23 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

I Wayan Artika by I Wayan Artika
July 2, 2026
in Esai
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

Komik I Jaum

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat yang lisan yang harus mati. Pemiliknya tidak lagi menuturkannya. Dokumen nyaris tak ada. Belum sempat ditulis.

Cerita rakyat hidup dalam lokalitas yang ekslusif dan menjadi pilihan pertama dan mungkin satu-satunya. Dalam kondisi tidak adanya pilihan lain sebagai media hiburan dan pendidikan moral, memberi peluang cerita tersebut bertahan lama. Saat lokalitas itu bocor sehingga terhubung dengan dunia luar maka pilihan baru tersedia yang biasanya menggoda karena baru. Sekolah-sekolah dan media baru adalah pemicu kebocoran lokalitas.

Sekolah-sekolah dasar Inpres yang dibangun di hampir seluruh desa di Indonesia pada masa awal Orde Baru membawa kurikulum nasional. Berbagai mata pelajaran mengenalkan wacana baru bagi anak-anak. Tradisi cerita rakyat mulai bergeser dari forum nenek bercerita ke guru mengajar. Narasi-narasi kurikulum sekolah lebih beragam dan kaya. Materi kurikulum disatukan secara nasional yang artinya tidak bersumber dalam dunia lokal. Cerita rakyat yang hidup di dalam dunia lokal praktis diabaikan. Lambat laun dilupakan.

Faktor lain yang turut serta membunuh cerita rakyat dan forum-forum bercerita adalah buku cetak, media massa, dan media elektronik (radio dan televisi). Media ini benar-benar telah menghancurkan lokalitas lewat penyebaran teks dan siaran-siarannya. Ini berlangsung sangat lama dan semakin menyempurnakan kematian cerita rakyat.

Kematian cerita rakyat memang diratapi. Kondisi ini buruk bagi masyarakat karena menegaskan kehilangan jati diri. Pemerintah pun memulai konservasi dengan berbagai program. Dalam dunia pendidikan dikenal muatan lokal. Kaum akademisi mulai melakukan kajian cerita rakyat. Industri buku tergerak hati untuk menerbitkannya. Ada juga animasi-animasi cerita rakyat untuk siaran televisi. Demikian pun festival dan perlombaan forum cerita rakyat seperti lomba mendongeng atau di Bali misalnya dikenal dengan mesatua. Pelestraian cerita rakyat juga dikaitkan dengan revitalisas bahasa ibu karena media cerita rakyat tentunya bahasa daerah setempat. Program-program tersebut tidak menunjukkan hasil. Rasanya seperti musiman. Semarak sesaat dan hilang. Hal ini terjadi karena niat pelestarian, revitalisasi, atau apapun istilahnya, datangnya dari atas (pemerintah) atau dari luar masyarakat lokal. Perkara lokalitas dilupakan dalam pelestarian cerita rakyat. Lokalitas adalah jaminan bagi hidup matinya cerita rakyat. Kelemahan dan kegagalan pelestarian cerita rakyat yang datangnya dari atas dan dari luar lokalitas, merupakan faktor kunci. Maka dibutuhkan model lain pelestraian cerita rakyat. Model ini ditemukan di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

            Cerita bergambar I Kilap

Pedawa adalah desa Bali aga. Bali aga sendiri merupakan lokalistas ekslusif di Bali. Mereka bertahan pada identitas asli dan menolak pengaruh luar dan penyebaran agama Hindu di Bali pada masa lalu. Mereka tetap bertahan pada lokalitas. Lambat laun masifnya pembangunan Bali kletika lokalitas hanya bermakna tempat dan bukan kultur, pertahanan Bali aga runtuh dari dalam. Perubahan terjadi. Lokalitas kultural semakin lemah.

Desa ini menyadarinya dan dipahami sebagai ancaman. Maka lokalitas harus diselamatkan. Karena ia adalah identitas. Memang bukan semata identitas dan simbol tetapi pragmatisme fungsional. Kehidupan lokal mengembangkan nilai-nilai luhur. Ini alasan mengapa penting bagi Desa Pedawa mempertahankan dan kembali ke lokalitas jati diri sejati Bali aga.

Di antara berbagai perkara lokalitas ini, seperti penghormatan air, tata kepercayaan (agama), arsitektur, agrikultur, kesenian, hutan, dll., adalah cerita rakyat. Nasib cerita rakyat ini sama buruknya dengan nasib cerita rakyat dunia yang ditinggalkan dan dikubur oleh media baru sebagai akibat robeknya lokalitas kultural. Sebenarnya satu model pelestraian atau revitalisasi cerita rakyat tengah dimulai di desa ini. Kesadaran yang berkembang di tingkat lokal dan bukan titpan dari atas atau dari luar (pemerintah) bahwa cerita rakyat sangat penting, senyampang warga desa tidak sepakat dengan pandangan pemerintar. Model itu bermula pada kesadaran lokal Desa Pedawa bahwa revitalisasi cerita rakyat sangat penting.

