24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puasa di Masa Kecil dan Kenakalan-kenakalan yang Mewarnainya

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
April 11, 2023
in Esai
Puasa di Masa Kecil dan Kenakalan-kenakalan yang Mewarnainya

Ilustrasi tatkala.co | Jason Aditya

SUDAH TAHUN ke 7 saya menjalani puasa di Singaraja. Tak ada yang istimewa, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Entah karena keimanan saya yang setipis tisu atau saya yang tak pernah menyambut Ramadan dengan khidmat (barangkali alasan pertama itu paling tepat), yang jelas, menjalankan puasa di Singaraja tak pernah berkesan.

Selama menjalani puasa di kota kecil ini, seingat saya, tidur menjadi aktivitas yang sering saya kerjakan—bahkan menjadi rutinitas. Bukan karena tidur diwaktu puasa itu dihitung sebagai ibadah, tapi memang tak ada hal lain yang bisa saya lakukan selama puasa. Tidur pagi bangun sore hari.

Kalau cuaca sedang bagus, sesekali saya memancing. Tapi, kalau sedang malas-malasnya, ya saya hanya rebahan saja sambil nunggu adzan Maghrib—dan itu terulang saban hari. Jadi, sekali lagi, puasa di Singaraja tak ada yang istimewa. Justru terasa membosankan.

Tetapi, berbeda saat saya masih di kampung halaman di Banyuwangi, dulu. Di Banyuwangi , bulan Ramadan menjadi momen yang paling saya nantikan. Saya masih SD waktu itu.

Namun, sebelumnya harus saya jelaskan, untuk ukuran anak sekolah dasar, menantikan bulan Ramadan yang saya maksud tentu bukan bertujuan untuk mencari berkah, apalagi berlomba-lomba meminta tanda tangan imam tarawih sebagai tugas Pondok Ramadan dari sekolah, bukan. Tapi, ini yang saya maksud, kami menanti bulan Ramadan sebab akan kembali mengulang “kenakalan-kenakalan” yang kami lakukan setiap bulan suci itu.

Seperti misalnya, setiap sehabis buka puasa, saya dan teman-teman disibukkan membungkus air dengan plastik ukuran es lilin. Kami melakukan itu dengan riang gembira dan penuh semangat.

***

Kami mendapatkan plastik dengan cara patungan. Ada yang menyumbang 500, 1000, dan ada juga yang… eh, seingat saya memang cuma segitu. Namanya juga anak kampung, apalagi di umur segitu, tidak mungkin kami memiliki uang lebih daripada itu. Itu saja sisa bekal sekolah kami.

Setelah uang terkumpul, kami membeli plastik es di warung di ujung kampung, Warung Bik Is, namanya.

Setelah semua plastik terisi air—benda itu tampak mengembung seperti balon—saya dan teman-teman berangkat ke tempat di mana kami hendak memainkan plastik air itu. Ya, ini tentang permainan, atau lebih tepatnya sarana kenakalan kami.  Dan kami menyebut permainan ini: Bom air plastik. (Plastik berisi air itu memang bukan untuk hiasan.)

Sebelum saya lanjutkan, sebentar saya absen dulu nama teman-teman saya yang terlibat. (Karena setelah tulisan ini rampung kalian baca, saya tak mau dianggap nakal sendiri di kampung.)

Nama-nama yang terlibat antara lain: Rosadi, Aris, Imam, Muhlisin (Muhlisin ini jarang terlibat, karena Lik Agus, bapaknya Muhlisin galak. Pernah, bola yang sering kami mainkan di bacok sampai belah dua oleh Lik Agus, karena Muhlisin tak mau disuruh pulang).

Sekarang sedang ngetrend perang sarung sebagai permainan di bulan Puasa, tapi bagi kami itu kurang menantang. Tentu bom air lebih menantang.

***

Kami bermain bom air itu di pinggir jalan tepian sawah, di perbatasan kampung. Tempatnya memang sepi, karena tak ada lampu yang meneranginya, dan kami memainkan permainan itu ketika salat Tarawih sedang berlangsung. Artinya, sudah satu kenakalan yang kami lakukan—kami bolos salat Tarawih.

Aturan permainannya begini. Pertama kami membagi plastik berisi air itu dengan rata, adil. Kemudian kami merayap di antara semak-semak persawahan. Selanjutnya kami menunggu musuh yang datang. Kami mengintai musuh bak prajurit PETA yang sedang bergerilya melawan Belanda, benar-benar mendebarkan.

Nah, ketika ada sorot lampu motor dari kejauhan, itulah target kami. Ya, benar, orang-orang yang sedang lalu-lalang itulah musuh kami. Ketika musuh sudah tepat di hadapan kami, dengan aba-aba Rosadi sebagai pemimpin, dengan hitungan 1 2 3… secepat yang kami bisa, plastik berisi air itu kami lempar ke arah orang yang lewat.

Kadang lemparan kami meleset mengenai body motornya saja; kadang pas headshot, menghujam telak,  terkena kepala orang itu. Byurr. Basah menjadi ukuran kepuasan kami.

Mereka yang terkena bom air itu ada yang kaget kemudian ngebut secepat kilat. Tapi, naasnya, tak jarang, ada yang berhenti mencari arah darimana asal plastik-plastik berisi air itu melesat. Jikalau kami ketahuan, sekuat tenaga kami merayap menjauh, dan jika tetap dikejar, berarti sudah saatnya kami lari terbirit-birit menghindari amukan musuh.

