23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalani Tawur Agung di Candi Prambanan (Lagi)

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
March 27, 2023
in Khas
Jalani Tawur Agung di Candi Prambanan (Lagi)

Suasana tawur agung di Prambanan

MENGIKUTI RITUS TAWUR AGUNG di Prambanan, Jawa Tengah, telah menjadi candu. Tidak hanya soal menyaksikan antusiasme umat di sekitar Jogja dan Jawa Tengah, tapi ini juga soal menyaksikan bagaimana perpaduan budaya hadir di tengah ritus dalam menyambut Hari Suci Nyepi—hari suci yang selalu diperingati umat Hindu tiap tahunnya.

Sama seperti tahun sebelumnya, saya ikut tawur agung di Prambanan pada Selasa, 21 Maret 2023. Saya datang ke Prambanan bersama beberapa teman. Berangkat dari Jakarta menggunakan mobil dan sampai di Jogja dengan waktu tempuh 10 jam. Cukup melelahkan buat saya yang jadi bagian tim sopir lintas provinsi, tapi buat say aitu adalah pengalaman yang menyenangkan.

Saya tiba di tempat upacara sekitar pukul 09.00 WIB, beberapa saat sebelum acara seremonial dimulai. Memasuki bagian depan Candi Roro Jonggrang, umat sudah disambut dengan dua spanduk yang cukup besar. Satu memperlihatkan sosok seorang Yaqut Cholil Qoumas (Gus Men), Menteri Agama RI dan Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Betul saja, ketika saya menoleh ke tenda VIP, saya sudah melihat Gus Men duduk di sebelah Wisnu Bawa Tenaya (WBT), Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat dan terlihat asik bercengkrama, mungkin Pak WBT sedang menceritakan tentang apa itu Nyepi dan rangkaian acaranya.

Namun tidak terlihat Sri Sultan Hamengkubuwono X di sana. Belakangan saya ketahui bahwa Gubernur Jogja diwakili oleh Asisten III Pemprov Jogja. Tak apalah, yang penting pihak Pemprov Jogja sudah memberikan perhatian kepada warga Hindu.

Seremonial Dimulai

Selayaknya acara-acara lain yang tersebar di Indonesia, acara seremonial menjadi agenda wajib di setiap acara. Termasuk Tawur Agung kali ini, apalagi dihadiri langsung oleh Gus Men. Wajib beri panggung dong. Hehe.

IGP Alit Jaya mengawali dengan laporannya sebagai Ketua Panitia Dharma Shanti Nasional. Ia menyebutkan bahwa acara ini dilaksanakan langsung oleh PHDI Jogja serta Pembimas Jogja, ia mengatakan “melalui acara ini diharapkan dapat menegaskan komitmen umat Hindu dalam menjalankan Dharma Agama dan Dharma Negara,”.

Tak lupa ia mengundang umat Hindu yang khususnya berada di wilayah Jabodetabek untuk hadir dalam acara Dharma Shanti Nasional pada Minggu, 14 Mei 2023 di Gedung Pertemuan Balai Samudra, Jakarta.

Aksi seni pada upacara tawur agung di Prambanan

Tiba waktunya Sri Sultan Hamengkubuwono X menyampaikan sambutan. Sambutan dibacakan langsung oleh Asisten III, dan tak lupa menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran sang Gubernur dalam acara tersebut.

Dalam sambutannya, ia menyebut hari-hari suci keagamaan di Indonesia adalah sebuah keistimewaan, termasuk Nyepi di dalamnya. Ia juga menyebut Nyepi sebagai waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri atau mulat sarira.

Hari Suci Nyepi adalah waktu untuk membasuh pelataran bumi agar dapat mencapai kondisi Memayu Hayuning Bawona, yang diartikan sebagai laku hidup manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan manusia.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini Gus Men hadir di tengah-tengah kebahagiaan umat Hindu menyambut Hari Suci Nyepi. Lewat Nyepi, ia berharap agar umat Hindu ikut berkontribusi atas terciptanya kedamaian dan ketentraman bangsa dan negara.

Menurutnya, Nyepi adalah momentum yang tepat untuk berkontemplasi, instropeksi, mengenal tata laku yang dilakukan di tahun sebelumnya dan mencoba meningkatkan kualitas diri setelahnya.

Ada satu yang paling menarik buat saya dari pernyataan Gus Men. Ia menegaskan kepada seluruh umat yang hadir untuk jangan sekali-sekali menggunakan agama dalam kepentingan-kepentingan politik (politik identitas).

Pesan itu sangat wajar disampaikan, mengingat Indonesia sudah memasuki tahun politik, dan agama kerap kali menjadi alat bagi para politisi untuk mencapai tujuannya dalam politik. Salah satu aktor politik identitas yang terkenal dari Bali juga kebetulan hadir pada acara itu. Tak perlu saya sebutkan, tebakan kalian pasti benar. Hahaha.

Parade Budaya Akhirnya Kembali

Secara jumlah umat yang hadir, tentu tahun ini jauh lebih banyak tinimbang tahun sebelumnya. Tapi selain itu, dalam ritus kali ini, penyelenggara kembali menyelenggarakan parade budaya yang melibatkan banyak pihak, khususnya anak muda.

