24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pekan Apresiasi Seni, Tari Magrumbungan, dan Pengalamanku sebagai Pembimbing

Dyah Sri Khrisna Aryantini by Dyah Sri Khrisna Aryantini
April 10, 2023
in Esai
Pekan Apresiasi Seni, Tari Magrumbungan, dan Pengalamanku sebagai Pembimbing

Komunitas Seni Manik Hasta Gina Desa Adat Sangket, Sukasada | Dok. Penulis

PADA MALAM hari pertengahan 2022, seperti biasa, aku dan teman-teman komunitas di desa sedang antusias latihan, gladi, untuk ikut memeriahkan kegiatan Pekan Apresiasi Seni (PAS) 27 Agustus tahun lalu.

Ya, Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup bekerjasama dengan berbagai pihak memanfaatkan Ruang Terbuka Hijau Bung Karno Sukasada dengan kembali mengadakan program Pekan Apresiasi Seni.

Seperti namanya, Pekan Apresiasi Seni yang rutin dilaksanakan setiap malam Minggu itu, berupaya melestarikan seni tradisi, adat, dan budaya yang ada di Kabupaten Buleleng. Artinya, seluruh sanggar dan komunitas seni di Buleleng memiliki kesempatan untuk tampil setiap minggu, secara bergantian.

Pekan Apresiasi Seni sebenarnya sudah berjalan jauh sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia. Awalnya, kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Sasana Budaya Singaraja dengan konsep yang masih dipertahankan seperti sekarang. Bedanya, selain tempat, dulu PAS berlangsung setiap hari Jumat pagi. Sedangkan sekarang diselenggarakan setiap malam Minggu.

Dan, tidak seperti sekarang, dulu penonton atau yang menyaksikan pementasan itu hanya golongan orangtua saja karena pementasan dilaksanakan pada hari produktif. Jadi, siswa maupun mahasiswa tidak dapat menyaksikannya. Ya, walaupun hasil dari pementasan tersebut akan diunggah melalui media sosial dan Youtube, tetap saja suasananya akan berbeda.

Nah, setelah proses pembangunan Ruang Terbuka Hijau Bung Karno rampung, PAS kembali dilaksanakan tepat setelah 2 tahun vakum akibat pandemi Covid-19. Aku akui, PAS memang berhasil sebagai wadah untuk menampung ekspresi dan kreatifitas seniman maupun kreator di Buleleng.

***

Seingatku, pada malam itu, yang akan tampil untuk mebarung adalah Komunitas Seni Manik Hasta Gina Desa Adat Sangket, Sukasada, dan Sanggar Seni Wrdhi Kumara Santhi Desa Pacung, Tejakula.  Sedangkan aku sendiri tergabung dalam komunitas yang pertama, Komunitas Seni Manik Hasta Gina.

Malam itu aku tidak hanya menari seperti biasanya. Aku berkesempatan mengajak adik-adik yang aku bina untuk tampil, mementaskan Tari Magrumbungan dalam kegiatan tersebut.

Aura, anggota Komunitas Seni Manik Hasta Gina Desa Adat Sangket, sedang mementaskan Tari Magrumbungan di PAS di Taman Bung Karno

Sekadar informasi, Tari Magrumbungan merupakan tarian asli Buleleng yang menceritakan tentang petani sedang membajak sawah. Tarian ini diciptakan oleh Ketut Artika, sedangkan penata dan tabuhnya diciptakan oleh Nyoman Durpa.

Magrumbungan termasuk tarian yang energik jika dilihat dari geraknya dan terdapat dua peran saat memainkannya: peran sebagai sapi dan petani. Menjadi sapi adalah PR berat karena setiap berjalan ia akan melompat, lari, dengan teknik yang sudah ditentukan. Unsur tari agem, tandang, tangkep, semua tergambar dalam tarian ini.

Dan sebagai pembimbing, tekatku sangat besar, dan tentu saja aku sangat antusias saat melibatkan mereka. Karena bagiku, ini salah satu ajang yang bagus untuk tes mental dengan tampil di atas panggung besar, mewah, dan disaksikan banyak orang, bukan hanya disaksikan orang desa sendiri saja.

Maka, setelah aku mencari bekal tambahan dari merias orang metatah di Desa Sawan, tepat pukul 1 siang aku langsung pulang tanpa singgah ke mana-mana lagi. Dan benar, adik-adik dan teman-teman yang akan ikut menari nanti malam sudah menunggu kehadiranku.

Tanpa basa-basi, aku langsung menyiapkan pakaian tari yang akan dipakai dan lanjut merias mereka. Ya, sebelum merias diri sendiri, aku merias adik-adik dan teman-teman terlebih dahulu. Jujur, hari itu super krodit, aku hampir tidak sempat makan.

