18 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ritus Tari Seblang di Olehsari : Menari Bersama Leluhur dan Merayakan Dialog Antarbudaya Bali-Blambangan

Arif Wibowo by Arif Wibowo
May 6, 2023
in Panggung
Ritus Tari Seblang di Olehsari : Menari Bersama Leluhur dan Merayakan Dialog Antarbudaya Bali-Blambangan

Suasana Panggung Pertunjukan Ritus Tari Seblang di Olehsari | Foto : Sandika Hidayat

Baguse ya Bagus Nyoman
Iringan dada porasi
Porasine ya umar padhang
Pendarungan Tamansari

Gendhing berjudul Bagus Nyoman bernada slendro dengan arti bahasa yang sulit di pahami itu mengiringi penari Seblang ketika menari di atas meja. Sesi “Tundik” menjadi bagian dari ritus pertunjukan yang ditunggu-tunggu. Ketika penari seblang nundik, ia melempar sampur (selendang) ke tengah kerumunan penonton. Siapa yang ketiban sampur, dia harus naik ke atas meja untuk menari bersama Seblang.

Suasana begitu sangat riang. Penari seblang yang raganya “dipinjam” oleh roh leluhur itu menari lincah dengan tingkah yang centil. Tak jarang sang penari juga menunjukkan ekpersi kasmaran bahkan kadang juga kemarahan yang menggemaskan.

Tundik : Penari Seblang Menari di atas meja bersama penoton yang kejatuhan sampur | Foto : Sandika Hidayat

Kali adalah tahun pertama gadis bernama Dwi Putri Ramadhani (18 tahun) itu didapuk oleh leluhur desa menjalankan tanggung jawabnya menari Seblang hingga 2 dua tahun berikutnya. Ia mencuri perhatian penonton dengan gerak tariannya yang sangat lincah dan energik dalam keadaan trance.

Selama tujuh hari, dimulai pukul 14.00 hingga menjelang fajar tenggelam di ufuk barat, ia akan menari dengan omprok (mahkota) daun pisang berhias bunga-bunga segar. Di bawah payung agung dari koin mori, ia mempersembahkan raganya menari mengitari panggung dengan arah berlawanan jarum jam, diiringi 30 gending-gending koor yang mendayu-dayu.

Foto : Sandika Hidayat

Selain merayakan hari raya Idul Fitri atau Lebaran, masyarakat Using di Desa Olehsari – Kecamatan Glagah yang berada di sisi barat kota Banyuwangi menuju arah Kawah Ijen itu juga mengadakan ritus tari sakral bernama Seblang. Ritus tari ini rutin diadakan setiap tahun selama tujuh hari berturut-turut yang sudah dijalankan oleh masyarakat secara turun-temurun.

Hari Senin dan Jum’at merupakan hari sakral yang diyakini oleh masyarakat Using dalam memulai berbagai nadzar terutama ritus-ritus daur hidup yang bersifat kolektif maupun individu. Oleh karena itu, penyelenggaraan ritus tari sakral ini dimulai pada hari Senin atau Jumat minggu pertama di bulan Syawal. Sebagaimana Lebaran tahun ini, ritus tari seblang mulai diselenggarakan pada Senin hingga Minggu, 24 -30 April 2023 lalu.

Tari Seblang bisa dikatakan sebagai ibu dari segala tari yang berkembang di Banyuwangi karena memiliki pertalian yang erat dengan tari Gandrung Banyuwangi yang dijadikan gerak dasar tari garapan Banyuwangi. Gandrung Banyuwangi dalam penyajiannya mengambil beberapa unsur tari Seblang, mulai dari gendhing hingga beberapa bagian yaitu Seblang-seblangan atau Seblang Subuh di akhir babak pertunjukannya. Sejarah tari Gandrung Wadon (sebelumnya, Tari Gandrung jamak ditarikan oleh seorang pria) juga tak lepas dari ritus seblang sebagai ungkapan nadzar atau kaul yang dilakuan oleh Mak Midah di Desa Cungking kepada anaknya yang bernama Semi.

