12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Usia 20-an, Masa Paling Melelahkan dalam Hidup dan Cara Memaknainya

Kadek Risma Widiantari by Kadek Risma Widiantari
April 19, 2023
in Esai
Usia 20-an, Masa Paling Melelahkan dalam Hidup dan Cara Memaknainya

Ilustrasi tatkala.co

QUARTER LIFE CRISIS merupakan periode ketidakpastian dan pencarian jati diri yang dialami individu pada saat mencapai usia pertengahan 20 hingga awal 30 tahun.

Memasuki usia 20-an, banyak hal yang mulai dihadapi, dari perasaan takut dan khawatir terhadap masa depan, termasuk dalam hal pendidikan, karier, relasi, kehidupan sosial, tentunya juga tak luput dari pesoalan asmara.

Pada umur-umur ini, seseorang seolah-olah menaiki bianglala kehidupan, kadang di atas, tapi kadang lebih  sering di bawah.

Kalau dipikir-pikir, usia 20-an ini merupakan waktu untuk kita mencari jati diri. Mencari apa yang kita senangi, bertahan sementara dengan apa yang sudah kita jalani dan mengakhiri sesuatu yang tidak kita sukai. Seakan-akan tak pernah behenti, berulang begitu saja, berputar seperti bianglala. Rasanya melelahkan sekali, bukan?

Berada di usia dua puluhan seringkali membingungkan dan, tentu saja, sepi. Bisa dibilang, ini memasuki masa mulai pura-pura dewasa. Seperti, mulai mencoba hidup mandiri di rantauan; mulai mencoba karier baru; mulai mencoba hubungan baru dan banyak hal lagi.

Fenomena ini sesuai dengan riset dari Harvard Business Review: Why You Late Twenties Is The Worst Time Of Your Life.

Artikel yang dimuat dalam majalah manajemen umum Universitas Harvard tersebut, dinyatakan bahwa, keadaan sementara yang berkepanjangan ini tentunya mengakibatkan banyak penderitaan. Dan dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa generasi muda saat ini lebih menderita daripada generasi sebelumnya.

Misalnya saja, usia rata-rata untuk timbulnya depresi telah turun, yang biasanya menunjukkan angka dari usia akhir empat puluhan atau awal lima puluhan, namun dari 30 tahun yang lalu berubah menjadi rentang usia di pertengahan dua puluhan, dan diperkirakan akan semakin turun seiring berjalannya waktu.

***

Selama tahun-tahun inilah, orang akan mengalami pikiran dan perasaan paling negatif. Tentunya juga mengalami pengembaraan pikiran paling banyak, suatu keadaan psikologis yang telah terbukti dapat merusak tingkat dari kesejahteraan.

Terlepas dari apa penyebabnya, fase quarter life crisis ini seringkali berlangsung dalam beberapa tahun. YA, B.E.B.E.R.A.P.A  T.A.H.U.N!

Kondisi Ini dimulai dengan adanya perasaan terikat pada komitmen di tempat kerja, di rumah, atau dengan seseorang (katakanlah: kekasih). Orang-orang mulai mengambil pekerjaan, menyewa kontrakan hingga apartment, dan menjalin hubungan dengan orang baru secara terus menerus. Tetapi kemudian, kamu merasa terjebak dalam ke-dewasa-an pura-pura.

Berada pada fase terkunci, sangatlah tragis. Bagaimana tidak? terkadang kita ingin terlepas atau melepas sesuatu, namun masih saja ragu. Padahal kita sudah tahu, bertahan juga bukan suatu pilihan yang tepat.

Apa kalian juga sedang mengalami fase ini? Huft!..sudahlah. Menjadi dewasa itu memang suatu keharusan, karena waktu akan terus bergerak tanpa menoleh kebelakang.

Merasa terkunci di dalam sangkar burung. Perasaan ini merupakan sebuah ilusi, kita bisa saja keluar dan lari sejauh mungkin, namun akan tetap merasa terkunci pada suatu keadaan. Stuck pada situasi yang membuat kita tidak nyaman.

Perlahan akan timbul perasaan bahwa rutinitas, bahkan hubungan yang dijalaninya itu, tidak membuat perasaan bahagia. Kita akan merasa semuanya sia-sia. Hal-hal seperti ini sering terjadi, biasanya karena hanya ingin membahagiakan orang-orang di sekitar tanpa mempedulikan diri sendiri.

Proses ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun, atau berulang kali. Nah, karena ini merupakan proses yang menyakitkan (menurutku), jadi kalian harus tetap kuat ya! Hehe…

***

Eitss! Tetapi jangan pandang dari satu sisi saja.

Fase ini juga dapat menjadi peluang pertumbuhan yang luar biasa bagi kita, karena dengan melalui proses ini dapat menciptakan individu yang lebih matang lagi, kita bisa menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan lebih bahagia.

