6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laut Menyatukan Kita | Catatan tentang Film Avatar: The Way of Water

Nanda Insadani by Nanda Insadani
December 20, 2022
in Ulas Film
Laut Menyatukan Kita | Catatan tentang Film Avatar: The Way of Water

Film Avatar 2 | Foto: Disney

KETIKA MEMBICARAKAN AVATAR maka ingatan kita akan berlabuh pada dua karakter ikonik: Aang si bocah botak pengendali udara atau Jake Sully si marinir “biru” di Planet Pandora. Kisah Aang sudah berakhir—penampilan terakhirnya ada di serial animasi garapan Nickelodeon, Avatar: The Legend of Korra—sedangkan kisah Jake Sully dan keluarganya masih berlanjut dan kali ini tidak hanya melibatkan Suku Omaticaya, tapi juga Suku Metkayina, dalam menghadapi masalah baru yang datang ke Planet Pandora.

Pada film pertamanya di 2009, dijelaskan bahwa Na’vi (sebutan untuk makhluk asli Pandora) terdiri dari banyak suku yang tinggal tersebar di berbagai penjuru di planet yang berada di galaksi Alpha Centaury tersebut. Nah, kali ini, di film keduanya, kita akan diperkenalkan dengan suku yang tinggal di daerah perairan dan terumbu karang, Metkayina.

Metkayina dan Omaticaya tak hanya memiliki perbedaan habitat, tapi juga perbedaan ciri fisik yang lumayan mencolok. Omaticaya adalah penduduk hutan, jadi mereka tidak memiliki ekor serupa sirip dan lengan yang lumayan lebar seperti yang dimiliki oleh para Metkayina. Mereka juga memiliki perbedaan warna kulit. Jika Omaticaya berwarna biru gelap, Metkayina tampak berwarna lebih cerah dengan biru-kehijauan. Tentu segala perbedaan ini tak pernah membuat semuanya menjadi mudah. Ada perseteruan dan pertikaian, bahkan ada mosi tidak percaya oleh para Metkayina terutama terhadap anak-anaknya Jake Sully.

Kali ini kita tidak hanya dibuat fokus pada Jake Sully atau Neytiri. Mereka sudah menjadi orang tua dengan empat anak sekarang. Dua di antaranya berhasil mencuri perhatian dan menarik simpati. Mereka hadir tidak hanya sekadar meramaikan jagat perseteruan Na’vi dengan Kaum Langit (baca: manusia) tapi juga memiliki kepribadian dan karakter yang unik, serta punya andil cukup besar dalam cerita.

***

Ya, ini bukan lagi soal bagaimana Jake Sully membela dan melindungi para Omaticaya dari keserakahan dan kekejaman manusia. Sebab Jake memutuskan untuk berkeluarga dan memiliki keturunan, maka persoalan yang ia hadapi pun menjadi tidak pernah lebih mudah. Menjadi seorang ayah adalah anugerah sekaligus ujian. Di saat kita memiliki jiwa kepemimpinan, hal pertama yang diuji adalah bagaimana kita memimpin keluarga kita sendiri.

“Menjadi seorang ayah berarti melindungi. Itulah yang memberinya arti.”

Demikian ucapan Jake Sully pada dirinya sendiri (juga pada penonton) di saat dirinya tengah gusar akan kemungkinan yang dapat membahayakan keselamatan anak-anaknya.

Kita tidak melahirkan anak-anak untuk hidup begitu saja bagai singkong. Selain disayang dan diberi perlindungan, anak juga harus dibimbing dengan disiplin dan pengetahuan tentang kehidupan yang baik. Itu adalah pekerjaan berat bagi Jake Sully, belum lagi ia harus memikirkan langkah-langkah yang harus ia ambil untuk melindungi sukunya dan orang-orang di sekitarnya dari para perusak Pandora: makhluk Bumi alias manusia.

***

Sering kita jumpai beberapa film yang sengaja menyorot sisi gelap dan kebobrokan mental manusia sebagai makhluk yang katanya paling cerdas di muka Bumi. Tujuannya adalah untuk bercermin, karena memang lebih sulit melihat sesuatu yang ada di bawah mata ketimbang yang berada jauh di ujung pandangan.

Itulah yang dilakukan para manusia abad 22 di film Avatar: mereka sibuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi planet beda galaksi yang bahkan sebelumnya tak pernah terpikirkan ada kehidupan di dalamnya. Sekarang bayangkan jika ada kehidupan di planet terdekat kita. Apakah mungkin kita bisa diam saja? Seandainya kita bisa, bagaimana dengan para ilmuwan dan orang-orang elit di luar sana? Mereka akan melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk menyelamatkan umat manusia di masa depan dari ringkihnya Bumi.

Kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita juga perlu menyelamatkan diri kita dari diri kita sendiri; dari penyakit hati seperti serakah, bodoh, gegabah, dan pendendam. Semua orang punya bibit pendendam di hatinya. Jika segala sesuatu berjalan tak sebagaimana mestinya karena ada orang lain yang mengganggu kita, kita cenderung menganggap keadilan adalah soal bagaimana orang lain menerima hukuman atas segala perbuatannya yang merusak rencana kita.

