24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Diki Wahyudi | Sarjana Hukum Undiksha Sukses dengan “Tiktok Sarjana Hukum” untuk Indonesia

Jaswanto by Jaswanto
February 26, 2023
in Persona
Diki Wahyudi | Sarjana Hukum Undiksha Sukses dengan “Tiktok Sarjana Hukum” untuk Indonesia

Diki Wahyudi | Foto: dok pribadi

AGUSTUS 2015, seorang pemuda yang baru saja lulus SMA, dengan beberapa temannya, cemas menunggu bus Semarang-Tuban-Surabaya di seberang Alun-Alun Kota Tuban. Ia mondar-mandir dengan mengenakan jas sekolah yang dibanggakannya. Pemuda itu bernama Diki Wahyudi, pemuda kelahiran Montong, Tuban, Jawa Timur, itu, dinyatakan lolos tes SBMPTN di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja, Bali.

Pemuda yang akrab dipanggil Diki itu, pada 2015, menjadi salah satu dari sekian siswa yang lolos masuk jurusan Ilmu Hukum, Undiksha. Tak tahu benar apa alasannya memilih ilmu hukum. Yang jelas, setelah masuk dan berproses, ia mengaku tak ada minat sama sekali terhadap jurusan yang memiliki visi gagah:  Menjadi Program Studi yang unggul dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang hukum dengan berlandaskan Pancasila dan falsafah Tri Hita Karana, itu.

“Awal jadi anak hukum nggak ada minat sama sekali sama hukum─ya karena penerapan hukum di Indonesia antara teori sama praktiknya jauh beda,” katanya kepada tatkala.co (23/02/23).

Pemuda berkulit putih dengan tinggi yang tak dapat dibanggakan itu, pada awal kuliah, mengaku lebih senang berinteraksi, berdiskusi, atau sekadar ngobrol atau nongkrong dengan anak-anak Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Singaraja─yang notabene organisasi di luar kampus─daripada ngobrol dengan anak-anak organisasi di dalam kampus─meskipun itu teman-temannya sendiri atau dosen di jurusannya.

Tetapi, mekipun begitu, kariernya di organisasi internal kampus tak bisa diremehkan. Pada 2017, ia terpilih menjadi Ketua Umum PMM Al-Hikmah, posisi penting yang banyak diinginkan mahasiswa Muslim di Undiksha.

Diki termasuk mahasiswa yang rajin dan tertib. Terbukti, ia lulus tepat pada waktunya, delapan semester, tak kurang tak lebih. Pada 2019, pemuda yang pernah menjabat sebagai Ketua Bidang PTKP HMI Cabang Singaraja itu, resmi mendapat gelar Sarjana Hukum (SH) yang tersemat di belakang namanya─yang sangat jawa itu.

Menjadi Anak Magang

Setelah lulus kuliah, Diki mengaku bingung mau kerja apa dan di mana. Dengan sedikit putus asa, ia bahkan sempat bekerja di tempat pembuatan jamur tiram─bidang yang jauh dari ilmu hukum, bahkan sekadar nyrempet saja tidak. “Saya bekerja di sana selama kurang lebih semingguan lah. Tempatnya di bekas kandang babi,” ujarnya sambil mengenang.

Tak lama setelah itu, tepatnya pada Juli 2019, ia mendapat tawaran magang di LBH PAHAM (Pusat Advokasi dan Hak Asasi Manusia) di Denpasar. Tanpa pikir panjang─barangkali ia memang sudah tidak betah menyiapkan kumbung-kumbung jamur─ia menerimanya. “Walaupun magang di pengacara itu nggak dibayar, nggak digaji.”

Seperti mendapat ndaru (keberuntungan, semacam hadiah dari semesta), setelah sebulan magang di LBH PAHAM, Diki mendapat beasiswa untuk sekolah advokat (PKPA) ke jakarta.  “Gratis. Ya walaupun sempat ada insiden kecelakaan di Jembrana, saya tetap melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Padahal, yang tabrakan dengan saya itu sampai gagar otak,” katanya merasa bersalah.