Setelah adik-adik dan teman-teman selesai berias, aku lanjut mandi dan baru merias diri sendiri. Hah, malam itu kami sedikit telat datang ke lokasi pentas, karena waktu pentas 30 menit dimajukan tanpa alasan. Tapi, tidak apa-apa, kami bisa mengondisikan masalah tersebut.

***

Kursi penonton sudah penuh terisi. Karena cuaca cukup mendukung, pementasan segera dimulai. Sebelum mulai, kami sempatkan untuk berdoa bersama agar pementasan berjalan lancar.

Malam itu, kami mementaskan 1 tabuh dan 2 tarian dari masing-masing gong kebyar. Sanggar Seni Wrdhi Kumara Santhi menampilkan Tabuh Telu Batur Sari, Tari Panyembrama, dan Tari Baris Tunggal.

Sedangkan Komunitas Seni Manik Hasta Gina menampilkan Tabuh Kreasi Wrehat Cendana, Tari Selat Segara, dan Tari Magrumbungan. Aku sendiri berkesempatan untuk  mementaskan Tari Selat Segara. Karena tarian tersebut termasuk dalam tari penyambutan, maka aku tampil lebih dulu.

Dan ini yang aku tunggu-tunggu, penampilan Tari Magrumbungan yang dipentaskan adik-adikku. Jujur, rasanya deg-degan bercampur haru. Padahal, bukan aku yang menari, tapi aku tetap deg-degan sampai susah bernapas.

Merlan, anggota Komunitas Seni Manik Hasta Gina Desa Adat Sangket, sedang mementaskan Tari Magrumbungan di PAS di Taman Bung Karno

Aku sempat merasa cemas, karena ini pertama kali mereka tampil di panggung besar dan megah—selama ini mereka hanya tampil di lingkup acara desa saja.

Hal lain yang aku takutkan adalah kalau mereka sampai salah atau ada yang kurang menurut penonton, pasti yang dianggap kurang mampu membimbing mereka adalah aku—walau aku sudah berusaha dengan maksimal. Huf! namanya juga pendapat orang pasti berbeda-beda.

Tetapi, tampaknya itu hanya ketakutan itu hanya ada dalam kepalaku saja. Pada kenyatannya, riuh tepuk tangan penonton sesaat mereka selesai pentas membuat aku lega, walaupun mungkin ada satu-dua orang dari ratusan penonton yang berbeda pendapat.

Aku bangga, senang, bahagia, dan haru. Mereka dapat tampil dengan maksimal dan membuktikan ke dirinya sendiri bahwa mereka bisa. Padahal, waktu berlatih dan menghafalkan gerak tarinya hanya 1 bulan kurang.

Memang aku belum sebagus kak Arif Mahendra, penari idolaku, dalam mengajar tari, tapi aku akan terus berusaha supaya bisa sebaik dia dalam membimbing adik-adik. Aku sadar masih banyak hal yang belum aku ketahui dan kuasai—untuk itu aku harus terus belajar.

***

Setelah pementasan selesai, seperti biasa, kami melakukan foto bersama dan balik ke rumah dengan mobil pick up. Malam itu kami tidak langsung balik ke rumah masing-masing, tetapi aku dan teman-teman berkumpul di wantilan melakukan makan-makan bersama sebagai wujud rasa syukur sebab pementasan malam itu berjalan sukses, lancar, sesuai keinginan.

Dengan dorongan orang-orang terdekat, keluarga besar Komunitas Seni Manik Hasta Gina, dan juga masyarakat Desa Adat Sangket, kami akan terus semangat berlatih supaya penampilan selanjutnya lebih baik dari penampilan sebelumnya.

Terakhir, terima kasih aku sampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Buleleng. Melalui Pekan Apresiasi Seni, kami mempunyai wadah, tempat, untuk mengekspresikan diri melalui seni dan menjalin tali persaudaraan dengan teman-teman dari sanggar maupun komunitas lain. Sekali lagi, terim kasih.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Tercipta Tari Maskot Desa Batur “Tirtha Mahamreta Pratistha” | Catatan Pengabdian ISI Denpasar di Desa Batur
Gempita Fragmen Tari Bawi Srenggi Dadia Pudeh, Begini Awal Mula Ogoh-Ogoh di Tajun
Tari Panji Masutasoma: Memaknai Kemerdekaan, Memerdekakan Makna-makna
Tags: seni taritari baliTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dimensi Komunikasi Puasa dan Lebaran

Next Post

Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya

Dyah Sri Khrisna Aryantini

Dyah Sri Khrisna Aryantini

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi di STAH N Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya

Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co