8 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana

Kadek Windari by Kadek Windari
December 25, 2022
in Ulas Buku
Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana

Sampul buku kumpulan cerpen Luka Batu karya Komang Adnyana

HIDUP ADALAH pilihan. Manusia diciptakan untuk menikmati kehidupan di dunia. Manusia berhak memilih kehidupan yang ingin ditempuh. Namun sejatinya, hanya Tuhanlah yang pantas menentukan kehidupan makhluk-makhluk di dunia. Ketika Tuhan sudah berkehendak, makhluk-makhluk ciptaannya pun tak bisa berbuat apa.

Kehidupan adalah sebuah proses. Begitu banyak proses yang dilewati untuk menikmati kehidupan. Tak jarang juga proses itu gagal untuk dinikmati. Walau demikian, proses tersebut tetap menjadi sebuah perjalanan menuju kehidupan sesungguhnya. Dalam berkehidupan, tak hanya manusia yang dapat merasakan setiap prosesnya tetapi semua makhluk ciptaan Tuhan baik itu benda hidup atau benda mati pasti akan menikmati setiap proses dalam kehidupan.

Penulis kumpulan cerpen “Luka Batu” ini juga merasakan proses dari kehidupan. Komang Adnyana, sang penulis, menuangkan semua perasaan pada setiap proses kehidupan tokoh-tokohnya dalam buku ini. Tak jarang proses tersebut menimbulkan “perih”, “pedih”, bahkan seringkali “luka” bagi diri.

Terluka dalam menikmati sebuah proses adalah hal yang biasa. Di dunia, tak semua hal dapat terbentuk dengan indah. Banyak pergulatan, persinggungan, bahkan pertumpahan darah dapat menyertai sebuah proses kehidupan di dunia.

Kumpulan cerpen “Luka Batu” karya Komang Adnyana ini sangat menarik, judul dan isi sangat sesuai dengan yang diinterpretasikan. Buku ini diterbitkan tahun 2022 oleh Mahima Institute Indonesia. Dalam buku yang memiliki 150 halaman dan  terdapat 18 judul cerpen yang masing-masing judulnya memiliki cerita serta karakter yang hampir sama.

Cerpen-cerpen ini merupakan interpretasi kehidupan di dunia yang penuh dengan luka. Semua tokoh dalam kumpulan cerpen ini memiliki luka tersendiri dalam proses menikmati kehidupannya.

Sesuai dengan judulnya yaitu “Luka Batu”, penulis selalu menyisipkan atau memberikan luka pada setiap karakter tokoh utama di kumpulan cerpen ini. Namun, tak semua luka tersebut dijelaskan apa penyebabnya bahkan penulis juga tak menjelaskan sesungguhnya apa arti luka itu. Pola penulisan seperti ini sangat menantang pembaca atau penikmat karena membuat mereka berpikir dan bertanya-tanya tentang kebenaran sehingga menimbulkan interpretasi cerita sendiri.

Kumpulan cerpen ini memang memiliki ciri khasnya sendiri. Mulai dari judul cerpen, karakter tokoh bahkan isi ceritanya pun tidak mudah untuk ditebak. Pembaca ataupun penikmat buku ini memerlukan konsentrasi penuh agar dapat memahami jalannya cerita.

Sebagian besar kumpulan cerpen di buku ini memiliki alur dan akhir cerita yang masih ‘menggantung’ dalam artian tidak dituntaskan oleh penulis. Sehingga pembaca atau penikmat karyanya harus memikirkan sendiri akhir dari cerita yang dibaca.

Problematika dalam kumpulan cerpen “Luka Batu’ ini merupakan interpretasi problematika kehidupan manusia di dunia. Dalam cerpen-cerpennya menceritakan bahwa semua makhluk yang ada di dunia pasti bisa terluka.

Tak hanya manusia bahkan benda mati pun juga bisa terluka. Dengan merasakan perasaan itulah penulis menuangkannya dalam kumpulan cerpen ini sehingga pembaca ataupun penikmat karya mengetahui bahwa dunia tak selamanya bercerita tentang keindahan.

