalistik olahraga di Tatkala May May May 2023 | Foto: Dok. Tatkala.co

FOTOGRAFI DAN OLAHRAGA adalah kawan lama. Tidakkah ada yang bertanya mengapa para atlet sepakbola, misalnya, repot-repot berpose sebelum pertandingan? Atau, mengapa fotografer ditempatkan di atas lapangan, yang notabene berada dalam satu tataran dengan pemain dan pelatih?

Barangkali tokoh yang satu ini dapat menjawabnya: Dicky Bisinglasi, seorang Jurnalis Visual dan Fotografer Dokumenter Indonesia yang sekarang tinggal di Bali.

Dicky Bisinglasi, atau akrab dipanggil Dicky, lahir di Malang pada tahun 1987, dan memulai karier profesionalnya pada 2014 sebagai staf jurnalis foto untuk sebuah surat kabar lokal.

Pada 2019, ia memutuskan untuk menjadi pekerja lepas penuh waktu di jurnalisme foto dan video untuk beberapa media internasional.

Dicky Bisinglasi / Foto: Dok. Pribadi

Laki-laki keturunan NTT itu mengaku, sejak kecil ia sudah menyukai seni visual. Dicky suka menggambar-melukis sejak TK sampai SD. “Bahkan SD sudah mulai motret juga. Waktu itu pakai kamera film point and shoot alias tustel, brand Fujifilm, yang tinggal jepret tanpa mikirin exposure. Cuma nggak sering. Lebih dominan lukis dan gambar,” terangnya kepada Tatkala.co, Senin (15/5/2023) sore.

Namun sayang, kegemarannya memotret agak berkurang sejak ia masuk SMP, bahkan berlanjut sampai SMA. “Agak ninggalin seni visual, karena pindah ke seni musik. Tapi sesekali masih menggambar,” ujarnya.

Ia kembali ke “pelukan” fotografi lagi pada 2009, saat kuliah di Ilmu Komunikasi. Ia mengatakan, saat itu, ada mata kuliah dasar-dasar fotografi, dari sana ia mulai serius mengenal fotografi.

Dicky semakin serius mempelajari dan menekuni dunia fotografi ketika masuk klub fotografi kampus. Namanya JUFOC (JUrnalistik FOtografi Club). Di JUFOC, katanya, banyak seniornya yang sudah jadi photojournalist. “Awalnya ikut hype-nya doang sih, belum yang terinspirasi gimana-gimana. Malah pernah cuti kuliah dan nyoba kerja di bidang lain, di Bali, alih-alih jadi fotografer, apalagi photojournalist,” katanya sambil tertawa.

Tetapi, pada tahun 2012, Dicky mulai aktif kembali di JUFOC. Beberapa kali ia mencoba ngejob—walaupun lebih banyak ngejob komersial—dan sesekali membantu majalah otomotif sebuah brand motor sebagai freelancer.

Memulai karier profesional

Dicky bergerita: tahun 2014 ada pelatihan foto story oleh salah seorang senior di JUFOC. Namanya Lukman Bintoro, seorang photojournalist untuk media Australia di Bali waktu itu. Saat itu tugasnya adalah bikin coverage foto story tentang difabel.

“Dari situ saya (benar-benar) mulai mengenal fotografi jurnalistik lebih serius lagi, terutama esensinya: kenapa orang motret jurnalistik, dan untuk apa. Di kemudian hari saya merasa, tanpa pemahaman esensi ini, orang tidak akan paham apalagi terjun ke dunia photojournalist,” ungkapnya, menjelaskan.

Lukman Bintoro, fotografer yang diakui Dicky sebagai mentornya, tak hanya memberikan pengetahuan tentang foto story saja, tapi juga memberinya sebuah scarf (syal) dari Kamboja.

“Namanya Krama, yang dia dapat saat workshop foto Angkor Photo di sana. Saat itu dia bilang, ‘Ini adalah lambang perjuangan rakyat Kamboja’. Setelah itu saya jadi berpikir banyak hal, dari apa artinya, dan kenapa ini dipakai banyak jurnalis foto,” ucapnya, mengenang.

Ia tak paham betul apa makna di balik itu semua, yang jelas, pemikiran-pemikiran esensial tersebut semakin menginspirasinya untuk, suatu saat, terjun ke dunia foto jurnalistik.