Sebelum dikenal sebagai penari Gandrung Wadon pertama di Banyuwangi, Semi menjalani ritus dengan menarikan seblang sebagai ungkapan syukur setelah mengalami sakit berkepanjangan. Kaitan sejarah Seblang dan Gandrung pernah dicatat oleh penulis Belanda Joh Scholte dalam makalahnya Gandroeng van Banjoewangi, 1926.  Pendek kata, gandrung adalah bentuk penyajian tari seblang yang bersifat profan berfungsi sebagai tari pergaulan.

Seblang ada yang mengartikan dalam bahasa setempat  dengan plesetan sebele ilang. Mengacu pada fungsinya sebagai ritus tolak bala, bersih desa, kesuburan dan penyembuhan. Di Banyuwangi, ada dua desa yang masih mempertahan ritual ini sebagai ritus tolak bala yang diadakan secara kolektif oleh masyarakat pendukungnya, yaitu Kelurahan Bakungan dan Desa Olehsari. Jika Seblang di Olehsari ditarikan oleh gadis atau wanita muda. Maka di Bakungan yang menarikan adalah wanita tua yang sudah menopause.

Dalam praktik ritual bersih desa, tak sembarang orang bisa menarikan Seblang. Penarinya harus memiliki ikatan keturunan secara langsung dari penari terdahulu baik dari garis ayah maupun ibu. Pemilihan penari pun melalui proses sakral yang penuh unsur mistik karena berkaitan erat dengan roh leluhur desa. Biasanya 1-2 minggu menjelang pelaksanaan ritual, ada seorang warga yang kejiman (kerasukan, kerauhan). Ritual Kejiman itulah menjadi medium rembug antara masyarakat penyelenggara dengan roh-roh leluhur desa. Peristiwa Kejiman dengan medium raga seorang warga itulah menjadi ruang dialog antara jagad halus dan jagad kasar, dari memilih penari hingga berbagai perkara penyelenggaraan ritual.

Sang Hyang, Sanyang dan Seblang

 Foto : Sandika Hidayat

Geografis Banyuwangi yang berdekatan dengan Bali menjadikan wilayah ini sebagai “ruang antara” arus besar kebudayaan Jawa dan Bali dan juga suku-suku lain seperti Madura, Melayu, Mandar, dan Bugis. Peristiwa-peristiwa sejarah sosial politik sejak zaman kerajaan hingga kolonial membawa pertemuan budaya yang saling membaur.

Menjelang keruntuhannya, Kerajaan Blambangan kerap kali menjadi ajang rebutan baik di pihak Mataram Islam yang bersekutu dengan Kolonial Belanda maupun Kerajaan-kerajaan di Bali seperti Mengwi, Gelgel dan Buleleng sebagai usaha politis membendung pengaruh Mataram. Jejak-jejak peristiwa sejarah itulah yang juga menghadirkan ritus Seblang yang bisa ditemukan di Olehsari dan Bakungan melalui ekspresi ritus tarian sakral.

Di Desa Olehsari, terdapat makam tua di pekuburan desa yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai makam Buyut Ketut. Makam ini masih disakralkan hingga hari ini karena selain dipercaya sebagai leluhur pendiri desa yang mbabad alas juga memiliki kaitan erat dengan prosesi ritus tarian Seblang.

Sebelum penyelenggaraan ritus Seblang, para pelaku adat melakukan ritual selametan berdoa dan makan bersama dengan sajian khas nasi tumpeng dan pecel pitik di makam Mbah Ketut. Begitu juga di hari ke-tujuh pada pelaksanaan Seblang akan menjalani prosesi arak-arakan Ider Bumi. Penari akan napak tilas dengan menari di titik-titik desa yang dianggap sakral oleh warga. Salah satunya Sang Penari akan menari di atas makam Buyut Ketut.

Foto : Sandika Hidayat

Tak ada catatan sejarah yang jelas mengenai asal muasal makam tua Buyut Ketut itu. Namun serangkaian ritual Seblang dan kepercayaan warga yang berkembang secara lisan mengenai nama Ketut memiliki indikasi hubungan yang jelas dengan kebudayaan Bali. Menurut penafsiran Drs. Suhalik sebagai pemerhati sejarah Banyuwangi, Buyut Ketut merupakan salah satu pasukan perang dari Bali yang membantu perlawanan rakyat Blambangan dalam peristiwa melawan pasukan Belanda dengan perang Puputan Bayu (1771-1773) sebagai puncak perlawanan.