Dalam buku yang terdiri dari 18 judul cerpen ini memang menarik dan layak untuk dibaca. Dari semua judul cerpen dalam buku karya Komang Adnyana ini lebih cenderung membahas aktifitas sosial manusia. Mulai dari kematian lelaki yang dibunuh sekelompok anggota ormas, rahasia dibalik tato seorang wanita penggoda, wasiat dari seorang pengusaha, perempuan yang menenggelamkan diri, bahkan pernikahan seorang gadis dengan pria pencinta semua wanita diceritakannya dalam kumpulan cerpen ini.

Semua cerpen ini memiliki konfliknya sendiri tetapi dalam tema yang sama yaitu membahas tentang dunia yang penuh dengan luka.

Problematika pada salah satu judul cerpen “Lina dan Angsa Taman Kota” dalam buku ini mengisahkan Lina, seorang perempuan berumur sembilan belas tahun sedang patah hati. Ia mencoba melupakan masa lalu dan menjalani kehidupannya hari demi hari.

Setiap dua kali seminggu, tepat pada tengah hari, Lina mengunjungi sebuah taman yang terdapat danau buatan didalamnya serta ada beberapa angsa berbulu indah yang berenang dengan bebas. Ia sangat senang melihat langit biru yang terlihat sangat indah dari taman itu.

Namun, kebiasaannya yang melihat langit biru di tengah hari itu ternyata membuat dirinya pergi dengan selamanya. Apakah Lina sudah pergi ke langit biru sekarang? Tepat di bawah langit biru yang maha kuasa Lina mengakhiri hidupnya dan tepat setelah ia mengatakan ingin melupakan masa lalu.

Permasalahan yang dihadapi Lina itu merupakan salah satu fenomena yang dihadapi oleh anak muda masa kini. Kebanyakan dari mereka yang memilih mengakhiri hidupnya setelah putus cinta. Pemikiran dan sikap yang seperti itu sudah meracuni generasi muda bangsa ini. Hanya dengan satu ‘luka’ mereka sudah bisa memilih keputusan itu.

Penulis kumpulan cerpen ini secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa dunia sebenarnya penuh dengan permasalahan, penuh dengan kepedihan. Setiap manusia bisa terluka, namun manusia bisa memilih cara dalam menghadapi luka itu.

Seperti pada judul cerpen “Penari Api” dalam buku ini juga menceritakan fenomena yang ditemukan dalam kehidupan. Dalam cerpen ini mengisahkan Sandat, seorang perempuan penari joget yang dipandang sebagai pembawa aib dan membuat malu keluarga.

Penari joget dianggap tidak baik dan selalu terkesan buruk karena penggoda laki-laki dan milik setiap orang. Sekalipun pada dasarnya mereka gadis baik-baik dan terhormat. Orang tua Sandat sangat melarang dirinya untuk menari sebab mereka malu dan merasa terhina melihat anaknya sendiri berada di panggung dengan melenggokkan pinggulnya.

Suatu ketika ada dua orang datang bertamu ke rumah Sandat. Mereka menginginkan Sandat untuk menari serta meneken kontrak dengan pihak hotel selama enam bulan. Namun, keluarga Sandat tidak mengizinkannya. Dengan terkejutnya, dua orang itu mengungkapkan rahasia besar kepada Sandat. Mereka mengatakan bahwa dahulunya orang tua Sandat merupakan seorang penari joget dan pengibing. Semenjak mendengar hal itu, taka da lagi batasan bagi Sandat untuk menari.

Melihat fenomena itu, masalah sosial yang dihadapi orang tua Sandat juga merupakan masalah yang dihadapi dalam masyarakat sekitar terutama yang tinggal di desa. Orang tua Sandat tidak ingin dirinya dihina ataupun dikucilkan masyarakat hanya karena dirinya seorang penari joget. Dalam kehidupan masyarakat juga masih menganggap bahwa penari joget itu memiliki kesan yang buruk. Padahal penari hanyalah penari, mereka hanya seorang penari di atas panggung. Selepas itu mereka tetap seorang manusia yang bermasyarakat.

Cerpen-cerpen yang disebutkan itu hanya beberapa cerpen yang terdapat dalam buku kumpulan cerpen “Luka Batu” karya Komang Adnyana. Cerpen-cerpen tersebut memiliki pola penulisan yang sama dari segi isi cerita.