Selama PKPA, ia mengaku mendapat banyak teman. Mulai dari Banyuwangi, Medan, Padang, Bogor, sampai NTT.

“Pulang dari PKPA saya kembali bekerja di LBH. Karena di LBH nggak digaji hanya diberikan uang transpot, malamnya saya ikut kerja di warung pecel lele. Pekerjaanya cuci piring, goreng lele, bungkus nasi, dll. Sempat buka angkringan tapi bangkrut karena covid. Nah, pas covid itu  pengadilan tutup, LBH  juga tutup, ahirnya saya pulang ke Tuban ,” jelasnya.

Di kampung halaman ia tak langsung mendapat pekerjaan─juga tak tahu apa yang harus dikerjakan. Bahkan ia sampai lingkung selama dua bulan lamanya.  “Karena sudah bingung (mentok), saya telpon temen HMI Tuban, minta link ke pengacara. Dari situ saya kenal pengacara namanya Engki─ya senior HMI juga,” ujarnya.

Bersama Engki─panggilan akrab pengacara muda Nang Engki Anom Suseno─tak main-main, Diki langsung diajak mengungkap kasus korupsi yang dilakukan Susilo Hadi Utomo, Sekertaris Desa (Sekdes) Cepokorejo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Susilo tersandung korupsi dana bantuan sosial (bansos) program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di desanya sejak 2018 silam.  “Weeeh… ngeri itu, korbanya sampai 50 orang. Dari situ saya belajar banyak soal advokasi hukum,” jelasnya dengan bangga.

Sembari magang, Diki Wahyudi juga sempat menjadi tim salah satu calon bupati Tuban. Segala urusan administrasi pencalonan bupati, seperti urusan di KPU, Bawaslu, surat rekom dan dokumen-dokumen penting lainnya, ia yang kerjakan.

Tetapi barang sial siapa yang tahu, calon bupati itu kalah. “Karena kalah, senior saya pindah kantor ke Sidoarjo. Alhasil, saya nganggur lagi.  Lamar sana-sini nggak ada yang nerima, padahal IPK saya 3,73. Saya  sampai mikir bahwa ijazah itu nggak ada gunanya,” katanya sambil tertawa.

Mulai Membangun Tiktok Sarjana Hukum

Sambil cemas dan gelisah menunggu panggilan kerja (yang tak kunjung ada kabar), awal tahun 2021, Diki mulai mencoba, barang iseng, membuat akun Tiktok dengan nama “Sarjana Hukum”─nama yang, bagi sebagian orang, bukan hanya serius dan terkesan “narsis”, tapi juga “sombong”.

Akun itu berisi video-video (konten) pendek seputar hukum: pasal ini-itu; ayat-ayat tentang perceraian, sengketa tanah, lapor-melapor, dan banyak hal, sekali lagi, seputar hukum. Dengan gayanya yang ceplas-ceplos; dengan logat Jawa-nya yang khas, komunikatif, Diki tampil bak ahli hukum yang sedang ceramah di atas podium mewah, di dalam auditorium megah dengan ratusan, bahkan ribuan orang, yang serius mendengarkannya.

Ia mencoba peruntungan di “panggung” yang, siapa pun, sangat berpotensi menjadi “orang sukses dan diakui”. Ya, Tiktok, juga platform digital lainnya, memang terbukti mampu menjadikan siapa pun, yang awalnya “bukan apa-apa”, “bukan siapa-siapa”, berubah menjadi orang yang diakui, ditokohkan, dielu-elukan, dihormati, ditiru, dijadikan inspirasi, dianggap sukses. Platform digital, seperti yang sudah umum terdengar, menjadi alternatif penyelamat.