Dalam perjalanannya, Buyut Ketut mendirikan sebuah perkampungan atau Banjar. Di sisi timur Desa Olehsari saat ini memang terdapat sebuah desa yang bernama Banjarsari. Setelah mendirikan Banjarsari, Buyut Ketut melanjutkan membuka lahan di sisi baratnya yang kini dikenal sebagai desa Ulih-ulihan atau secara formal administratif disebut Olehsari.

Tari Seblang hampir mirip dengan Tari Sang Hyang Dedhari di Bali. Begitu juga dengan Sanyang, yang pernah dicatat oleh Joh. Scholte dalam perjalanannya di Banyuwangi. Ia mencatat terakhir kali menyaksikan pertunjukan tari Sanyang di Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi pada tahun 1926.  Tarian Sanyang itu ditarikan oleh dua anak laki-laki berusia sekitar 9-10 tahun dengan memakai busana penari putri dalam keadaan trance. Mereka menari selayaknya wanita.

Menariknya, terdapat adegan ketika kedua penari cilik laki-laki itu menari di atas payung terbuka sambil menusukkan keris ke tubuhnya tanpa luka sedikitpun. Selama pertunjukan, Sanyang diiring nyayian koor oleh para wanita dan iringan musik berupa 4-6 seruling bambu dan gong. Beberapa unsur-unsur pertujukan Sanyang juga ditemukan dalam pertujukan Seblang hari ini. Seperti iringan gending yang dibawakan secara koor oleh beberapa wanita dan masih digunakannya gending Sekar Jenang.

…

Penari Seblang menjual bunga kepada penoton dengan diiringi gending Kembang Derma | Foto : Sandika Hidayat

Sal Murgiyanto mencatat dalam Seblang dan Gandrung, dari sekitar 30-an gending terdapat dua gending dalam ritus Seblang yang sangat mirip dengan dengan ritus Tari Sang Hyang di Bali yaitu Sekar Jenang dan Bagus Nyoman.

Gending Sekar Jenang pada tarian Seblang :

Sekar Jenang
Maudhang dedhari kuning
Agung alit temuruno
Dedhari turun maundhang

Sedangkan gending Kembang Jenar pada tarian Sanghyang Dedhari dibawakan ketika penari diasapi agar terjadi kerauhan:

Kembang Jenar
Mengundhang dedhari agung
Sane becik, becik undhang
Ni Supraba, Tunjung biru

Terkait gending Bagus Nyoman yang syairnya ditulis pada bagian awal tulisan ini, masyarakat di sekitar Singaraja mengenal Bhatara Bagus Nyoman sebagai nama roh yang biasanya dimohon turun untuk merasuki penari pada ritus Sang Hyang Jaran.

Seperti umumnya tradisi sastra lisan, proses penyebaran pengetahuan antar generasi pada gending-gending Seblang yang berjumlah sekitar 30 macam gending itu mengalami proses perubahan syair maupun cara pengucapan. Sehingga syair-syair itu kadang sulit dimengerti oleh masyarakat awam.

Penari Seblang sedang diasapi dupa kemenyan, di sisi lain tangan sang penari dibubuhi minyak wewangian  | Foto : Sandika Hidayat

Memang tidak ada catatan tertulis mengenai hubungan tari Sang Hyang, Sanyang dan Seblang. Namun jejak tradisi yang berkembang dan masih dipelihara pelaku adat Seblang di Banyuwangi hingga hari ini memiliki indikasi kuat mengenai dialog kebudayaan antara Blambangan dan Bali yang sangat erat.

Ritus  Tari Seblang selain memiliki fungsi tolak bala untuk keselamatan desa dan kesuburan, pada konteks hari ini juga bisa dilihat sebagai manifestasi ritus tari yang memiliki nilai-nilai kesetempatan sekaligus universal. Keduanya bisa menjadi modal sosial segenap anak bangsa dalam upaya membangun kebinekaan dan sikap terbuka alih-alih terjebak oleh fanatisme sekat-sekat geografi, kepercayaan dan identitas golongan. Ritus tari Seblang membawa kita sejenak merayakan jejak-jejak masa lalu para leluhur dalam menghadapi realitas sosial politik yang menumbuhkan silang budaya antar indetitas pada titik setimbang antara yang setempat dan yang universal.