Akhirnya, pada September 2014, kesempatan itu datang. Sebuah koran di Malang membutuhkan jurnalis foto. Ya, di koran Malang Post Dicky mengawali karier profesionalnya hingga 2019.

Di sana ia belajar banyak hal, dari ilmu jurnalistik, sampai telnis fotografi—di sana ia dituntut dapat motret apapun dalam kondisi apapun. Tetapi, menurutnya, mental itu yang membentuk karakternya sampai skarang.

Dan, pada tahun 2019, setelah resign dari staff koran, Dicky memutusukan menjadi freelancer dan akhirnya pindah ke Bali, sampai sekarang.

Sebagai jurnalis foto freelance, menurut pengakuannya, ia sering dituntut lebih, apalagi media asing, yang kebutuhannya tentu berbeda dari media lokal setingkat kota. Tetapi, ia belajar banyak, terutama kualitas, orisinalitas ide, dan kteatifitas ”Tidak seperti saat masih bekerja di koran dulu, yang tak terlalu risau soal kualitas,” akunya.

Karena freelance, Dicky bekerja untuk banyak media dan wire service asing, baik foto maupun video. “Di dunia jurnalistik, posisi seperti ini sering disebut visual journalist,” katanya.

Memotret olahraga

Selama di Malang Post, hampir 4 tahun lebih ia habiskan waktu untuk liputan sepakbola, khususnya klub bola Arema FC. “Saya sering motret pertandingan resmi mereka di Malang maupun di luar kota atau pulau,” katanya.

Selain memotret event-event olahraga selain sepakbola yang ada di Malang, ia mengatakan, meliput pertandingan bola juga mengasah skill-nya dalam fotografi olahraga.

“Fotografi Jurnalistik Olahraga merupakan segala bentuk fotografi yang dilakukan berkaitan dengan dunia olahraga, baik yang berupa action maupun yang bersifat dokumenter. Atau bisa juga storytelling,” terang Dicky dilansir dari Tatkala.co, Selasa (16/5/2023).

Dikutip dari Tatkala.co, Dicky mengatakan, fotografi dalam olahraga tidak hanya mengambil momen saat atlet menyundul atau menangkap bola, atau ketika seorang atlet renang melakukan lompatan indah saja, tetapi, ada kalanya beberapa momen sangat perlu untuk diabadikan. Dan tentunya, beberapa momen ini tidak kalah penting dengan foto action yang dilakukan.

“Misalnya, momen ketika pemain melakukan selebrasi atau ekspresi mengalami kekalahan. Tentu, hasil fotonya akan menjadi sebuah kenangan yang sangat berarti bagi para pemain. Terlebih lagi jika momentum itu tidak dapat terulang kembali,” tambahnya.

Dicky Bisinglasi mengabadikan momen kiper yang sedang melakukan ritual dan seorang pemain yang menunjukkan ekspresi kekalahan

Karenanya, foto adalah medium yang tepat untuk menziarahi kenangan, terutama yang terlupakan karena ingatan.

Menurut Dicky, setidaknya ada sepuluh shotlist dalam fotografi olahraga: mulai dari momen puncak action; momen bersejarah; duel kompetisi; selebrasi; ekspresi kekalahan; ekspresi penonton; insiden; ritual pemain; solidaritas; sampai hal-hal menarik lainnya.

Berbeda dengan fotografi lainnya yang lebih mengutamakan estetika, dalam fotografi jurnalistik olahraga, menurut Dicky, lebih cenderung mengutamakan story telling dari gambar yang dihasilkan. Sehingga, orang-orang yang nantinya melihat gambar tersebut dapat mengetahui jalan cerita yang terjadi.

“Fotografi dalam olahraga juga bisa menjadi media dalam membuktikan kecurangan atau menampilkan peristiwa-peristiwa yang mungkin terlewatkan oleh mata kita,” katanya.

Benar. Seperti Piala Dunia 1986, misalnya.Tepatnya kala Diego Maradona mencetak satu gol paling terkenal sepanjang masa, yaitu Gol Tangan Tuhan.

Di kala fans Inggris tak percaya Maradona mencetak gol dengan tangannya, wasit tertipu untuk mengesahkan gol tersebut, dan cuplikan siaran televisi tak pernah mampu mengungkap momen “Tangan Tuhan” secara sahih dan memuaskan, foto datang untuk memberikan bukti tak terbantahkan. Tanpa foto, peristiwa di atas hanya akan menjadi dongeng belaka.

