1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

I Wayan Artika by I Wayan Artika
July 2, 2026
in Esai
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

Komik I Jaum

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat yang lisan yang harus mati. Pemiliknya tidak lagi menuturkannya. Dokumen nyaris tak ada. Belum sempat ditulis.

Cerita rakyat hidup dalam lokalitas yang ekslusif dan menjadi pilihan pertama dan mungkin satu-satunya. Dalam kondisi tidak adanya pilihan lain sebagai media hiburan dan pendidikan moral, memberi peluang cerita tersebut bertahan lama. Saat lokalitas itu bocor sehingga terhubung dengan dunia luar maka pilihan baru tersedia yang biasanya menggoda karena baru. Sekolah-sekolah dan media baru adalah pemicu kebocoran lokalitas.

Sekolah-sekolah dasar Inpres yang dibangun di hampir seluruh desa di Indonesia pada masa awal Orde Baru membawa kurikulum nasional. Berbagai mata pelajaran mengenalkan wacana baru bagi anak-anak. Tradisi cerita rakyat mulai bergeser dari forum nenek bercerita ke guru mengajar. Narasi-narasi kurikulum sekolah lebih beragam dan kaya. Materi kurikulum disatukan secara nasional yang artinya tidak bersumber dalam dunia lokal. Cerita rakyat yang hidup di dalam dunia lokal praktis diabaikan. Lambat laun dilupakan.

Faktor lain yang turut serta membunuh cerita rakyat dan forum-forum bercerita adalah buku cetak, media massa, dan media elektronik (radio dan televisi). Media ini benar-benar telah menghancurkan lokalitas lewat penyebaran teks dan siaran-siarannya. Ini berlangsung sangat lama dan semakin menyempurnakan kematian cerita rakyat.

Kematian cerita rakyat memang diratapi. Kondisi ini buruk bagi masyarakat karena menegaskan kehilangan jati diri. Pemerintah pun memulai konservasi dengan berbagai program. Dalam dunia pendidikan dikenal muatan lokal. Kaum akademisi mulai melakukan kajian cerita rakyat. Industri buku tergerak hati untuk menerbitkannya. Ada juga animasi-animasi cerita rakyat untuk siaran televisi. Demikian pun festival dan perlombaan forum cerita rakyat seperti lomba mendongeng atau di Bali misalnya dikenal dengan mesatua. Pelestraian cerita rakyat juga dikaitkan dengan revitalisas bahasa ibu karena media cerita rakyat tentunya bahasa daerah setempat. Program-program tersebut tidak menunjukkan hasil. Rasanya seperti musiman. Semarak sesaat dan hilang. Hal ini terjadi karena niat pelestarian, revitalisasi, atau apapun istilahnya, datangnya dari atas (pemerintah) atau dari luar masyarakat lokal. Perkara lokalitas dilupakan dalam pelestarian cerita rakyat. Lokalitas adalah jaminan bagi hidup matinya cerita rakyat. Kelemahan dan kegagalan pelestarian cerita rakyat yang datangnya dari atas dan dari luar lokalitas, merupakan faktor kunci. Maka dibutuhkan model lain pelestraian cerita rakyat. Model ini ditemukan di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

            Cerita bergambar I Kilap

Pedawa adalah desa Bali aga. Bali aga sendiri merupakan lokalistas ekslusif di Bali. Mereka bertahan pada identitas asli dan menolak pengaruh luar dan penyebaran agama Hindu di Bali pada masa lalu. Mereka tetap bertahan pada lokalitas. Lambat laun masifnya pembangunan Bali kletika lokalitas hanya bermakna tempat dan bukan kultur, pertahanan Bali aga runtuh dari dalam. Perubahan terjadi. Lokalitas kultural semakin lemah.

Desa ini menyadarinya dan dipahami sebagai ancaman. Maka lokalitas harus diselamatkan. Karena ia adalah identitas. Memang bukan semata identitas dan simbol tetapi pragmatisme fungsional. Kehidupan lokal mengembangkan nilai-nilai luhur. Ini alasan mengapa penting bagi Desa Pedawa mempertahankan dan kembali ke lokalitas jati diri sejati Bali aga.

Di antara berbagai perkara lokalitas ini, seperti penghormatan air, tata kepercayaan (agama), arsitektur, agrikultur, kesenian, hutan, dll., adalah cerita rakyat. Nasib cerita rakyat ini sama buruknya dengan nasib cerita rakyat dunia yang ditinggalkan dan dikubur oleh media baru sebagai akibat robeknya lokalitas kultural. Sebenarnya satu model pelestraian atau revitalisasi cerita rakyat tengah dimulai di desa ini. Kesadaran yang berkembang di tingkat lokal dan bukan titpan dari atas atau dari luar (pemerintah) bahwa cerita rakyat sangat penting, senyampang warga desa tidak sepakat dengan pandangan pemerintar. Model itu bermula pada kesadaran lokal Desa Pedawa bahwa revitalisasi cerita rakyat sangat penting.