Sekadar mengutip Mumu Aloha dalam Kampung Kriwil Fashion Week dan Sinetron Rakyat Kita (detiknews, 27/08/22), pandemi mungkin memang jahat; menghancurkan sebagian kehidupan. Dan menyerah adalah jalan yang paling mudah. Tapi, hidup pada zaman teknologi yang memberikan jalan alternatif dan berbagai kemungkinan lain yang nyaris tiada batas, menempuh jalan paling mudah rasanya bukan pilihan yang elok.

Kita bisa berkaca pada tokoh utama kita, Diki Wahyudi, yang memilih untuk─meminjam bahasa Mumu Aloha─“lahir kembali” setelah pandemi, dan membuka jalan baru bagi lahirnya inspirasi-inspirasi baru masyarakat, idola-idola baru bagi kalangan akar rumput, pahlawan-pahlawan baru untuk wong cilik.

Tetapi, merintis bukan hal mudah. Kita semua tahu itu. Dan tentu, selalu ada harga yang harus dibayar untuk setiap tindakan yang kita ambil. Diki, pada awalnya, kerap diremehkan, bahkan dikritik─cenderung diolok-olek─oleh pengacara-pengacara senior. Tapi itu biasa, ada yang lebih mengerikan daripada itu, ia bahkan dianggap gila oleh ibunya sendiri─dan itu harga yang harus ia bayar untuk sukses.

“Almarhumah ibu saya bilang, ‘Kowe edan, Dik? Ngomong kok karo kamera.’ Kira-kira kalau diartikan, ‘Kamu gila, Dik? Ngomong kok sama kamera’,” katanya sambil mengenang ibunya.

Namun, dan ini yang patut kita apresiasi dan ikuti, di balik banyaknya orang yang mengkritik, meremehkan, menghujat, menganggap gila, dengan sisa-sisa harapan, Diki, alih-alih mundur dan menyerah, ia memilih maju, konsisten melanjutkan. “Ada nih satu support sistem, cewek, dia selalu komen; selalu like; bagikan video Tiktok saya. Mungkin, tanpa dia, saya nggak sampai di posisi seperti sekarang ini. Tapi sayang, pas akun Tiktok sudah “gede”, dia malah nggak ada lagi buat saya. Hahaha,” kenangnya sambil tertawa berharap.

Akhirnya Fyp

Sebelum mendapat respon di Tiktok (fyp), sebenarnya Diki sempat hampir putus asa. “Sampai teman saya, Jaswanto, menyemangati, mendukung saya, mengajak saya untuk live di IG, membahas soal hukum. Tapi video Tiktok saya tetap nggak fyp, masih dikit yang nonton,” keluhnya.

Tetapi penderitaan itu tak berlangsung lama. Setelah tiga bulan berlalu, Diki, dengan video-videonya tentang hukum, benar-benar mampu “menaklukkan rimba” per Tiktok. Ya, seperti di film-film, setelah berjuang mati-matian, akhirnya video Diki fyp juga, mendapatkan banyak respon dari warga Tiktok.

“Setelah 3  bulan buat Tiktok, baru fyp pertama, weh seneng banget. Banyak yang komen, share, like, nanya juga. Komen-komennya positif,” jelasnya dengan penuh semangat.

Semenjak saat itu, ia semakin bergairah untuk terus memproduksi video-video tentang hukum─walaupun, katanya, Tiktoknya pada saat itu belum menghasilkan duit. Ia juga menyampaikan, videonya tentang perusahaan (pengusaha) yang bisa dituntut jika menggaji karyawan di bawah UMR, menjadi konten yang paling banyak ditonton.

“Yang nonton itu sampai 8,6 juta. Di situ saya jelaskan, pasalnya 81 angka 63 UU Cipta Kerja. Ancaman hukumnya nggak main-main, paling sedikit 1 tahun penjara dan paling lama 4 tahun penjara atau denda paling sedikit 100 juta dan paling banyak 400 juta,” tambahnya menjelaskan.