“Dendam hanya akan menciptakan rantai kebencian,” ujar salah satu karakter antagonis di serial Naruto, Pain. Menunaikan dendam tak berarti mengakhiri apa pun. Justru sebaliknya, malah memupuk subur kebencian terutama pada hati mereka yang orang terkasihnya kita renggut. Tatkala Jake Sully mulai jatuh cinta pada Neytiri, ia memantapkan hati untuk memihak dan melindungi Hometree (rumah bagi Omaticaya) dari bangsanya sendiri: manusia. Kolonel Quaritch selaku atasan Jake merasa dikhianati dan memutuskan untuk berperang dan menghabisi Jake. Ia pun membantai banyak penduduk pribumi dan salah satu korbannya adalah ayah dan kakak Neytiri. Jake Sully juga bukan tanpa hasil, ia turut membantu para Omaticaya membantai manusia, hingga di penghujung film yang pertama, setelah pertarungan panjang penuh keringat dan darah, Kolonel Quaritch mati di tangan Neytiri. Bangsa Na’vi pun terbebas dari bayang-bayang Kaum Langit.

***

Kemerdekaan tidak bisa begitu saja jatuh dari langit, tapi penjajahan dan invasi besar-besaran bisa—para manusia datang kembali ke Pandora dengan pesawat canggihnya karena merasa masih ada unfinished business. Itulah awal mula masalah di sekuel Avatar kali ini: Jake Sully sadar bahwa kemerdekaan dan kebebasan bukanlah sesuatu yang abadi. Merdeka adalah persoalan mental: apakah kita siap apabila suatu waktu ada yang datang mengusik ketenangan dan merenggut kebebasan kita?

Jake Sully yang kini sudah mulai berumur, sekaligus pemimpin bagi rakyat dan keluarganya, sadar bahwa ia telah menjadi sosok most wanted bagi bangsanya sendiri dan melawan tidak selalu menjadi keputusan bijak apalagi terhadap musuh yang benar-benar secara materi dan persenjataan jauh lebih mutakhir. Ada kalanya kita hanya perlu menghindar demi tujuan yang lebih mulia: mencegah korban jiwa orang-orang terdekat dan terkasih. Tentu mengajak keluarganya pindah ke tempat yang jauh ke selatan seperti Desa Marui (habitat para Metkayina—suku laut) bukanlah perkara gampang, tapi bagaimanapun tetap harus dilakukan.

Sesampainya di sana, Jake Sully dan keluarga menjadi selalu basah. Berbaur dengan Metkayina berarti berbaur dengan laut dan seisinya. Mereka mengerti, beradaptasi adalah kunci utama suatu makhluk dapat bertahan hidup di suatu tempat. Menyesuaikan diri dengan lingkungan selalu sulit pada awalnya, karena kita harus menaklukkan. Tetapi di kawasan perairan Suku Metkayina, menaklukkan berarti bersahabat. Dengan bersahabat, kita akan menciptakan kedamaian. Menjalin ikatan dengan para hewan setempat seperti Ilu, Skimwing, Tulkun, dan banyak lagi.

***

Tanpa laut, Bumi bukanlah Bumi. Begitu halnya Pandora. Laut menyatukan kita, menyatukan mereka, menyatukan Omaticaya dengan Metkayina, menyatukan Jake dan keluarganya, bahkan menyatukan Na’vi dengan manusia.

“Prinsip air adalah menghubungkan segalanya. Sebelum kelahiran kita, setelah kematian kita.”

Kalimat itu menjadi dogma bagi Suku Metkayina, kemudian diajarkan oleh Tsireya (anak kepala suku Metkayina) kepada anak-anak Jake Sully, kemudian Lo’ak (putra bungsu Jake) mengajarkan hal serupa kepada Jake Sully.

Molekul air yang begitu fleksibel—bentuknya menyesuaikan wadah, juga memiliki makna bahwa kita harus adaptif seperti air. Di mana pun kita berada, penyesuaian diri adalah skill utama yang harus kita miliki untuk dapat survive. Manusia yang berniat menduduki Pandora tentu harus belajar bagaimana cara hidup di planet indah tersebut. Bahkan meski hanya untuk mengincar dan membunuh seorang Jake Sully, mereka harus belajar dan mengenali segala yang ada di Pandora. Harus penuh persiapan untuk menggapai harapan.

***

Lantas, apa harapan James Cameron selaku sutradara dan penulis Avatar untuk sekuel ini? Tentu harus bisa sesukses film sebelumnya atau setidaknya berada di bawah. Dengan modal yang begitu besar—estimasi empat ratus juta dolar—mana mungkin ia tidak berharap lebih pada film ini? Avatar: The Way of Water diharapkan mampu memuncaki klasemen Box Office sebagai film terlaris di dunia mengalahkan film Avatar yang pertama—dengan pendapatan hampir menyentuh tiga miliar dolar! Apa saja persiapan yang James Cameron dan kru lakukan untuk memenuhi harapan tersebut? Tentu banyak. Berjarak tiga belas tahun dari sebelumnya sudah pasti mereka tidak ingin para penggemar yang sudah menunggu lama akan sekuel Avatar menjadi kecewa.

Kekecewaan, bagaimanapun, tak terhindarkan selama kita masih berpengharapan dalam kehidupan. Sedikit berharap lebih baik. [T]

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water
Ketika Kota Menjelma Kata | Catatan Film “Walking Through Words” dalam Minikino Film Week 8
Tags: avatarFilm Avatarlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mari Berikan Standing Applause Buat “The Atlas Lions”

Next Post

Memuliakan Perempuan Bukan Hanya di Hari Ibu

Nanda Insadani

Nanda Insadani

Lahir di Medan, tapi sekarang tinggal di Sampit. Suka dengan film yang membuatnya berpikir dan merenung. Selain menulis tentang apa yang sudah ditonton, juga gemar menulis cerita-cerita aneh yang ada di kepalanya. Dapat ditemui di Facebook dengan nama asli.

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails
Next Post
Memuliakan Perempuan Bukan Hanya  di Hari Ibu

Memuliakan Perempuan Bukan Hanya di Hari Ibu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co