Pernah satu ketika, bom plastik habis tapi kami masih belum puas. Kami tak habis akal, batang-batang padi yang sudah dipanen itu kami cabut sebagai penggantinya. Naasnya, kami tak berpikir panjang akibatnya akan seperti apa. Satu musuh terkapar nyungsep di jalan setelah kampalan bletok (batang padi sehabis panen dengan tanah-lumpur yang menempel di bonggolnya itu) melesat dengan telak mengenai kepalanya.

Kami yang belum tuntas dengan ketakutan melihat orang terkapar, dipaksa menerima rasa ketakutan lainnya. Korban kali ini tahu di mana tempat persembunyian kami. kemudian ia berlari kearah kami dengan balok kayu di tangan. Umpatan dan segala bentuk ancaman terlontar darinya. Tunggang langgang kami dibuatnya.

Saat itu, teman saya yang bernama Imam, malah berniat tidur di kandang kerbau, atau tepatnya bersembunyi di tempat makan kerbau. Tak mau ia pulang, sebab ketakutannya sudah berlipat-lipat. Setidaknya ada dua alasan dia melakukan itu. Pertama, kalau dia keluar, takut ketahuan orang tadi; kedua, alih-alih rumah bisa jadi tempat aman, malah omelan ibunya yang akan ia dapat. Sebab, baju dan sarungnya sudah penuh dengan lumpur sawah—barangkali juga kotoran dan kencing kerbau.

Kami terpingkal-pingkal menyaksikan Imam berada di tempat makan kerbau itu. Ingatan itu masih melekat jelas dalam kepala saya. Kira-kira, Imam ingat, ya?

***

Tunggu dulu, itu hanya satu dari sekian banyak “kenakalan” yang kami lakukan. Sekadar menyebut satu kenakalan lagi, kami pernah membakar tumpukan batang pohon cabai yang sudah kering. Pohon cabai itu kami lempar ke jalan dan kami membakarnya. Api yang cepat membesar kemudian menutupi jalan. Tak ada orang yang berani melewatinya.

Atau, sekadar mengingat kenakalan lainnya, kalau di Loloan, Jembrana, ada Ngotek (kegiatan untuk membangunkan sahur), di kampung kami di Banyuwangi juga ada, Patrol namanya.

Ngotek dan Patrol sama-sama kegiatan membangunkan orang sahur. Bedanya, kalau di Loloan di sambut dengan meriah–bahkan sampai di lombakan—karena itu dilakukan di waktu yang tepat, sebaliknya, orang-orang di kampung kami justru mengutuk kami habis-habisan.

Bukan karena warga di kampung kami tidak suka di bangunkan sahur, tapi karena kami membangunkan mereka di waktu yang tidak tepat. Ya, kami membangunkan mereka tepat jam 12 malam—jam orang kampung baru akan tidur. Hahaha…wajar jika mereka mengutuk kami.

Oh, dan ini, apalagi yang kami gunakan itu alat-alat musik jaranan seperti: gong, kenung, kendang dan kecrek. Keributan inilah yang menjadi alasan warga memarahi kami.

Saya juga ingat, Man Kuwan, tetangga saya, dengan nada Osing-nya, memarahi kami, “Byekk siro iki lare, mageh jam sakmene wis royak. Mulio!” “Aduh, kalian ini, masih jam segini sudah rame. Pulang!” Hahaha… benar-benar bulan puasa yang penuh dengan adrenalin.

Karena semarak Ramadan seperti pawai obor atau pasar tumpah yang ada di kota-kota tak pernah sampai di kampung kami, jadi kenakalan macam itulah yang kami lakukan. Dan anehnya, kami tak pernah takut seandainya kami tertangkap karena melempari orang dengan bom air atau tanah lumpur itu. 

Hah, setelah jauh dari kampung halaman, saya benar-benar merindukan momen-momen kebersamaan dengan teman masa kecil. Apalagi ketika puasa begini. Saya sadar apa yang kami lakukan itu adalah salah, dan membahayakan orang lain. Tapi, bagi kami dulu itu sangat menyenangkan.

Sekarang saya bersyukur, untunglah anak-anak di kampung saya tak ada yang mengikuti jejak kenakalan kami. Mereka hanya disibukkan dengan perang onlinenya–perang game PUBG dan Mobile Legend.

Tak apa mereka sibuk dengan gawai masing-masing—walaupun kadang mereka juga sering terkena penyakit pendengaran. Ketika sedang asik bermain game, setiap ada yang mengajak berbicara, sahutnya selalu diawali dengan…“Ha? Ha?”…dan itu sudah pasti pertanda telinganya sedikit bermasalah—yang penting, setidaknya apa yang kami perbuat dulu tak menular kepada mereka sekarang.[T]

Dimensi Komunikasi Puasa dan Lebaran

Puasa & Kesehatan
Bulan “Akting”
Tags: bulan puasaCerita Masa KecilPuasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setelah Tes Membuat Canang dan Klakat, Terpilih 10 Pasang Finalis Jegeg Bagus Tabanan

Next Post

Winda dari Blahkiuh, Usia 22 Tahun, Mantap Bertani, Susun Jadwal Kerja Bak Pegawai Kantor

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Kontributor tatkala.co

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Winda dari Blahkiuh, Usia 22 Tahun, Mantap Bertani, Susun Jadwal Kerja Bak Pegawai Kantor

Winda dari Blahkiuh, Usia 22 Tahun, Mantap Bertani, Susun Jadwal Kerja Bak Pegawai Kantor

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co