Bukan hanya itu, menurut keterangan Diki, videonya tentang tutorial perceraian gratis dan tentang orang yang punya utang tidak bisa dipenjara, juga banyak ditonton─atau fyp.

Sebab videonya yang fyp lagi fyp terus, akhirnya ada produk yang mulai meliriknya. Diki ketiban endorse. “Setelah ada endorse yang masuk, ibu baru tahu, dan percaya. Ternyata bicara sama kamera itu nggak gila, tapi, selain menghasilkan, juga mengedukasi Indonesia. Hahaha,” katanya sambil terkekeh.

Barang tinggal memanen setelah berjuang menanam, merawat, Diki seolah dinaungi dewa kemakmuran, kesejahteraan. Kisah bahagianya tak sampai di situ, mulailah banyak forum yang mengundangnya; mulai dari komunitas, organisasi, live IG, live Tiktok, radio, bahkan kampus.

Menjawab Pertanyaan-pertanyaan Netizen

Semenjak videonya viral berkali-kali, Diki, secara tidak langsung, “dibaptis” netizen sebagai ahli hukum. Dengan cepat ia menjadi tokoh, ditokohkan, diakui, menjadi inspirasi, diikuti, digandrungi, dielu-elukan, punya fans.

Tetapi itu tak cuma-cuma, ada beban di balik itu semua─itu pun kalau Diki menganggapnya sebagai beban. Sebagai tokoh hukum, Diki wajib menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar hukum dari fans-fansnya, atau dari netizen pada umumnya.

Diki mendapat banyak pertanyaan seputar persoalan hukum; seputar perceraian, sengketa tanah, hak karyawan, utang-piutang, sampai pasal tilang-menilang. Dan semua itu dijawabnya dengan ceria, dengan mudah, ceplas-ceplos, seperti tanpa beban.

“Tapi yang paling sering ditanya itu soal perceraian, si,” jelasnya.

Akhirnya, sekali lagi, mengutip Mumu Aloha, “dengan perangkat handphone murah di tangan, sambil makan di warung, ngarit di sawah, naik bus antarkota antarprovinsi, atau sambil menunggui kios di pasar”, orang-orang dengan mudah “menyetel”, mengakses pengetahuan tentang hukum, menyaksikan, menyimak penjelasan Diki di akun Tiktok Sarjana Hukum. Dan, dari layar HP yang dipantengi seseorang di warteg atau di suatu kios di sisi lorong pasar yang hiruk-pikuk, akan menggema suara khas: Jadi seperti itu. Yuk pahami hukum, biar paham hukum, ikuti Tiktok Sarjana Hukum!

Hingga saat tulisan ini rampung, akun Sarjana Hukum sudah mencapai 378,8 K pengikut. Diki telah berhasil memberikan edukasi dan menebar manfaat kepada mahasiswa dan masyarakat Indonesia.

“Tapi, meskipun begitu, sampai sekarang, saya belum diundang Undiksha untuk menjadi pembicara. Ayo, saya tunggu undanganya!” serunya sambil bercanda.[T]

BACA TULISAN DIKI WAHYUDI

Ni Luh Sinta Yani | Mulai dari Desa, Belajar Mengurus Pemilu
Juni Widiantari, Mahasiswi Akhir Undiksha, Jadi Pengawas Pemilu di Desa Tigawasa
Melda Lestari, Gila Bekerja, Gila Belajar, Tetap Cumlaude
Dari Tajun, Komang Lolak Sastrawan yang Anak Buruh itu, Mendunia Lewat Karate
Tags: hukumIndonesiamedia sosialSarjanatiktokUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Next Post

Pentingnya Pola Asuh Anak : Belajar dari Kasus Penganiayaan yang Dilakukan Anak Pejabat

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Pentingnya Pola Asuh Anak : Belajar dari Kasus Penganiayaan yang Dilakukan Anak Pejabat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co