Tahun 2021, saat pandemi Covid-19, kompetisi sepakbola Liga 1 Indonesia harus dalam sistem bubble, yang kebetulan diselenggarakan di Bali. Penyelenggara liga membutuhkan fotografer dan seorang teman merekomendasikan Dicky. “Dan masih berlanjut hingga sekarang. Senang rasanya bisa kembali “merumput” motret sepak bola lagi,” ujarnya.

Menurut Dicky, salah satu yang mempengaruhi hasil dalam fotografi olahraga, adalah shuter speed atau kecepatan rana. Kecepatan rana merujuk kepada durasi waktu pembukaan media perekam dalam kamera yang digunakan untuk pengambilan gambar.

Mode shutter speed digunakan dalam pengambilan gambar dari objek yang bergerak cepat. Dalam dunia olahraga, shutter speed biasanya digunakan seorang fotografer ketika sedang mengambil gambar dari pertandingan sepakbola, lari, lompat jauh, dan yang lainnya, terutama olahraga dengan action yang lebih banyak.

“Pengalaman saya ketika mengambil gambar saat pertandingan sepakbola, agar dapat menghasilkan foto yang bagus adalah dengan mengatur speed. Minimal saya gunakan 1/1250. Sehingga dapat menghasilkan gambar bola yang sedang ditendang, seakan-akan terhenti dan melayang di udara,” ujar Dicky dilansir dari Tatkala.co, Selasa (16/5/2023).

Dikutip dari Tatkala.co, shutter speed memiliki dua macam pengaturan: rendah dan tinggi. Speed rendah digunakan untuk menyampaikan dinamika gerakan. Pengaturan ini biasanya digunakan oleh fotografer agar gambar yang dihasilkan memiliki semacam bayangan sesuai dengan arah gerakannya, yang biasa disebut dengan efek blur motion.

“Sedangkan speed tinggi digunakan untuk membekukan gerak dari suatu objek gambar. Fotografer akan menggunakan speed tinggi untuk menangkap gambar dari  objek yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Sehingga, seolah-olah objek yang bergerak tersebut dibekukan (freeze),” jelas Dicky.

Karya Dicky Bisinglasi

Ya, sejatinya, fotografi memang “membekukan” benda-benda dalam waktu dan peristiwa yang bergerak. Tapi pembekuan itu tak harus menjadikan objek menjadi kaku.

Teknologi memungkinkan pembekukan waktu itu tetap mengesankan benda-benda dan peristiwa di dalamnya tetap hidup, bergerak, dalam bingkai yang kita inginkan, agar cerita yang terkandung di dalamnya tetap abadi.

Karena itu, foto menjadi bagian dari kesenian. Ia setara dengan sastra, lukisan, atau karya-karya agung lain dari cipta karya tangan manusia.

Foto mengabadikan cerita manusia dan benda-benda di sekelilingnya: waktu yang terus bergerak menjadi berhenti, terabadikan dalam lensa kamera, sehingga generasi berikutnya mendapat pengetahuan yang sama dengan mereka yang berada dalam peristiwa-peristiwa itu—termasuk peristiwa dalam olahraga.

Di luar fotografi olahraga—yang untuk saat ini sifatnya sebagai sampingan—Dicky masih tetap mengerjakan jurnalisme visual secara umum, baik di hard news, soft news maupun dokumenter. “Saya juga masih melanjutkan project personal saya tentang konservasi satwa laut, khususnya mamalia laut dan penyu di Indonesia,” katanya.[T]

Seni Foto Jurnalistik Olahraga ala Dicky Bisinglasi | Catatan Tatkala May May May 2023
Yoga Pratama: Mencoba Mendengar Masa Lalu dari Piringan Hitam
Tags: fotografijurnalistikolahragatokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jika Harga Kelapa Rendah, Olah Jadi Berbagai Produk Unggulan

Next Post

“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails
Next Post
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan

"Proyek Mengeringkan Air" Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan
Ulas Musik

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru
Pop

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

SETELAH hampir satu dekade tenggelam dalam kesibukan masing-masing, SWR Bali akhirnya kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru bertajuk “Palas”. Band...

by Dede Putra Wiguna
May 1, 2026
‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co