Yang bergerak pun bukan orang luar tetapi warga masyarakat setempat. Beberapa tokohnya misalnya menghubungi Balai bahasa Provinsi Bali dan meminta tolong untuk melakukan program revitalisasi cerita rakyat. Gayung bersambut! Selama proyek revitalisasi ini, masyarakat Desa Pedawa dilibatkan. Revitalisasi ini berhasil menemukan kembali sejumlah cerita rakyat penting di Desa Pedawa, seperti I jaum, I Kilap, I Klenting Sari, dan Pan Srunang. Proyek revitalisasi cerita rakyat Bali aga yang digagas oleh pemiliknya bekerja sama dengan lembaga Balai bahasa Provinsi Bali pun sukses menghidupkan kembali cerita-cerita yang telah hilang puluhan tahun. Selain faktor lokalitas, sukses proyek ini ditentukan oleh masih tersisanya para penutur atau pewaris yang pada umumnya generasi tua Desa Pedawa (usia 80-90 tahun). Mereka diminta bercerita dan direkam. Mereka mengkonstruksi cerita dari sisa-siswa ingatannya. Tim proyek medokumentasi dengan cermat. Lalu dihasilkan suatu prototipe baru cerita berupa teks tertulis dalam bahasa Bali dialek Bali aga serta terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Komik I Jaum

Setelah proyek revitalisasi cerita rakyat Bali aga ini berlangsung, cerita-cerita lokal yang sudah pernah mati itu, memulai babak baru dalam perjalananya menuju masa depan di era digital saat ini. Cara menikmati cerita di dalam forum-forum tradisi juga dimanfaatkan di dalam proyek revitalisasi dengan memilih cerita I Jaum sebagai lakon. Dari prototipe cerita yang ada tim merancang pertunjukan cerita yang pada dipertunjukkan di balai desa setempat. Ini adalah apresiasi yang menjadi darah dan napas bagi hidupnya sebuah cerita rakyat. Demikianlah kisahnya perjalan hidup kembali cerita rakyat di desa Bali aga, Pedawa. Cerita ini kembali karena niat dari dalam lokalitas Bali aga Pedawa. Ini adalah sebuah model konservasi cerita rakyat dengan mengutamakan peran lokalitas.

Babak selanjutnya perjalanan dan hidup baru cerita rakyat Bali aga Pedawa muncul ketika Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha melakukan program Desa Binaan (2026) di desa ini. Lewat beberapa tim kini perjalanan cerita rakyatnya semakin bervariasi. Cerita-cerita tersebut diresepsi secara kreatif dan diwujudkan dalam sejumlah alih wahana. Dari prototipe cerita yang autentik dalam bahasa Bali dengan dialek Bali aga serta tersedia terjemahan dalam bahasa Indonesia dan kenangan serta ingatan ketika cerita I Jaum dipertunjukkan di Balai Desa; kini ada sejumlah media baru sebagai apresiasi dan kelangsungan hidup beberapa cerita (I Jaum dan I Kilap).

Mengunjungi Balai Desa Pedawa, berjumpa dengan mural berukuran besar (12 x 4 m). Di sini dua cerita (I Jaum dan I Kilap) digambar oleh tim desa binaan dari Prodi Seni Rupa yang dipimpin langsung oleh dosen seniman pelukis I Wayan Sudiarta. Ketika cerita rakyat hidup dalam imajinasi sosial maka lewat karya mural ini I Jaum dan I Kilap hadir secara visual. Tiga ekor anjing milik I Jaum yang bertarung melawan babi-babi Dadong Raksasa hidup dalam visualisasi masyarakat. Demikian pula usaha petani Pedawa membangun bendungan untuk mengairi sawah mereka bergerak dan menunjukkan masa lalu desa ini ketika sawah masih berjaya sebelum dirombak oleh vegetasi cengkeh.

Resepsi artisitik yang lain, yang juga masih berupa alih wahana, dilakukan oleh tim desa binaan yang diketuai oleh dosen seni rupa, Langen Broto Sutrisno, dalam bentuk media baru yakni cerita bergambar I Kilap  dan komik I Jaum. Alih wahana cerita Bali aga Desa Pedawa ini sangat kaya dan media baru yang lebih masuk akal akan menjadi jaminan kehidupan cerita-cerita tersebut. [T]

Tags: bulelengcerita rakyatDesa Pedawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

Next Post

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co