Penulis selalu memberikan tokoh utama ‘luka’ dalam proses penceritaannya. Namun, ada beberapa cerpen yang penulis juga tak mengungkapkan apakah ‘luka’ tersebut sembuh atau masih ada dalam diri tokoh. Penulis memiliki pola pikir yang unik dengan menuangkan pikiran dan perasaannya tentang kejamnya dunia dalam sebuah tulisan.            

Beberapa cerpen ini juga terkesan ‘menggantung’ pada akhir ceritanya karena penulis tak menuntaskan dengan jelas akhir dari cerita. Hal ini membuat pembaca sangat bertanya-tanya bagaimana akhir yang sebenarnya dari cerita-cerita ini.

Dengan begitu, cerpen-cerpen ini tidak hanya memiliki satu sudut pandang dari penulis saja melainkan juga sudut pandang dari penikmat karya karena akhir cerita yang ‘menggantung’ seperti inilah membuat isi dari cerpen-cerpen ini banyak menimbulkan interpretasi tersendiri.

Sisi psikologi penulis sangat terlihat dalam buku ini. Dilihat dari judulnya “Luka Batu” sudah bisa menggambarkan bagaimana isi dari kumpulan cerpen ini. Penulis seolah-olah ingin menggambarkan seluruh cerita dalam buku ini dengan sebuah luka yang bisa disembuhkan ataupun tidak. Namun, tak disangka bahwa arti dari judul kumpulan cerpen ini ternyata bukan seperti itu yang dimaksudkan.

Sepertinya, penulis memberikan judul “Luka Batu” bukan semata-mata hanya ingin menggambarkan luka apa yang dihadapi oleh tokoh. Tetapi penulis juga ingin menggambarkan bahwa setiap makhluk di dunia tentu saja dapat terluka. Dalam buku ini, penulis menjelaskan apa arti dari kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa kehidupan tak selamanya terbentuk indah tetapi juga dapat terbentuk luka. Itulah yang dimaksud dengan “Luka Batu”. Luka yang selalu ada dan selamanya akan tetap menyertai proses kehidupan semua makhluk di dunia.

Kumpulan cerpen “Luka Batu” karya Komang Adnyana ini sangat bagus dan menarik untuk dibaca semua kalangan. Cerpen ini sangat menginspirasi pembaca atau penikmat karya dengan problematika yang ada dalam kumpulan cerpen ini. Dari semua judul menggambarkan tentang dunia yang penuh dengan problematika kehidupan yang membuat semua makhluk dapat terluka. Namun, selalu ada banyak cara untuk menghadapi problematika tersebut.

Dari semua cerpen dalam buku ini, banyak hal yang dapat dipetik salah satunya, manusia memang diciptakan untuk menikmati sebuah luka agar dapat menuju proses kehidupan yang lebih layak. Dengan luka itu manusia berhak memilih untuk melanjutkan kehidupannya. Manusia hanya bisa berencana tetapi hanya Tuhanlah yang pada akhirnya selalu menentukan nasib dan takdir semua makhluk yang ada di dunia.

“Dunia memang penuh luka bagi semua makhluk ciptaan Tuhan” [T]

Cerminan Sejarah Bali Pada Novel “Kota Kabut Walli Jing-Kang” Karya Manik Sukadana
Dilema Masa Lalu dan Masa Depan Dalam “Langit Dibelah Dua” Karya Gde Aryantha Soethama
Ngurah Parsua dan Karyanya: Prosa yang Reflektif, Puisi yang Jernih
Tags: Cerpenresensi bukusastraUniversitas PGRI Mahadewa Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Khotbah di Bukit’, Sebuah Kenangan Iman

Next Post

Misteri Cinta dan Kematian Dalam Kumpulan Cerpen “Kisah Cinta dan Dongeng Yang Dimakamkan” Karya I Putu Agus Phebi Rosadi

Kadek Windari

Kadek Windari

Tinggal dan menetap di Denpasar. Gemar menulis dan bercerita

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post

Misteri Cinta dan Kematian Dalam Kumpulan Cerpen “Kisah Cinta dan Dongeng Yang Dimakamkan” Karya I Putu Agus Phebi Rosadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co