Jika tahun lalu Tawur Agung Kasanga hanya menghadirkan satu Gunungan, tahun ini menghadirkan tiga Gunungan dengan ukuran yang lebih besar.

Gunungan sendiri merupakan tumpukan buah dan sayuran (intinya hasil bumi) yang disusun menyerupai sebuah gunung. Berisi pelbagai buah dan sayuran, dan dimakan bersama setelah dihaturkan kepada Tuhan. Namun untuk mendapatkan bagian buah atau sayuran ini, memerlukan usaha cukup tinggi, karena saya harus rebutan dengan umat lainnya, hal ini dalam tradisi Jawa disebut dengan Krebekan.

Tidak hanya Gunungan. Beberapa Ogoh-Ogoh pun meramaikan parade budaya. Mulai dari Ogoh-Ogoh berukuran kecil yang diarak oleh anak-anak, hingga berukuran besar. Ogoh-Ogoh ini rata-rata merupakan karya dari komunitas mahasiswa Hindu yang tersebar di pelbagai Kampus di Jogja dan sekitarnya.

Ada yang dibuat oleh komunitas mahasiswa Hindu Universitas Gadjah Mada (UGM), komunitas mahasiswa Hindu dari Sumatera, dan lainnya. Meski karyanya tidak banyak, tetapi hadirnya beberapa Ogoh-Ogoh dalam parade budaya ini sedikit mengisi kerinduan saya dengan Bali.

Nyepi Kali Ini Menekankan Pada Dharma Agama dan Dharma Negara

Saya merasa perlu untuk menyampaikan tema perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1945. Dalam laporannya, IGP Alit Jaya yang merupakan Ketua Panitia Dharma Shanti Nasional menyebutkan bahwa tahun ini Dharma Shanti Nasional mengusung tema “Melalui Dharma Agama dan Dharma Negara Kita Sukseskan Pesta Demokrasi”. Tentu menarik untuk membahas secara lebih mendalam, mengapa panitia memilih untuk mengusung tema ini.

Ogoh-ogoh pada upacara tawur agung di Prambanan

Dalam kesempatan berbeda, saya berkesempatan untuk berbincang dengan Sekretaris Umum PHDI Pusat, I Ketut Budiasa, saya akrab memanggilnya Bli Budi. Mengingat ia juga senior saya di Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), pernah menjadi Presidium PP KMHDI periode 1999-2001.

Ia menyebutkan bahwa majelis tinggi agama Hindu tersebut mengharapkan agar momentum Hari Suci Nyepi dapat dijadikan ajang refleksi diri, ajang berkontemplasi dengan menjalankan Catur Brata Penyepian—Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan.

Selain melakukan koreksi diri dan menjalankan Catur Brata Penyepian sebagai jalan melaksanakan Dharma Agama, umat Hindu juga diharapkan dapat menularkan vibrasi positif tersebut keluar diri. Salah satunya adalah ikut bersama-sama menyukseskan pesta demokrasi yang akan diselenggarakan 14 Februari 2024. Bagaimana caranya? Seperti yang dikatakan Gus Men dalam sambutannya, jangan sampai agama dijadikan komoditas dalam pelbagai kepentingan politik.

Bli Budi juga menegaskan, umat Hindu jangan sampai terjebak dalam politik identitas yang kemungkinan besar akan digunakan oleh para politisi guna mencapai tujuan-tujuan politiknya. Umat harus belajar dari pelbagai pengalaman sebelumnya. Politik identitas hanya menimbulkan polarisasi yang begitu tajam, kemudian dampaknya hanya dirasakan oleh rakyat biasa, sedangkan di lain tempat, justru elit-lah yang memetik hasil dari penggunaan politik identitas tersebut.

Nyepi Tahun Baru Saka 1945 buat saya menjadi Nyepi terbaik sampai hari ini. Tidak hanya kembali berkesempatan menyaksikan perpaduan budaya yang indah di tempat yang indah pula, saya juga berkesempatan menjalani Catur Brata Penyepian jauh lebih baik dari tahun sebelumnya.

Itulah pengalaman saya soal Nyepi tahun ini, bagaimana pengalaman kalian? [T]

Prambanan Tidak Hanya Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso
Operet Prambanan Teater Orok: Tak Sekadar Tontonan, Perlu juga Keberanian Tafsir
Menapak Jejak Konsep Purusa-Pradana di Lereng Gunung Rawung
Tags: Candi PrambananHari Raya NyepihinduJawa Tengah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hiperealitas Dalam “Punyan Kayu Ane Masaput Poleng di Tegal Pekak Dompu”

Next Post

Manchika, Jegeg Buleleng 2023: “Everything Happens for A Reason and Everthing is Possible”

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Manchika, Jegeg Buleleng 2023: “Everything Happens for A Reason and Everthing is Possible”

Manchika, Jegeg Buleleng 2023: “Everything Happens for A Reason and Everthing is Possible”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co