Lantas, bagaimana caranya memanfaatkan peluang itu? Tenang, kalian tak usah risau, kali ini aku akan memberikan beberapa solusi yang bisa kamu coba, agar quarter life crisis kamu bisa terkontrol.

Fase berhenti (mengakhiri komitmen-komitmen)

Ini merupakan tahap awal yang cukup berat. Bayangkan saja, jika kita harus berhenti dari sebuah pekerjaan yang tidak kita sukai, namun di satu sisi kita sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk keberlangsungan hidup.

Atau putus dengan orang yang tidak tepat, tapi sudah terlanjur sayang. Hmm… ibaratnya seperti kata-kata bucin yang pernah FYP di salah satu aplikasi. Begini bunyinya: “Sama kamu sakit, tapi kalau gak sama kamu lebih sakit”.

Memang, mempertahankan sesuatu yang tak lagi seirama dengan kita itu bukanlah suatu yang mudah. Tetapi, mau tidak mau, suka tiak suka, harus dilakukan.

Mulai sekarang, cobalah untuk belajar meninggalkan dan melepaskan. Yapss! Melepaskan sesuatu yang sudah tidak bisa digenggam lagi.

Berhenti mengejar standar sosial

Jangan terlalu berambisi. Jangan memaksakan untuk menyetarakan diri dengan orang di luaran sana—walaupun nanti kita akan dipandang sebelah mata dan menjadi terisolasi. Dunia ini tidak akan pernah ada habisnya. Semakin kita mengejar, maka kita justru akan tergerus.

Please stop!

Membanding-bandingkan diri dengan kehidupan orang lain—atau menjadikan gambaran hidup orang lain sebagai standar “hidup yang ideal”—memang mudah sekali bagi kita.

Ibaratnya: kita sedang mengendarai sepeda motor, lalu kita mengikuti jalan yang ditempuh oleh orang lain (yang tidak pernah kita tahu, arahnya menuju ke mana).

Jadi, sebenarnya kita selalu mempunyai pilihan untuk menjalani hidup sesuai dengan pilihan kita sendiri. Artinya, tetap menjadi diri sendiri ya, teman. Aku harap demikian. Hehe.

Fase refleksi

Masuk ke dalam diri sendiri. Merenungkan pikiran, emosi, bahkan keputusan-keputusan yang telah kita ambil. Amati diri, apa yang harus diperbaiki, tentang pencapaian-pencapaian yang didapatkan atau mungkin, mulai merancang apa yang ingin dilakukan di masa yang akan datang, dengan cara mengekplorasi hal-hal baru.

Cara ini dapat membuat kita lebih terarah dan menjadi pelajaran untuk ke depannya. Kita bisa memulainya dengan misalnya, rutin menulis jurnal harian atau kembali menulis diary. Ini akan memudahkan, sebagai catatan untuk menjadi bahan pertimbangan atau pembeda dari refleksi-refleksi yang akan kita lakukan ke depan.

Percayalah, setelah melewati beberapa fase di atas, perlahan-lahan akhirnya kita akan menuju kebahagian lagi. Kita semua bisa melewati usia 20-an ini dengan full senyum (walaupun sambil sedikit menangis. Tidak apa-apa, namanya juga fase hidup).

Dan memang begitu fase hidup, seperti bianglala. Sebelum mencapai puncak, kita semua mengawalinya dari bawah, hingga berada di tengah-tengah, kemudian berhenti sejenak (ketika ada yang akan naik wahana), lalu berputar perlahan menuju puncak, dan akan kembali berada di bawah. Hah… begitulah kira-kira filosofi kehidupan.

Kamu hebat, kita semua hebat. Coba tatap diri kalian dicermin, kemudian bisikan pada diri sendiri: “You can do it!”

Terakhir, yuk nyanyi sama-sama!

Sudah di kepala dua

Harus mulai dari mana?

Ambisiku bergejolak, antusias tak karuan

Banyak mimpi-mimpi yang ‘kan kukejar

Lika-liku perjalanan

Ku terjebak sendirian

Tumbuh dari kebaikan, bangkit dari kesalahan

Berusaha pendamkan kenyataan bahwa

Takut tambah dewasa

Takut aku kecewa

Takut tak seindah yang kukira

Takut tambah dewasa

Takut aku kecewa

Takut tak sekuat yang kukira.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Bukan Mau Su’udzon, tapi Orang Bilang Itu Friendzone
Andai Aku Punya Pintu ke Mana Saja
Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya
Tags: dewasaesaikehidupanRemaja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cuti Bersama? Cobalah Trekking Menyambut Fajar di Jalur Buu-Yangudi, Desa Les, Tejakula

Next Post

Postingan Galau di Media Sosial Bisa Merusak Personal Branding?

Kadek Risma Widiantari

Kadek Risma Widiantari

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi di STAH N mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Postingan Galau di Media Sosial Bisa Merusak Personal Branding?

Postingan Galau di Media Sosial Bisa Merusak Personal Branding?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co