Upaya para leluhur di Olehsari dan Bakungan mendialogkan ritus Seblang dengan kepercayaan mayoritas masyarakatnya hari ini patut dijadikan kebijaksanaan. Seblang yang berakar dari ritus kuno pra-Islam nyatanya bisa dilestarikan secara harmonis bahkan “menubuh” dengan hari-hari besar Islam. Di Olehsari, ritus tari sakral ini diselenggaran berdekatan dengan Idul Fitri di bulan Syawal. Sedangkan di Bakungan ritual Seblang diadakan seusai Idul Adha di bulan Dzulhijjah.

Di sisi lain,  memaknai kembali Sang Hyang, Sanyang, Seblang dan berbagai ritus kuno sebagai bentuk manifestasi manusia terhadap kesuburan dan tanggung jawabnya pada alam sekitar, juga patut disuarakan kembali alih-alih mengeksploitasinya hanya sebagai panggung pertunjukan turistik. Sehingga, diharapkan masyarakat hari ini tidak larut pada kebanggaan melestarikan ritus tradisi dengan orientasi pariwisata budaya semata. Lebih jauh lagi, kita harus menarisakan kembali warisan tradisi leluhur sebagai gerakan sosial merespon isu dan realitas kekinian. [T]

Seni Memahat Diri | Catatan Workshop Gerak “Tubuh Setengah Jadi”
Merajut Kembali Seni dan Kekuasaan di Bali
Tags: banyuwangiJawa Timurkesenian banyuwangiritualSeniseni tariTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tatkala May May May 2023: Mendengar Cerita, Menikmati Rupa

Next Post

Komunikasi Intelijen: Layak Menjadi Kajian

Arif Wibowo

Arif Wibowo

Lulusan Sarjana Arsitektur yang tertarik dengan isu-isu ketimpangan sosial dan lingkungan perkotaan sehingga lebih memilih untuk terlibat pada praktik arsitektur lansekap yang berfokus pada perancangan ruang publik dengan harapan semakin banyak ruang hijau di kawasan kota. Selain itu ia juga gemar menikmati seni tari, pertunjukan dan musik tradisi khususnya di Jawa dan Bali.

Related Posts

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

Read moreDetails

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

by Ingga Adelia
June 15, 2026
0
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

Read moreDetails

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

Read moreDetails

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang...

Read moreDetails

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

by Jaswanto
June 14, 2026
0
Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas...

Read moreDetails

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
0
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang...

Read moreDetails

‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan

by Dede Putra Wiguna
June 10, 2026
0
‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan

PULUHAN pesawat kertas melayang serentak dari atas panggung SD Negeri 1 Ungasan, Badung. Para siswa bersama guru yang berdiri berdampingan...

Read moreDetails

I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
0
I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne,...

Read moreDetails

Peed Aya PKB 2026 Dirancang Tampil Lebih Dinamis Sebagai Pertunjukan Seni Berjalan

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
0
Spesies Bapak Pongah | Etnosentris di Parade PKB 2022

PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang...

Read moreDetails

Warna-warni Layang-layang di Atas Laut Peninsula Island —Cerita dari ‘World Ocean Day’ dan ‘Coral Triangle Day 2026’ di Nusa Dua

by Nyoman Budarsana
June 7, 2026
0
Warna-warni Layang-layang di Atas Laut Peninsula Island —Cerita dari ‘World Ocean Day’ dan ‘Coral Triangle Day 2026’ di Nusa Dua

LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

Komunikasi Intelijen: Layak Menjadi Kajian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bung Karno di Rumah Petani   
Esai

Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

by I Nyoman Tingkat
June 17, 2026
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar
Kuliner

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

by Jaswanto
June 17, 2026
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

by Agung Sudarsa
June 17, 2026
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali
Esai

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik
Panggung

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca
Esai

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng
Pemerintahan

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi...

by tatkala
June 15, 2026
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

by Ingga Adelia
June 15, 2026
Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif
Pendidikan

Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif

JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam),...

by Dede Putra Wiguna
June 15, 2026
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I
Panggung

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan
Pemerintahan

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Om Swastyastu, Atas nama Pemerintah Kabupaten Buleleng dan pribadi, kami I Nyoman Sutjidra, Bupati Buleleng, bersama Gede Supriatna, Wakil Bupati...

by tatkala
June 15, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co