Yang bergerak pun bukan orang luar tetapi warga masyarakat setempat. Beberapa tokohnya misalnya menghubungi Balai bahasa Provinsi Bali dan meminta tolong untuk melakukan program revitalisasi cerita rakyat. Gayung bersambut! Selama proyek revitalisasi ini, masyarakat Desa Pedawa dilibatkan. Revitalisasi ini berhasil menemukan kembali sejumlah cerita rakyat penting di Desa Pedawa, seperti I jaum, I Kilap, I Klenting Sari, dan Pan Srunang. Proyek revitalisasi cerita rakyat Bali aga yang digagas oleh pemiliknya bekerja sama dengan lembaga Balai bahasa Provinsi Bali pun sukses menghidupkan kembali cerita-cerita yang telah hilang puluhan tahun. Selain faktor lokalitas, sukses proyek ini ditentukan oleh masih tersisanya para penutur atau pewaris yang pada umumnya generasi tua Desa Pedawa (usia 80-90 tahun). Mereka diminta bercerita dan direkam. Mereka mengkonstruksi cerita dari sisa-siswa ingatannya. Tim proyek medokumentasi dengan cermat. Lalu dihasilkan suatu prototipe baru cerita berupa teks tertulis dalam bahasa Bali dialek Bali aga serta terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Komik I Jaum

Setelah proyek revitalisasi cerita rakyat Bali aga ini berlangsung, cerita-cerita lokal yang sudah pernah mati itu, memulai babak baru dalam perjalananya menuju masa depan di era digital saat ini. Cara menikmati cerita di dalam forum-forum tradisi juga dimanfaatkan di dalam proyek revitalisasi dengan memilih cerita I Jaum sebagai lakon. Dari prototipe cerita yang ada tim merancang pertunjukan cerita yang pada dipertunjukkan di balai desa setempat. Ini adalah apresiasi yang menjadi darah dan napas bagi hidupnya sebuah cerita rakyat. Demikianlah kisahnya perjalan hidup kembali cerita rakyat di desa Bali aga, Pedawa. Cerita ini kembali karena niat dari dalam lokalitas Bali aga Pedawa. Ini adalah sebuah model konservasi cerita rakyat dengan mengutamakan peran lokalitas.

Babak selanjutnya perjalanan dan hidup baru cerita rakyat Bali aga Pedawa muncul ketika Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha melakukan program Desa Binaan (2026) di desa ini. Lewat beberapa tim kini perjalanan cerita rakyatnya semakin bervariasi. Cerita-cerita tersebut diresepsi secara kreatif dan diwujudkan dalam sejumlah alih wahana. Dari prototipe cerita yang autentik dalam bahasa Bali dengan dialek Bali aga serta tersedia terjemahan dalam bahasa Indonesia dan kenangan serta ingatan ketika cerita I Jaum dipertunjukkan di Balai Desa; kini ada sejumlah media baru sebagai apresiasi dan kelangsungan hidup beberapa cerita (I Jaum dan I Kilap).

Mengunjungi Balai Desa Pedawa, berjumpa dengan mural berukuran besar (12 x 4 m). Di sini dua cerita (I Jaum dan I Kilap) digambar oleh tim desa binaan dari Prodi Seni Rupa yang dipimpin langsung oleh dosen seniman pelukis I Wayan Sudiarta. Ketika cerita rakyat hidup dalam imajinasi sosial maka lewat karya mural ini I Jaum dan I Kilap hadir secara visual. Tiga ekor anjing milik I Jaum yang bertarung melawan babi-babi Dadong Raksasa hidup dalam visualisasi masyarakat. Demikian pula usaha petani Pedawa membangun bendungan untuk mengairi sawah mereka bergerak dan menunjukkan masa lalu desa ini ketika sawah masih berjaya sebelum dirombak oleh vegetasi cengkeh.

Resepsi artisitik yang lain, yang juga masih berupa alih wahana, dilakukan oleh tim desa binaan yang diketuai oleh dosen seni rupa, Langen Broto Sutrisno, dalam bentuk media baru yakni cerita bergambar I Kilap  dan komik I Jaum. Alih wahana cerita Bali aga Desa Pedawa ini sangat kaya dan media baru yang lebih masuk akal akan menjadi jaminan kehidupan cerita-cerita tersebut. [T]

Tags: bulelengcerita rakyatDesa Pedawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

Next Post

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
0
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

Read moreDetails

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

Read moreDetails

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
0
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

Read moreDetails

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
0
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin
Khas

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
Kosmologi Sulur Wayan Setem
Ulas Rupa

Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

by Hartanto
July 23, 2026
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma
Esai

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026
Ulas Pentas

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

by Chandra Manikan
July 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965
Khas

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]
Ulas Rupa

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

by Angga Wijaya
July 22, 2026
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia
Esai

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Khas

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co